Gender & Sexuality Issues Opini

Nikah Dini Bermodal Cinta hingga Pendidikan Seks, Isu Seksualitas Gen Z

Gen Z di Indonesia dihantui berbagai masalah seksualitas, dari perilaku seks berisiko, pernikahan anak, sampai minimnya pendidikan seks.

Avatar
  • February 1, 2024
  • 5 min read
  • 2310 Views
Nikah Dini Bermodal Cinta hingga Pendidikan Seks, Isu Seksualitas Gen Z

Anak-anak muda, khususnya di negara berkembang dibayangi berbagai tantangan seksualitas. Studi di India 2022, misalnya, menunjukkan anak muda mesti menghadapi perilaku seksual berisiko, penyakit menular seksual, dan perilaku seksual non-konsensual.

Bagaimana dengan Indonesia?

 

 

Sarat Terpaan tapi Minim Informasi

Saat ini, akses remaja terhadap informasi sangat mudah, termasuk pencarian pengetahuan mengenai seksualitas. Hal ini bisa menjadi pisau bermata dua jika tidak dibarengi dengan penyediaan informasi yang benar dan tepat. Sejumlah studi menunjukkan adanya hubungan antara perilaku seksual dengan pengetahuan remaja mengenai seksualitas dan kesehatan reproduksi.

Survei yang dilakukan pada remaja oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada tahun 2019 menunjukkan masih banyak remaja Indonesia yang belum memahami kesehatan reproduksi. Informasi mengenai masa subur perempuan, misalnya, hanya sepertiga dari total remaja usia 10-24 tahun yang pernah mendengarnya, dan hanya 13 persen di antaranya yang mengetahui secara tepat kapan masa subur terjadi.

Survei yang sama juga menginformasikan, hanya 4 dari 10 remaja yang mengetahui, perempuan bisa hamil meskipun hanya sekali berhubungan seksual. Terkait infeksi menular seksual, hanya 61 persen remaja pernah mendengar mengenai HIV dan AIDS dan 34 persen pernah mendengar tentang penyakit seksual lainnya.

Permasalahan terkait isu seksualitas pada anak muda juga dipengaruhi oleh kondisi psikologis generasi muda yang impulsif. Ciri psikologis ini merupakan ciri umum yang muncul pada fase remaja. Sebuah penelitian di India pada 2023 menunjukkan, impulsivitas remaja memiliki korelasi yang cukup erat dengan risk taking behavior atau perilaku mengambil risiko. Hal ini menyebabkan mereka rentan mengalami cidera, perilaku seksual yang berisiko, dan perilaku lain yang berkaitan dengan penyalahgunaan obat-obatan terlarang.

Baca juga: Yang Ideal dari Pendidikan Seks Komprehensif Remaja

Pernikahan Dini

Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2023, sekitar 19 persen laki-laki menikah di usia 16-18 tahun, bahkan 2 persen menikah di bawah usia 16 tahun.

Data yang sama juga menunjukkan 44 persen perempuan melahirkan pada usia kurang dari 21 tahun.

Ada berbagai alasan mengapa laki-laki menikah di usia muda. Salah satunya karena kehamilan yang tidak diinginkan.

Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI) pada 2017 menemukan, 8 persen remaja laki-laki dan 2 persen remaja perempuan telah melakukan hubungan seksual. Alasan terbanyak yang disebutkan remaja untuk melakukan hubungan seksual pertama kali adalah karena “saling mencintai”, dan alasan terbanyak kedua khusus remaja pria menyebutkan “penasaran/ingin tahu.”

Data SKRRI juga menemukan sekitar 12 persen remaja perempuan pernah mengalami kehamilan yang tidak diinginkan dan 7 persen remaja laki-laki menyampaikan pasangannya mengalami kehamilan yang tidak diinginkan.

Pendidikan Seksualitas yang Komprehensif

Pendidikan seksualitas yang kompeherensif dapat menjadi solusi dalam mengatasi isu-isu kesehatan dan seksualitas anak muda yang disebut di atas.

Badan Kesehatan Dunia WHO mendefinisikan pendidikan seksualitas yang kompeherensif sebagai pemberian informasi yang akurat terkait isu seksualitas dan kesehatan reproduksi dengan melihat kesesuaian materi dengan usia (age appropriate).

Studi tahun 2019 di Jakarta menunjukkan, pendidikan seksualitas di Indonesia diberikan oleh sekolah melalui guru dan disisipkan dalam mata pelajaran yang dianggap memiliki keterkaitan dengan isu seksualitas.

