September 02, 2020
BTS dan ARMY: Bongkar Hegemoni Industri Musik Hingga Stereotip ‘Fangirl’ Obsesif

BTS dan ARMY bukan cuma soal musisi dan penggemarnya, tapi mereka membongkar hegemoni musik barat serta stereotip usang soal fangirl yang histeris.

by Tabayyun Pasinringi, Reporter
Culture
BTS_Kpop_KarinaTungari
Share:

Sebelas hari sejak dirilis pada 21 Agustus, single “Dynamite” dari grup idola BTS melesat ke puncak Billboard Hot 100. Mereka mengalahkan kombinasi Cardi B dan Megan Thee Stallion dengan "WAP", serta menjadi musisi asal Korea Selatan pertama yang berhasil mencapai peringkat satu tangga lagu di AS tersebut.

Kesuksesan “Dynamite” tidak berhenti di situ. Lagu yang dirilis sebagai pelipur lara masa pandemi dengan irama dan ketukan yang ceria dan dinamis ini menjadi video terbanyak yang ditonton di YouTube dalam 24 jam pertama peluncuran, dilihat 101,1 juta kali. Selain itu, “Dynamite” mencapai 40 juta stream di Spotify sejak minggu pertama diluncurkan. Semua ini hanya sebagian kecil dari keberhasilan BTS, mengingat mereka memiliki empat album dengan posisi nomor satu di Billboard 200 secara berturut-turut.

Selain itu, pada Minggu malam lalu (30/8 atau Senin pagi WIB), perhelatan musik MTV Video Music Award (VMA) 2020 yang dilangsungkan secara virtual juga menjadi satu lagi catatan keberhasilan yang diraih BTS. Mereka memboyong semua nominasi penghargaan yang diberikan kepada mereka, yaitu Best K-Pop, Best Pop Video, Best Group, dan Best Choreography. Sebelumnya, pada VMA 2019 mereka menerima lima nominasi dan memenangkan dua di antaranya, yakni Best K-pop dan Best Group.

Segala pencapaian ini adalah usaha kolektif BTS dan basis penggemarnya, yang dikenal sebagai ARMY (Adorable Representative M.C for Youth). Sudah saatnya BTS diakui sebagai musisi hebat kelas dunia.

Meski begitu, ketika berbicara tentang BTS dan acara penghargaan musik global, ada isu bagaimana industri musik Barat melekatkan mereka dengan nominasi yang terlalu mengotak-kotakkan, serta memperlihatkan adanya peran kapitalis dan hegemoni Barat di industri musik. Belum lagi sikap rasialis stasiun-stasiun radio di AS yang menolak memutar musik mereka karena menggunakan bahasa Korea, dan tidak berasal dari negara itu.

Karlina Octaviany, seorang ARMY yang berprofesi sebagai digital access program advisor dan jurnalis musik, mengatakan bahwa dalam perhelatan penghargaan musik global, musisi Asia selalu masuk dalam kategori World Music. Meskipun BTS memiliki data penjualan album fisik dan tangga musik yang valid, basis penggemar kuat, dan secara genre memenuhi syarat untuk diklasifikasikan sebagai pop, tetap saja mereka menerima kategori World Music.

“Kategori itu pun merupakan wacana pascakolonialisme yang rasialis. Secara historis, eurosentrime yang sudah mengakar sejak lama dan lestari memosisikan negara dunia ketiga atau negara Asia di belahan lainnya sebagai ‘the other’. Kategori K-Pop menjadi nominasi khusus untuk satu negara. Apakah akhirnya nanti ada US Pop atau UK Pop? Tidak,” ujar Karlina, yang awal Agustus lalu menjadi panelis konferensi global tentang BTS, Rhizome Connect.

