Dynamic Stage Synchronize Festival 2026 sudah dikerubungi penonton meski penampilan belum dimulai sekitar pukul 21.30 WIB (18/10). Padahal penampilan belum dimulai. Saya menunggu bersama sejumlah penonton yang duduk di barisan paling depan, ingin menonton band .feast membawakan album Membangun & Menghancurkan (2024).
Pikiran saya melayang membayangkan tiap lagu. Saya prediksi, penampilan mereka akan jadi yang paling berkesan selama tiga hari Synchronize. Lagu asmara ‘Langitruntuh’ hingga tembang kritik sosial-politik ‘5’ tampaknya akan menguras sisa-sisa suara di tenggorokan sudah dikuras sejak hari pertama.
Tak lama kemudian muncul foto keempat personil .feast di videotron panggung. Penonton otomatis berdiri serentak, bersemangat. Begitu instrumen lagu Membangun dimainkan, crowd surf tak terelakkan.
Baca juga: Saat Si Anjing Polisi Menertibkan Kerusuhan: Membaca Otoritas dalam ‘Safety Sheriff Labrador’
Aku benci keramaian, tapi aku takut sepi
Aku benci kehidupan, tapi aku takut mati
Aku anti kerusakan, tapi ku senang bercermin
Aku anti kemapanan, tapi aku takut miskin
Saya terombang-ambing di kerumunan, mencari jalan untuk bergeser sedikit ke belakang.
Sembari menjauhkan kaki penonton yang diangkat dengan tangan dan menahan tubuh agar tidak terjatuh ketika berbenturan, saya akhirnya sampai di batas area crowd surf. Niatnya ingin memindahkan handphone dari kantong ke tas selempang. Saya tersentak saat kantong yang dirogoh: kosong.
Saya kembali lagi ke lingkaran adu tubuh itu untuk mencari—barangkali—handphone saya terjatuh.
“HP–nya jatuh juga bang? HP gue juga nih,” kata seorang penonton yang menunduk berupaya mencari di aspal. Pertanyaan serupa kemudian berulang sampai lima kali. Lima orang bernasib serupa saya.
Pencarian berhenti. Barang itu tidak terjatuh. Saya kemalingan.
Dengan batin lemas, saya pinjam handphone teman untuk mengabari orang-orang terdekat.
Pacar saya berusaha memeriksa lokasi handphone itu. “Dia sudah enggak di Kemayoran, dia sudah di Senen,” tulis pacar saya melalui pesan langsung Instagram. Saya bersumpah serapah saat lagu Arteri berkumandang berbalapan dengan teriakan para penonton.
“Menangisku di pundakmu / Kau bilang muntahkan semua pilu / Aku pura pura tak tahu Aku pura pura tak sadar / Kau hanya trauma / melunjur di Arteri //”
Baca juga: ‘Operasi Pesta Copet’: ‘TVC’ Pesta Pora yang Dibungkus Jadi Film
Tidak Ada Polisi di Kepala
Setidaknya ada beberapa pilihan dalam situasi kehilangan barang, terutama kecopetan. Pertama, saya bisa mengadu ke panitia acara. Namun, sepertinya tidak akan banyak membantu, karena handphone saya tak hanya berpindah tangan, ia telah berpindah lima kilometer dari venue.
Terlebih lagi, sebelum setiap penampilan dimulai, ada imbauan untuk menjaga barang bawaan, karena kehilangan bukan tanggung jawab panitia. Maka dari itu pemikiran tersebut langsung gugur seketika.
Kedua, saya bisa keluar dari lokasi konser, ke kantor polisi terdekat untuk meminta bantuan aparat penegak hukum. Saya baru saja menjadi korban pencurian yang seharusnya bergantung pada polisi. Tugas utama mereka kan menangani kriminalitas. Namun sayangnya, polisi tidak ada di kepala saya saat itu.
Mungkin saya terlalu pesimistis. Survei Litbang Kompas pada April 2026 mencatat kepercayaan publik terhadap Polri naik menjadi 82,4 persen dari 76,2 persen tahun sebelumnya. Menurut Indikator Politik Indonesia, tingkat kepercayaan publik terhadap Polri berada di angka 67 persen. Kepercayaan itu sempat jatuh sejak kasus Ferdy Sambo, dan kini berangsur pulih.
Tapi angka-angka itu mengukur kepercayaan umum pada institusi, bukan keyakinan bahwa HP yang dicopet di tengah kerumunan akan dicari. Dan saya jelas bukan satu-satunya korban.
