7 Film Horor Perempuan Sutradara yang Cocok Ditonton saat Halloween
Halloween jadi momen yang pas buat siapin camilan, lalu menghabiskan malam dengan film horor. Kalau kamu sedang mencari tontonan yang bukan cuma mengandalkan hantu atau jumpscare, film-film garapan perempuan sutradara ini layak masuk watchlist. Ada kisah vampir yang berkeliaran sendirian pada malam hari, rumah tua yang menyimpan teror keluarga, sampai tubuh manusia yang berubah menjadi sumber ketakutan.
Menariknya, horor enggak selalu membutuhkan makhluk gaib untuk membuat penonton gelisah. Sejumlah film menggunakan teror untuk membicarakan pengalaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti duka, tekanan menjadi ibu, kekerasan berbasis gender, hingga tuntutan untuk selalu terlihat muda. Hasilnya bukan sekadar tontonan yang menguji nyali, tetapi juga cerita yang bisa mengundang diskusi setelah film berakhir.
Dalam artikel 8 Chilling Sundance Horror Films Directed by Women, Sundance menyoroti beragam pendekatan sutradara perempuan dalam genre horor. Sementara itu, The Guardian melalui artikel The Female Directors Bringing New Blood to Horror Films membahas kontribusi para sineas perempuan dalam memperluas cara cerita horor disampaikan.
Tentu, tidak semua film yang disutradarai perempuan otomatis membawa pesan feminis. Setiap sineas punya gaya dan tujuan artistik masing-masing. Namun, tujuh film berikut menunjukkan bahwa teror bisa datang dari banyak hal, bukan hanya sosok menyeramkan yang muncul dari kegelapan.
Baca Juga: 5 Film Horor Rekomendasi Joko Anwar
1. The Babadook (2014): Horor Psikologis tentang Duka dan Pengasuhan
Kalau kamu lebih suka horor yang membangun ketegangan perlahan daripada mengandalkan jumpscare, The Babadook bisa menjadi pilihan untuk malam Halloween. Film garapan Jennifer Kent ini mengikuti Amelia, seorang ibu tunggal yang masih berduka setelah kematian suaminya. Di tengah kesibukannya membesarkan Sam, anaknya yang sulit dikendalikan, sebuah buku cerita misterius berjudul Mister Babadook muncul di rumah mereka.
Sosok menyeramkan dari buku tersebut perlahan terasa semakin nyata. Kondisi emosional Amelia pun memburuk, sementara rumah yang semula menjadi tempat berlindung berubah menjadi ruang yang menakutkan.
Dalam wawancara dengan The Guardian berjudul The Babadook: ‘I Wanted to Talk About the Need to Face Darkness in Ourselves’, Kent membahas pengalamannya menggambarkan sisi pengasuhan yang tidak selalu mudah diakui. Ia ingin menghadirkan sosok ibu yang manusiawi, termasuk ketika merasa kewalahan menghadapi situasi yang sulit.
Pendekatan tersebut terasa dalam karakter Amelia. Ia menyayangi anaknya, tetapi juga kelelahan dan harus menghadapi duka yang belum selesai. Monster dalam film ini dapat dibaca sebagai representasi perasaan yang terpendam, meski penonton tidak harus terpaku pada satu tafsir.
Buat kamu yang menyukai horor dengan atmosfer kuat dan konflik psikologis, The Babadook menawarkan teror yang tidak berhenti ketika sosok menyeramkan menghilang dari layar.
2. Raw (2016): Ketika Tubuh Menjadi Sumber Teror
Bagaimana jika memasuki lingkungan baru justru membuatmu menemukan sisi diri yang sebelumnya tidak pernah kamu kenali? Pertanyaan itu menjadi dasar Raw, film karya Julia Ducournau yang mengikuti Justine, mahasiswa kedokteran hewan dari keluarga vegetarian.
Saat menjalani ritual perpeloncoan di kampus, Justine dipaksa menghadapi pengalaman yang bertentangan dengan kebiasaan dan keyakinannya. Setelah kejadian tersebut, ia mulai merasakan dorongan aneh terhadap daging mentah. Rasa penasaran yang awalnya tampak sederhana kemudian berkembang menjadi sesuatu yang semakin sulit dikendalikan.
Dalam wawancara The Guardian, Raw Director Julia Ducournau: ‘Cannibalism Is Part of Humanity’, Ducournau membicarakan hubungan antara tubuh, perubahan fisik, dan identitas. Ia tertarik pada pertanyaan tentang sejauh mana tubuh membentuk diri seseorang, terutama ketika perubahan biologis terjadi di luar kendali.
Gagasan tersebut menjadi bagian penting dari Raw. Film ini termasuk body horror, genre yang menjadikan tubuh manusia dan perubahan fisiknya sebagai sumber ketakutan. Hasrat, proses pendewasaan, dan pencarian identitas hadir melalui visual yang intens dan kadang membuat penonton merasa tidak nyaman.
