Women Lead
November 16, 2021

Saya Enggak Setuju ‘Eternals’ Jelek, Ini 5 Daya Tariknya

‘Eternals’ adalah film MCU yang berani keluar dari zona nyaman. Ia dilengkapi visual ciamik dan karakter-karakter inklusif.

by Jasmine Floretta V.D., Reporter
Culture // Screen Raves
Share:

Saya penasaran, kenapa skor Eternals (2021) di agregator seperti Rotten Tomatoes bisa terjun bebas. Film bertabur bintang ini bahkan dapat skor terburuk sepanjang sejarah Marvel Cinematic Universe (MCU), selain Thor: The Dark World (2014). Saya pun memilih untuk menonton langsung beberapa waktu lalu. Sama seperti penggemar MCU lainnya, saya cukup menaruh ekspektasi tinggi karena ada sejumlah karakter baru, termasuk Celestials, Deviants, dan Eternals.

Eternals bercerita tentang ras makhluk abadi, homo immortalis, yang diciptakan satu juta tahun silam oleh Celestial, untuk melindungi Bumi dengan kekuatan super mereka. Selama mengemban tugasnya, para Eternals harus melawan musuh utama, Deviants, yang keberadaannya dapat mengancam nyawa manusia dan merusak keseimbangan Bumi.

Digawangi oleh Prime Eternals bernama Ajak, Thena, Gilgamesh, Ikaris, Sersi, Makkari, Druig, Sprite, dan Kingo hidup ribuan tahun di Bumi sebagai “penjaga”. Eksistensi mereka menjadi fondasi dari berbagai mitologi dunia kala itu.

Konflik mulai muncul setelah tujuan asli dari penciptaan Eternals diketahui oleh Sersi. Kebenaran ini membuat Sersi mempersatukan kembali para Eternals setelah ribuan tahun terpisah di Bumi.

Eternals mempunyai daya tariknya sendiri yang membuat banyak penonton khususnya para penggemar MCU menyukainya. Berikut adalah 5 daya tarik film Eternals yang membuatnya wajib ditonton:

  1. Inklusivitas yang Tidak Terjebak dalam Tokenisme

Eternals memberikan angin segar terhadap inklusivitas. Mulai dari karakter-karakter yang bertabur aktor dan aktris poc (people of color), karakter superhero gay, dan karakter superhero Tuli pertama, Eternals memberikan contoh yang baik pada para sineas film tentang bagaimana caranya mendorong inklusivitas melalui keberagaman karakter. Karakter-karakter ini tidak lagi terjebak dalam stereotip negatif yang berbahaya yang seringkali justru melanggengkan diskriminasi sosial di kehidupan nyata.

Inklusivitas yang tidak terjebak dalam tokenisme ini pun akhirnya membuka percakapan bagi para penontonnya. Misalnya, ketika saya menonton Eternals, penonton di studio dibuat kaget dengan adegan Phastos bersama keluarganya. Phastos sebagai seorang gay kulit hitam memiliki keluarga dengan suami seorang keturunan Arab dan anak laki-laki. Tak ayal itu membuat para penonton di studio saya mempertanyakan lagi tentang bentuk keluarga tradisional (suami, istri, dan anak). Belum lagi dengan fakta Phastos dan suaminya tidak terjebak dalam stereotip laki-laki gay yang kerap digambarkan kemayu. Hal ini jelas membuat penonton mempertanyakan ulang mengenai representasi nyata dari kelompok gay.

Sumber: Marvel Studios

Tidak hanya itu, keberadaan Makkari sebagai superhero Tuli pertama jelas berpengaruh besar pada pemahaman penonton mengenai keberagaman. Hal ini bisa dilihat dari penelitian dari Preply yang dilaporkan oleh The Independent bahwa terjadi peningkatan yang tajam sebesar 250 persen seputar minat belajar bahasa isyarat semenjak Eternals dirilis. Makkari Lauren Ridloff selaku pemeran Makkari yang juga seorang Tuli pun merayakan kabar baik ini dengan dengan membagikan artikel dan mendorong penggemar untuk belajar bahasa isyarat langsung dari para ahlinya.

