October 05, 2020
Siap-siap Bersedih: Luka dan Trauma sebagai ‘The Boys in the Band’

Film Netflix ‘The Boys in the Band’ menggambarkan dengan baik luka dan trauma orang-orang gay yang masih relevan sampai sekarang.

by Candra Aditya
Culture // Screen Raves
Share:

The Boys in The Band adalah drama Off-Broadway tahun 1968 karya Mart Crowley, yang cukup mendobrak dalam menggambarkan kehidupan karakter-karakter homoseksual. Drama ini kemudian diadaptasi ke layar lebar pada tahun 1970 oleh sutradara William Friedkin (orang yang bertanggung jawab atas mimpi buruk saya setelah menonton The Exorcist). Dan untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-50, sutradara/aktor Joe Mantello menggarap lagi drama ini,  yang memenangkan Tony Award pada tahun 2019. Kini, setahun kemudian, Mantello kembali menyutradarai versi film paling anyar yang ditayangkan Netflix..

The Boys in the Band berkisah tentang geng cong yang tinggal di Kota New York. Michael (Jim Parsons) adalah tuan rumah acara kumpul-kumpul untuk merayakan ulang tahun Harold (Zachary Quinto). Hubungan keduanya seperti benci tapi rindu dengan bumbu ketegangan seksual. Peserta pesta ini adalah Donald (Matt Bomer), yang sepertinya ditaksir Michael; Larry (Andrew Rannells), yang pacaran dengan Hank (Tuc Watkins); si flamboyan Emory (Robin de Jesus), yang siap memeriahkan suasana; serta Bernard (Michael Benjamin Washington), yang pendiam tapi menyimpan rahasia.

Baca juga: Lampaui ‘Love, Simon’: 7 Film Queer Bertema 'Coming of Age'

Kehebohan terjadi ketika Cowboy (Carlie Carver), seorang pekerja seks yang disewa sebagai hadiah untuk Harold, datang pada waktu yang tidak tepat. Yang kocak dari Cowboy adalah kepolosannya, kalau kita mau menghindari kata “goblok”. Tapi Cowboy bukan apa-apa dibandingkan kejutan dari Alan (Brian Hutchison), teman Michael yang tiba-tiba datang tidak diundang. Mereka pun terperangkap dalam sebuah permainan yang menyeramkan, dengan tawa berubah menjadi tangis, dan satu per satu rahasia akhirnya terkuak.

Film ini merupakan bagian dari kontrak extravaganza pembuat film Ryan Murphy (yang kabarnya dibayar US$200 juta untuk menciptakan 10 tontonan) dengan Netflix, setelah The Politician, Hollywood, dan Ratched. Berita baiknya dari informasi ini adalah, Ryan Murphy tidak menyutradarai atau menulis skrip adaptasi The Boys In The Band versi 2020 ini.

Baca juga: ‘The Umbrella Academy 2’ dan Sejarah Kelam Rasialisme

Secara produksi, The Boys In The Band enak dilihat. Konsep retronya benar-benar terasa dan pergerakan kameranya sangat asyik. Yang paling mencolok dari penyutradaraan Mantello adalah cara dia memblok adegan. Hal ini sangat penting mengingat film ini mempunyai sembilan karakter utama yang ada di ruangan yang sama dan berbicara satu sama lain. Mantello dengan mudah mengarahkan penonton siapa yang harus kita fokuskan.

Tapi presentasi audiovisual bukan alasan kenapa saya menulis tentang film ini. The Boys In The Band betul-betul “menipu” saya, yang mengira bahwa ini adalah film “senang-senang”. Pada paruh pertama, kita menyaksikan orang-orang ini bersiap-siap. Kita melihat teman lama saling jumpa. Celetukan demi celetukan kocak meluncur dari mulut karakter-karakter ini secara bebas tanpa kontrol. Penggambaran ini krusial karena latar film adalah tahun 1960an, saat menjadi gay masih sangat tabu di Amerika Serikat.

Semua orang LGBT bisa saja berpura-pura semuanya baik-baik saja, tapi luka itu ada di sana. Terpendam. Dan menanti untuk muncul pada waktu yang tidak terduga.

Kemudian paruh kedua muncul dan atmosfer film berubah dari riang gembira menjadi depresi. Michael yang tadinya sudah sober mulai menenggak alkohol dan memaksa semua orang untuk ikut dalam sebuah permainan. Mereka harus menelepon satu orang yang mereka anggap “penting” dan menyatakan apa yang mereka rasakan. Sebuah permainan yang sangat berbahaya.

Penulis skrip Mart Crowley dan Ned Martel sangat ahli dalam memainkan mood penonton di bagian ini. Bagaimana para karakter yang tadinya digambarkan ceria, terutama Robin de Jesus yang sangat mencuri perhatian dan Zachary Quinto yang mengucapkan setiap dialognya dengan ekstra, kemudian jatuh dalam hal-hal traumatis

Inilah yang akhirnya menjadi warisan The Boys In The Band. Bahwa trauma dan luka masa lalu tidak akan bisa dihilangkan dari komunitas LGBTIQ (lesbian, gay, transgender, biseksual, interseks, queer). Semua orang bisa saja berpura-pura semuanya baik-baik saja (seperti bagian pertama film ini yang warna-warni) tapi luka itu ada di sana. Terpendam. Dan menanti untuk muncul pada waktu yang tidak terduga.

Baca juga: "The Normal Heart", LGBT dan Pemilu

Menarik sekali menyaksikan para karakter-karakternya masih berusaha menyembunyikan jati diri mereka dari publik. Yang menyedihkan adalah realitas ini masih terjadi di lingkungan kita, dan menjadi bagian dari komunitas LGBTIQ dianggap sebagai sesuatu yang tidak bermoral.

The Boys In The Band mungkin terasa usang bagi mereka yang sudah move on dengan aktualisasi diri. Tapi sebagai sebuah pengingat, film ini adalah tontonan yang cukup asyik untuk dinikmati dari awal sampai akhir. Dimainkan dengan sangat baik oleh aktor-aktor yang juga main di versi Broadway tahun 2019. Ini adalah sebuah kisah yang harus kamu saksikan.

The Boys In The Band dapat disaksikan di Netflix

Candra Aditya adalah penulis, pembuat film, dan bapaknya Rico. Novelnya ‘When Everything Feels Like Romcoms’ dapat dibeli di toko-toko buku.