September 25, 2020
Reggy Lawalata dan Membesarkan Anak Transgender

Aktris Reggy Lawalata berbicara mengenai pentingnya penerimaan orang tua terhadap anak LGBT.

by Hera Diani dan Siti Parhani
Wo/Men We Love
Share:

Salah satu orang dekat aktris/pengusaha Reggy Lawalata mengontak kami, mengatakan bahwa Reggy sangat senang dengan artikel Magdalene 5 Hal yang Bisa Dipelajari dari Hubungan Oscar dan Reggy Lawalata. Artikel tersebut merupakan respons dari video-video kanal The Lawalatas, yang menampilkan kehidupan Reggy dan kedua anaknya, desainer Oscar Lawalata dan aktor Mario Lawalata.

Dalam dua video yang berjudul ‘Untold Story Reggy Lawalata - Anakku Feminin’ dan ‘Untold Story Oscar Lawalata - Merdeka Diri’ di kanal YouTube tersebut, Reggy dan Oscar menceritakan sudut pandang mereka dalam perjalanan menerima satu sama lain terkait identitas Oscar (kini bernama Asha) sebagai transgender. Kisah mereka menghangatkan hati, karena jelas tidak semua orang tua dengan anak LGBT mau menerima anak mereka.

Saat diwawancara di rumahnya, Reggy mengaku dia masih memiliki banyak kebingungan soal keragaman gender dan seksualitas. Dia pun melontarkan beberapa pertanyaan soal itu setelah mengetahui Magdalene juga membahas isu-isu LGBT.

“Ada juga itu teman saya, dia bilang kalau pacaran, bahkan enggak pengen pegangan apalagi berhubungan. Cukup dipandang saja, dia sudah senang. Itu kenapa, ya?” tanya Reggy dengan kening berkerut.

“Hah? Aseksual? Apa lagi itu?” serunya, sebelum menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa.

Mengobrol dengan Reggy memang seru dan hangat. Dia juga tidak segan menanyakan tentang hal-hal yang ingin diketahuinya dan mendengarkan dengan saksama. Jadilah kami memberikan kuliah tujuh menit soal SOGIE-SC (sexual orientation, gender identity and expression, and sex characteristic).

Berikut adalah rangkuman obrolan kami dengan Reggy di rumahnya baru-baru ini.

Magdalene: Bagaimana Oscar bisa terbuka mengenai identitas gendernya pada video ini?

Reggy Lawalata: Masalah yang menampilkan Oscar, saya sempat tanya sama Oscar apa penting untuk kamu menceritakan diri kamu? Dia bilang, penting. Saya tanya lagi, sejauh apa pentingnya. Dia jawab, untuk aku pentin”. Lalu saya tanya lagi, kenapa penting? Dia bilang, I’m happy my family accepted me. Tapi Oscar masih merasa masih ada ganjalan, dia pengen ganjalan itu diceritakan. Kita sempat berpikir, ya pasti itu jadi pro-kontra, tapi di satu sisi ada kejujuran. Saya mengajarkan anak-anak kejujuran. Akhirnya kita diskusikan lagi dan lahirlah The Lawalatas.

Baca juga: Reggy Lawalata dan Stigma Sebagai Janda

Perjalanan Oscar juga kan enggak pendek. Saya melihat dia dari kecil, saya perhatikan. Saat SD, dia itu lebih halus perasaannya. Misalnya, anjing saya ketabrak becak, dia bisa panas tiga hari. Kalau jatuh, dia lari ke Mama. Awalnya saya masih menganggap itu hal yang wajar. Tapi waktu dia SMP, saya melihat dia lebih feminin dibanding yang lain.

Perlahan saya mulai nanya apa yang dia rasain. Dia bilang, merasa beda aja sama yang lain, tapi saya masih juga bingung. Saat dia SMA, saya mulai ngomong sama Oscar dari hati ke hati, karena semua orang sudah mulai memperhatikan Oscar saat kita di depan umum, atau di restoran. Saya mulai membayangkan dan merasakan gimana jadi dia. Saya kira sangat capek ya digituin orang. Dia enggak bisa ngomong, dia enggak bisa bilang apa pun. Tapi tiap hari dia menghadapi hal-hal yang seperti itu.

Terus saya ngobrol, apa sih yang dia rasain? Apakah kamu merasa lebih nyaman sebagai laki-laki atau perempuan? Dia bilang dia enggak tahu, dan akhirnya kita hanya menangis berdua. Seperti yang saya katakan, saya kasih sayang sama, makan sama, tidak saya bedakan dengan Mario. Saat itu saya enggak bisa apa-apa, saya cuman peluk dia aja.

