June 25, 2020
‘Siapa yang Memasak Makan Malam Adam Smith?’: Kebaikan yang Dinihilkan

Sebuah buku mendekonstruksikan pemikiran bapak kapitalisme dan menarik perhatian pada pentingnya perempuan dan kelas pekerja dalam ekonomi.

by Panji Nandiasa Mukadis
Issues
Share:

Postmodernisme dengan segala kritik terhadapnya, termasuk yang turut diangkat dalam buku Matinya Kepakaran, membuka kemungkinan untuk kembali mendedah dan mempertanyakan kembali ilmu-ilmu yang telah ajek selama ratusan tahun dibanding saat ini. Terutama bila pada praktiknya selama ratusan tahun pula ilmu yang telah ada tersebut membawa kita pada krisis demi krisis. Secara garis besar inilah yang dibahas dalam Siapa yang Memasak Makan Malam Adam Smith? Kisah Tentang Perempuan dan Ilmu Ekonomi karya Katrine Marçal, yang diedarkan dan diterjemahkan dengan baik oleh penerbit yang banyak menerbitkan buku-buku seputar paham progresif, Marjin Kiri.

Judul dari buku ini mengacu pada kutipan ekonom Adam Smith, yang dianggap sebagai bapak kapitalisme paling berpengaruh, yang berbunyi, “Bukan karena kebaikan hati tukang daging, tukang minuman, atau tukang roti kita bisa mendapatkan makan malam kita, melainkan karena mereka memikirkan kepentingan diri mereka sendiri-sendiri.” Salah satu kutipan dari pemikir yang turut meletakkan dasar bahwa “tamak itu baik”, dan bahwa dengan menjadi tamak, manusia akan berpikir bagaimana caranya mendapatkan lebih banyak nilai tambah. Dengan demikian kemajuan pun didorong yang akhirnya berimbas pada lingkungan dan sekitarnya. Begitu kira-kira salah satu prinsip yang mendasari kapitalisme.

Baca juga: ‘Invisible Women’: Data Laki-laki yang Utama, Perempuan Nanti Saja

Spesifik pada kutipan tersebut, Smith telah secara langsung menyingkirkan narasi yang lain. Bahwa dalam kasih sayang juga ada hal yang patut diperhitungkan secara ekonomi. Secara tidak langsung ia telah menyingkirkan peran para ibu dan kasih sayang pada anak-anak mereka. Padahal dalam sejarahnya, Smith tinggal bersama ibunya yang menyiapkan makanan yang memungkinkannya untuk melakukan banyak hal, termasuk menjadi seorang intelektual dunia.

Dalam salah satu bab, Marçal memberikan contoh yaitu Florence Nightingale, perawat legendaris yang telah membentuk keperawatan modern dan berasal dari keluarga berada. Keinginannya menjadi perawat mendapat tentangan keluarga karena pekerjaan tersebut identik dilakukan perempuan menengah ke bawah. Di sini kita diajak mempertanyakan, mengapa bisa demikian? Mengapa perempuan kaya dianggap tidak layak melakukan pekerjaan tertentu? Apa karena bayarannya rendah? Kalau memang rendah, kita tarik lagi, kenapa rendah? Bisa jadi ini ada kaitannya juga dengan pandangan yang telah ajek sampai sekarang dan terkait dengan perkataan Smith bahwa hal-hal yang menyangkut pada kebaikan tidak perlu dihargai secara ekonomi.

Konteks ini masih relevan dengan zaman sekarang, bagaimana pekerjaan esensial seperti guru ataupun perawat banyak dilakukan oleh perempuan dan banyak yang berpendapat bahwa karena pekerjaan ini identik dengan kemuliaan, maka melakukannya tanpa pamrih sudah menjadi hal yang semestinya. Di masa krisis COVID-19 ini, misalnya, cukup digadang-gadang sebagai pahlawan. Atau ditarik pada pekerjaan kreatif atau berlandaskan “passion” disebut “ya, kalau memang suka sama pekerjaannya sih pemasukan harusnya gak masalah”.

Ini tentunya juga terkait apabila kita berbicara rasio perempuan dan laki-laki pada pekerjaan tertentu. Soal kenapa untuk pekerjaan yang satu banyak laki-laki sementara pekerjaan lainnya kebanyakan perempuan. Dari sisi pendapatan pekerjaan tersebut saja kita bisa menebak kenapa, sementara hal ini dianggap lumrah sampai sekarang. Terlihat di media sosial misalnya beberapa waktu lalu, kita seperti dianggap bodoh atau dianggap terlalu fanatik feminisme untuk mempertanyakan, mengapa profesi tertentu banyak laki-laki. Bukan dijawab dengan saksama, malah dijawab lagi “profesi guru TK banyak perempuannya” yang sebenarnya juga turut menjadi bagian dari pertanyaan awal.

Secara langsung dan tidak langsung, buku ini mengangkat tentang kurangnya representasi perempuan termasuk pemikir feminis dalam berbagai hal yang krusial. Baik para peletak dasar ilmu ekonomi, kemudian para akademisi dengan kepentingannya sendiri maupun pengemban kebijakan publik masih banyak dikuasai oleh laki-laki. Mereka turut mengamini Adam Smith dan kemudian mewakili kepentingan golongan dan mazhabnya sendiri agar bisnis lebih berkembang tanpa benar-benar memperhatikan detail kebutuhan pekerjanya. Dari kepentingan ini, perempuan yang dianggap sudah sewajarnya untuk dibayar lebih rendah dari laki-laki. Kelas pekerja hanya hidup dan berharap dari tetesan ke bawa hasil melesatnya bisnis (yang belum tentu menetes secara baik).

Baca juga: Jalan Terjal Jadi Kepala Sekolah Perempuan di Indonesia

Sementara kebijakan-kebijakan yang ada dari waktu ke waktu membawa kita dari krisis yang satu ke krisis lainnya. Dari berbagai depresi di awal abad 20 hingga krisis 2008 atau yang terbaru ini, terdorong perkembangan usaha rintisan berkembang namun akhirnya runtuh terdampak krisis COVID-19. Imbasnya kembali lagi pada kelas pekerja yang dari awal juga sudah tidak terproteksi secara ideal.

Sebagai seorang pria yang tentu masih terus meraba tentang feminisme juga sedang bergiat untuk perlahan belajar ekonomi, ini adalah sebuah buku yang penting dan membuka pikiran, serta memperluas khazanah. Buku ini mengingatkan untuk selalu ingat siapa yang telah berjasa pada diri, di antaranya para perempuan.

Buku ini menjadi penting ketika masih banyak orang yang merasa dapat membuka usaha tanpa modal, atau tanpa memperhitungkan sumber daya lain yang telah ia miliki. Atau kaum dengan privilese yang abai melihat bahwa kelowongan waktu, pendidikan, serta jaring pengaman yang mereka miliki merupakan modal yang sangat besar. Tanpa adanya kesadaran akan perhitungan tersebut, rasa-rasanya akan sulit untuk manusia beranjak menghindari krisis lainnya di depan.

Panji Nandiasa Mukadis adalah dosen paruh waktu, mendirikan dan mengembangkan Infoscreening dari tahun 2012.