May 05, 2020
Transpuan Bergulat dengan Donasi yang Menipis

Transpuan bergulat dengan donasi yang menipis, dan jadi sasaran ‘prank’ orang-orang tak bertanggung jawab.

by Siti Parhani, Reporter
Issues
Lucinta Luna_Transgender_LGBT_waria_Transpuan
Share:

Duduk di dalam mobil sambil menyeringai, YouTuber asal Bandung, Ferdian Paleka, memberi alasan mengapa dia menjadikan beberapa transgender perempuan atau transpuan sasaran ‘prank’ alias kejahilannya.

Prank itu, ujarnya, dilakukan karena para transpuan bandel masih saja menjajakan diri  sebagai pekerja seks padahal sudah ada imbauan untuk Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB).

“Ya kita membantu pemerintah membersihkan para sampah masyarakat. Ini kan lagi bulan puasa, kaum Sodom itu enggak boleh ada. Zaman Nabi, zaman Rosul, kaum Sodom itu dibinasakan,” ujarnya sambil tertawa-tawa.

Sebelumnya, dalam video berjudul “Prank Ngasih Makan ke Banci CBL” itu, Ferdian dan kawannya terlihat mengisi kardus dengan batu bata dan sampah busuk yang berair, yang rencananya akan diberikan kepada para transpuan sebagai “donasi sembako.”

"Anjir, gimana kalau dimakan beneran?” ujarnya dalam bahasa Sunda.

“Biar saja, biar mati,” balas kawannya.

Video itu sudah dihapus setelah mendapat banyak kecaman dari warganet. Namun popularitas Ferdian sebagai YouTuber, dengan 93.000 pelanggan, membuat konten tersebut dilihat 49.000 kali dan mendapatkan lebih dari 1.000 “like”.

Abel Bilbi, anggota tim advokasi dari komunitas transpuan Bandung, Srikandi Pasundan, yang saat ini menangani korban, mengecam tindakan tersebut. Menurutnya, korban yang bernama Sani, 40, dan Dini, 50, pada malam itu terpaksa keluar rumah mencari uang karena sudah tidak punya bekal untuk makan. Tadinya mereka sempat senang karena mendapat bantuan sembako untuk makan beberapa hari, namun harapan itu sirna karena kardus itu berisi batu bata dan satu kantong plastik taoge busuk.

Korban lainnya, Luna, 25, dan Pipiw, 30, mengira bungkusan yang diberikan itu merupakan baju koko dan sarung mengingat ini adalah bulan Ramadan. Ketika mengetahui di dalamnya sampah, mereka marah dan kesal serta merasa harga dirinya disamakan dengan sampah.

“Mereka itu kan sudah berumur ya, jadinya cuman bisa pasrah. Kalau yang agak muda mereka marah dan sakit hari. Di tengah pandemi begini sesuap nasi aja berharga bagi mereka, ini ngasih sampah demi kepentingan konten. ” ujar Abel kepada Magdalene (4/5) dengan nada geram.

Baca juga: Transpuan Ubah Kerentanan Jadi Kekuatan di Tengah Pandemi

Tim advokasi Srikandi Pasundan kemudian melaporkan Ferdian Paleka ke Kepolisian Resor Kota Besar Bandung. Jalur hukum sengaja dipilih sebagai bentuk perlawanan komunitas transpuan terhadap perlakuan-perlakuan diskriminatif yang selama ini sudah sering mereka terima, ujar Abel.

Ketua komunitas transpuan SWARA yang berbasis di Jakarta, Khanza Vina, turut mengecam tindakan Ferdian yang tidak manusiawi. Baginya, alasan Ferdian yang mengatakan bahwa tindakannya tersebut semata-mata untuk membantu PSBB itu sangat ironis.

Pertama, kalau memang mereka paham PSBB itu apa, mereka tidak akan keluar malam-malam bertiga tanpa menggunakan masker, ujar Khanza. Kedua, mereka hanya menjadikan komunitas transpuan sebagai objek bercanda tanpa mau memikirkan nasib mereka selama pandemi yang tidak punya penghasilan untuk makan, tambahnya.

“Kenapa masih banyak yang memilih bekerja di luar sana padahal dalam situasi yang rumit ini? Mereka enggak punya pilihan lain. Siapa sih orang yang enggak takut keluar sekarang ini? Semua orang takut. Keluar untuk kerja juga berisiko kena virus apalagi mereka enggak punya jaminan kesehatan. Tapi diam di rumah enggak makan juga mati,” kata Khanza.

