Women Lead
February 16, 2021

Mengapa Laki-laki Harus Menonton ‘Promising Young Woman’

Laki-laki wajib menonton ‘Promising Young Woman’ untuk belajar bahwa perempuan adalah bukan obyek seks.

by Teja Janabijana
Culture // Screen Raves
Promising You Woman
Share:

Aktor dan penulis Inggris Emerald Fennell telah menulis karya-karya dengan karakter perempuan yang kuat, seperti untuk serial televisi The Crown (tentang kerajaan Inggris) dan Killing Eve (soal pembunuh bayaran). Kali ini, lewat Promising Young Woman (2020), Fennell melangkah lebih jauh, baik dari segi tema cerita maupun sinematografi.

Debut Fennell sebagai sutradara film feature tersebut menyajikan kisah kehidupan Cassie Thomas (Carey Mulligan), seorang drop-out fakultas kedokteran yang bekerja sebagai pelayan di toko kopi kecil. Di balik kehidupannya yang tampak monoton, ia ternyata menyimpan buku catatan berisi daftar laki-laki yang mencoba memperkosanya karena mengira ia mabuk berat.

Apa yang dilakukan Cassie adalah bagian dari rencana balas dendam atas pemerkosaan terhadap Nina Fisher, sahabat karibnya saat berkuliah. Fisher tidak memperoleh keadilan sehingga Thomas pun melancarkan aksi balas dendam ke banyak “pria baik-baik”.  

Ini film yang sangat apik dan perlu ditonton banyak orang. Namun, para laki-laki khususnya harus menonton film ini. Mengapa?

Baca juga: ‘The Queen’s Gambit’: Beth Harmon dan Bias terhadap Kemenangan Perempuan

Pertama, laki-laki harus memahami bahwa perempuan bukanlah obyek seks. Laki-laki tidak boleh memanfaatkan kesempatan di sela-sela kesempitan karena si perempuan lengah (entah itu karena mabuk atau sebab-sebab lainnya). Budaya pemerkosaan (rape culture) dan kekerasan seksual tidaklah dapat dibenarkan, apa pun alasannya.

Kedua, para laki-laki perlu menjadi pria baik-baik setulusnya. Di dalam kenyataan, banyak pria baik-baik yang ternyata merupakan kedok predator yang ingin melakukan hubungan seks tanpa persetujuan pasangan seksualnya. Seperti digambarkan di dalam film ini, melancarkan kata-kata manis adalah salah satu trik yang kerap dipergunakan laki-laki baik-baik karena mengira perempuan mudah terlena.

Ketiga, bahwa perempuan juga mampu melawan. Jangan mengira perempuan hanya akan diam dan pasrah atas kekerasan seksual yang dialaminya. Meski tampak rapuh dan lemah, tokoh Cassie mengerahkan daya upayanya untuk konsisten melancarkan balas dendam terhadap para “pria baik-baik”.  Satu per satu, tiap minggu.

Promising Young Woman tentang Perempuan Muda Menjanjikan Sesungguhnya

Menariknya, judul “Perempuan Muda yang Menjanjikan” memang sengaja ditonjolkan sebagai kontras dari “Laki-laki Muda Menjanjikan”. Dalam kehidupan kelas menengah ala Amerika, idiom promising young man sama artinya seperti pemuda B3—memenuhi aspek bibit, bebet, bobot ala orang Jawa (Indonesia umumnya), yang ditandai dengan jenjang pendidikan tinggi, profesional, punya karier cemerlang, rumah/apartemen mewah, status sosial, dan jaminan kehidupan ekonomi mapan.

Film ini membongkar topeng-topeng sosial demikian. Di dalam film ini, promising young man adalah ternyata predator seksual. Meski ada satu pria yang tampak benar-benar tulus, tapi kemudian Cassie mendapatinya memiliki masa lalu yang juga kotor dan sengaja menguburnya.   

Selintas, tokoh Cassie digambarkan seperti lajang parasit yang masih tinggal dengan orang tuanya dan tidak punya pekerjaan berpenghasilan tinggi yang membanggakan. Ia jauh dari kesan glamor-kosmetik promising young woman ala Emily in Paris (2020) yang kerap menghiasi media sosial kita. Namun, justru tokoh Cassie adalah promising young woman sesungguhnya karena ia berani memutus relasi toksik dengan “pria baik-baik”, memerangi ketidakadilan yang dialami perempuan lain dengan caranya sendiri, dan mendobrak sistem budaya yang meremehkan kesaksian-kesaksian perempuan.

Baca juga: Serial ‘Valeria’: Krisis Penulis dan Arti ‘Sisterhood’

Meski kisah Cassie bertema balas dendam, film ini bukan sekedar genre balas dendam biasa. Tokoh Cassie, misalnya, tidak seperti tokoh Joker (2019) yang punya masalah kesehatan mental. Selain itu, Cassie selalu punya tujuan cerdik nan manis di balik semua aksi menuntut balasnya.

Walau ada unsur lucu-lucu-getir, film ini bukan juga genre dark comedy biasa. Sebab, film ini mengangkat kompleksitas kehidupan Cassie yang tidak selalu lurus dan tidak selalu lucu karena penonton diajak memikirkan kembali mengapa Cassie sampai bertekad melakukan itu semua.

Jadi, jika punya teman atau pacar laki-laki, silakan ajak dia untuk menonton film ini. Jika sang pacar bukanlah cowok, juga bisa menikmati film ini sambil membayangkan balas dendam kita terhadap “pria baik-baik”.

Teja Janabijana menulis karena bosan bengong menjaga toko ATK orangtuanya yang sepi total akibat pandemi. Minder dengan para SJW karena isi medsosnya cuman astrologi.