21/10/2026
Culture Opini Prose & Poem

Teman Serumah

Dua perempuan berbagi kontrakan dan bertahan hidup. Ketika salah satunya memilih jalan yang ditentang sahabatnya, persahabatan mereka pun retak.

  • October 21, 2026
  • 11 min read
  • 7 Views
Teman Serumah

Mengingat Rie berarti mengingat detail-detail rutinitas kami. Warung tempat sarapan di Minggu pagi. Ruang depan yang luas dengan etalase kaca besar di rumah kecil yang pernah kami sewa. Sepulang sarapan di luar, kami akan membersihkan rumah sambil membuka tirai dan jendela lebar-lebar, lalu membiarkan cahaya matahari jatuh ke atas lantai ruang depan. Setelah semuanya beres, kami akan berbaring di sudut yang teduh, menyentuhkan punggung-punggung kami pada ubin tua yang dingin.

Momen ketika kami bertukar cerita setelah kelelahan membersihkan rumah kontrakan adalah kenangan terkuat yang muncul ke permukaan ketika aku mengingat Rie.

Karena rumah itu kami rawat dengan baik, pemilik kontrakan tak pernah menaikkan uang sewa, yang kami bagi dua. Ada alasan mengapa rumah itu memiliki etalase kaca layaknya toko. Tadinya si pemilik rumah akan membuka usaha di rumah itu, tapi rencana itu tertunda karena suatu persoalan. Rumah pun disewakan sementara, entah sampai kapan. Rie akhirnya memesan tirai dengan ukuran khusus ke penjahit untuk menutupi etalase kaca itu.

Ada dua kamar berukuran kecil yang hanya digunakan untuk menyimpan barang-barang aku dan Rie. Kami berdua lebih suka tidur di ruang depan yang luas dengan menggelar kasur atau tikar. Jika malam terasa ekstra panas, kami akan berguling pelan-pelan dari kasur, dan (lagi-lagi) mendinginkan tubuh kami di atas ubin.

Baca juga: Mengapa Semua Orang Menyalahkan Mama?

***

Pada tahun 1994, aku merantau dari kecamatan ke ibu kota provinsi, meninggalkan ibuku yang telah menjanda. Aku bekerja di sebuah minimarket yang sedang berkembang. Setiap bulan, sebagian gajiku kukirim kepada Ibu di kampung. 

Rie juga perantau. Ia bekerja sebagai sales promotion girl (SPG) di sebuah toko kosmetik. Tak seperti aku, Rie harus selalu berdandan cantik dan berpakaian modis. Seluruhnya difasilitasi oleh perusahaan yang mempekerjakannya. Ia mengenakan setelan blus satin dan rok span, dengan blazer berhiaskan bordiran merek komsetik di bagian dada. 

Pada suatu Minggu, Rie dan aku sarapan di warung langganan kami di Jl. Murai. Semua jalan di daerah itu menggunakan nama burung, letaknya tak jauh dari sungai besar yang membelah kota. Rie dan aku menikmati soto di tengah hiruk-pikuk percakapan, asap rokok yang menguar, dan alunan sayup Seberkas Sinar milik Nike Ardilla dari radio tua di dekat meja kasir.

Pulangnya, kami berjalan kaki melewati sebuah kompleks perumahan mewah. Perumahan orkay, kata Rie, dan setiap lewat, biasanya ia bilang ingin sekali tinggal di rumah semacam itu suatu hari nanti. Tapi pagi itu, ia lebih banyak diam. Di rumah, kami hanya berbagi tugas perihal siapa yang membuka tirai dan kaitan jendela, serta siapa yang menyapu atau mengepel lantai.

Setelah pekerjaan selesai, barulah kesunyian di antara kami pecah. Firasatku mengatakan ada yang telah lama Rie pendam dan ingin diceritakannya padaku. Terik cahaya matahari dari etalase kaca, dibantu tiupan kipas angin, telah mengeringkan lantai yang sebelumnya basah. Rie dan aku bergeletakan di atas lantai seperti biasa—ubin yang masih terasa lembap namun membuat nyaman tubuh yang gerah dan kelelahan.

