September 14, 2020
Kiat Bertahan di Tengah Pandemi dari Seorang Penyintas

Kamu masih bisa berperan serta menekan angka pertambahan kasus selama pandemi yang belum ketemu puncaknya ini.

by Ros Aruna
Lifestyle // Health and Beauty
CoronaVirus_Social Distancing_COVID19_KarinaTungari
Share:

Saat tulisan ini dibuat, angka penambahan kasus COVID-19 harian mencapai lebih dari 2.000 selama lima hari berturut-turut. Saya tulisan ini tayang, kemungkinan besar angka total kasus di Indonesia sudah lebih dari 200.000.

Saya adalah salah satu dari ribuan orang yang telah dinyatakan positif memiliki virus SARS-CoV-2. Tepat tanggal 1 Agustus, saya menjalani tes PCR dan dua hari kemudian menerima hasil positif. Saya sudah menjalani karantina mandiri bersama keluarga serumah dan sudah dinyatakan sembuh.

Tidak, saya tidak tahu siapa yang menularkan virus tersebut. Tidak juga jadi jawaban saya jika ada yang bertanya apakah saya sakit dan adakah gejala yang dirasakan. Lalu, bagaimana saya bisa tes dan akhirnya dinyatakan positif? Saya berinisiatif sendiri.

Keputusan untuk tes mandiri saya ambil karena tracing, test, treatment, tiga kunci mengatasi pandemi, tidak dilakukan dengan baik di sini. Alasannya tidak ada biaya. Alasan yang sama juga disampaikan ketika tidak ada lagi pembatasan mobilitas besar-besaran padahal tahu kalau interaksi antar-manusia jadi faktor utama penularan penyakit ini.

Mobilitas yang dibatasi setengah-setengah menghasilkan kebijakan pembukaan kembali kantor dan tempat-tempat usaha. Saya pun kembali harus bekerja dengan suasana kantor yang sangat longgar dalam pengawasan dan penerapan protokol kesehatan. Ini menjadi alasan pertama saya kenapa akhirnya memutuskan tes mandiri.

Alasan kedua, saya sempat sakit flu dan tidak enak badan selama tiga hari. Tidak ada sesak napas, tidak ada hilang kemampuan mengecap rasa, tidak ada demam tinggi. Ini terjadi beberapa minggu setelah akhirnya saya bisa tes mandiri.

Baca juga: Virus Corona atau Bukan, Ya?: Pengalaman Merawat ODP di Rumah

Tes mandiri itu artinya bayar sendiri. Pun setelah hasil keluar positif saya tetap mengeluarkan uang sendiri untuk konsultasi dokter. Rumah sakit tempat saya memang bukan rujukan. Mereka hanya menggratiskan kalau saya dirawat. Saat hasil tes keluar saya sehat-sehat saja jadi memilih untuk isolasi mendiri di rumah bersama keluarga. Selama 14 hari kami isolasi, semua sehat dan dapat melaluinya dengan baik berkat bantuan keluarga, tetangga, dan teman-teman.

Alasan ketiga kenapa saya tes adalah rasa bersalah. Saya mendapat kabar orang tua asisten rumah tangga yang bekerja harian di rumah meninggal. Bapak dan ibunya meninggal hanya dalam jarak seminggu. Keduanya memang memiliki penyakit bawaan yang akhirnya dinyatakan sebagai penyebab kematian, bukan karena COVID-19. Mereka tidak sempat dirawat di rumah sakit jadi tidak ada pengujian apa pun dan langsung dimakamkan dengan prosedur biasa.

Rasa bersalah saya itu mungkin akan dicap sebagai paranoia. Parno, kata beberapa orang di sekitar saya. Tidak apa-apa. Saya merasa cukup memiliki pengetahuan tentang COVID-19 dan bagaimana penanganan di negara ini karena pekerjaan saya yang mengharuskan untuk itu. Pengetahuan ini membuat saya merasa harus melakukan inisiatif untuk cek mandiri dan tidak hanya diam dalam rasa bersalah dan menduga-duga.

Ternyata insting dan pertimbangan saya benar: hasilnya positif.

Dari pengalaman tersebut, saya ingin berbagi kepada para pembaca yang masih peduli. Kamu masih bisa berperan serta menekan angka pertambahan kasus selama pandemi yang belum ketemu puncaknya ini.