Baca juga: 5 Alasan Absurd Laki-laki Benci Bintang K-Pop

Sebagai bagian dari Hallyu atau Korean Wave, K-pop memang identik dengan musik, tetapi definisinya tidak berhenti di situ saja karena ini bukan suatu genre. K-pop adalah sekumpulan konten yang saling terintegrasi mulai dari gaya, tata rias, koreografi, visual, dan seni dalam video, dan tentunya musik itu sendiri. Jika didengarkan secara saksama, musisi-musisi K-pop membawa berbagai genre, dari hip-hop dan EDM, sampai pop, RnB, alternatif, folk, dan lain-lain.

Dalam wawancara dengan Grammy Museum pada 2018 lalu, anggota BTS, Suga, mengatakan bahwa dia tidak ingin mendefinisikan K-Pop sebagai genre, melainkan sebagai konten yang saling terintegrasi,  elemen yang saling bercampur menjadi kesatuan atau paket audiovisual. Karenanya, pemisahan musisi Korea Selatan dalam acara penghargaan musik perlu dipertanyakan.

Astari Laksmiwati, community content manager salah satu perusahaan e-commerce lokal dan seorang ARMY, mengatakan kategorisasi untuk memisahkan seperti yang dilakukan kepada K-pop juga dilakukan untuk musik lain, seperti Latin.

“Rasialisme dan xenophobia masih kental sekali dan polanya bukan hanya berdampak ke BTS saja, tapi bahkan musisi Latin dan African-American yang selama ini masih sering sekali tersisihkan bahkan di negara mereka sendiri. Salah satu contohnya kategori Urban di perhelatan Grammy yang banyak menuai kritik dan baru-baru ini akhirnya diganti,” ujar Astari, yang juga menjadi pembicara di Rhizome Connect untuk panel “Beyond The Screams: How BTS Affect Our Professional Life”.

“Ajakan BTS untuk mencintai diri sendiri atau “Love Yourself” merupakan konsep yang sangat radikal. Ketika seseorang mencintai dirinya sendiri, maka standar kehidupan yang fana seperti standar kecantikan tidak lagi penting.”

“Sama warga negara sendiri saja masih memarginalkan, terlebih kepada ‘outsider’ dari Korea Selatan. Mereka akan lebih represif. Ironisnya eksploitasi konten tetap berjalan walau tetap bernuansa xenophobic,” tuturnya.

Industri musik Barat kerap menampilkan BTS karena mereka membutuhkan rating dan mengetahui mereka memiliki penggemar yang besar. Untuk tujuan kapitalis itu BTS sering diundang media-media Barat yang mempertanyakan hal-hal tidak relevan dengan seni dan musik, juga sangat berkaca mata Orientalis.

“Kamu paling ingin berkolaborasi dengan (musisi AS) yang mana?” adalah pertanyaan yang kerap dilontarkan. Pembawa acara Ryan Seacrest pernah bertanya tanda tak punya pengetahuan: “Jadi lagumu campur berbahasa Inggris?”, yang ditukas oleh BTS, “Lagu kami selalu full bahasa Korea” (kecuali “Dynamite” tentunya).

“Seutuhnya, bukan karena membutuhkan validasi Barat, menjadi tugas sesama penggemar K-pop untuk mengonstruksi kembali bias yang ada di industri musik,” ujar Karlina.

“Kalau tidak K-pop akan terus ada di kolam kecil walaupun main di Amerika Serikat. Yang harus dibongkar adalah western validation, bias genre, serta sistem pengumpulan data yang bias dan rasialis. Juga memperbaiki perspektif pemberitaan,” kata Karlina.

Baca juga: Industri K-Pop Memang Toksik, Tapi Kritik Terhadapnya Suka Salah Sasaran

Bias gender dan mentrification

BTS adalah kependekan dari Bangtan Sonyeondan atau Bulletproof Boy Scouts, kemudian belakangan juga disebut Beyond the Scene. Ketujuh anggotanya—RM (Kim Namjoon), Jin (Kim Seokjin), Suga (Min Yoongi), J-Hope (Jung Hoseok), Jimin (Park Jimin), V (Kim Taehyung), dan Jungkook (Jeon Jungkook)—melakukan debut mereka 2013 silam di bawah naungan Big Hit Entertainment yang kala itu hampir bangkrut. Mereka dilabeli sebagai the underdog, terlebih lagi karena adanya kesulitan bersaing dengan tiga agensi hiburan besar Korea Selatan.