Rie berterus terang kalau ia telah lama dekat dengan seorang lelaki beristri. Ia menyebutnya Om. Lelaki itu lebih tua dua puluh lima tahun daripada kami. Jantungku rasanya hampir lepas dari rongganya kala mendengar rentetan pengakuan melayang keluar dari bibir Rie yang selalu merah dipoles sampel lipstik jualannya. Bukan sekadar merah, Mae, tapi yang ini merah anggur, koreksinya, dan ia selalu mengingatkan lagi kalau supermodel kelas dunia pun memakainya.

Rie pertama kali bertemu si Om ketika lelaki itu ingin membelikan hadiah lipstik untuk istrinya di hari ulang tahun perkawinan mereka. Dari pembicaraan warna lipstik mana yang paling cocok untuk sang istri, obrolan mengalir pada curhatan Om tentang rumah tangganya yang tak bahagia. Dari sana, kisah selanjutnya pun sudah dapat ditebak akan mengarah ke mana.

“Dia pengusaha sukses, Mae. Rumahnya mirip rumah-rumah di perumahan orkay itu…,” cerita Rie antusias.

Mulutku spontan mengeluarkan pertanyaan, yang aku tahu jika tak kutanyakan saat itu juga, maka aku tak akan punya keberanian untuk menanyakannya lagi.

“K-kau sudah tidur dengan si Om ini, Rie…?”

Rie terpejam, bulu matanya yang dipoles maskara tebal mengatup layaknya sayap burung yang sedang beristirahat.

Ia kemudian mengangguk.

Baca juga: Api di Musim Semi

***

Sewaktu masih hidup, bapakku juga pernah berselingkuh dengan perempuan penyanyi orkes di kampung kami. Aku terus membenci perempuan itu. Tapi bagiku, sulit sekali membenci Rie, meski aku tahu ia sudah jadi simpanan orang. Teman serumahku itu sering kudengar isak tangisnya kala merindukan orang tuanya: ayahnya yang lumpuh dan ibunya yang sudah lima belas tahun membersihkan kotoran suaminya. Sama sepertiku, setelah menyisihkan gajinya untuk biaya hidup dan uang kontrakan, Rie lekas mengirim uang kepada ibunya, yang sebagian besar akan digunakan untuk perawatan sang ayah.

Suatu hari, ia pulang bekerja dengan raut muka kusut, gelisah, dan uring-uringan. Ia melepas stokingnya dengan terburu-buru, dan melemparnya ke sudut rumah. Saat kutanya, Rie berkata kalau ia bimbang karena sudah hampir satu bulan tak menerima kabar dari si Om. Biasanya, lelaki itu rutin datang ke toko tempatnya bekerja, atau di waktu lain menjemputnya ketika shift kerja Rie sudah selesai. Lalu mereka akan makan bersama dan setelahnya, aku tak sanggup lagi menjabarkan apa saja yang mungkin mereka lakukan. 

Aku teringat pada tas dan sepatu mahal yang belakangan menghiasi lemari Rie. Dulu, setiap kali kutanya, Rie akan menjawab kalau itu fasilitas perusahaan. Kemudian aku membatin: Hebat juga perusahaan si Rie kalau setiap SPG yang jumlahnya banyak itu bisa difasilitasi begini. Kini, aku tahu jawaban yang sesungguhnya. Seketika aku merasa bodoh. Kukira aku telah begitu mengenal Rie, tapi ternyata itu salah.

Jumat malam itu, selepas mandi, Rie mengecat kuku kakinya sambil mengajukan sebuah permintaan padaku. Ia memintaku menemaninya ke rumah esok hari.

“Kau gila? Kau mau dihajar istrinya?” ujarku.

Rie menjelaskan bahwa tiap Sabtu keempat setiap bulannya, istri Om pergi arisan. Kalau kami datang di pagi hari, istrinya tak akan ada di rumah. Jika orang lain yang membukakan pintu, kami bisa mengaku ada urusan pekerjaan sama si Om.

