Women Lead
July 27, 2021

Putus Sekolah karena COVID-19, Anak Perempuan Ambil Peran Orang Tua

Ini kisah anak-anak perempuan yang memutuskan untuk berhenti sekolah karena mengambil peran orang tua yang meninggalkan mereka.

by Tabayyun Pasinringi, Reporter
Issues
Share:

Kakak-beradik Hani dan Dewi merasa keluarga kecil mereka lumpuh sejak ditinggal sang Ibu karena terpapar COVID-19, Februari lalu. Bagi mereka, sang ibu adalah segalanya. Dia tulang punggung keluarga sekaligus sosok yang mengenal luar dalam urusan rumah tangga. Kepergiannya secara tiba-tiba membuat Hani dan Dewi harus segera mengambil alih perannya untuk menyambung hidup, walaupun mereka belum sepenuhnya siap mengemban tugas itu. 

“Saat ibu tidak ada benar-benar terasa karena keluarga kami selalu mengandalkan ibu. Jadi, ketika ibu tidak ada sangat terasa ‘oh, ternyata beban ibu seberat ini’. Selama ini ibu yang benar-benar bekerja dan memutar otak dan mencari uang,” ujar Hani kepada Magdalene, (23/7). 

Hani mengatakan, pukulan keras akibat COVID-19 dirasakan keluarganya dari sisi finansial karena satu-satunya pemasukan keluarga ialah usaha kantin milik ibunya di Universitas Paramadina, Jakarta. Sementara itu, ayahnya yang berusia 66 tahun sudah tidak bisa bekerja dan selama ini hanya bisa mendukung bisnis istrinya dari belakang. 

Namun, imbuh Hani, jauh sebelum kepergian ibunya, usaha itu sudah tidak berjalan sejak pandemi tahun lalu karena aturan Sekolah dari Rumah (SFH). Situasi pun semakin diperparah dengan utang Rp20 juta dari biaya pengobatan COVID-19 yang harus dilunasi.

Hani dan Dewi tidak hanya mengambil peran domestik, tetapi juga memutar otak agar pemasukan keluarga tetap mengalir untuk membayar utang dan mengimbangi pengeluaran sehari-hari. Mereka tidak ingin terus-menerus bergantung pada dua orang kakaknya di Cikarang dan Surabaya untuk memberikan dana lantaran mereka memiliki keluarga masing-masing yang harus diurus. 

Hani yang merupakan mahasiswa tingkat akhir dengan beasiswa penuh di Universitas Paramadina kemudian mengambil magang di salah satu kantor asuransi di Jakarta. Sementara, Dewi memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliahnya di Universitas Nasional karena ingin secara aktif membantu kondisi finansial keluarga. 

“Saat ini saya masih mencari pekerjaan tapi sangat sulit untuk anak lulusan SMK, terlebih lagi yang belum punya pengalaman,” kata Dewi. 

Saat masuk kuliah 2020 silam, Dewi yang saat ini berusia 19 tahun adalah mahasiswa penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP) artinya ia mendapatkan keringanan biaya kuliah dan uang saku Rp 700 ribu per bulan. 

Baca juga: Pandemi Memburuk, Relawan COVID-19 di Ujung Tanduk

Sayangnya, Dewi melanjutkan, keringanan itu bisa didapatkan ketika memasuki semester dua masa perkuliahan. Karenanya, di tahun pertama kuliah, Dewi harus tetap membayar total Rp8 juta untuk uang kuliah. Namun, karena krisis finansial selama pandemi, Dewi hanya bisa membayar setengah dari total tersebut. Ia pun tidak bisa melihat hasil Ujian Tengah Semester (UTS) dan melanjutkan segala proses perkuliahan hingga semester depan.

“Saya juga sudah menghubungi dosen dan dia bilang memang harus melunasi dulu. Saya juga sempat mau cuti, tapi itu juga harus membayar. Akhirnya, saya memutuskan untuk cabut saja tanpa bilang ke teman maupun dosen. Saya juga tidak ingin menambah beban orang dengan isu ini,” ujar Dewi. 

Pilihan Pendidikan dan Pengasuhan Keluarga

Ada banyak ‘Hani dan Dewi’ lainnya yang harus menjadi ‘orang tua’ untuk diri mereka sendiri hingga memutuskan untuk meninggalkan sekolah selama pandemi. Penyebabnya juga tidak hanya karena virus Corona dan ada juga yang terjadi sebelum masa pandemi. 

Cerita-cerita seperti yang dialami kedua saudara itu banyak diungkapkan lewat balasan cuitan penulis dan aktivis gender, Kalis Mardiasih tentang dampak COVID-19 pada perempuan, khususnya membuat mereka meninggalkan sekolah karena norma masyarakat mengharuskan perempuan melanjutkan peran pengasuhan keluarga. 

“Gia” mahasiswa di Yogyakarta mengatakan, sedang mempertimbangkan untuk mundur dari universitas karena ingin mengambil alih peran ibunya yang meninggal akibat kanker paru-paru dan tulang, Februari lalu. Selain itu, Gia juga berniat membantu ayahnya berdagang di pasar untuk meringankan beban dan menambah pemasukan keuangan keluarganya. Belum lagi Gia harus menemani adik perempuannya yang belum bisa memproses kehilangan sosok ibu.  

