April 06, 2020
Queer Love: Tentang ‘Coming Out’ dan ‘Happy Ending’

Apakah ‘coming out’ faktor utama untuk menjamin hubungan pasangan queer ‘happy ending’?

by Paramita Mohamad dan Downtown Boy
Issues
Lesbian LBQ QueerWomen_Karina Tungari
Share:

Dear Magdalene,

Saya memiliki pasangan perempuan, sudah hampir lima tahun berjalan. Kami bersahabat dari semasa SMA. Saya sempat denial dan karena merasa tertolak oleh saya, dia akhirnya menjalin hubungan dengan perempuan lain. Saya merasa marah, hancur dan menyesal. Namun selama dia berhubungan dengan wanita lain, kami masih berkomunikasi walaupun tidak intens.  

Dia menghubungi saya di pertengahan tahun 2017 dan kami malah menjadi semakin dekat dan sangat intens, sementara dia masih menjalin hubungan dengan perempuan lain. Sempat merasa bodoh, tapi saya yakin bahwa dia benar-benar tulus dengan saya dan akan kembali pada saya. Sampai akhirnya mereka mengakhiri hubungan di bulan Oktober 2019 secara baik-baik. Dia pun jujur menjelaskan ke perempuan itu, bahwa selama ini ada saya dan dia tak bisa terus bersama dengan perempuan itu. It is strange but I feel like I'm in the right place

Namun saya mulai ditanya orang tua tentang kedekatan kami. Orang tua saya sangat strict (maklum sudah tua dan sangat Jawa sekali). Saya harus backstreet dan selalu tidak berterus terang dengan orang tua saya ke mana pun saya pergi dengan dia. Ini sangat berbanding terbalik dengan orang tuanya. Saya sudah sangat dekat dengan ibu dan adik perempuannya, juga keluarganya besarnya tahu keberadaan saya.

Di satu sisi ternyata sangat melelahkan ketika kami harus berpura-pura straight di depan orang tua kami. Di sisi lain, dia juga merahasiakan saya dari teman-teman yang dulu pernah satu circle dengan mantan pasangannya. Dia menyebutnya teman-teman L World, walaupun saya pernah diajak bertemu satu kali dengan sebagian dari teman-temannya itu. Dia sangat menjaga saya. Dia bilang, ketika saya declare as an L, saya harus siap konsekuensi atas pandangan mereka.  Kadang saya selalu bertanya dalam hati, “Kenapa dia harus menyembunyikan saya?”. Saya sudah siap menghadapi segalanya asal kita bersama. 

Selain itu, saya merasa bingung, sampai kapan kami bisa bertahan. Sampai saat ini, kami sama-sama sadar bahwa hubungan ini tidak akan ada happy ending-nya, kecuali kami berani coming out dengan konsekuensi awal yang melukai hati dan kepercayaan orang-orang yang kami sayangi, terutama keluarga. Namun rasa cinta kasih kami ini terus ada, dan kami ingin terus bersama-sama.

Terima kasih dan maaf atas penjelasan cerita yang panjang.

Best regards,
Kekasih Penuh Rahasia

Kata Mita:

Dear Kekasih Penuh Rahasia,

Terima kasih sudah mempercayai kami untuk berbagi ceritamu yang sangat pribadi. Saya tertarik dengan pernyataanmu, “Kami sama-sama sadar bahwa hubungan ini tidak akan ada happy ending-nya, kecuali kami berani coming out”. Saya akan mengajakmu untuk memikirkannya kembali.

Baca juga: Queer Love: Kenapa Gay Suka Ingin Tampil Menonjol?

Pertama, tentang happy ending. Apa yang kamu maksud dengan happy ending? Bahwa kalian akan terus bahagia, dan kebahagiaan ini hanya berakhir saat ajal memisahkan? Bahwa kalian bisa tinggal bersama dan menjalani hidup berdua tapi tetap punya lingkungan yang menjadi dukungan sosial buat kalian?

Misalnya, kamu berharap bisa terus bahagia sampai ada yang meninggal. Terus-menerus bahagia (dalam arti selalu mengalami emosi positif) itu mustahil. Pasangan yang mengaku atau diakui banyak orang sangat bahagia pun punya hari-hari ketika mereka bertengkar. Pasti ada hari-hari yang diwarnai kekecewaan, kejengkelan yang terpendam, dan rasa tidak berdaya. 

Selain itu, sebetulnya tidak ada satu pun yang bisa menjamin satu pasangan, apa pun orientasi seksualnya, pasti mengalami happy ending. Apakah pasangan homoseksual (atau mungkin dalam bahasamu, L Couple. Masih sulit ya untuk menulis kata lesbian?) yang sudah melela ke lingkungan terdekatnya akan lebih mungkin bahagia dan bertahan lama?

Ada survei di AS yang menunjukkan bahwa LGBT yang lebih tua dan sudah menikah (sehingga logikanya sudah melela) rata-rata merasa lebih bahagia dan lebih sehat daripada LGBT yang tak berpasangan. Jadi ya, saya rasa ada hubungannya antara melela dengan kebahagiaan pasangan LGBT. Namun apakah pasti mereka yang sudah melela akan bahagia dalam hubungannya? Belum tentu. Setiap pasangan punya latar belakang dan tantangan yang unik. 