Di konser Gesrek, Ancol, November 2025, lima copet ditangkap setelah banyak penonton melaporkan kehilangan ponsel dan kasusnya viral di media sosial. Polisi menyita 21 HP, tetapi hanya delapan yang sudah dilaporkan resmi oleh pemiliknya. Di konser Slank di Malang, April 2026, polisi menerima sedikitnya 14 laporan kehilangan HP dalam satu hari. Komplotannya belakangan dibekuk, meski satu pelaku masih buron. Di Pesta Rakyat Grahadi, Surabaya, dari 15 HP yang diamankan, baru empat laporan polisi yang masuk.
Dua hal bisa dibaca dari sini. Pertama, polisi bisa menangkap pencopet, jadi yang saya minta bukan khayalan. Namun penangkapan di Ancol terjadi setelah kasusnya ramai dibicarakan. Kedua, banyak HP yang disita tak kunjung punya laporan. Saya tidak tahu alasan masing-masing pemiliknya, tapi pola itu cocok dengan keputusan saya sendiri: tidak melapor bukan karena tak peduli, melainkan karena tak yakin laporan itu berbuah.
Keesokan harinya, Kolega kerja, Rivaldo Belekubun menceritakan pengalaman pacarnya, Tyas Pamelia melaporkan pencurian handphone ke kantor polisi. Awal 2024, Tyas kecopetan di TransJakarta (TJ). Ia ke kantor polisi terdekat. Kantor kosong, padahal saat itu masih pukul 11.00 WIB.
Tak lama, seseorang bercelana coklat dan memakai kaos menghampirinya. “Ada apa mba?” kata petugas kepolisian itu sembari memegang gorengan di salah satu tangannya. Tyas kemudian menceritakan kronologi kehilangan dan tujuannya datang ke kantor polisi.
“Kalau sekarang sudah dekat jam makan siang mba, tunggu jam satu saja ya nanti,” katanya menirukan polisi tersebut.
Setelah pukul 13.00, polisi lain yang juga tak berseragam datang dan menanyakan hal serupa. Bahkan dia mengulik sesuatu yang menurut Tyas janggal. “Dia kayak sambil ketawa-tawa, nanyain yang hilang HP apa? Berapa harganya?” cerita Tyas (22/10).
Setelah sekitar 20 menit tanya-jawab, polisi tersebut akhirnya menyarankan Tyas naik ke lantai dua untuk membuat surat kehilangan. Ternyata, semua percakapan tadi hanya basa-basi semata. Sebab, Tyas baru ditanyakan hal yang krusial seperti nomor IMEI dan kronologi oleh petugas di atas yang terlihat mencatat.
Polisi kemudian mengatakan akan mengabari jika ada tindak lanjut dari aduan Tyas. “Tapi sampai sekarang enggak pernah ada kabar apa-apa,” tuturnya. Kisah ini membuat keputusan saya untuk mengambil opsi ketiga semakin valid. Pilihan ketiga yang saya ambil: Joget lagi menikmati sisa-sisa festival.
Baca juga: Pengalaman Nonton Konser Dewa 19 di JIS: Penampilan Magis dan Jalan Pulang yang Sesak
Joget Lagi
Bangun tidur pasca-kehilangan handphone selalu menyulitkan. Semua hal yang biasanya dilakukan dengan satu tangan, seperti memeriksa aplikasi perpesanan dan linimasa media sosial, dikerjakan di laptop besar.
Belum lagi soal memblokir rekening dan memulihkan kembali nomor telepon, serta mengganti semua password akun digital, seperti email dan media sosial lainnya. Menyita banyak waktu dan pikiran.
Di tengah kesulitan-kesulitan itu, rasa sesal tak mengadu ke polisi tidak pernah terbersit. Bukan karena saya tidak mau handphone saya kembali. Dan tentu bukan karena saya benci konsep polisi. Namun, kepolisian yang saya dengar dan baca dari mulut dan jari masyarakat, tidak mampu menciptakan keyakinan kriminalitas yang saya alami akan tertangani.
Sebaliknya, ia malah akan menggiring saya ke proses administratif yang tidak membuahkan hasil. Saya jadi teringat ketika seorang teman berkata, “ye ngatai-ngatain polisi, nanti kalau ada apa-apaan larinya juga ke polisi.”
Poin saya mengkritik tentu bukan meniadakan polisi. Saya butuh polisi. Tapi polisi yang cepat-tanggap, serta canggih dalam melindungi masyarakat. Polisi yang melacak IMEI dan mencari copet handphone, serta menangkapnya tanpa menggunakan kekerasan. Itu poin kritik saya.
Kalau mau mengutip seorang pejabat, saya mengkritik itu berdasarkan argumen, bukan sentimen.





















