July 02, 2019
Menjadi ‘Fangirl Oppa’ dan Tetap Berdaya: ‘Mission Possible’!

Stop melabeli penggemar budaya pop Korea sebagai sekumpulan perempuan irasional dan defensif.

by Lola Devung
Culture
KPop_fans_penggemar_pop_culture_SarahArifin
Share:

Belakangan ini lini masa saya di Twitter riuh dipenuhi cuitan berbalas antara beberapa selebtwit atau influencers Indonesia dengan Army, sebutan untuk penggemar BTS, grup idola Korea yang sedang naik daun.

Entah apa sebabnya, kegaduhan ini sampai menyeret nama grup-grup musik legendaris seperti The Beatles dan Queen. Muncullah kesimpulan stereotipikal bahwa para fangirls atau penggemar dengan avatar bintang Korea ini bukanlah lawan diskusi yang logis, dan kemudian dipandang sebelah mata sebagai sekelompok penggemar (perempuan) emosional dan defensif. Sebegitu parahnyakah kualitas para penggemar idola Korea atau oppa ini? Benarkah tidak ada hal- hal positif yang dapat diambil dari menjadi seorang fangirl oppa?

Demam hallyu (Korean) wave baik berupa drama (K-Drama) atau musik (K-Pop) sudah mulai tiba di Indonesia sekitar awal tahun 2000an, dengan penayangan drama romantis tragis Endless Love. Kemudian demam ini bertambah dengan munculnya beberapa grup idola seperti Super Junior dan Girls Generation. Seiring dengan makin mewabahnya gelombang hallyu ini, budaya atau kultur penggemar di Korea pun turut diadopsi oleh para penggemar di luar negeri, termasuk di Indonesia.

Ketika saya kembali ke Indonesia di awal 2012 setelah menyelesaikan studi pascasarjana di Eropa, saya terkejut melihat betapa masifnya pengaruh hallyu wave, terutama di kalangan perempuan penggemar drama dan generasi muda penggemar musik pop. Di kampus tempat saya mengajar, contohnya, meski bidang ilmu yang dipelajari adalah Bahasa Inggris, ternyata para mahasiswa saya malah lebih tertarik mempelajari bahasa Korea. Tak jarang terdengar celetukan dalam bahasa Korea yang umum didengar ketika menonton drama seperti ‘’Wae?’’, “Eottoke’’, dan lain- lain, ketimbang celetukan berbahasa Inggris ketika mereka sedang berinteraksi di kampus.

Terdorong rasa penasaran, saya sempat bergabung dengan grup penggemar seorang aktor Korea yang cukup ternama serta mengamati beberapa grup penggemar idola. Apa yang saya temui dan alami selama berinteraksi dengan para penggemar oppa yang kebanyakan adalah perempuan dewasa tersebut sangatlah menarik. Meskipun tidak persis sama, ternyata kultur menjadi penggemar, baik aktor/aktris maupun grup vokal idola, memiliki karakteristik universal. Kultur penggemar oppa ini tentu saja memiliki nilai positif dan negatif, dan sejauh mana penyeimbangan keduanya akan tergantung dari pribadi penggemar yang bersangkutan serta idola yang dipujanya.

Lalu apakah seorang perempuan penggemar oppa bisa tetap berdaya meski berada di dalam lingkungan dengan fanatisme tinggi? Banyak orang akan berpikir bahwa itu adalah hal yang mustahil. Saya tidak setuju. Menurut saya, hal itu sangatlah mungkin.

Beberapa rekan saya mengernyitkan kening ketika mengetahui bahwa saya memiliki ketertarikan terhadap hallyu wave. Bagaimana mungkin seorang yang melabeli dirinya sebagai feminis interseksional seperti saya bisa menjadi seorang penggemar oppa? Sepertinya ada yang tidak masuk di situ. Namun bagi saya, ada dua poin utama mengapa seorang wanita penggemar oppa pun tetap bisa berdaya dan bisa tetap menjadi seorang feminis yang ikut memberdayakan perempuan lain.           

