Women Lead
August 10, 2020

Spiritualitas Bukan Kecerdasan Tapi Ketekunan

Di tengah pandemi ini, spiritualitas dengan mudahnya disamakan dengan beragam doa atau mantra penolak bencana.

by A. Windarto
Lifestyle
Share:

Membaca tulisan Julia Suryakusuma berjudul "Kembangkan Kecerdasan Spiritual Lewat Sadar Jiwa, Tak Hanya Sadar Tubuh", mengusik hati saya untuk memberi "catatan kaki".

Pertama, bahwa spiritualitas bukanlah kecerdasan, melainkan sebuah ketekunan. Hal itu berarti spiritualitas bukan merupakan hasil dari olah pikir atau intelektualitas belaka yang mampu menghasilkan orang-orang cerdas, bahkan genius, seperti Albert Einstein misalnya. Namun, spiritualitas adalah hasil olah cipta, rasa, dan karsa yang diberikan dalam hati agar manusia dapat selalu selaras, sejalan, dan searah dengan asal dan tujuan penciptaannya. Jadi, spiritualitas memang dijalani sebagai tuntunan, bahkan tuntutan, bagi manusia yang telah terikat oleh janji untuk belajar menjadi semakin rohani dan rohaniah dalam rupa kemanusiaannya.

Kedua, janji seperti apakah itu? Kapan dan di mana janji itu dibuat serta diikrarkan? Apa saja konsekuensi-konsekuensi yang perlu ditaati dan dijalani? Inilah yang jarang, bahkan semakin langka, diajarkan, apalagi dipelajari, dalam kehidupan sehari-hari dari makhluk yang bernama manusia di masa kini.

Baca juga: Kita Lupa Mendoakan Hal-hal Ini

Pelajaran spiritualitas yang sesungguhnya merupakan warisan dari para leluhur telah dilupakan, bahkan ditinggalkan, hanya sebagai pusaka untuk mengusir dan menghilangkan malapetaka. Termasuk di tengah pandemi saat ini, spiritualitas dengan mudahnya disamakan dengan beragam doa atau mantra penolak bencana. Akibatnya, tak ada lagi kesadaran untuk memaknai bahwa pandemi ini adalah bagian dari semakin langkanya spiritualitas di masa kini. Itu artinya, kesadaran untuk menjadi "makhluk rohani yang berpengalaman manusiawi" sebagaimana dirumuskan filsuf Pierre Teilhard de Chardin, telah sirna.

Maka tak heran jika kebanyakan orang, termasuk lembaga agama, mudah gelisah dan takut terhadap pandemi daripada terhadap krisis peradaban yang telah menciptakan pandemi ini. Inilah salah satu konsekuensi yang mesti ditanggung akibat pengingkaran janji manusia yang terikat sejak dalam kandungan untuk menjaga keseimbangan alam dan segala makhluk hidup yang ada di dalamnya, termasuk virus.

Baca juga: Tak Pandang Gender dan Latar Belakang, Sufisme Sentuh Banyak Perempuan

Ketiga, lantaran perjanjian yang mengikat sebagai spiritualitas tak tampak secara material, maka manusia perlu untuk mengaktifkan sisi, bahkan dimensi, intuitifnya agar selalu jeli dan waspada terhadap kehidupan yang nyatanya didominasi dan dihegemoni oleh hal dan masalah material. Itulah mengapa Einstein menyatakan bahwa penerangan batin yang menjadi perangkat utama dari pikiran-pikiran intuitif amat diperlukan. Mengapa? Sebab pikiran-pikiran itu mampu memberi petunjuk tak terduga yang biasanya melampui pikiran-pikiran rasional.

Penting untuk dicatat bahwa rasionalitas hanya mampu menjadi pelayan yang setia, sementara intuisi merupakan anugerah yang tanpa batas dan kekal abadi. Persis seperti dirumuskan dalam hukum kekekalan energi yang daya dan kekuatannya begitu dahsyat, bahkan amat mengerikan. Ingat saja pada peristiwa kelam dalam sejarah di Nagasaki dan Hiroshima 75 tahun yang silam.

Baca juga: Andal(iman): Resep Spiritual Butet

Menjelang peringatan ulang tahun Republik Indonesia pada 17 Agustus 2020 ini, kengerian akan sejarah kelam kemanusiaan di Indonesia patut untuk direnungkan kembali. Salah satunya yang terkait dengan semakin meredupnya spiritualitas kebangsaan, yaitu Pancasila. Saat ini spiritualitas itu hanya menjadi simbol yang kerap dimantrakan, misalnya sebagai penolak paham komunisme. Seolah-olah dengan mantra itu, komunisme disamakan seperti "setan" atau "roh jahat" yang layak dan pantas untuk diusir, bahkan disingkirkan. Hal ini tentu tampak terlalu berlebihan dan lepas dari pemikiran Pancasila sebagai "Weltanschauung" (pandangan hidup) sebagaimana dicita-citakan oleh Bung Karno. Sebab Pancasila sekadar ditempatkan sebagai kata-kata ajaib, namun tanpa diikuti dengan perbuatan atau aksi yang nyata dan mampu mengubah. Inilah sesungguhnya krisis terbesar yang sedang terjadi dan dialami akibat hilangnya spiritualitas sebagai suatu ketekunan.

Ketekunan yang merupakan tuntunan dan tuntutan utama dalam spiritualitas kini hanya menjadi bahasa kosong yang nyaring bunyinya. Tak heran, dengan bahasa itu, kerap terjadi pembelokan-pembelokan yang membuat spiritualitas semata-mata menjadi jargon belaka. Apalagi berkat jasa teknologi media modern, spiritualitas seolah-olah hanya bersangkut paut dengan hal dan masalah material dan rasional. Padahal, sebagaimana diajarkan oleh para spiritualis dari Jawa masa lalu, "ngelmu iku kalakone kanthi laku". Yang artinya, hanya dengan ketekunan yang tiada putusnya, ilmu dapat didalami sampai pungkasan rasanya (The Book of Cabolek).

A. Windarto bekerja sebagai peneliti di Lembaga Studi Realino, Sanata Dharma, Yogyakarta. Menulis di media massa dan buku-buku bertema postkolonial, siasat kebudayaan, dll.