Women Lead
March 29, 2021

5 Perbaikan Soal Penggambaran Perempuan dalam ‘Snyder Cut’

Ada beberapa perbaikan soal penggambaran perempuan dalam ‘Zack Snyder’s Justice League’ dibandingkan dengan versi sebelumnya pada 2017.

by Amelia
Culture // Screen Raves
Share:

Sejak tahun 2017, saya mengamati bagaimana industri film arus utama di Hollywood semakin diwarnai oleh tema-tema yang mengusung semangat keberagaman dan kesetaraan, juga keadilan sosial. 

Mungkin dalam beberapa hal pengusungan tema-tema semacam itu hanya tokenism alias agenda politik dan bisnis supaya film-filmnya masuk nominasi Academy Awards atau festival film. Tapi saya sendiri melihat hal itu sebagai langkah positif dan menguntungkan bagi penonton.

Dalam tiga tahun terakhir, kita jadi menikmati film-film baru yang mengangkat isu gender, ragam seksualitas sampai rasialisme, dari mulai Moonlight sampai Love, Simon, Black Panther, dan juga Promising Young Woman. Yang terakhir ini memiliki penggambaran perempuan dan kekerasan terhadap perempuan yang sangat baik.

Pada 18 Maret, DC Comics merilis Zack Snyder’s Justice League (disebut sebagai Justice League Snyder Cut oleh para fans DC Comics), yang merupakan versi baru Justice League yang dirilis 2017.

Versi ini sangat panjang, berdurasi empat jam, namun sama sekali tidak membosankan dan sungguh seru. Film tentang tim superhero—Wonder Woman, Aquaman, Batman, Superman, The Flash dan Cyborg—ini tidak hanya soal pahlawan yang melawan angkara murka. Dengan dialog dan adegan yang cerdas, Justice League Snyder Cut membawa penggambaran perempuan yang lebih baik dari film sebelumnya sebagai berikut.

Baca juga: ‘WandaVision’ adalah ‘Origin Story’ Pahlawan MCU Paling Menyentuh

  1. Minimnya ‘Male Gaze’ dalam Film terhadap Tubuh Wonder Woman

Dalam film Justice League sebelumnya oleh sutradara Whedon, karakter Diana sebagai Wonder Woman sangat dieksploitasi melalui penggambaran dan sorotan kamera dengan sudut pandang laki-laki alias male gaze. Hampir semua adegan yang menampilkan Wonder Woman selalu didahului dengan menyorot bagian tubuh di sekitar pinggang ke bawah menuju ke arah genital. Atau adegan kemunculan karakter itu selalu disorot dari belakang untuk memperlihatkan bokongnya.

Male gaze yang memuakkan ini kemudian dibuang oleh Zack Snyder. Perkenalan karakter Wonder Woman, sama seperti karakter lain, lebih banyak ditampilkan secara “utuh” dengan menampilkan seluruh tubuh tanpa pretensi seksualisasi berlebihan.

  1. Wonder Woman Ditampilkan Kuat Namun Juga Miliki Kerapuhan

Keputusan Snyder untuk memperlihatkan sosok Diana sebagai Wonder Woman atau superhero perempuan yang kuat namun juga memiliki kerapuhan adalah langkah yang perlu diapresiasi. Dia mampu memperlihatkan bahwa sekuat apa pun Diana, dia juga masih memiliki emosi kesedihan ketika mengetahui saudara perempuannya di Amazon banyak yang gugur saat mempertahankan dan melindungi Mother Box.

Bahkan langkah Wonder Woman untuk mencari rekanan dan tim demi mengalahkan musuh pun menunjukkan bahwa dia masih memiliki keterbatasan dalam menghadapi musuh yang sangat kuat dan memiliki banyak kaki tangan jahat.

Credit: HBO Max

Baca juga: ‘Frozen 2’ Baik Dikonsumsi Anak Laki-laki

  1. Dialog dengan Pesan Pemberdayaan

Dalam durasi empat jam, porsi Wonder Woman dalam Snyder Cut sebagai pahlawan super memiliki porsi waktu yang hampir sama dengan pahlawan lainnya. Salah satu adegan yang saya sukai adalah adegan pembuka di awal pada saat Wonder Woman menyelamatkan sekelompok pelajar dari ancaman teroris di sebuah gedung. Ketika salah satu pelajar yang diselamatkan oleh Wonder Woman berkata “Can I be you someday?”, ia membalasnya dengan “You can be anything you want to be”.

Baca juga: ‘Frozen 2’ Baik Dikonsumsi Anak Laki-laki

  1. Perempuan Mendukung Perempuan dalam Justice League Snyder Cut

Salah satu adegan yang membuat saya merinding adalah ketika semua ksatria perempuan di Amazon berperang melawan Steppenwolf dan saling melindungi satu sama lain. Apalagi pada saat Steppenwolf mengancam Amazonian dengan berkata “I smell the fear” yang kemudian dibalas dengan kompak oleh semua Amazonian dengan berteriak “We have no fear!!!” sebelum menyerang Steppenwolf dan kaki tangannya yang jahat.

Di beberapa adegan bahkan diperlihatkan Ratu Amazon hampir mengorbankan keselamatan diri dan Mother Box untuk membantu ksatria Amazon yang tertindih kuda. Ini pesan yang keren bahwa perempuan memang saling mendukung dan membebaskan jika yang lainnya belum merdeka.

  1. Tim Superhero yang Tidak Misoginis

Aquaman, Batman, Superman, The Flash dan Cyborg adalah rekanan Wonder Woman untuk melawan kubu Darkseid. Persamaan mereka semua adalah mereka sama-sama lelaki. Yang membuat mereka berbeda dengan banyak laki-laki lainnya adalah mereka kuat dan tidak misoginis.

Mereka percaya akan kemampuan Wonder woman untuk bertarung bersama mereka dan tidak ada sedikit pun percakapan yang merendahkan Wonder Woman apalagi menyuruh Wonder Woman untuk jadi seorang ibu rumah tangga full time dan mengurusi suami dan anak saja.

Amelia Ardiani adalah seorang wanita kelas pekerja yang sehari-hari meluangkan waktunya untuk berkontemplasi tentang karakter fiksi yang dia kagumi dari film dan buku populer.