Selain membuka pemahaman penonton mengenai keberagaman dan meningkatkan minat mereka pada Bahasa isyarat. Ridloff dalam wawancaranya bersama The New York Times mengungkapkan bagaimana karakternya sangat penting bagi anak-anak dari komunitas Tuli, termasuk kedua anak laki-lakinya untuk memupuk kepercayaan diri dan lebih berani untuk bermimpi layaknya anak-anak lainnya.

  1. Menekankan Pada Relasi Interpersonal para Karakternya

Satu hal yang membuat Eternals berbeda dari film superhero kebanyakan adalah bagaimana cerita fokus pada relasi interpersonal para karakternya. Para Eternals digambarkan sebagai satu keluarga, sehingga mereka adalah satu kesatuan yang tidak dipisahkan. Oleh karena itu, ketika ada satu konflik di mana mereka akhirnya harus berpisah satu sama lain, penonton bisa melihat adanya keretakan hubungan dan juga rasa rindu antarkarakter. "Kerapuhan" ini membuat mereka terasa lebih manusiawi.

Relasi interpersonal yang menurut saya paling berkesan terletak pada karakter Thena dan Gilgamesh. Thena yang menderita Mahd Wy'ry harus mengalami berbagai episode yang menyiksa, di mana ia menjadi hilang kendali dan kehilangan jati dirinya.

Sumber: Marvel Studios

Ia terancam akan dihapus ingatannya tapi Gilgamesh bersikeras akan menjaga Thena untuk tidak lepas kendali semata-mata agar Thena bisa hidup dengan ingatannya sebagai Eternal.  Selama ribuan tahun, Gilgamesh menjaga Thena. Memberikannya rumah, kasih sayang, dan perhatian selama lebih dari seribu tahun lamanya. Mereka pun menjalin sebuah relasi yang unik, di mana keduanya tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya.

  1. Mengeksplorasi tema Eksistensialisme dengan Apik

Satu hal yang saya sukai dari Eternals adalah bagaimana film ini secara berbeda dan apik mengeksplorasi tema eksistensialisme dengan cara yang mudah dimengerti penontonnya. Tema eksistensialisme dalam film ini hadir melalui pergulatan batin para karakternya mengenai kehendak bebas manusia dan kebebasan utamanya dalam karakter Ikaris dan Druig.

Ikaris yang hidup hanya untuk melayani tujuan dari Celestial dalam hal ini membantu memusnahkan peradaban manusia, membuat kita merenung tentang arti kehendak bebas manusia. Ia menyembunyikan ‘subjektivitasnya’ di balik tujuan tunggal yang ia percayai secara membabi buta. Ia menjadikan dirinya sendiri sebagai budak dari tujuan tersebut.

Ia menolak mengakui dirinya adalah individu yang bebas menetapkan tujuan akhir hidupnya dan mampu mendefinisikan eksistensinya di Bumi. Ikaris pada akhirnya apa yang disebutkan filsuf feminis perempuan Simone de Beauvoir, sebagai serious man. Ia bukanlah manusia atau entitas berakal yang bebas, namun ia hanyalah alat, hanya label dari sebuah tujuan yang tidak bermakna bagi kehidupannya.

Di sisi lain melalui Druig, tema eksistensialisme hadir dalam wujud kebebasan manusia. Druig yang bersimpati pada manusia. Ia benci melihat manusia menggunakan kehendak bebasnya untuk membunuh satu sama lain akhirnya memutuskan membuat satu koloni. Koloni ini ia kontrol dengan kekuatannya. Namun, upayanya ini adalah sebuah kesalahan fatal. Hal ini karena manusia memang diciptakan dengan kehendak bebas mereka, itulah yang membuat mereka unik.

