Women Lead
September 21, 2020

Untuk Kalian yang Bekerja Sambil Kuliah, Kalian Hebat

Bekerja sambil kuliah itu berat, tetapi kita tetap perlu menghargai diri atas perjuangan besar yang telah ditempuh.

by Fransina Natalia Mahudin
Lifestyle
Share:

Saat memilih untuk melanjutkan studi S2, saya menghadapi dilema karena masalah biaya. Di satu sisi, saya merasa waktu berjalan dan sangat sia-sia jika saya tidak melakukan loncatan lain seperti melanjutkan studi (hal yang paling saya rindukan dulu setelah S1). Namun di lain sisi, saya juga tidak mungkin menambah beban orang tua atau keluarga dengan meminta mereka membiayai kuliah saya. Jalan satu-satunya adalah saya harus bekerja dan mencari sampingan untuk membayar biaya kuliah setiap semester.

Saya bekerja di salah satu lembaga pemerintah pusat yang berperan sebagai salah satu supporting system wakil rakyat. Kami melakukan analisis, menyusun referensi data serta kajian, dan tugas-tugas lain yang berhubungan dengan Anggaran Pendapatan Belanja dan Negara (APBN). Telah beberapa tahun saya bekerja di situ dan sebagian penghasilan saya dialokasikan untuk biaya kuliah dan hidup di Jakarta.

Ketika orang bisa menikmati gajinya secara utuh, terkadang perasaan cemburu mencuat dalam diri saya. Tak hanya kepada mereka, saya pun cemburu dengan orang yang berkelebihan dan bisa mendapatkan bantuan orang tua untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan seperti melanjutkan sekolah. Berbeda sekali dengan saya dan para pekerja lain dengan gaji pas-pasan untuk hidup di Jakarta dan mesti mengirit demi keberlanjutan kuliah.

Saya ingat saat memutuskan kuliah, salah seorang senior saya berkata, “Mulai saja, pertolongan Tuhan selalu ada di tengah jalan.” Kalimat itulah yang membuat saya tidak ragu untuk memulai kuliah pada tahun 2018.

Beban berlapis

Melanjutkan kuliah saat sedang bekerja menuntut seseorang untuk menyesuaikan ritme beraktivitas. Ini saya sadari saat menjalani dua aktivitas tersebut secara berbarengan.

Setiap hari saya menghadapi tantangan berhadapan dengan tugas dari macam-macam isu dan topik yang harus saya selesaikan untuk atasan, dan itu sungguh menguras pikiran. Pekerjaan berpikir adalah pekerjaan yang menurut saya tidak selesai hanya di meja kantor dan jam kerja. Di samping itu, profesi saya menuntut saya untuk mengatur kejernihan pikiran saat bekerja agar terhindar dari distraksi hal lain yang juga menunggu untuk dituntaskan.

Baca juga: Wujudkan Tempat Kerja Sehat untuk Kesehatan Mental Pekerja

Beban kerja yang berbeda-beda memengaruhi psikis dan daya tahan fisik seiring bertambahnya tanggung jawab kuliah. Ketika harus mengerjakan tugas-tugas dari dua ranah berbeda ini, saya merasa kewalahan. Otak saya dipaksa berpikir ekstra dan tekanan ini sangat terasa pada semester-semester awal.

Mengelola level energi juga jadi PR tersendiri bagi orang-orang yang punya peran ganda macam saya. Setiap hari, saya harus bangun pagi-pagi dan bersiap paling tidak satu jam sebelum jam masuk kantor untuk menempuh perjalanan yang sudah tentu diisi dengan kemacetan ibu kota. Selepas bekerja, saya harus bergegas ke kampus dengan sisa tenaga yang ada. Rasanya ingin cepat beristirahat, tetapi saya tetap mesti memenuhi kewajiban yang telah saya pilih di kampus sampai pukul 21.00. Alhasil, saya menjadi salah satu mahasiswa yang paling sering ketiduran di kelas.

