Women Lead
September 07, 2020

Sekolah Berbahasa Inggris Bukan Selalu Terbaik, Pentingnya Adopsi Kearifan Lokal

Sekolah berbahasa Inggris hanya menekankan pada aspek akademis dan hanya bisa diakses kelas menengah ke atas di daerah urban.

by Stephen Dobson dan Muhammad Zuhdi
Lifestyle
Share:

Dewasa ini, penggunaan bahasa Inggris di dunia pendidikan sangat lazim. Ungkapan “Bahasa Inggris adalah kunci kesuksesan!” menjadi mantra yang dianut di mana-mana. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa bahasa Inggris sudah merupakan bahasa universal yang lebih diakui dibandingkan bahasa Arab, Cina, Rusia, Spanyol, atau Perancis.

Tentunya dominasi ini sudah dimulai sejak perang dunia. Penguasaan banyak wilayah kolonial dan rute perdagangan internasional berujung membuat bahasa Inggris menjadi pilihan utama sistem pendidikan di berbagai negara.

Kini, pentingnya bahasa Inggris seakan telah menjadi kesepakatan umum. Hal ini juga dijadikan pembenaran atas terjadinya globalisasi pendidikan, walaupun di saat yang sama mengorbankan sistem pendidikan yang lebih dulu ada di negara-negara yang tidak berbahasa Inggris.

British Council, sebuah lembaga kebudayaan dan pendidikan internasional, adalah salah satu contoh dari hal tersebut. Institusi ini, misalnya, hadir di berbagai negara dan secara formal mendukung konsep “English effect”, bahwa penguasaan bahasa Inggris sangat memengaruhi capaian pendidikan dan prospek karier.

Benarkah demikian?

Ada beragam bentuk pendidikan berbahasa Inggris yang ditawarkan di banyak negara non-bahasa Inggris, mulai dari lembaga kursus hingga lembaga pendidikan berstandar internasional. Dalam beberapa kasus, bahkan berbagai lembaga tersebut mendominasi sistem pendidikan secara menyeluruh ketimbang diintegrasikan dengan kurikulum yang ada.

Beberapa contoh yang sangat jelas adalah program-program pendidikan internasional seperti Cambridge Assessment International dan juga International Baccalaureate (walaupun harus diakui bahwa mereka benar-benar ‘internasional’ karena menawarkan program dalam bahasa Perancis dan Spanyol).

Banyak juga sekolah yang menawarkan program-program yang memadukan kurikulum nasional dan internasional untuk menarik minat para orang tua (dan anak-anak mereka) yang ambisius. Contohnya adalah yang dilakukan oleh Singapore Intercultural School di berbagai negara di Asia Tenggara.

Baca juga: Refleksi Menyekolahkan Anak di SD Berbasis Islam

Bahasa dan ketimpangan kelas

Di negara non-bahasa Inggris, kecintaan akan hal-hal yang berbau bahasa Inggris diperkenalkan sejak anak-anak melalui budaya pop, film Hollywood, program di TV, merek makanan cepat saji, hingga acara olahraga.

Seiring mereka dewasa, kemampuan berbahasa Inggris dan kualifikasi pendidikan internasional yang memadai membuat mereka mampu melanjutkan kuliah di negara berbahasa Inggris serta meraih peluang kerja di dalam dan luar negeri.

Masalahnya, kesempatan tersebut tidak berlaku secara merata bagi seluruh kelompok sosio-ekonomi yang ada. Pendidikan global berbahasa Inggris kebanyakan diperuntukkan bagi anak-anak dari golongan menengah ke atas.

Ini menyebabkan adanya ketimpangan antara mereka yang mampu meraih ekosistem pendidikan global berbahasa Inggris dan mereka yang terjebak dalam sistem pendidikan yang tidak menawarkan kesempatan itu. Kelompok yang kedua hanya mampu mengakses kurikulum nasional, dan juga kenyataan bahwa mobilitas sosial hanyalah impian yang sulit dicapai.

Pelajaran dari Indonesia

Indonesia adalah salah satu contoh yang baik untuk kasus ini. Dengan populasi sekitar 268 juta jiwa, akses untuk kurikulum pendidikan berbahasa Inggris hanya bisa didapatkan oleh mereka yang tinggal di wilayah urban dan keluarga kelas menengah yang mampu mengeluarkan biaya untuk sekolah swasta.