Sesungguhnya aku merasa sangat berat, tapi melihat wajah Rie yang seperti akan menangis, aku jadi tak tega. Aku tak dapat membayangkan kegelisahan yang memberati hatinya. Tetap saja, apa Rie tak memikirkan perasaan istri si Om? Sebuah ketakutan tiba-tiba mengapung dari dasar hatiku. Setiap kali melewati perumahan orkay itu, Rie selalu bilang suatu hari ingin tinggal di tempat semacam itu. Aku sempat berpikir bahwa Rie menyukai Om karena hartanya, tapi bagaimana jika yang terjadi lebih buruk? Bagaimana jika hatinya sudah tertaut? Sulit melepaskan diri dari persoalan itu.

“Rie,” panggilku. “Sebenarnya kau suka pada Om atau hartanya?”

Rie menatapku tajam. “Kau kenal aku. Menurutmu bagaimana?”

Baca juga: Perempuan yang Menikahi Maut

***

Rumah Om persis seperti yang dikatakan Rie. Benar-benar rumah orang kaya yang megah. Rumah itu punya tiga tingkat dengan pilar-pilar besar bergaya Yunani dan hiasan antik berwarna emas pada setiap sudut fasadnya. Ada empat buah mobil yang terparkir di garasinya yang luas.

Sayang, menurut PRT, seluruh keluarga Om sedang berlibur ke Bangkok. Mendengarnya, raut wajah Rie yang tadinya tampak bersemangat kembali kuyu. Sepulang kami ke kontrakan, Rie langsung berbaring di tikar ruang depan tanpa melepas gaun merah yang sengaja ia kenakan untuk menemui Om. 

Lusanya, Rie demam tinggi dan muntah-muntah. Awalnya aku mengira Rie stres karena terlalu memikirkan Om, tapi hatiku mencelos setelah ia muntah untuk yang ketiga kalinya. Saat keluar dari kamar mandi, dengan wajah pias Rie menyuruhku membeli alat tes kehamilan di apotek. Dia bilang sebenarnya sudah tiga minggu terlambat haid. Kepalaku seketika berdenyar mendengar pengakuannya. 

Aku bersandar di luar tembok kamar mandi saat Rie menguji air seninya pada alat test pack yang kubeli. Berbagai pikiran memenuhi benakku. Bagaimana Rie yang hanya bekerja sebagai SPG akan membesarkan anaknya kalau si Om tak mau bertanggung jawab? Lalu, apakah Rie masih bisa bekerja sebagai SPG yang memiliki syarat bertubuh proporsional kalau setelah mengandung dan melahirkan ada kemungkinan ia akan menggemuk? Pikiranku akhirnya sampai pada kata itu: “aborsi”. Di manakah klinik aborsi yang bagus dan aman?

Kepalaku terasa berputar-putar. Aku yakin sedikit lagi aku juga akan muntah kalau saja Rie tak dengan segera keluar dari kamar mandi. Ia lalu memelukku sambil terisak. Ini dia, pikirku, mulai sekarang hidup kami akan berubah dan kami akan membesarkan anak ini bersama-sama. 

Kemudian Rie membisikkan sesuatu di telingaku. “Negatif,” lirihnya. Serasa ada batu besar yang keluar begitu saja dari perutku. Aku terduduk lemas seakan akulah ibu kandung dari janin imajiner yang sejak tadi kami cemaskan.

Menjelang malam, demam Rie mulai turun. Ia juga tak muntah-muntah lagi. Kuselimuti tubuhnya dan kulap dahinya yang basah dengan sapu tangan handuk. Aku memintanya untuk melupakan Om mulai saat itu. Bagai anak kecil yang patuh, Rie mengiakan kata-kataku.

***

Untuk waktu yang singkat, hidup kami seakan kembali normal. Kami kembali bekerja keras setiap harinya, menghabiskan hari Minggu dengan sarapan di luar dan membersihkan rumah, untuk kemudian leyeh-leyeh seharian penuh setelahnya—kadang pula sambil mendengarkan lagu-lagu pop melankolis yang diputar di radio.

Wajah Rie yang merona merah pada suatu malam saat ia pulang bekerja seakan merusak kedamaian dunia saat itu. Dengan semringah, ia bercerita kalau Om menjemputnya sore tadi dan mengajaknya keluar. Lelaki itu meminta maaf karena sebulan terakhir begitu tersita dengan urusan keluarganya hingga tak sempat menjumpai Rie. Ia terus membujuk Rie, bahkan sampai membelikan sebuah kalung mutiara sebagai permintaan maaf. Aku heran mengapa rona di wajah Rie lebih menarik perhatianku daripada kehadiran kalung baru yang menggantung di lehernya.

