December 20, 2019

Surat dari Penjara: Cinta adalah Cinta

“Bukankah itu cinta? Dua orang yang memang ditakdirkan untuk satu sama lain pada akhirnya akan bersama.”

by Dominique
Issues // Politics and Society
Lesbian LBQ QueerWomen_Karina Tungari
Share:

Sore itu, aku dan kamu dengan sok pintarnya membahas majalah National Geographic bekas sumbangan dari sebuah lembaga sosial. Entah karena lelah setelah seharian mencuci baju atau karena bosan mendengar aku bicara panjang lebar tentang isi majalah bekas itu, kamu bergelung memeluk bantal. Aku suka melihat kamu seperti itu, mengingatkan aku akan kucing gendut pemalas peliharaan adikku, dan hidungmu juga seperti anak kucing kalau sedang tersenyum.

Entah sudah berapa banyak topik yang kita bahas bersama. Mulai dari hal sepele tentang aku yang tidak cocok menggunakan pembalut bersayap, karena membuat kulitku iritasi kemerahan, sampai hal penting seperti cara mencari uang jajan tambahan, dan kamu masih ada untuk mendengarkan.

Entah sudah berapa banyak pertengkaran dan perdebatan di antara kita berdua, tetapi kita tetap masih ada untuk satu sama lain. Kita memang pernah sama-sama meninggalkan, tetapi lalu kembali lagi untuk menjadi lebih baik.

Kamu tahu apa yang paling aku rindukan saat kita tidak lagi bersama saat itu? Aku rindu cara kamu menggenggam tanganku, tegas dan erat. Seolah kamu mau semua orang tahu kalau aku itu milikmu. Aku juga rindu saat kamu mencium keningku.

Baca juga: Surat dari Penjara: Aku Gadis Hutan

Banyak hal yang aku suka dari kamu. Aku suka melihat senyummu di pagi hari, di saat aku baru terbangun dari tidur. Aku suka caramu menyapaku “Selamat pagi” dengan senyummu yang seperti anak kucing itu. Aku suka caramu merangkul pinggangku. Aku suka caramu meminta maaf setelah kita bertengkar. Aku suka isi doamu yang selalu melantunkan permohonan untuk kebaikan kita berdua. Aku suka caramu memanggil nama kecilku. Aku suka caramu diam-diam memikirkan permintaanku. Aku suka suaramu. Aku suka nafsu makanmu yang menggila. Aku suka caramu merapikan rambutku.

Maaf, aku ralat. Aku bukan suka, tetapi aku cinta.

Tetapi ada juga hal yang tidak aku suka dari kamu. Aku tidak suka sifat keras kepalamu. Aku tidak suka intonasi bicaramu ketika sudah mulai kesal. Aku tidak suka muka kesalmu, dan aku tidak suka saat kamu tidak mau dibantah. Tapi tidak masalah bagiku, karena aku yakin aku lebih menyebalkan daripada kamu.

Kamu dan aku terkadang masih suka bertanya-tanya, andaikan dahulu kita bertemu, apakah mungkin akan seperti ini? Aku menemukan jawabannya. Kutemukan ini di buku yang sedang aku baca.

Baca juga: Surat dari Penjara: Ibuku Jagoan yang Payah

“Bukankah itu cinta? Di mana pun mereka berada, dengan siapa pun mereka berada, dan kapan pun mereka bertemu, dua orang yang memang ditakdirkan untuk satu sama lain pada akhirnya akan bersama.”

Dan itu jawaban dari pertanyaan kita.

Sore itu, masih sambil bergelung dengan bantal, kamu bilang, “Ada yang salah dengan kita.” Sudah puluhan kali kita membahas ini. Aku dan kamu sadar bahwa meskipun rasanya hanya tanganmu dan tanganku yang pas menggenggam tangan satu sama lain, tetapi tulang rusuk kita tak akan bisa mengisi rusuk satu sama lain. Tetapi meski begitu, kita masih percaya dengan “selamanya” kan? Aku dan kamu sepakat untuk selamanya demi menjadi yang kembali benar.

Dan sore itu, di saat kamu masih bergelung dengan bantal dan aku masih terpaku membaca majalah bekas National Geographic edisi Januari 2017, yang membahas tentang gender revolution, kuelus rambut hitam panjangmu, aku yakin “selamanya” adalah milik kita. 

Artikel ini merupakan hasil dari #Surat (Suara dari Balik Sekat), inisiatif kolektif dari Jurnal Perempuan, Konde.co, Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat (LBHM), dan Magdalene.co untuk memberi pelatihan menulis dasar dan menyediakan sarana menulis bagi narapidana perempuan. #Surat yang ditampilkan telah mendapatkan persetujuan dari penulis.

Ilustrasi oleh Karina Tungari