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 sebenarnya memberikan mandat kepada pemerintah daerah untuk menyediakan minimal satu sekolah negeri dengan standar kurikulum internasional yang berbahasa Inggris. Namun, pada tahun 2013, aturan tersebut dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi yang memutuskan bahwa semua sekolah negeri seharusnya memberikan kesempatan yang sama, tanpa membedakan latar belakang sosial ekonomi siswa.

Ini saat yang tepat untuk melihat lebih dekat ragam bentuk pendidikan di berbagai masyarakat tidak berbahasa Inggris, yang berdiri di atas tatanan nilai yang berbeda dan mendefinisikan sukses secara berbeda pula.

Meski begitu, saat ini ada setidaknya 219 sekolah swasta yang menawarkan kurikulum internasional Cambridge, dan 38 di antaranya adalah sekolah Islam. Kurikulum pendidikan khas dunia Barat tampaknya masih punya pengaruh besar dalam menentukan standar pendidikan yang berkualitas. Bahkan, pada sekolah swasta Islam yang mengadopsi kurikulum global berbahasa Inggris, ada kecenderungan untuk terlalu fokus pada prestasi akademis. Akibatnya, pentingnya nilai-nilai tarbiya menjadi memudar.

Sebagai pilar utama pendidikan Islam, tarbiya mencakup seluruh pengembangan potensi seorang anak. Berdasarkan pandangan ini, maka sekolah juga akan kehilangan aspek budaya dan nilai agama, jika hanya memperhatikan aspek akademis saja.

Belajar bukan melulu soal akademis

Aspek akademis yang diukur dengan pengetahuan dan keterampilan tentu masih sangat penting dan merupakan sumber kepuasan pribadi. Namun, tanpa keseimbangan budaya dan pengembangan karakter positif, menurut kami pendidikan kehilangan makna yang lebih mendalam.

Pendidikan karakter sendiri pada tahun 2018 dirumuskan oleh pemerintah Indonesia ke dalam 18 nilai yang penting untuk dimiliki peserta didik: religiositas, kejujuran, toleransi, kedisiplinan, kerja keras, kreativitas, kemandirian, jiwa demokrasi, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, kecintaan pada tanah air, sikap menghargai prestasi, jiwa persahabatan, rasa cinta damai, kegemaran membaca, perhatian terhadap lingkungan, kepedulian sosial dan rasa tanggung jawab.

Baca juga: Ruang (Ny)aman: Pilih Sekolah yang Menjadikan Anak Subjek

Hal ini kemudian disederhanakan menjadi lima unsur pendidikan karakter: agama, nasionalisme, gotong royong, kemandirian, serta kejujuran.

Semua ini belum tentu terukur oleh cara-cara konvensional yang empiris, berbahasa Inggris, dan fokus pada standar dunia Barat. Kita harus bertanya, apakah sudah saatnya untuk menimbang kembali internasionalisasi pendidikan (tidak hanya di Asia Tenggara)? Apakah internasionalisasi pendidikan, setidaknya yang berbahasa Inggris, kini sudah berlebihan?

Bukankah ini adalah saat yang tepat untuk melihat lebih dekat ragam bentuk pendidikan di berbagai masyarakat tidak berbahasa Inggris? Berbagai sistem pendidikan ini berdiri di atas tatanan nilai yang berbeda dan mendefinisikan sukses secara berbeda pula.

Sangat disayangkan bahwa banyak sekolah menganggap model pendidikan bahasa Inggris sebagai standar emas dan memandang sebelah mata kearifan lokal di mana mereka berada. Perlu kita ingat bersama bahwa mendorong generasi muda untuk bergabung dengan kaum elite berbahasa Inggris yang sekolah di universitas asing hanyalah sebagian kecil dari beragam opsi pendidikan yang ada.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Stephen Dobson adalah profesor dan dekan bidang pendidikan Te Herenga Waka di Victoria University of Wellington, Selandia Baru. Muhammad Zuhdi adalah kepala Institute for Quality Assurance, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.