Alih-alih menjadikannya sebagai kelemahan, BTS, yang kisaran usianya 23-28 saat ini, memanfaatkannya untuk berpikir di luar batasan dan membangun strategi kreatif. Mereka membangun koneksi dengan penggemar berdasarkan rasa saling peduli di antara mereka. Hubungan erat itu bisa disaksikan melalui interaksi di Twitter dan Weverse, aplikasi multimedia yang diluncurkan Big Hit pada 2019 untuk berkomunikasi dengan fans. Lewat aplikasi tersebut, BTS sebagai musisi bisa berkomunikasi lebih bebas dengan ARMY.

Astari mengatakan hubungan erat itu terbentuk karena karakter dan sosok para anggota BTS yang sangat relateable dan membumi. Hal itu juga  dipengaruhi konsep pendekatan yang bagus dari perusahaannya.

“Menurutku, BTS dan Big Hit adalah salah satu pionir dalam hal adaptasi teknologi platform digital dalam interaksi hubungan dengan fans. Saat mereka debut tahun 2013, mereka memanfaatkan media sosial untuk membangun keterikatan dengan fans,” ujarnya.

“Dalam Harvard Business Review, Big Hit mengungkapkan bahwa BTS memiliki akun media sosial tanpa supervisi dan itu salah satu breakthrough untuk cara komunikasi idol di Korea,” ia menambahkan.

Menurut Astari, CEO Big Hit Bang Si Hyuk yang membiarkan BTS bertanggung jawab atas media sosial mereka sendiri adalah salah satu penyebab aktifnya interaksi dengan ARMY.

“Karena mereka mengunggah hal-hal yang dekat dengan kita. Misalnya, untuk menyemangati fans yang tengah menghadapi ujian masuk universitas, Yoongi bercerita tentang pengalamannya sendiri saat masa ujian dulu. Bagaimana para member BTS yang lain menyiapkan bekal makan siang untuknya, rasa gugupnya menghadapi ketidakpastian masa depan, dan lainnya. Hal itu yang kemudian membuat kita (ARMY) merasa dekat dengan mereka,” kata Astari.

Sayangnya, para perempuan ARMY terlalu sering diasumsikan sebagai sekumpulan remaja perempuan fanatik dan histeris, bahkan sampai sekarang. Saat BTS tampil di Saturday Night Live (SNL), stereotip buruk itu dilanggengkan lewat video promo yang menunjukkan sosok fans perempuan fanatik dan histeris. Gambaran penggemar seperti ini mengerdilkan peran BTS sebagai musisi yang dianggap hanya terkenal karena memiliki banyak fans, bukan dari segi musikalitas.

Prameswari Puspa Dewi, seorang ARMY dan Koordinator Nasional Program gerakan anak muda Right Here Right Now, menyatakan laki-laki dan perempuan sama-sama bisa fanatik.

“Apa bedanya perempuan yang berteriak dan laki-laki membakar mobil ketika tim (olahraga) mereka kalah. Sebenarnya tantrum mereka hampir sama. Bahkan laki-laki lebih violent,” ujarnya.

Baca juga: Fanatisme atas K-Pop dan Opresi terhadap Perempuan

Menurut Puspa, bias gender itu hadir karena perempuan dinilai harus submisif, alias kalem dan tidak ekspresif. Ketika perempuan bebas berekspresi akan dinilai agresif, dan menjadi pemandangan aneh melihat perempuan menunjukkan antusiasme akan hal yang disukainya. Persepsi seperti ini mengandung campur tangan patriarki di dalamnya.