Film ini bukan pilihan untuk semua orang. Ada adegan berdarah dan kanibalisme yang cukup ekstrem. Namun, jika kamu menyukai horor yang berani mengeksplorasi sisi tubuh manusia yang jarang dibicarakan, Raw menawarkan pengalaman yang berbeda dari cerita hantu konvensional.
Baca Juga: Sederhana, tapi Kenapa Film Horor Indonesia Takut ‘Sex-positive’?
3. A Girl Walks Home Alone at Night (2014): Vampir Perempuan yang Menantang Stereotip
Cerita vampir biasanya menempatkan manusia sebagai mangsa dan makhluk pengisap darah sebagai ancaman yang harus dihindari. A Girl Walks Home Alone at Night menawarkan sudut pandang berbeda melalui sosok vampir perempuan yang berkeliaran sendirian pada malam hari.
Film garapan Ana Lily Amirpour ini berlatar di kota fiktif bernama Bad City. Tokoh utamanya mengenakan chador hitam, mengendarai papan luncur, dan mengamati orang-orang di sekitarnya sebelum menentukan siapa yang akan menjadi korbannya. Sinematografi hitam-putih membuat film ini terasa seperti perpaduan antara horor, film noir, dan western.
Dalam wawancara The Guardian, The Skateboarding Iranian Vampire Diaries, Amirpour menceritakan bagaimana pengalaman mengenakan chador menginspirasinya membayangkan sosok vampir perempuan. Ia mengembangkan karakter tersebut menjadi figur yang punya kekuatan dan daya tariknya sendiri, bukan sekadar makhluk yang mengikuti gambaran vampir konvensional.
Tokoh utamanya tidak tampil sebagai korban yang menunggu diselamatkan. Ia memiliki kendali atas dirinya dan menentukan bagaimana menghadapi orang-orang yang ditemuinya. Karakternya juga membuka ruang untuk membaca cerita ini sebagai komentar tentang kekerasan berbasis gender dan perilaku laki-laki yang mengeksploitasi perempuan.
Film ini tidak menyampaikan gagasannya melalui dialog panjang atau pesan moral yang gamblang. Banyak maknanya muncul dari ekspresi, komposisi gambar, musik, dan keheningan. Kalau kamu ingin menonton horor yang atmosferik dan punya gaya visual khas, film ini cocok masuk daftar Halloween.
4. Revenge (2017): Bertahan Hidup di Tengah Teror Kekerasan
Jika kamu lebih menyukai film dengan tempo cepat dan adegan intens, Revenge bisa menjadi pilihan. Film garapan Coralie Fargeat ini mengikuti Jen, perempuan yang sedang berlibur bersama kekasihnya di lokasi terpencil. Situasi berubah menjadi mimpi buruk setelah dua teman kekasihnya datang dan Jen mengalami kekerasan seksual.
Ketika ditinggalkan dalam kondisi kritis, Jen berjuang untuk bertahan hidup. Cerita kemudian berkembang menjadi perburuan brutal di tengah lanskap gurun, dengan Jen berusaha menghadapi orang-orang yang telah menyakitinya.
Dalam ulasannya di The Guardian, Revenge Review – A Gorgeously Shot Tale of Hideous Violence, kritikus Peter Bradshaw membahas gaya visual film yang mencolok dan kekerasannya yang ekstrem. Ia juga mempertanyakan apakah film ini benar-benar membalikkan formula genre balas dendam atau masih mengulang sebagian problem yang melekat pada genre tersebut.
Film ini memang menempatkan Jen sebagai sosok yang melawan balik, bukan sekadar korban yang menunggu diselamatkan. Namun, Revenge juga menampilkan kekerasan secara brutal melalui visual yang mencolok dan adegan yang dibuat dramatis. Pilihan tersebut membuat film ini menarik sekaligus mengundang pertanyaan tentang bagaimana tubuh perempuan dan kekerasan seksual digambarkan dalam cerita balas dendam.
Perlu dicatat, Revenge memuat kekerasan seksual serta adegan gore yang eksplisit. Pertimbangkan batas kenyamananmu sebelum menonton. Film ini lebih cocok untuk penonton dewasa yang siap menghadapi tema berat dan visual ekstrem.
5. The Invitation (2022): Undangan Pernikahan yang Berubah Menjadi Mimpi Buruk
Undangan ke pesta pernikahan keluarga jauh terdengar seperti awal cerita romantis. Namun, bagi Evie dalam The Invitation, kesempatan bertemu kerabat yang belum pernah dikenalnya justru membawanya ke situasi berbahaya.
Setelah kematian ibunya, Evie melakukan tes DNA dan menemukan keluarga jauh di Inggris. Ia kemudian diundang menghadiri pesta pernikahan mewah di sebuah rumah besar. Awalnya, keramahan keluarga baru dan pesona Walter, tuan rumah yang aristokrat, membuat Evie merasa seperti memasuki kehidupan yang berbeda. Namun, kejanggalan demi kejanggalan mulai terungkap, sampai ia menyadari bahwa dirinya berada dalam bahaya.
