Women Lead
February 17, 2021

RM, Leader BTS yang Fokus pada Isu Sosial Anak Muda

RM, leader BTS, menyampaikan isu kegelisahaan dan ekspektasi sosial mencekik yang dialami anak muda lewat lagunya.

by Tabayyun Pasinringi
Culture // Korean Wave
Share:

Sebagai leader untuk kelompok superstar K-pop, BTS, RM selalu menjadi juru bicara dalam wawancara, ajang penganugerahan musik, bahkan untuk Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dalam pidatonya saat menjadi wakil BTS pada Sidang Umum PBB ke-73 untuk peluncuran kampanye Generation Unlimited 2018 lalu, RM mengenang dahulu bagaimana dia adalah bocah yang senang bermimpi. Namun, saat menginjak usia 9-10 tahun ia perlahan-lahan memandang dirinya lewat pendapat orang lain. Di momen-momen yang membuatnya merasa “kecil” itu, RM memiliki satu surga, yaitu musik.

Musik kemudian membuatnya tersadar untuk mendengarkan dan menerima diri apa adanya. RM mengatakan bahwa kesalahan yang pernah ia lakukan juga merupakan proses yang membuatnya bisa berada di posisinya saat ini. RM lalu mengajak semua orang agar mulai menerima segala kekurangan dan berbicara untuk diri mereka sendiri sebagai pesan dalam akhir pidatonya. 

Baca Juga: Industri K-Pop Memang Toksik, Tapi Kritik Terhadapnya Suka Salah Sasaran

Sebagai grup, BTS terkenal dengan perhatian mereka atas isu kesehatan mental ataupun kegelisahan akibat ekspektasi mencekik yang dibebankan pada orang muda. Namun, jika ditelisik lebih lanjut, RM juga sering menyampaikan pesan yang serupa lewat nomor solo atau potongan verse dalam lagu BTS. 

Change”, lagu kolaborasi “Timur ketemu Barat” dengan rapper AS, Wale, adalah salah satu karya solo RM yang menonjol dalam mengkritik sistem sosial. Tanpa ragu, dalam lirik-liriknya ia menyatakan bahwa pendidikan Korea Selatan yang terlalu ketat membebani mental siswa dan bagaimana komentar tak berbobot di dunia maya lebih mematikan dari senjata api. 

Kritik yang sama disampaikan dalam “N.O” dari album O!RUL8,2? (2013). RM mempertanyakan apakah masuk SKY—singkatan dari tiga universitas top Korea Selatan, Seoul National University, Korea University, dan Yonsei University—membawa kebahagiaan bagi diri sendiri dan orang tua. Pemaksaan untuk belajar yang berlebihan menciptakan siswa seperti boneka yang tentunya membuat mereka menderita. 

Sementara itu, RM bersama Suga, dalam intro “Baepsae” (Silver Spoon) dari album The Most Beautiful Moment Pt.2 (2015) mengkritik anggapan bahwa generasi muda Korea Selatan bukan pekerja keras. Kedua rapper BTS itu menyatakan ada jarak antar-generasi karena situasi ekonomi yang berbeda akibat beberapa peristiwa historis Korea Selatan. Hasilnya, generasi  tua memiliki privilese ekonomi yang tidak dimiliki orang muda sekarang.

Baca Juga: BTS dan ARMY: Bongkar Hegemoni Industri Musik Hingga Stereotip ‘Fangirl’ Obsesif

Dalam konferensi pers album Map of The Soul: Persona (2019) silam, RM menanggapi pertanyaan soal membawa isu sosial ke dalam lagu mereka karena ingin memberi pengaruh positif. 

“Kita harus memikirkan tentang ironi dalam hidup. Setiap proses ditemani oleh keringat maupun air mata dan semua isu di dunia penuh dengan ironi. Album ini khususnya membahas bahwa meskipun banyak ironi, kita harus terus berjalan,” ujarnya. 

Kim Namjoon, Rap Monster, dan RM

RM bernama asli Kim Namjoon dan lahir pada 12 September 1994 di Dongjak-gu, Korea Selatan. Anak pertama dari dua bersaudara ia adalah anak cerdas ber-IQ tinggi, yang belajar bahasa Inggris secara otodidak lewat menonton serial komedi AS, Friends. RM sejak dulu suka menulis puisi dan mulai tertarik dengan musik hip hop saat mendengarkan “Fly” dari Epik High saat berusia 11 tahun. Sebelum bergabung dengan BTS, dia sudah berkecimpung dalam dunia musik hip-hop underground dengan nama Runch Randa, lalu bergabung dengan kru rap Daenamhyup. 