“Secara patriarkal, itu yang diharapkan. Laki-laki fanatik pencinta bola dianggap sangat setia dengan timnya dan lebih OK dibanding perempuan dengan idolanya,” kata Puspa kepada Magdalene.

Hal ini mengingatkan dengan The Beatles yang di awal kemunculannya juga diidentikkan dengan screaming fangirls ketika pertama kali masuk ke pasar musik Amerika Serikat. Namun kini, The Beatles sangat diagungkan dan diakui musikalitasnya, padahal Beatlemania dulu diartikan sebagai kumpulan perempuan muda yang tergila-gila.

Karlina mengatakan, dalam budaya fandom terdapat mentrification, sebuah fenomena di masyarakat patriarkal ketika suatu hal menjadi bernilai dan diterima publik jika ada validasi laki-laki. Bukan cuma The Beatles, tetapi juga Star Trek, yang dulunya mayoritas dikonsumsi perempuan dan kini menjadi budaya populer milik laki-laki. Meskipun perempuan juga menggemarinya, pengetahuan mereka akan itu harus diuji terlebih dahulu.

“Ini menjadi perjuangan fangirl untuk membuka pandangan bahwa perempuan sama validnya untuk menilai budaya populer. Kita (perempuan) memiliki perspektif, pandangan, nilai kritis, dan kemampuan untuk lebih sensitif secara penggalian emosi. Ini menjadi kekuatan fangirl, bukan kelemahan,” ujarnya.

“BTS sebagai musisi punya posisi yang sama dengan orang yang bekerja di isu kemanusiaan dan HAM. Mereka sangat mendukung soal mencintai diri sendiri dan menggunakan musik sebagai medium mereka untuk bersuara.”

Puspa juga berpendapat publik harus melihat bagaimana suatu fandom bertumbuh dewasa, salah satunya melihat kombinasi aktivisme sosio-politik digerakkan oleh penggemar. BTS memiliki rasa kepedulian sosial yang besar, salah satu bentuknya yang terbaru adalah donasi US$1 juta untuk gerakan Black Lives Matter. ARMY mengikuti langkah mereka menyumbang uang dengan jumlah yang sama untuk gerakan anti-rasialisme tersebut.

ARMY Indonesia pun kerap mengikuti jejak positif ini. Minggu ini, misalnya, mereka menyumbangkan sekitar Rp4 juta untuk rumah aman bagi perempuan dan anak penyintas kekerasan yang dikelola Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK) Jakarta. Donasi yang mengatasnamakan Jungkook tersebut merupakan hadiah ulang tahun dari ARMY untuk anggota termuda BTS yang berulang tahun 1 September.

“Menurutku, banyak aksi yang dilakukan, juga kesadaran sosial-politik terjadi karena transfer informasi dan pandangan lintas generasi. Bukan berarti anak muda atau perempuan muda tidak sadar secara sosial. Justru itu muncul karena sama-sama memiliki keprihatinan terhadap isu tertentu,” ujar Puspa.

Terlepas dari stereotip negatif tentang fangirl, penggemar BTS tidak hanya datang dari kalangan remaja perempuan, tapi dari berbagai lapisan masyarakat yang beragam, baik secara usia, ras, identitas gender, maupun orientasi seksual. Mengetahui hal itu, dalam menulis lagu, BTS tidak mengikuti panduan heteronormatif bahwa ketika seorang laki-laki menyanyi, maka ia mempersembahkannya kepada seorang perempuan.

“RM menulis lagu ‘I Know’ yang dinyanyikan duet bersama Jungkook, sebagai hadiah untuk ARMY saat rangkaian acara anniversary BTS tahun 2016. Dan mereka menyebut masing-masing laki-laki dan perempuan (dalam lagunya),” ujar Astari.

Baca juga: Menjadi ‘Fangirl Oppa’ dan Tetap Berdaya: ‘Mission Possible’!

“Hal ini terdengar sederhana namun sesungguhnya selangkah lebih maju dan juga menunjukkan bahwa mereka sadar basis penggemar mereka begitu beragam” ia menambahkan.