Baca juga: Kisah Relawan COVID-19: Transpuan Berbagi untuk Geser Stigma

Donasi yang menipis

Dua bulan sejak imbauan pembatasan sosial diumumkan Maret lalu, komunitas transpuan makin terimpit beban hidup. Banyak di antara mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor Informal hanya bergantung pada donasi dari komunitas. Sebagian ada yang memilih tetap keluar untuk mengamen meski tahu ada razia yang dilakukan pemerintah.

Khanza mengatakan, tidak seperti di bulan pertama dibukanya penggalangan dana, donasi yang terkumpul sekarang ini semakin sedikit. Kelompoknya kebingungan memilih siapa yang diprioritaskan untuk dibantu.

“Kita enggak cukup banyak bisa mendistribusikan donasi lagi ke teman-teman. Ini pun kita sedang memikirkan apalagi yang bisa kita lakukan dalam kondisi yang seperti sekarang ini,” ujarnya.

Komunitas transpuan di Bandung sama terpukulnya. Menurut Abel, bantuan memang kadang datang ke Srikandi dari pemerintah daerah atau donatur lain, biasanya berupa bahan pokok. Tapi sayangnya, bantuan biasanya dibagi per wilayah sehingga ada jeda pembagian sedangkan para transpuan tidak bisa menunggu terlalu lama. Belum lagi bantuan yang ada hanya bisa menutupi kebutuhan 3-4 hari saja. Akhirnya meski sudah tergolong berumur, transpuan seperti Sani masih memaksakan bekerja di jalanan pada tengah malam.

Donasi juga dilakukan beberapa komunitas lain, seperti Queer Language Club (QLC) dan Sanggar Teater Seroja. Sejak awal pengumuman social distancin,g QLC sudah aktif menggalang dana pada 26 Maret dan rencananya akan terus berlangsung sampai Lebaran. Dengan tagar #BantuanUntukWaria mereka terus mengajak orang-orang agar mau berdonasi membantu transpuan selama pandemi.

Nurdiyansah Dalidjo, perwakilan dari QLC mengatakan, di awal penggalangan dana terkumpul sekitar Rp33 juta yang langsung didistribusikan kepada mereka yang sama sekali tidak punya uang untuk makan. Menyiasati dana agar tidak cepat habis, akhirnya dibuat dapur umum yang mampu memasak makanan untuk 30-40 orang setiap harinya.

“Karena QLC sendiri ada di berbagai daerah dari mulai Semarang, Yogya hingga Bali, semuanya membuka donasi. Saat ini untuk di Jakarta ada sekitar 67 waria di berbagai wilayah yang kami terus pantau dan bantu,” ujarnya.

Mengingat sisa donasi yang makin menipis, dapur umum yang sempat dibuat kini diganti dengan pendistribusian bahan pokok dan uang tunai Rp50.000 setiap dua kali seminggu. 

“Selain melakukan penyaluran bantuan sembako, kami juga masih terus berupaya melakukan kampanye publik dan advokasi untuk mendorong situasi yang ramah waria dan pemenuhan hak kawan waria sebagai warga negara terkait dengan akses bantuan sosial khusus dari pemerintah,” ujar Nurdiyansah.

Kini di bulan kedua PSBB, sisa uang donasi semakin sedikit lagi. Nurdiyansah sadar betul bahwa komunitas transpuan tidak bisa selamanya hanya bergantung pada uang donasi, apalagi pandemi ini masih belum tahu akan berakhir kapan. Memutar otak, akhirnya QLC mengadakan program bergulir untuk mendorong komunitas transpuan untuk belajar berwirausaha.

Baca juga: Transpuan Setelah Kepergian Mira: Dicekam Ketakutan, Diperburuk Pandemi

“Jadi uang yang tersisa kita alokasikan buat modal mereka yang mau usaha, supaya mereka nanti bisa dapat uang sendiri, memanfaatkan situasi di tengah COVID-19,” kata Nurdiyansah.

Program tersebut sudah berjalan dengan empat usaha rintisan makanan. Menurut Nurdiyansah, sedikit sulit mengajak para transpuan untuk mau berwirausaha, karena stigma dan diskriminasi membuat kepercayaan diri mereka terkikis.

Video prank yang dibuat Ferdian juga membuat kepercayaan diri para transpuan semakin luntur.

“Tapi ya saya sedikit lega melihat semua pihak yang bekerja sama mengecam aksi itu. Jadinya masih banyak yang peduli dengan waria untuk bertahan ke depannya,” kata Nurdiyansah.

Siti Parhani merupakan reporter Magdalene. Bisa dipanggil Hani. Mempunyai cita-cita utopis bisa hidup di mana latar belakang manusia tidak jadi pertimbangan untuk menjalani hidup.