Tapi yang lebih penting, Kekasih Penuh Rahasia, alasan untuk coming-out bukanlah agar bisa punya hubungan bahagia dan langgeng dengan orang lain. Melelalah demi kebahagiaanmu sendiri. Pada saat kita jujur menerima orientasi seksual kita, tingkat stres kita menjadi rendah, sehingga kita bisa lebih sehat dan bahagia, seperti yang diungkap dalam studi ini di Kanada. Tentu studi ini perlu direplikasi ke negara lain yang mayoritas penduduknya tidak bisa menerima homoseksualitas seperti Indonesia. Tapi intinya, melelalah untuk dirimu sendiri, bukan untuk orang lain, bukan untuk menjamin kebahagiaan hubunganmu.

Seandainya kamu butuh saran, ini dari saya: Dalam suasana yang tenang dan memungkinkan berpikir jernih, bicaralah dengan pasanganmu tentang apa yang berusaha dia capai dengan “menyembunyikan”-mu dari teman-temannya. Bisa jadi dia pikir itu cara dia menjagamu agar tetap bisa menetap dalam lemari (closeted). Bisa jadi dia pikir kamu bakal sulit diterima teman-temannya. Tapi asumsi-asumsi ini harus dibuat eksplisit di antara kalian berdua, sehingga kalau ada yang salah bisa dikoreksi.

Bagaimana soal melela ke orang tua? Saya beruntung bahwa saya dengan mudah dan tanpa konsekuensi negatif bisa melela ke orang tua. Namun saya sadar kamu dan banyak orang lain mungkin tidak seberuntung itu. Jadi harus bagaimana? Kamu bisa menghitung konsekuensi apa yang mungkin muncul jika kamu melela. Untuk tiap konsekuensi, tanya ke diri sendiri, “Apa yang akan saya alami jika konsekuensi ini terjadi? Seberapa buruk, dan seberapa besar saya rasa saya bisa menerimanya? Sepadankah hidup kondisi negatif ini dengan penerimaan jujur tentang diri sendiri?”

Baca juga: Queer Love: Bisakah Kita Membelokkan Orang Jadi LGBT?

Dari pengalaman teman-teman, ternyata konsekuensi yang paling sulit diterima adalah rasa bersalah akibat membuat orang tua tidak bahagia, dan bukan konsekuensi finansial atau legal atau api neraka. Biasanya kalau sudah begini saya bertanya ke mereka yang masih takut dirundung rasa bersalah, “Menurut kamu, siapa yang bertanggung jawab atas kebahagiaanmu? Kalau kamu sendiri, apakah artinya kamu percaya bahwa kebahagiaan semua orang adalah tanggung jawab masing-masing? Kalau ya, apakah artinya kebahagiaan orang tuamu adalah juga tanggung jawab mereka sendiri?”

Dan saya akan berhenti di situ. Meskipun saya sangat percaya melela memberi konsekuensi positif bagi kesehatan mental saya, dan semakin banyak yang melela akan semakin baik buat penerimaan dan kesehatan mental LGBTQ yang lain, saya menghargai hak orang akan privasinya masing-masing. Saya hanya bisa menyodorkan satu perspektif yang biasanya jarang dipikirkan seorang anak yang sudah dewasa: Bahwa mereka pun kalau mau bisa memperlakukan orang tua mereka sebagai orang dewasa juga. 

Semoga jawaban saya membantu. Peluk dari jauh, karena semua perlu jaga jarak demi keamanan semua. 

Love,
PM

Downtown Boy says:

Dear Kekasih,

I believe we are the writer of our own story. As much as I have grown wary from disappointments and despairs in love, we still get to choose our path, if only we knew how to prioritize. So, when you find the love of your life, you don't need your parents' approval to make your relationship complete.  From your explanation, I gather you come from a conservative family with rigid values. Your happiness is not worth the sacrifice to gain your parents' nod. You may want their blessing in life but they don't get to choose the ones you love.

As for your other question; I understand you want to be included more in your partner's world and be more acquainted with her lesbian friends. This could give you a greater sense of security and acceptance in your relationship. Nonetheless you can't force yourself to be in her L world. There are things that may be best kept unsaid, for instance, her friends may have grown more comfortable with your partner's ex-girlfriend and disapprove this union. We never know and you shouldn't care because it shouldn't affect how you guys express your love and affection. Start seeking emotional security in your relationship from mutual action, goals and understanding, not from other people's approval. 

Best,
DB

Kalau kamu punya kegalauan seputar percintaan atau kehidupan queer, silakan email pertanyaannya ke [email protected] dengan subjek “Queer Love” atau DM ke akun twitter @the_magdalene dan Instagram @magdaleneid.

Paramita Mohamad bekerja merancang strategi komunikasi agar mereka yang ingin membenahi Indonesia bisa menggugah mereka yang tak peduli. Selain itu, ia mengabdi pada tiga kucing rupawan yang dikenal sebagai Trias Politicats. Diambil dari lagu hit klasik Petula Clark, Downtown Boy alias DB, adalah hipster usia 20an yang terjebak dalam tubuh pria gay berumur 40an. Ia pegawai kantoran biasa di Jakarta dan hobinya termasuk mendengarkan lagu-lagu lama dan olahraga yang menantang secara fisik. Dulu ia suka bela diri tapi terpaksa berhenti karena punggung bawahnya cedera. Semua temannya menduga cedera tersebut akibat sesuatu yang lebih mencurigakan.