Women Lead
August 06, 2021

Wajah Muram Minoritas Islam dalam 4 Film India

Jika ada film India yang menampilkan identitas Muslim di dalamnya, kebanyakan hanya sebagai penghias semata.

by Purnama Ayu Rizky, Redaktur Pelaksana
Culture
Share:

Sebagai negara di mana 7 persen atau 32 juta penduduknya beretnis India, film Bollywood cukup laris manis di Malaysia. Namun pada 2018, negara tetangga kita ini melarang tayang film India Paadmavat. Dalihnya tak main-main, film itu dianggap sebagai medium yang bisa bikin orang sesat pikir soal agama Islam lewat gambaran karakter Sultan Alauddin Khilji. Sutradara film Sanjay Leela Bhansali bahkan dimaki-maki media luar seperti NDTV, BBC, hingga The Washington Post sebagai sosok fanatik, rasis, dan mempersubur Islamofobia di India dan mungkin seluruh dunia, lewat karyanya itu.

Film Paadmavat bercerita tentang ratu Hindu India Paadmavati yang terpaksa membakar dirinya (jauhar) karena menghindari murka Sultan Khilji. Sultan Islam ini memang dicitrakan sebagai sosok yang gemar memfitnah, jahat, sombong, dan tak manusiawi—sebuah gambaran yang dinilai sebagai pembelokan sejarah, kata para pejabat Malaysia pada Reuters.

Penolakan Malaysia terhadap film yang dinilai memperburuk citra Islam nyatanya tak terjadi di India. Film ini tetap tayang dan mendapat porsi 4 ribu layar dan mengantongi pendapatan kotor sekira US$30,5 juta. Ini belum termasuk pendapatan dari bioskop Indonesia, Pakistan dan beberapa negara Timur Tengah lainnya. Di India, film yang diekranisasi dari puisi fiksi berjudul sama karya Malik Muhammed Jayas ini, sukses memanen cuan US$22,8 juta.

Ramainya penonton India yang mayoritas beragama Hindu ini adalah sinyalemen bahwa “eksploitasi” Muslim, apapun wujudnya masih mudah dijumpai dalam produk budaya populer mereka termasuk di film. Jangankan film, di dunia nyata pun, Muslim belum mendapat tempat yang setara sebagai warga negara. Pengesahan UU Kewarganegaraan dari pemimpin nasionalis Hindu Narenda Modi adalah salah satu buktinya.

Saya masih ingat bagaimana kekerasan terhadap Muslim menyebar makin luas seiring pengesahan UU yang membuat minoritas ini susah mengakses hak kewarganegaraannya. Fotografer Reuters, Danish Siddiqui—yang baru saja tewas didor Taliban—memperlihatkan dengan intens bagaimana pemuda Muslim, Mohammad Zubair dikepung massa bersenjatakan tongkat besi dan balok kayu. “Mereka meneriakan maro shale mulleko (bunuh bajingan Muslim) dan jai Sri Ram (slogan nasionalis Hindu),” tutur Zubair pada The Guardian. Meski akar permusuhan terhadap Islam ini bisa ditarik hingga jauh sekali sejak perpecahan India-Pakistan, tapi Muslim masih jadi bulan-bulanan warga mayoritas hingga kini.

Baca juga: 4 Film India Kontroversial yang Angkat Isu Agama dan Perempuan

Mengutip Mahfud Ikhwan, penulis yang rajin bercerita soal India di blog-nya, https://dushmanduniyaka.wordpress.com/, wajah agama di film India memang secara tepat merepresentasikan penganut agama di anak benua itu. Dengan 80-an persen penganut Hindu, agama inilah yang paling mudah dijumpai pada setiap jengkal gambar film India, dari film pahlawan hingga drama, dari aksi hingga komedi.

