December 06, 2019
Surat dari Penjara: Aku Gadis Hutan

“Ibuku menikahi serigala dan lahirlah aku.”

by Nicky Silvana
Issues // Politics and Society
Share:

Hai! Aku si Gadis Hutan. Aku yakin demi apa pun aku tidak dilahirkan di hutan. Pasti aku dilahirkan di kota, entah di puskesmas bobrok dekat rumah atau di rumah bidan yang gelap, yang selalu membuatku lari terbirit-birit karena cerita seramnya.

Lalu kenapa namaku Gadis Hutan? Aku berkali-kali bertanya kepada ibuku dan berkali-kali juga jawabannya sama, “Karena biar kamu sekuat gadis hutan”. Yang ada di bayanganku saat itu adalah Tarzan dalam bentuk perempuan. Apa ibuku mau aku gelayutan sambil pukul-pukul dada? Keluyuran tidak pakai baju? Atau supaya aku bisa kuat melawan serigala?

Kalian harus tahu. Ibuku menikahi serigala dan kemudian lahirlah aku. Sampai sekarang aku masih tidak bisa habis pikir. Kenapa ibu bisa terjebak serigala seperti di dongeng gadis penjual korek api? Tetapi untungnya serigala itu cepat pergi dari hidupku dan Ibu. Karena aku lelah melihat Ibu terus-terusan disakiti oleh serigala itu.

Sewaktu SD, aku dan teman sekelasku diminta oleh Ibu Guru untuk menjelaskan apa arti nama kami. Ketika tiba giliranku, semua murid di kelasku berteriak, “Aaaauuuuwwoooouwwoooo”. Hari itu aku pulang sambil menangis, meminta diganti nama menjadi Anita, Dewi, atau Wati.

Aku si Gadis Hutan, besar dengan tidak mempunyai banyak teman. Kalau dihitung, temanku hanya lima, dan aku punya satu sahabat. Aku lebih nyaman dengan hutanku sendiri. Karena aku dari kecil lelah dengan pertanyaan, “Kamu tidak punya Bapak, ya?”. Pertanyaan bodoh yang malas kujawab. Jelas aku punya bapak. Ibuku bukan Bunda Maria. Itu mungkin salah satu alasan Ibu kenapa ia menamaiku “Gadis Hutan”. Tarzan hanya berteman dengan Jane, kan?

Baca juga: Proyek SURAT Bantu Narapidana Perempuan Temukan Suara Lewat Tulisan

Sejak aku kecil, Ibu rajin memata-mataiku di sekolah dan tempat les hanya demi ingin tahu apakah aku punya teman atau tidak. Setiap hari aku tidak pernah pulang dengan membawa cerita tentang teman-temanku. Aku pulang lalu masuk kamar dan sibuk dengan buku bacaan, mainan orang-orangan dari karton, dan main boneka sendirian.

Soal buku bacaan, aku pernah membuat seisi rumah panik. Aku masih kelas lima SD saat itu. Kakekku murka ketika mendapatiku asyik membaca Atheis, buku sastra Indonesia karya Achdiat Karta Mihardja yang aku curi diam-diam dari kamar tanteku. Sampai sekarang aku masih tidak mengerti kenapa aku dilarang membaca buku itu.

Aku si Gadis Hutan, tumbuh dewasa dengan rasa mau menang sendiri, suka mengatur, dan tidak suka dibantah. Dengan gabungan sikap dan sifat seperti itu, aku sukses membuat ibu berkali-kali mengeluarkan jurus kameha-meha-nya sampai kamarku porak poranda. Dan, dengan gabungan sikap dan sifat seperti itu, aku menjadi raja di hutan kecilku di usia yang masih terbilang muda. Aku menguasai cabang terbesar, berjalan dengan congkaknya dengan dagu terangkat.

Baca juga: Surat dari Penjara: Ibuku Jagoan yang Payah

Aku si Gadis Hutan yang congkak, tergoda bisikan ular, seperti saat Hawa tergoda bisikan ular untuk memakan buah pengetahuan. Ular menggodaku dengan tumpukan-tumpukan rupiah yang kemudian membuatku terlempar dari kerajaan hutanku sendiri.

Kalian harus tahu, hutanku yang sekarang ini luar biasa.

Aku si Gadis Hutan yang sulit berteman, sampai hari ini pun masih sulit berteman. Ibuku sampai saat ini masih suka bertanya, “Kamu punya teman, kan di sana?”. Aku jawab, “Mmmm...punya.” Tetapi dia tetap berkali-kali menanyakan hal itu. Aku hanya punya satu teman di tempat ini. Temanku tampilannya lebih mirip gadis hutan dibandingkan aku. Tetapi setidaknya aku sudah bisa menyapa orang lain.

Aku si Gadis Hutan yang egois, suka mengatur dan tidak suka dibantah. Sekarang aku sudah bisa mengalah pada hal-hal yang sepele. Aku tidak sibuk mengatur orang di kamarku yang mandinya hanya satu kali dalam sehari, yang mengganti celana dalamnya tiga hari sekali, dan aku juga tidak keberatan kalau harus terus-terusan menonton sinetron yang sudah puluhan ribu episode itu.

Aku si Gadis Hutan, yang setelah puluhan tahun akhirnya tahu apa makna dari namaku sendiri. Ibu mau aku bisa bertahan dalam kondisi apa pun, kuat, dan pintar menyesuaikan diri.

Dan inilah aku! Si Gadis Hutan yang sedang berusaha memperbaiki diri dan tidak akan pernah lagi meminta ibu untuk mengganti namaku lagi.

Artikel ini merupakan hasil dari #Surat (Suara dari Balik Sekat), inisiatif kolektif dari Jurnal Perempuan, Konde.co, Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat (LBHM), dan Magdalene.co untuk memberi pelatihan menulis dasar dan menyediakan sarana menulis bagi narapidana perempuan. #Surat yang ditampilkan telah mendapatkan persetujuan dari penulis.