September 24, 2019
Seksualitas dan Agama: Persetubuhan di Mata Tuhan

Seksualitas yang “berbeda” seharusnya tidak selalu ada di posisi berdosa dan bersalah dalam agama.

by Yoga Palwaguna dan Firdhan Aria Wijaya
Issues // Politics and Society
LGBT Agama Sarah Arifin 5 Thumbnail, Magdalene
Share:

Pengalaman beragama dan persoalan seksualitas dalam individu minoritas gender dan seksual sangat beragam. Namun, bagi sebagian besar dua hal tersebut cenderung berselisih dan tidak sejalan. Itu berdampak sangat personal dan mendalam pada seseorang yang memiliki hasrat, identitas, seks, tubuh, dan ekspresi di luar ekspektasi yang heteronormatif.

Tentu, gejolak keresahan terus-menerus timbul dalam diri mereka. Banyak dari mereka bertahan dan bersembunyi dalam kemunafikan, sebagian yang lain tetap beragama sebagai bentuk negosiasi, atau juga tidak sedikit yang masa bodoh untuk melepas atribut keagamaannya.

Di ranah publik, perbincangan mengenai agama dan seksualitas menimbulkan sambutan yang dingin. Sejak dini, seksualitas sudah diberikan label sebagai sesuatu yang tabu, bahkan untuk seksualitas yang dianggap “berbeda”, masyarakat enggan membahas soal tersebut atau bahkan bersikap menentang.

Pembahasan mengenai seksualitas dalam agama hanya sebatas permukaan dan selalu menempuh jalur yang “aman”. Hal tersebut membuat agama mencitrakan seksualitas sebagai sesuatu yang normatif dan terbatas pada pembahasan seksualitas yang heteroseksual. Akibatnya, seksualitas yang tergolong non-heteroseksualitas selalu ada di posisi berdosa dan bersalah. Maka, diskusi kedua wacana tersebut selalu "mengambang" dan tidak mendekati pengalaman-pengalaman yang personal.

Berangkat dari alasan tersebut, kami berdua antusias untuk melibatkan diri dalam diskusi “Persetubuhan di Mata Tuhan” yang diadakan sebagai bentuk kolaborasi antara Panggung Minoritas dan YiFos empat bulan lalu di Bandung. Panggung Minoritas sendiri merupakan sebuah inisiatif yang membangun ruang temu yang aman untuk mempelajari, menceritakan pengalaman, mendiskusikan hal-hal yang berkaitan dengan gender dan seksualitas, sedangkan YiFos (Youth Interfaith Forum on Sexuality) adalah sebuah organisasi yang digerakkan kaum muda untuk mengupayakan terbukanya ruang-ruang dialog berkenaan keberagaman iman dan seksualitas. Latar belakang penyelenggara membuat kami berharap dapat menemukan tafsir lain yang tidak melulu menunjuk manusia dengan gender dan seksualitas “berbeda” sebagai pendosa, juga diskusi yang melibatkan pengalaman personal individu minoritas gender dan seksual itu sendiri.

Pemahaman konteks

Berdasarkan pengalaman kami, ayat-ayat dalam kitab suci sering kali dijadikan amunisi untuk menyerang seksualitas yang dianggap tidak normal. Dalam ruang agama yang dogmatis, segala bentuk pertanyaan untuk mengkritisi kitab suci adalah pantangan. Tidak pantas. Lancang. Bisa dianggap meragukan kebenaran kitab suci bahkan kebenaran Tuhan itu sendiri. Tafsir atas kitab suci sering kali dipaksakan untuk tetap tunggal. Suara-suara lain yang mengajukan alternatif dengan cepat dilabeli sesat. Namun, apakah benar demikian?

Sesi pertama diskusi ditujukan untuk merekonstruksi pemahaman kami tentang hal itu. Setelah dibagi ke dalam beberapa kelompok, kami dibagikan potongan-potongan teks yang acak. Kemudian kami ditugaskan untuk menyusun potongan-potongan tersebut hingga menjadi narasi yang runut dan utuh.

Baca juga: Adakah Ruang Bagi LGBT untuk Beragama?

Teks itu berisi sejarah singkat perjalanan sebuah teks keagamaan dalam tradisi Kristen, mulai dari kali pertama turun sebagai wahyu kepada Musa, peran imam-imam dalam penulisannya, pengaruh berkembangnya kekristenan, penerjemahannya ke dalam berbagai bahasa, hingga akhirnya sampai di layar komputer seorang laki-laki gay di masa kini.

Laki-laki itu membaca sebuah unggahan temannya yang mencantumkan Imamat 18:22 sebagai rujukan teks yang menjustifikasi kebencian dan penolakannya terhadap homoseksualitas. Ayat tersebut berbunyi, “Janganlah engkau tidur dengan laki-laki sama seperti engkau bersetubuh dengan seorang perempuan, karena hal itu suatu kekejian.”