Meski demikian, studi yang sama juga menunjukkan, pendekatan yang dipakai dalam proses pendidikan seksualitas lebih condong pada pendekatan yang abstinence, yaitu menahan dorongan seksual dan cenderung menihilkan diskusi terkait isu seksualitas, kontrasepsi, dan topik lain yang berkaitan dengan gender.

Baca juga: Seks Aman Remaja: Minim Edukasi, Terganjal Stigma

Aspek Budaya Pendidikan Seks

Sejauh ini, masih belum ada pendidikan seksualitas yang kompeherensif di Indonesia. Namun, bukan berarti usaha-usaha ke arah sana tidak pernah dilakukan. Pada 2015 misalnya, terdapat upaya untuk memasukkan materi kesehatan reproduksi dalam kurikulum nasional. Sayangnya, Mahkamah Konstitusi menolak usulan ini karena para pemohon dianggap tidak memiliki legal standing atau kedudukan hukum.

Memang, terdapat beberapa hal yang menghambat tumbuhnya pendidikan seksualitas kompeherensif di Indonesia. Sebagai negara yang kuat dengan nuansa Islam, pandangan seksualitas adalah hal yang tabu dan berseberangan dengan nilai-nilai Islam masih kerap muncul. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk melihat kesesuaian kondisi sosial dan kultural dalam memberikan pendidikan seksualitas yang kompeherensif. Seperti yang baru-baru ini dilakukan oleh pemerintah Malaysia.

Pada 2020, pemerintah Malaysia menunujukkan komitmen dengan meratifikasi kebijakan yang bersifat nasional untuk menyelenggarakan pendidikan kesehatan reproduksi di sekolah. Dalam prosesnya, pemerintah Malaysia menggunakan istilah “Pendidikan Kesihatan Reproduktif dan Sosial Kebangsaan” atau pendidikan kesehatan reproduksi dan sosial. Bila diperhatikan secara seksama, tidak ada kata “seksualitas” dalam konsep yang ditawarkan. Hal ini sengaja dilakukan oleh pemerintah Malaysia sebagai bentuk penyesuaian dengan nilai-nilai Islam yang dominan di negaranya.

Dalam konteks Indonesia yang kental dengan nilai-nilai Islam, pendekatan perlu dilakukan dengan para tokoh agama untuk menyepakati aspek-aspek apa saja yang dianggap cocok bagi murid-murid di sekolah. Dari beberapa “tempat” yang dianggap cocok untuk memberikan pendidikan seksualitas, sekolah dianggap sebagai tempat yang paling cocok. Sebuah studi di Mesir tahun 2012 menunjukkan bahwa sekolah dapat menjadi tempat yang cocok untuk memulai transfer pengetahuan terkait isu seksualitas kepada para siswa sebelum siswa aktif secara seksual.

Selain itu, studi yang sama menunjukkan bahwa terdapat beberapa alasan mengapa sekolah dianggap cocok untuk memberikan pendidikan seksualitas; 1) Anak yang bersekolah lebih banyak menghabiskan waktunya di sekolah, 2) Di sekolah, informasi terkait isu seksualitas dapat diberikan sesuai kebutuhan berdasarkan kelompok usia, dan 3) Sekolah merupakan institusi yang dipercaya oleh masyarakat untuk memberikan transfer ilmu pengetahuan.

Baca juga: Tiada Rotan Akar pun Jadi, Dilema Remaja Belajar Seks lewat Pornografi

Mengapa Pendidikan Seks Penting?

Isu-isu anak muda perlu mendapatkan perhatian khusus karena sumber daya manusia (SDM) yang unggul menjadi kunci keberhasilan bangsa Indonesia di masa depan, terutama dalam kaitannya dengan sasaran visi Indonesia Emas 2045. Manusia unggul adalah manusia yang sehat, cerdas, produktif, berdaya saing, berakhlak mulia, dan berkomitmen kebangsaan.

Demi mencapai visi tersebut, pemberian informasi seputar kesehatan seksual dan reproduksi menjadi krusial, mengingat hal ini adalah salah satu hak dasar manusia. Selain itu, pendidikan seksual yang komprehensif juga dapat menjadi bekal bagi anak muda untuk meminimalisir risiko penyakit menular seksual, kekerasan seksual, dan kehamilan yang tidak diinginkan, agar mereka memiliki masa depan yang sehat, aman, terencana, dan berkualitas.

Andhika Ajie Baskoro, Researcher, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Sari Kistiana, Researcher at Reseach Centre for Population of National Research and Innovation Agency (BRIN), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.


Avatar
About Author

Andhika Ajie Baskoro and Sari Kistiana