Kemudian ada anak teman saya yang perempuan jadi laki-laki dan operasi di luar negeri. Lalu ada terbersit dalam diri saya, apa Oscar juga begitu ya. Itu sekitar delapan tahun lalu lah. Saya bilang, enggak ah enggak. Ternyata dari umur 20 tahun sekian dia sudah mempertanyakan dirinya, karena mungkin dia ngobrol sama saya tidak menemukan jawaban yang diinginkan. Jadinya kira-kira umur 30 dia mulai riset sendiri. Setelah belajar selama 10 tahun itu, kira-kira 5-6 tahun lalu, dia bilang dia bicara sama say,a apa yang dia inginkan. Tapi tentu dia bicara kepada saya itu dengan cara dia sendiri karena dia tahu saya sangat konservatif. Dulu saya berpikir kalau Tuhan menciptakan manusia itu laki-laki dan perempuan. Saya pikir, ah ini bisa (berubah) dengan waktu.

Saat Oscar bicara sama saya begitu, saya mulai bergumul dengan diri sendiri, hampir lima tahun. Saya berdoa sambil menangis. Saya enggak tahu harus apa, harus bertanya ke siapa. Mau lari ke pendeta udah jelas jawabannya apa, jadi susah untuk saya. Selama lima tahun kami berbicara secara berkala; semua yang dia pelajari, dia obrolkan dengan saya. Di tahun keempat, dia mulai masuk ke saya, kemungkinan besar dia mau mengambil langkah ini (menjadi perempuan). Karena inilah saya, katanya.

Kita harus bikin para orang tua tahu, kan lu yang melahirkan, dan ini anak lu, paling enggak lu accept aja dulu kalau anak saya unik.

Saya sempat bilang ke dia, kalau berkat kamu itu sudah besar, kamu paling sukses di antara yang lain...pokoknya omongan seorang ibu lah. Oscar bilang, “Mama ngerasa enggak kenapa aku ini ada? Tuhan menciptakan aku juga pasti karena ada tujuannya juga, Mam.” Saya balik bertanya, kamu enggak takut kodrat kamu ubah? Dia jawab, aku yakin Tuhan menciptakan aku ada maksud, dan atas pertolongan Tuhan, apa pun yang aku lakukan, apa yang bisa dan tidak bisa terjadi itu karena Tuhan juga. Saya bilang, beri saya waktu untuk memikirkan itu.

Mario datang ke saya dan bilang, apa pun langkah yang Oscar ingin ambil, dia pasti sudah pikirkan semua, sudah dipertimbangkan semua. Mario itu adik yang baik, dia itu luar biasa, padahal dia tipikal yang sangat maskulin. Tapi dia enggak pernah absen untuk melindungi kakaknya dari dia kecil. Ada yang ngomongin langsung disamperin. Lu enggak usah-usah ngomongin kakak gue, begitu katanya.

Kemudian saya bertanya lagi, kalau sudah dilakukan, apa sih guarantee kalau dia jadi happy? Oscar jawab, paling tidak aku mencoba. Pokoknya kita ngobrol itu bertahap gitu. Kalau sudah mulai naik emosi, kita break dulu. Sampai akhirnya Mario tanya saya, Mama ingin apa dalam hidup? Mama mau Oscar happy atau enggak? Saya selalu bilang, kebahagiaan kalian adalah kebahagiaan kalian, saya hanya mendukung.

Sejak anak-anak umur 21 tahun saya tidak pernah lagi ikut campur urusan anak-anak. Akhirnya Mario bilang, kalau Mama pengen liat kita bahagia dan lihat Oscar bahagia, biarkan dia melakukan apa yang membuat dia bahagia. Setelah mendengar itu, saya jadi pikir lagi dan bilang, give me time lagi.

Tentu sebagai orang tua banyak yang dikhawatirkan. Mario juga bilang dia khawatir, tapi Mario bilang, semua serahkan saja ke Tuhan, kita cuman bantu support. One day dia datang lagi ke saya dan saya bilang berubah lah, tapi jangan berubah jadi orang lain. Tetaplah jadi diri kamu sendiri, dan jangan lupa Tuhan. Itu saja.

Dalam diskusi kami, Oscar menerangkan ke saya bahwa dia sudah periksa kromosom, sudah ke psikiater, ke psikolog, atau apalah, yang menurut saya luar biasa.