Laki-laki itu kemudian menjadi frustrasi dan menumbuhkan kepercayaan bahwa Tuhan membencinya. Dia tidak menyadari bahwa ayat yang dibaca tidak bisa dilepaskan dari ayat-ayat sebelum dan sesudahnya dalam surat tersebut.

Dulu, teks tersebut dibuat karena Musa ingin ada pembedaan antara bangsa Israel dan bangsa-bangsa lain yang melakukan tradisi persembahan kepada Dewa Pagan. Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa sebuah teks dalam kitab suci selalu memiliki sejarah dan latar belakang. Memahami konteks sebuah teks suci amatlah penting agar teks atau tafsirnya tidak digunakan dengan tujuan yang salah. Sayangnya, ayat-ayat dalam kitab sering dijejalkan kepada umat sebagai hukum yang hanya perlu ditelan mentah-mentah.

Tidak banyak ruang yang memungkinkan adanya diskusi tentang konteks dan keragaman tafsir yang dikandung sebuah ayat. Setidaknya, peserta yang saat itu hadir sudah diberi kesadaran tentang pentingnya pemahaman konteks dalam membaca teks dari kitab suci, meski untuk mendapatkan informasi mengenai konteks itu diperlukan usaha super ekstra.

Dialog antar-iman dan seksualitas

Tentu tidak lengkap apabila diskusi tentang agama dan seksualitas tidak menghadirkan para pemuka agama. Pada diskusi yang kami ikuti, hadir tiga orang pemuka agama yang masing-masing berasal dari agama Kristen, Islam, dan Buddha. Ketiga pemuka agama tersebut merespons pertanyaan-pertanyaan kritis para peserta diskusi tentang teks-teks keagamaan. Secara umum, ketiga pemuka agama menyuguhkan tafsir alternatif yang jauh lebih ramah terhadap minoritas gender dan seksual ketimbang tafsir yang selama ini dianggap baku.

Perbincangan dimulai dari pemuka agama Buddha. Beliau menyebutkan bahwa tafsir atas sebuah ayat bisa dipengaruhi oleh ideologi-ideologi tertentu. Misalnya, pengaruh patriarki yang menyebabkan lahirnya aturan diskriminatif yang menempatkan bhikku lebih utama dibanding bhikkuni. Begitu juga tafsir atas ayat-ayat yang berhubungan dengan minoritas gender dan seksual, sangat mungkin dipengaruhi oleh ideologi tertentu. Pengaruh-pengaruh itu menyebabkan adanya keragaman tafsir atas suatu ayat.

Baca juga: Tak Ada Surga untuk Para Homoseksual

Selanjutnya berpindah ke cerita lain, pemuka agama Islam dan Kristen menjelaskan konteks atas ayat yang sering sekali digunakan untuk melaknat homoseksualitas, yaitu ayat-ayat tentang Sodom dan Gomorah (Kristen) atau umat Nabi Luth (Islam). Menurut pemuka agama Islam, ayat-ayat itu sebetulnya berbicara dalam konteks penjajahan. Pada masa itu, ada sikap anti terhadap orang-orang asing. Kaum Nabi Luth menunjukkan kuasa mereka atas para pendatang dengan melecehkan mereka secara seksual, tepatnya melalui cara liwath (sodomi). Secara sosial, itu (liwath) bisa langsung menghinakan orang secara instan. Jadi dalam ayat tersebut, liwath dibicarakan sebagai praktik pemaksaan hubungan seksual dengan tujuan untuk merendahkan. Perilaku itulah yang menimbulkan kemarahan Tuhan.

Pemuka agama Kristen yang hadir juga membeberkan penjelasan senada. Menurut beliau, yang bermasalah dari kaum Sodom dan Gomorah adalah perilaku seksual mereka yang koersif. Mereka melakukan pemaksaan hubungan seksual kepada orang lain. Kaum Sodom dan Gomorah melanggar tradisi keramahtamahan Timur Tengah, menaklukkan tamu mereka dengan menjadikannya objek pemuas nafsu. Itulah kekejian Sodom dan Gomorah.

Mengenai keragaman gender dan seksualitas, pemuka agama Islam menyebutkan bahwa Islam tidak mengharapkan umatnya menjadi lelaki atau perempuan sejati, melainkan manusia sejati, apa pun jenis kelamin atau orientasi seksualnya. Sedangkan, pemuka agama Kristen berkata bahwa kita tidak boleh berpikir picik dengan menyebut Tuhan tidak bisa menciptakan yang di luar penalaran kita. Bahkan Yesus sendiri memiliki sifat-sifat queer.