Selain “I Know”, lagu yang memiliki kata ganti netral gender adalah "Serendipity", nomor RnB yang dilantunkan Jimin ditemani kucing calico gembul.

Menantang maskulinitas toksik

Mengenakan make-up? Tidak menjadi masalah bagi BTS, yang kemudian juga menjadi bintang untuk merek kosmetik Korea Selatan, VT. Mengenakan rok? Mengapa tidak? Mereka bahkan mengenakan fishnets dan renda yang dicap feminin pada sesi pemotretan The Singles Magazine. BTS tidak takut untuk tampil androgini dan menjadi bentuk perlawanan besar terhadap pemahaman kaku maskulinitas.

“Patriarki mengakar kuat dan memiliki perspektif membedakan secara biner: laki-laki dan perempuan. Masyarakat patriarkal tentu saja tidak mengakui manusia memiliki banyak spektrum. Secara gender tidak mengakui orang yang berada di luar kotak (biner) itu patriarki. Patriarki membuat laki-laki harus kuat, tidak boleh menangis dan menjadi kepala keluarga,” ujar aktivis gender Chika Noya, juga seorang ARMY.

Media juga mengambil andil dalam langgengnya hegemoni peran gender dengan cara mempertontonkan laki-laki bersama mobil, dan perempuan adalah objek. Ketika ada yang berdiri di antara keduanya maka kehadirannya tidak akan diterima, ujarnya.

“Sebenarnya kalau dilihat, BTS membongkar stereotip menjadi laki-laki harus seperti apa. Mereka menerobos pakem-pakem yang dilekatkan pada laki-laki,” ujar Chika.

Menurutnya, BTS yang mengenakan make-up membongkar stereotip tentang maskulinitas toksik. Sebelum BTS, beberapa musisi tenar lainnya juga mengenakan kosmetik, seperti David Bowie, Robert Smith dari The Cure, hingga band musik cadas dengan wajah full make-up, KISS. Deretan musisi tersebut menjadi tamparan bagi masyarakat yang mencela BTS karena mengenakan make-up.

This is irrelevant. Itu identitas mereka untuk non-binary,” kata Chika.

Selain menantang bias gender, BTS tidak takut memberikan tanggapan terhadap isu sosial-politik. Misalnya pada lagu “Baepsae”, BTS mengkritik orang-orang kelas atas yang memiliki privilese. Mereka juga menyampaikan pesan untuk anak muda yang sengaja dibentuk menjadi robot oleh sistem pendidikan kaku, hingga lagu yang sangat reflektif akan diri sendiri, seperti “00:00 (Zero O’Clock)”.

Bagi Chika, yang merupakan Generasi X dan penggemar musik hip-hop seperti Public Enemy dan Kendrick Lamar, ajakan BTS untuk mencintai diri sendiri atau “Love Yourself” merupakan konsep yang sangat radikal.

“Ketika seseorang mencintai dirinya sendiri, maka standar kehidupan yang fana seperti standar kecantikan tidak lagi penting,” ujarnya.

Senada dengan Chika, Puspa mengatakan bahwa BTS tidak takut menunjukkan dukungan atas keberagaman identitas gender, komunitas LGBTIQ, dan tidak heteronormatif. Melalui musik mereka menyambut keberagaman itu.

“Hal yang menarik dari BTS adalah liriknya yang politis. Lagunya adalah kritik kelas sosial di Korea. Lagu dibuat tulus oleh member BTS. Mereka sebagai musisi punya posisi yang sama dengan orang yang bekerja di isu kemanusiaan dan HAM. Sangat mendukung soal mencintai diri sendiri dan menurutku itu sangat kuat. BTS menggunakan musik sebagai medium mereka untuk bersuara,” ujarnya.

Ilustrasi oleh Karina Tungari.

Tabayyun Pasinringi adalah penggemar fanfiction dan bermimpi mengadopsi 16 kucing dan merajut baju hangat untuk mereka.