Kata-kata berikutnya yang meluncur dari bibir Rie kembali membuat tegang syarafku. Rie bilang, Om mengajukan sebuah rencana agar mereka menikah siri. Rie akan dibelikan rumah di kota tetangga, sehingga mereka tak perlu sering bertemu di sini dan mengurangi risiko ketahuan. Rie juga bisa berhenti bekerja karena Om akan membiayai semua kebutuhan hidupnya, termasuk biaya perawatan ayahnya di kampung.

“Kau ini bodoh atau bagaimana?” tukasku tiba-tiba. 

Kutahan tanganku yang bergetar karena sangat ingin menampar Rie. Peristiwa di malam ketika Rie sakit dan menyangka dirinya hamil kembali berkelebat. Betapa bodohnya aku karena sempat-sempatnya berpikir kalau sampai ia hamil, aku akan mendampinginya dan tak akan meninggalkannya apa pun yang terjadi. Aku menyebutnya perempuan egois yang tega menyakiti perempuan lain.

Rie kaget mendengar perkataanku. “Kamu pernah mendengar tentang pasangan jiwa, Mae? Begitulah aku dan Om. Hubungan kami begitu dalam, kami tak sekadar berhubungan badan seperti pikiranmu. Koneksi yang ia rasakan denganku tidak ia rasakan dengan istrinya. Jika ternyata orang yang kuanggap pasangan jiwaku sudah menikah, itu di luar kendaliku!”

Omong kosong! teriakku di depan wajah Rie sebelum meninggalkannya. Aku masuk ke kamar dan membanting pintunya keras-keras. Di dalam kamar, aku menangis. Malam itu Rie sungguh tak ada bedanya dengan perempuan yang tidur dengan bapakku.

***

Rie dan aku tak bertegur sapa selama berminggu-minggu setelahnya. Kami tak lagi tidur bergeletakan di ruang depan, lebih suka mengurung diri di kamar masing-masing. Jika kebetulan salah satu dari kami ada di ruang depan, maka yang lainnya tahu diri untuk tak mengganggu. Tiada lagi agenda sarapan di luar pada pagi Minggu atau bersantai bersama setelahnya. Pekerjaan rumah pun kami lakukan sendiri-sendiri.

Dari pemilik kontrakan, aku tahu kalau Rie telah mengakhiri sewanya. Ia memintaku untuk mencari teman serumah lain agar bebanku tak terlalu berat. Aku juga tahu itu berarti Rie akan segera melaksanakan rencananya dengan Om. Aku sudah tak peduli dan tak mau membujuknya lagi.

Pada suatu Minggu pagi yang basah karena hujan, aku bangun dan rumah terasa lebih lengang dari biasanya. Aku mengintip ke dalam kamar Rie. Benda-benda miliknya sudah tak ada lagi. Rie rupanya sudah pergi pagi-pagi sekali, ketika aku belum bangun. Di meja depan ada secarik kertas ditinggalkan. Maaf, hanya satu kata itu yang tertulis di sana.

Aku teringat pada laki-laki yang dicintai Rie, yang tak pernah sekali pun kulihat seperti apa wajahnya. Kutimpakan segala kesalahan pada Rie tanpa mengingat kalau laki-laki itu juga menanggung beban kesalahan yang sama besarnya. Dia juga telah mengambil Rie dariku, mengambil Minggu pagi yang menjadi milik Rie dan aku, serta segala kebersamaan kami.

Kubuka lebar tirai yang menutup kaca etalase ruang depan. Rie yang memesan tirai dengan ukuran khusus itu. Tetes-tetes air berjatuhan dari langit pagi yang sendu. Mereka memenuhi seluruh pandangan dan membanjiriku.

Varla R. Dhewiyanty lahir di Pontianak. Ia adalah lulusan Biologi yang berkonsentrasi sebagai penulis. Cerita pendek dan artikelnya termuat di berbagai media dan antologi. Ia pernah terpilih sebagai emerging writer Makassar International Writers Festival (MIWF) 2024. 

About Author

Varla R. Dhewiyanty

Click to access the login or register cheese