Dalam wawancara TheWrap, The Invitation Director Jessica M. Thompson Talks Reinventing Dracula, Thompson menjelaskan ketertarikannya mengolah kisah vampir dari sudut pandang para calon pengantin Dracula. Ia juga menekankan pentingnya membangun hubungan yang meyakinkan antara karakter sebelum teror mengambil alih cerita.
Pendekatan tersebut membuat The Invitation memadukan horor gotik dengan romansa dan misteri keluarga. Rumah megah, pesta mewah, serta keramahan yang terasa berlebihan membangun suasana tidak nyaman sejak awal. Di balik kemewahan itu, cerita juga menyinggung relasi kuasa, kelas sosial, dan posisi perempuan dalam tatanan yang dikuasai laki-laki.
Kalau kamu menyukai cerita vampir dengan latar elegan, rahasia keluarga, dan sentuhan romansa gelap, The Invitation bisa menjadi pilihan untuk maraton Halloween.
6. The Substance (2024): Horor tentang Standar Kecantikan dan Obsesi Awet Muda
Bayangkan ada zat misterius yang menjanjikan versi dirimu yang lebih muda, lebih cantik, dan dianggap lebih sempurna. Apakah kamu akan mencobanya ketika dunia mulai menganggapmu tidak lagi menarik?
Pertanyaan tersebut menjadi dasar The Substance, film garapan Coralie Fargeat yang mengikuti Elisabeth Sparkle, mantan bintang televisi yang mulai kehilangan tempatnya di industri hiburan. Ia menggunakan sebuah zat yang memungkinkan dirinya menciptakan Sue, versi dirinya yang lebih muda. Namun, kesempatan untuk mendapatkan kembali perhatian publik justru berubah menjadi mimpi buruk ketika batas antara keduanya semakin rumit.
Dalam wawancara The Guardian, ‘Before Ozempic We Had Amphetamines. But It’s Always the Same Violence’: Coralie Fargeat on Women, Ageing and Hollywood, Fargeat membahas hubungan filmnya dengan tekanan sosial terhadap penampilan perempuan dan ketakutan akan penuaan. Film ini menggunakan horor tubuh untuk menggambarkan dampak tuntutan kecantikan yang terus-menerus dipaksakan kepada perempuan.
Darah, perubahan fisik, dan adegan menjijikkan dalam The Substance bukan sekadar cara untuk mengejutkan penonton. Semua itu memperkuat kritik terhadap budaya yang membuat seseorang merasa tubuhnya harus terus diperbaiki agar tetap dianggap berharga.
Film ini juga menyentuh persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: ketakutan kehilangan daya tarik, tekanan untuk terlihat muda, dan kebiasaan mengukur nilai diri lewat penampilan. Jika kamu ingin menonton horor yang menggabungkan kritik sosial dengan visual ekstrem, The Substance layak masuk daftar Halloween. Namun, bersiaplah menghadapi adegan gore yang cukup intens.
Baca Juga: ‘Weapons’ yang Mengerikan dan Mengundang Tawa
7. Relic (2020): Rumah Tua dan Ketakutan Akan Kehilangan
Rumah tua dalam film horor sering kali menyimpan hantu atau rahasia masa lalu. Dalam Relic, rumah justru menjadi ruang yang menghubungkan teror supernatural dengan pengalaman kehilangan dan perubahan dalam keluarga.
Film garapan Natalie Erika James ini berpusat pada Edna, perempuan lanjut usia yang menghilang dari rumahnya. Putrinya, Kay, dan cucunya, Sam, datang untuk mencari serta membantunya. Ketika Edna kembali, perilakunya mulai berubah dan berbagai kejadian aneh muncul di rumah tersebut.
Dalam wawancara The Guardian, Relic: Australian Director Natalie Erika James on Dementia, Horror and Her Sundance Hit, James bercerita bahwa pengalaman keluarganya menghadapi Alzheimer turut memengaruhi cerita film. Ia tertarik mengeksplorasi perubahan hubungan ketika seseorang yang dicintai perlahan kehilangan ingatan dan menjadi semakin sulit dikenali.
Gagasan itu terasa dalam hubungan tiga generasi perempuan di Relic. Ketakutan tidak hanya datang dari kejadian misterius di rumah, tetapi juga dari kecemasan menyaksikan orang terkasih berubah. Rumah yang semakin asing menjadi gambaran dari pengalaman kehilangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Cerita dengan tempo yang lambat, Relic membangun rasa takut lewat perubahan perilaku seorang anggota keluarga yang semakin sulit dikenali. Di balik teror di rumah itu, film ini juga bercerita tentang pengalaman menghadapi orang terdekat yang perlahan berubah, terutama ketika usia dan penyakit mulai memengaruhi hubungan keluarga.
Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi





