“Saat musibah itu saya sadar kehilangan ibu sangat berdampak pada kehidupan keluarga karena semua yang mengurus adalah ibu. Saya juga tidak bisa mempertimbangkan skala prioritas karena saya harus bekerja membantu ayah, membersihkan rumah, dan kuliah,” ujarnya kepada Magdalene (22/7). 

Cerita yang tidak jauh berbeda juga disampaikan “Nita”. Ia kehilangan ayahnya karena COVID-19, Maret lalu. Sebagai anak pertama, Nita mengambil alih peran ayahnya dan berjualan rempah-rempah di suatu pasar di Bogor. Ia merasa dirinya tidak kuat secara fisik jika harus berdagang sekaligus berkuliah dan membantu adik laki-lakinya yang berusia delapan tahun memahami tugas-tugas sekolah. 

“Saya berpikir ingin keluar dari kampus, tapi saya merasa tanggung juga keluar di tengah jalan. Di sisi lain percuma juga saya kuliah tapi pemasukan nanti tidak ada. Uang akan semakin menipis terus. Terus adik saya juga harus diperhatikan,” kata Nita pada Magdalene (23/7). 

Gia berpendapat dalam situasi yang ideal anak perempuan tidak harus memilih melanjutkan pendidikan atau fokus pada tugas pengasuhan karena hal tersebut merupakan tugas semua orang. 

“Padahal tugas domestik itu bisa dibagi secara adil dan tidak harus perempuan. Saya memang melakukan apa yang biasanya dikerjakan ibu saya karena saya anak pertama, tetapi seharusnya tidak seperti itu karena laki-laki juga bisa,” ujarnya. 

Baca juga: WFH Tak Berlaku Bagi Semua: Tips Bertahan di Tengah Pandemi

Dorong Pendidikan Non-formal

Konsultan pendidikan, Ina Liem mengatakan, pilihan memberatkan antara tetap bersekolah atau mengundurkan diri dan mengambil peran orang tua atau bekerja di masa pandemi bisa dihindari jika aksi korupsi di Indonesia dihilangkan. Dana pendidikan yang tidak dikorupsi dapat digunakan untuk membantu pelajar tetap berada di sekolah dengan berbagai program beasiswa yang mudah diikuti. 

“Korupsi adalah cara berpikir atau mental seseorang. Jika menelisik segala sumber masalah pendidikan Indonesia, seperti mengapa tingkat pendidikan masih rendah di ranah global, itu karena korupsi,” ujarnya epada Magdalene, (26/7). 

Namun, menghilangkan mental korupsi membutuhkan aksi besar dan proses panjang. Maka dari itu, salah satu solusi yang bisa dilakukan oleh mereka yang meninggalkan sekolah ialah mencari pendidikan melalui jalur non-formal. Untuk melakukan hal itu pun perlu manajemen waktu yang baik agar bisa belajar dengan maksimal.

“Dengan teknologi yang terus berkembang saat ini, seseorang dapat mempelajari berbagai macam hal karena banyak konten lokal dengan tema beragam yang bisa diakses di mana dan kapan saja,” ujanya. 

Selain itu, Ina menambahkan, belajar sambil bekerja atau sensing adalah cara paling tepat untuk orang Indonesia memahami sebuah subjek. Proses belajar hanya melalui buku dengan teori yang abstrak atau secara intuitive hanya menempatkan kemampuan belajar orang Indonesia pada level terendah, mengandalkan hafalan tanpa memahami sebuah subjek. 

“Anak-anak yang bekerja bisa mengembangkan kemampuan mereka, seperti membuat pupuk atau sabun karena belajar dengan cara sensing. Anak-anak kita butuh praktik lalu teori. Mayoritas untuk orang Indonesia adalah sensing daripada intuitive tentang teori abstrak,” ujarnya.  

Baca juga: Kisah Relawan COVID-19: Kepedulian dalam Sepaket Sembako dan Sehelai Masker

Ia menambahkan, mereka yang sudah terjun di dunia kerja memiliki soft skill atau kecerdasan sosial yang lebih tinggi dibandingkan anak berprivilese, mereka yang memiliki kesempatan mengemban berbagai jenjang pendidikan. 

Selain itu, mereka juga terbiasa menghadapi ritme dan tuntutan dunia kerja. Berbeda dengan kelompok berprivilese yang cenderung tidak terbiasa dengan tekanan dunia kerja karena lebih fokus melatih hard skill atau kemampuan seseorang dalam menguasai satu objek pendidikan saja, ujarnya. 

“Selalu ada hal positif yang bisa diambil karena nyatanya mereka yang bisa lulus pendidikan formal juga menunjukkan tidak ada perubahan terkait rapor merah tingkat pendidikan di Indonesia,” kata Ina. 

Ilustrasi oleh Karina Tungari 

Tabayyun Pasinringi adalah penggemar fanfiction dan bermimpi mengadopsi 16 kucing dan merajut baju hangat untuk mereka.