Poin Pertama: Fangirling Sebagai Sarana Aktualisasi Diri

Satu hal yang membuat saya kagum dengan para penggemar oppa ini, ternyata banyak sekali yang memiliki bakat seni dan kreativitas tinggi, yang sayangnya dalam kehidupan nyata berada dalam kungkungan patriarki dan tidak dapat tersalurkan dengan baik. Banyak yang bisa menggambar, melukis, dan membuat kerajinan tangan dengan kualitas profesional namun tidak bisa menjadikannya sarana aktualisasi diri. Di dalam kelompok penggemar perempuan, mereka memiliki tempat untuk aktualisasi diri dan menyalurkan bakat serta kreativitasnya itu. Bagi mereka yang berpikiran bisnis, hasil kreativitas berupa fan art ini bahkan bisa dijual ke sesama penggemar untuk penghasilan tambahan.

Poin Kedua: Kultur Kegiatan Sosial Kemanusiaan

Adalah sebuah budaya di kalangan pesohor Korea untuk berdonasi atau terlibat dalam kegiatan sosial kemanusiaan. Kultur ini pun diadopsi oleh kelompok penggemarnya. Jika diperhatikan, tiap kali ada konferensi pers sebuah drama atau perhelatan konser idola Korea, ada jejeran karangan bunga besar dengan tumpukan karung beras, atau kotak susu atau telur atau bahkan briket batu bara.

Ternyata para penggemar oppa ini memiliki kebiasaan mengumpulkan dana dan memesan karangan bunga yang nantinya akan disumbangkan ke komunitas yang membutuhkan di Korea atas nama pesohor yang mereka dukung. Kultur ini pun dikembangkan oleh penggemar di luar negeri. Tidak heran jika kemudian ada berita bahwa kelompok penggemar aktor/aktris serta grup vokal Korea menyumbang atas nama idolanya untuk korban bencana alam di berbagai negara tempat mereka tinggal.

Bahkan ada tren baru yang turut menyuburkan bisnis perawatan kulit di Korea, yakni para pesohor yang menjadi duta merek produk membuat acara khusus bagi para penggemar dan menyumbangkan hasil penjualan produk untuk kegiatan amal. Aktor Lee Joon Gi yang populer dengan drama sejarah Moon Lovers, misalnya, membuat acara khusus bagi para penggemarnya dengan produk Dermaskincare yang ia promosikan. Ia berhasil menyumbangkan sekitar 40 Juta Won (US$3.400) dari keuntungan penjualan pada acara tersebut untuk anak- anak kurang mampu melalui lembaga amal Good Neighbours Korea serta untuk China’s Women Development Foundation di China.

Bonus point: Research, not Stalk!

Sudah bukan merupakan rahasia lagi bahwa salah satu poin negatif dari para penggemar oppa adalah kemungkinan menjadi obsesif hingga bisa dikategorisasikan sebagai ‘’penguntit’’, seperti tokoh Cindy di drama Korea Her Private Life. Saya sendiri sempat terkena getah, di-’’kuntit’’ oleh penggemar lain, di mana akun pribadi saya disebarluaskan bersama narasi tuduhan yang tampaknya sahih padahal saya tidak tahu-menahu duduk persoalannya. Namun saya mengambil sisi positif dari kejadian salah target tersebut, bahwa sebenarnya rasa penasaran para penggemar oppa yang berlebihan ini dapat disalurkan menjadi kemampuan untuk belajar mengumpulkan data, berpikir kritis, dan meneliti lebih lanjut.  

Akhir kata, sejalan dengan yang dikemukakan oleh Sandra Song dalam artikelnya yang berjudul ‘’In Defense of Fangirls“, jika kita mulai melihat aspek positif dari kegiatan fangirls, khususnya para penggemar oppa, kita dapat berhenti sejenak melabeli dan memarginalkan mereka sebagai hanya sekumpulan perempuan (muda) irasional dan defensif. Jika ada rekan, saudara perempuan atau anak perempuan yang menjadi seorang fangirl atau penggemar oppa, hargai minat mereka, kenali kultur positif di kelompok penggemar di mana mereka bergabung agar mereka tetap bisa menjadi perempuan yang berdaya dan tidak hanya berakhir menjadi ‘’bucin oppa’’.

Lola Devung adalah seorang pendidik dan mengaku sebagai feminis interseksional yang memiliki ketertarikan pada dunia budaya pop, terutama yang berkaitan dengan Hallyu Wave, untuk dapat sekadar mengobrol ringan dengan para mahasiswa dan mahasiswinya.