Dengan kehendak bebas, manusia mampu menciptakan peradaban dan dengan kehendak bebas pula manusia mampu mengakui kebebasan satu dengan yang lainnya. Hal inilah yang menurut filsafat eksistensialisme penting, karena kondisi sejati manusia adalah ketika kita mendapatkan kekuatan untuk hidup dan bertindak atas dasar kehendak bebas masing-masing. Melalui kehendak bebas ini pula manusia belajar untuk tidak masuk ke dalam kesalahan yang sama dan mampu menjadi individu yang lebih baik, tidak terjebak dalam masa lalunya.

  1. Karakter Perempuan Pemimpin yang Menarik

Hal terakhir yang membuat Eternals memiliki daya tariknya sendiri adalah karena di dalamnya banyak karakter perempuan berdaya, mulai dari Thena, Makkari, Sersi, Sprite, dan Ajak. Keempatnya memiliki peran yang sangat penting dalam keberlangsungan peradaban manusia dan digambarkan sebagai perempuan-perempuan kuat yang mampu mengoptimalisasikan agensi diri mereka for greater good.

Hal yang kemudian menarik untuk saya pribadi adalah karakter Ajak. Ajak sebagai seorang Prime Eternals atau bisa disebut pemimpin Eternals di Bumi dalam mitologi Yunani adalah putra Raja Telamon dan Periboea dan saudara tiri Teucer. Ia seorang laki-laki pejuang perang hebat terutama di era perang Troya dan merupakan salah satu figur penting yang berperang bersama Achilles. Kendati digambarkan sebagai pejuang perang, Ajax juga digambarkan sebagai seseorang yang penuh amarah hingga menjadi gila.

Sumber: Marvel Studios

Namun berkebalikan dengan mitologi Yunani, Ajak di Eternals justru digambarkan sebagai sosok pemimpin perempuan kuat dan bijaksana. Ia selalu bisa menengahi konflik antar-Eternals dengan kepala dingin, selalu bisa mengendalikan emosinya, dan memiliki kepemimpinannya yang cenderung mengayomi dan mengedepankan cinta kasih. Jauh dari gaya kepemimpinan maskulin yang menekankan pada agresi. Ia bahkan memilih untuk berkhianat pada Celestial, karena cintanya terhadap umat manusia. Hal inilah yang membuat Ajak spesial dan berbeda dari figur pemimpin kebanyakan.

  1. Sinematografi yang Cantik dan Ciamik

Sinematografi Eternals menurut saya paling kuat dan indah terasa dibandingkan film MCU lain. Chloé Zhao selaku sutradara perempuan film ini, memanjakan penonton adegan demi adegan dalam pengalaman visual yang cantik. Keindahan yang mencolok dan nuansa dari tempat-tempat yang Zhao coba tangkap mewarnai suasana film.

Mulai dari bagaimana penonton dimandikan sinar matahari dan terjebak dalam kegelapan malam, ia dengan lembut dan ciamik menggarisbawahi kompleksitas situasi manusia dan kehidupan para Eternals dalam kehidupan abadi, dan keinginan untuk mundur dari segala konflik kemanusiaan melalui gambaran visual.

Melalui film ini Zhao melakukan perpaduan yang menakjubkan secara visual dari bidikan sudut lebar atau wide angle yang mampu menangkap landscape dari lokasi dunia nyata dan dikombinasikan dengan close-up wajah juga tangan. Teknik inilah yang membuat Eternals sukses dalam menyampaikan emosi yang mendalam dan hubungan yang intim antara karakter. Itu juga sukses memberikan pesan pada para penonton mengenai pergulatan eksistensi karakternya di Bumi.

Jasmine Floretta V.D. adalah pencinta kucing garis keras yang gemar membaca atau binge-watching Netflix di waktu senggangnya. Ia adalah lulusan Sastra Jepang dan Kajian Gender UI yang memiliki ketertarikan mendalam pada kajian budaya dan peran ibu atau motherhood.