Baca juga: Reggy Lawalata dan Ketabuan Seputar Perceraian

Setelah video Oscar viral, ternyata masih banyak miskonsepsi tentang trangender. Misalnya saja, yang paling sederhana, ada yang bilang, “Loh kok rambutnya sekarang malah jadi pendek?”. Bagaimana Tante Reggy melihat itu?

Oscar itu karena rambutnya rusak, jadinya pendek. Anak-anak saya ini kan berdarah Ambon, jadi rambutnya ikal. Oscar dilurusin rambutnya bertahun-tahun, akhirnya pecah-pecah. Menurut saya itu bukan tolok ukur seorang transgender. Mungkin karena Oscar dulu sebelum terbuka jadi transgender rambutnya panjang, sekarang saat sudah terbuka malah jadi pendek. Tapi sebetulnya jadi transgender kan bukan hanya dari penampilan fisik saja.

(Mengangkat gelas air) Menurut saya, misalnya ada orang bilang ini susu, ini teh. Si susu pasti bilang, enggak gue susu. Nah itu Oscar, dia akan bilang ya gue tuh ini, bukan apa yang lu bilang. Gue akan jadi ini, gue akan mengikuti ini, karena gue merasakan itu. Kalau lu merasa nyaman, ngapain lu operasi. Tapi kalau masih rasa kayaknya enggak lengkap, dan memilih operasi, ya silakan. Rasa ini kan bagi saya sesuatu yang bisa menggerakkan apa pun.

Sebenarnya kan anak-anak ini perlu didukung saja, diiyakan saja, itu sudah luar biasa rasanya. Jangan sampai dikucilkan, dibuang, jijik, aib keluarga...kasian gitu loh. Kita harus bikin para orang tua tahu, kan lu yang melahirkan, dan ini anak lu, paling enggak lu accept aja dulu kalau anak saya unik. Susah loh jadi mereka. Saya jalan sama Oscar, semua orang lihat, sebentar-sebentar melihat, mana rambutnya panjang. Ada yang bisik-bisik. Bayangin setiap jalan seperti itu. Itu alasan saya selalu menemani Oscar ke mana pun, karena saya merasakan perasaan itu.

Saya berusaha memberi pengertian kepada Mario, jangan sampai dia merasa kasih sayang saya semua tercurah kepada Oscar saja. Setelah semua ini, sekarang saya mau balik lebih ke Mario; pasti keadaan ini juga enggak gampang buat Mario. Kasihan juga sama Mario ya, tapi Mario baik hati dan besar hati.

Saya punya dua anak yang sangat berbeda. Jangan dilihat Oscar gampang sampai di proses ini. Biar bagaimana pun saya konservatif dan keras, itu kehebatan Oscar (bisa melunakkan saya). Saya berpikir, Tuhan memberikan Oscar kepada saya karena saya mampu. Kekuatan orang kan beda-beda. Teman saya dikasih (anak) transpria dan dia kuat. Para ibu atau orang tua enggak tahu mereka punya kekuatan itu.

Sekarang sudah sampai di tahap ini, apakah sikap yang tadi konservatif itu masih ada?

Enggak, sekarang malah melebar pikiran saya. Kalau selama ini saya kira hidup itu cuman ada ini, ada itu, ternyata hidup enggak sesempit itu. Ada juga kan pemuka agama yang sekarang ini sudah berani membongkar isu-isu LGBT itu, misalnya, cuman kan karena tabu jadi tidak keluar di permukaan. Karena sekarang ini sudah zaman keterbukaan, meski sekarang juga makin konservatif, lebih baik buat mereka jujur dengan dirinya daripada mereka tertutup seperti keadaan 50 atau 70 tahun lalu. Nanti kalau dia memaksakan menikah itu juga kasihan istri dan orang tuanya.

Hera Diani, seperti banyak orang Indonesia lainnya, memiliki dua nama dan ia senang karena perempuan Indonesia tidak perlu menggunakan nama belakang ayah dan suami mereka. Ia pencinta budaya populer, namun kritis terhadap aspek-aspek buruk budaya tersebut, seperti konten-konten yang mengandung pesan misoginis dan budaya pemerkosaan, serta The Kardashians. Siti Parhani merupakan reporter Magdalene. Bisa dipanggil Hani. Mempunyai cita-cita utopis bisa hidup di mana latar belakang manusia tidak jadi pertimbangan untuk menjalani hidup.