Yesus lahir dari roh kudus kemudian diperanakkan dalam rahim Maria, sebuah proses kelahiran yang berbeda dari yang “normal”. Yesus kemudian melayani orang-orang yang dikucilkan masyarakat, seperti orang-orang pendosa, non-Yahudi, dan orang-orang miskin penderita kusta. Yesus menantang semua yang represif dan diskriminatif.

Di samping itu, pemuka agama Buddha menyebutkan bahwa ajaran Buddha hanya berbicara tentang cara-cara yang keliru dalam berhubungan seksual, bukan kecenderungan atau orientasinya. Contohnya, pemaksaan untuk berhubungan seksual. Pemaksaan itulah yang keliru, bukan orientasinya. Seks yang dilakukan tidak dengan cara yang keliru bisa menjadi sarana pemuasan nafsu yang baik.

Sebagai penutup dialog, pemuka agama Islam juga menambahkan bahwa kaum minoritas gender dan seksual harus berani merebut tafsir. Beliau mendorong kaum minoritas untuk bangkit dan menciptakan tafsir sendiri yang benar-benar independen, disuarakan oleh kelompok minoritas itu sendiri.

Pengalaman-pengalaman yang personal

Wajah apa yang ditampilkan Tuhan ketika memandang keragaman seksualitas manusia yang ada di muka bumi ini? Pertanyaan tersebut terlalu rumit untuk dibayangkan. Tentu saja, kami berdua memiliki jawaban masing-masing atas pertanyaan tersebut walaupun entah kenapa kami terlalu enggan membahas hal tersebut di sela-sela waktu senggang kami.

Namun, dalam sesi terakhir, kami semua diberi kesempatan untuk merenung tentang itu dan memberanikan diri untuk mengutarakannya dalam lingkaran kelompok kecil yang lebih intim. Tak hanya itu, sesi ini membuat kami mendengar pengalaman-pengalaman teman-teman lain dalam melihat Tuhannya dan dirinya sebagai yang memiliki identitas gender dan seksual yang minoritas.

Baca juga: Jejak 'Queer' dalam Alquran dan Hadis

Berada dalam sesi penutup, kami belajar pengalaman baru dan pengalaman itu sangat berharga untuk kami gambarkan. Kami melihat bahwa keunikan setiap orang akan pengalaman spiritualitasnya adalah bentuk keniscayaan. Ada yang berceletuk bahwa Tuhan adalah sosok yang humoris dan romantis. Alasannya sederhana, sosok Tuhan tersebut membuat keberadaan dia sebagai seorang trans menjadi nyata dan tidak dapat disangkal. Ada juga seorang yang lesbian yang menemukan sosok Tuhannya dalam setiap embusan napasnya yang dia rayakan dalam bentuk syukur. Ada pula yang membagikan cerita tentang bagaimana dia mampu meluruhkan sisi maskulinitas dan feminitas dalam identitasnya melalui jalan spiritualitas. Begitu khusyuknya kami mendengarkan narasi-narasi yang sebelumnya tidak pernah terdengarkan, hal tersebut membuat kami tertegun seraya dipenuhi rasa kagum.

Di penghujung kegiatan, masing-masing dari kami diminta untuk melukiskan Tuhan dalam sebuah kertas berukuran A3. Hasilnya, penggambaran mengenai Tuhan akan sangat berbeda walaupun ada beberapa yang memeluk agama dan berkeyakinan yang sama. Kami menyadari bahwa banyak rupa Tuhan yang hadir yang menyelimuti kami pada saat itu. Akan tetapi, kami menggarisbawahi bahwa dominasi wajah Tuhan akan cinta dan kasih begitu kental. Pikiran akan dosa yang melekat pada orientasi seksual dan identitas gender atau ekspresi yang berbeda dari bayangan masyarakat yang heteronormatif dapat terdekonstruksikan dan juga bayang-bayang Tuhan yang murka dan tidak bersetuju perlahan lenyap.

Tentu saja, pengalaman-pengalaman tersebut tidaklah sama, masih banyak di luar sana yang masih berproses dan mencari jalan spiritualitas dan seksualitasnya masing-masing. Begitu pula kami, yang sampai sekarang masih mencari makna di balik diri dan Tuhan kami. Akhir kata, kami bersepakat dengan salah satu peserta yang menyebutkan “dengan Tuhan memberikan pengalaman yang berbeda-beda ke setiap orang, secara tidak langsung kita semua menyaksikan kemahaan-Nya”.

Yoga Palwaguna dan Firdhan Aria Wijaya merupakan penyunting dan peneliti di tempat yang berbeda. Keduanya giat melakukan dialog tentang hal-hal yang berbau gender dan seksualitas di sembarang tempat. Juga, mereka aktif dalam sebuah inisiasi bernama Panggung Minoritas di Bandung.