Seusai kuliah, saya kembali ke kos dan rutinitas ini akan kembali saya ulangi keesokan paginya. Sungguh pengalaman yang menambah hitamnya kantong mata. Sesekali sebagai pengguna TransJakarta, saya bersandar di kursi bus dan menikmati jalan di Jakarta pada malam hari seraya meneteskan air mata.

Selain kehidupan pekerjaan dan kuliah, saya menjalani satu aktivitas lain sebagai seorang pengurus pusat salah satu organisasi mahasiswa Kristen terbesar di Indonesia. Dengan bertambahnya peran ini ketika saya memasuki semester akhir, saya sampai di titik di mana saya ingin berhenti kuliah karena merasa tidak mampu.

Saya pernah terlambat ke kampus karena lalai dan lelah. Sesampai di kampus, saya lupa membawa tugas dan merasa malu karena sedikit disudutkan di depan kelas. Akhirnya, saya harus pulang untuk mengambil tugas tersebut. Di tengah jalan, saya sempat menangis dan ingin berhenti karena saya merasa kacau, bodoh, lemah, dan tidak kuat lagi. Saya ingin melepaskan satu dari antara tiga peran yang saya jalani, tetapi tiga-tiganya memiliki pengaruh penting dalam hidup saya.

Saya berhenti sejenak dan terdiam, mengingat semua perjalanan kuliah dari awal dan sedikit lagi akan selesai. Saya membayangkan betapa saya terlalu keras kepada diri saya sendiri, tetapi prinsip saya adalah apa yang saya mulai harus saya selesaikan. Saya tak mau menjadi pecundang dengan memilih berhenti di tengah jalan.

Baca juga: Sialnya Lulus Kuliah Saat Pandemi, Nantikan Pekerjaan yang Tak Pasti

Nilai bagus adalah bonus

Pada akhirnya, seperti kata orang, “proses tidak pernah mengkhianati hasil”. Saya merasa semua waktu, pikiran, dan kelelahan selama ini terbayar ketika memegang dua lembar kertas yang saya perjuangkan mati-matian dengan tangis yang tidak pernah diketahui orang-orang. Saya yakin apa yang saya alami bisa dirasakan siapa saja karena kita hanya manusia biasa yang punya kemampuan terbatas.

Tantangan besar lain saya temui ketika hendak menulis tesis. Kala itu, saya dipindahkan ke bidang baru di kantor. Otomatis saya membutuhkan energi ekstra untuk penyesuaian dengan isu dan pola kerja pada bidang baru. Akibatnya, penyelesaian pekerjaan kantor menjadi tidak maksimal. Sementara, untuk tesis pun saya mendapat nilai yang kurang memuaskan bagi saya sendiri.

Saya sempat kecewa serta menyalahkan diri saya sendiri karena hal ini. Memang, nilai tesis saya tidak buruk-buruk amat, tetapi menurut saya, seharusnya saya bisa mendapatkan nilai lebih baik lagi.

September 2020, saya mengambil ijazah akibat wisuda yang tertunda karena pandemi. Saya mendapat IPK yang cukup memuaskan, tanpa nilai C di mata-mata kuliah yang saya ambil.

Lantas, perlahan saya belajar menerima keadaan. Yang paling penting adalah saya menyadari bahwa diri saya sudah berusaha keras, dan sampai di titik-titik paling kritis pun saya masih berjuang. Nilai hanya bonus dari perjuangan yang telah saya tempuh.

Saya pun tidak bisa mengucapkan hal lain selain terima kasih kepada diri saya sendiri karena dua tahun berjuang menjalani peran-peran yang saya ambil bukanlah perkara mudah. Saya merasa bangga dan haru tak terkira ketika mengingat perjuangan saya dan banyak perempuan lain yang bekerja untuk membiayai kuliah sendiri.

Karenanya saya berpikir, untuk semua perempuan yang telah mengalahkan diri mereka sendiri, yang menahan diri dari segala hasrat yang ditawarkan Jakarta untuk bisa melanjutkan studi, kalian hebat.

Fransina Natalia Mahudin adalah perempuan berusia 26 tahun. Lahir di Ambon dan saat ini menetap di Jakarta.