Ia menjadi trainee untuk Big Hit Entertainment pada 2010 setelah diundang oleh sang CEO, Bang Si-Hyuk. Bang memintanya untuk mengikuti audisi atas rekomendasi rapper Sleepy yang kagum dengan kemampuan bermusiknya. RM pun menjadi anggota pertama untuk BTS dan melakukan debut dengan nama panggung Rap Monster pada 2013. 

Pada 2017, ia mengubah nama panggungnya menjadi RM. Dalam wawancara dengan Entertainment Tonight di tahun yang sama, ia mengatakan Rap Monster berasal dari lagu yang ia ciptakan pada 2012.  Seiring dengan pendewasaan diri dan musiknya, ia merasa sudah tidak cocok dengan nama tersebut dan menyingkatnya menjadi RM. Makna dari nama itu juga memiliki spektrum yang luas dan bisa memberi arti “Real Me”, kata RM.

Baca Juga: 7 Lagu BTS tentang Kesehatan Mental

Dari segi musikalitas, ia menuangkan cara dirinya memandang identitasnya lewat kedua album solonya, atau biasa disebut mix tape, berjudul RM (2015) dan Mono (2018). RM memiliki berbagai nomor yang menggebu dan Mono lebih tenang dan sensitif serta reflektif. 

Masing-masing album juga mengambil jalan yang berbeda untuk menampilkan sang penulis lagu. RM cenderung tentang perjalanan mengejar mimpi menjadi musisi, keresahan anak muda, dan jati dirinya sebagai Rap Monster. Lalu Mono tentang dirinya sebagai Kim Namjoon yang juga mengalami ketidakpastian seperti banyak orang, bahwa tidak apa-apa merasa tak berdaya, dan menawarkan kenyamanan bahwa pendengarnya tidak akan merasa sendirian. 

Perbedaan itu tidak menjadi masalah karena keduanya tetap teguh pada esensinya untuk menceritakan tentang berbagai dimensi sebuah identitas dan menjadi manusia. Meskipun memiliki beberapa nama yang berbeda, RM adalah musisi yang mampu membawa berbagai genre dan nuansa musik yang luas.

Kontroversi Lagu Misoginis

Industri musik tidak bisa dilepaskan dari perilaku eksploitatif dan misoginis terhadap perempuan. Untuk BTS beberapa lagu mereka menjadi sorotan karena liriknya yang dianggap mengobjektifikasi perempuan. Misalnya dalam lirik lagu “War of Hormones” yang menyatakan perempuan sebagai “hadiah” paling baik atau permainan kata bahasa Korea “gonorrhea” dan “being bossy” tentang perempuan dalam lagu solo RM, “Joke”.  Selain itu, ada juga tampilan problematik mengusik perempuan untuk memenangkan hatinya dalam musik video “Boy in Luv”. 

Pada tahun 2016 penggemar meminta tanggung jawab BTS untuk lirik misoginis dan cuitan Suga yang dinilai menunjukkan agresi pada perempuan dengan tagar #WeWantFeedbackFromBTS. Menanggapi hal tersebut, BigHit memberi respons bahwa setelah menelisik ulang lirik lagu tersebut memang bisa dinilai misoginis dan twit tersebut menyinggung perempuan. Agensi tersebut juga merasa bertanggung jawab dan akan berhati-hati dalam memproduksi konten BTS. 

Baca Juga: BTS ARMY: Perempuan Cuma Ingin Bebas Berekspresi

Sementara itu, RM dan Suga menanggapi personal isu tersebut dalam wawancara bersama Kang Dong-cheol, The Story of Us Coming Up Here from The Bottom is Our Music Itself yang dipublikasikan Chosun pada 2017. Suga mengatakan bahwa dia belajar banyak dan jika ada diskriminasi dalam lagu mereka maka itu memang salah dan berupaya untuk memperbaiki dan mengubahnya. Sedangkan RM menyatakan dahulu dia ignorant dan sekarang  meminta pendapat dan belajar dari akademisi kajian gender untuk lirik yang ia tulis.

Sebagai musisi yang memang menyertakan banyak kepedulian untuk isu sosial dan, penggemar maupun publik sangat menghargai upaya BTS yang mau mendengar masukan. Hasilnya, perilaku dan pandangan mereka pun berubah menjadi ramah gender.