Baca juga: Kisah Perawat COVID-19: 30 Tahun Bekerja, Hadapi Ketakutan yang Berbeda

Pakai masker, rajin cuci tangan dengan sabun, dan jaga jarak adalah wajib hukumnya. Berikut tiga kiat lain yang bisa kamu coba:

  1. Jika ada dana, lakukan tes PRC mandiri secara rutin

Daripada kamu sibuk mencekoki diri dengan multivitamin dan jamu, lebih baik dananya dipakai untuk tes PCR. Jangan rapid test ya! Para ahli bilang, tes ini kerap memberikan rasa aman palsu. Kalau kamu masih bekerja di luar rumah, bertemu banyak orang, lakukanlah tes PRC secara rutin. Jangan tunggu ada gejala. Lakukan pula jika ada orang yang masuk golongan kontak erat (pernah berbincang selama 15 menit tanpa masker dan tanpa jaga jarak), ada gejala, atau dinyatakan positif. Atau, jika orang di sekitar kontak erat kamu ada yang sakit atau meninggal mendadak, meskipun tidak dinyatakan positif.

Kamu bisa mengusulkan random test PCR di tempat kerja. Bisa juga menerapkan hal yang sama di rumah; bulan ini ayah yang tes, bulan depan ibu, demikian terus secara rutin. Tentunya semua harus langsung karantina atau kembali bekerja dari rumah jika ada yang positif. Diagnosis COVID-19 hanya bisa ditegakkan dengan tes PCR.

  1. Baca dan ikuti perkembangan penelitian soal COVID-19 dari sumber terpercaya

Buang jauh-jauh anggapan bahwa membaca berita tentang COVID-19 hanya akan menambah parno dan ketakutan berlebihan. COVID-19 adalah penyakit yang baru ditemukan. Semua penelitian tentang virusnya, obatnya, vaksinnya, masih terus berjalan. Penelitian belum final. Saat ini bisa dikatakan cuci tangan, pakai masker, jaga jarak sudah cukup, bisa jadi beberapa bulan kemudian berubah. Obat tertentu bisa dinyatakan efektif, bulan depan ada bantahannya.

Baca juga: 4 Peran Penting Puskesmas Hadapi New Normal

Iya, memang berita-berita itu bisa bikin bingung dan pening kepala, tapi tahu banyak selalu jauh lebih baik daripada tidak tahu sama sekali. Dengan terus memasang mata dan telinga, ada semacam panduan bagi kamu dalam mengambil keputusan dan menentukan pilihan. Jika tahu perbedaannya, saat dokter terus memberikan tes cepat dan menolak memberikan kamu tes PCR, kamu bisa protes.

  1. Lakukan langkah-langkah pencegahan yang logis dan mampu dilakukan

Tidak bisa mendekam berlama-lama di rumah? Pergilah ke luar tapi hindari kegiatan dalam ruangan bersama banyak orang. Harus tetap bekerja? Pakailah masker jika ada dalam ruangan. Bagaimana kalau makan? Pilihlah area luar ruangan sehingga lebih aman melepas masker.

Harus pergi ke rumah sakit untuk imunisasi atau mau tes PCR? Cari layanan drive through untuk tes atau layanan vaksin ke rumah. Beberapa RS memindahkan area tes di tempat parkir, halaman, atau bangunan terpisah. Cari tahu sebelum datang dan jangan menunda layanan kesehatan yang penting hanya karena takut tertular. Semua bisa ditanya dan dikonsultasikan sebelumnya untuk memastikan keamanan.

Mau meningkatkan imunitas tubuh untuk mencegah terkena COVID-19? Ingat tentang orang tanpa gejala (OTG), kamu bisa tetap sehat dan tetap membawa virus itu ke mana-mana. Ini bukan penyakit yang dengan mudah melindungi diri artinya semua masalah selesai. Ini pandemi, masalah terberatnya ada pada penularannya. Jangan egois dan merasa diri selamat dalam lindungan kekebalan tubuh sendiri. Cari tahu bagaimana virus ini menular dan jadikan diri kamu pemutus rantai penularan.

Ros Aruna adalah seorang penulis dengan pengalaman delapan tahun sebagai jurnalis di berbagai media. Memiliki latar belakang pendidikan sastra dan ketertarikan akan isu perempuan. Karyanya bisa ditengok di www.rosaruna.com.