Ia menyebutkan, jika bukan sebagai pendamping pahlawan yang akhirnya mati, kebanyakan karakter beragama Islam dalam film India adalah penjahat, pejabat korup, putri yang malang, perempuan penghibur bernasib tragis, bos mafia, atau–belakangan–teroris. Karan Johar termasuk sineas India yang ajek memasukkan identitas Muslim di India meskipun penggambarannya--sesuai penilaian Mahfud Ikhwan--masih minim, tempelan, dan problematik. Misalnya tampak dari judul film-film lawas Kabhi Khushi Kabhie Gham, Kuch Kuch Hota Hai, dan lainnya.

Berikut beberapa judul film India yang menggambarkan dengan tersirat maupun terang-terangan bahwa Muslim India masih dianggap sebagai manusia kelas dua di sana:

1. My Name is Khan (2010)

My Name is Khan yang disutradarai oleh Karan Johar ini mempertemukan duo kesayangan Bollywood, Rizvan (Shahrukh Khan) yang berperan sebagai pria Muslim pengidap gangguan kesehatan mental, dan Kajol yang memerankan sosok ibu tunggal beragama Hindu, Mandira.

Sumber: IMBD

Mengambil latar seputar tragedi 9/11 di Amerika Serikat, My Name is Khan menunjukkan betapa sulitnya kehidupan diaspora Muslim di Paman Sam saat itu. Rizvan dituduh teroris, saudara iparnya diintimidasi dan dilepas paksa jilbabnya saat mengajar di kampus. Bahkan saking ngerinya sentimen terhadap Muslim, Rizvan sampai harus pontang-panting bertemu Presiden AS demi membuktikan bahwa stereotipe Islam teroris dan agen kekerasan itu salah kaprah.

Baca juga: Film India ‘Begum Jaan’ Gambarkan Paradoks Batasan sebagai Kebebasan Perempuan

2. Bajrangi Bhaijaan (2015)

Bajrangi Bhaijaan bercerita tentang kisah cinta seorang pria Muslim (Salman Khan) dan perempuan Hindu (Kareena Kapoor). Namun, fokus ceritanya terbagi dengan petualangan menyelamatkan anak perempuan Pakistan yang tunawicara dan tersesat di perbatasan.

Film ini memang sukses menyabet penghargaan domestik untuk film populer terbaik. Bahkan, aktornya, Salman Khan juga dinominasikan sebagai aktor terbaik dalam perhelatan Filmfare Awards ke-61. Masalahnya, kita perlu mengecek ulang bagaimana karakter anak Muslim Pakistan digambarkan. Selain diposisikan sebagai warga yang terpencil, jauh dari hiruk-pikuk kota, tunawicara, dan sangat bergantung pada tokoh utama, cara sutradara mengglorifikasi tokoh utama, terasa sangat menganggu saya.

Sumber: IMBD

Saya sadar, film ini berusaha menggambarkan bahwa cinta tak mengenal sekat-sekat identitas sosial dan agama, tapi sosok Salman Khan yang diposisikan tanpa kekurangan, “sempurna”, membuat saya berpikir, kapan ya sineas India mau menggeser karakter hero ini ke sosok minoritas Muslim? Saya tak melihat banyak contoh kecuali film Jodha Akbar (2008) karena tokoh Muslim jadi karakter utama dan dilekati karakter welas asih, penguasa yang mencintai istri, senang menolong, dan toleran.

Baca juga: 4 Rekomendasi Film India yang Urai Patriarki dengan Gamblang

3. Zakhm (1998)

Film Zakhm boleh lawas, tapi bisa dibilang ini termasuk salah satu favorit saya ketika ingin melihat potret irisan antaragama yang meminggirkan Muslim. Film yang ditulis dan disutradarai oleh Mahesh Bhatt, seorang sutradara yang dibesarkan secara Hindu, sempat konversi ke Islam, tapi kemudian mengaku dirinya sebagai ateis ini bikin saya berpikir bahwa Muslim memang sulit mendapat ruang aman dan nyaman untuk mengekspresikan identitas, bahkan setelah ia jadi mayat sekalipun.

Film ini mengambil latar Mumbai, India ketika di sana tengah terjadi konflik antarkelompok. Mengingat situasi tidak aman tersebut, Ajay Desai (Ajay Devgan) dan Sonia (Sonali Bendre), istrinya yang tengah hamil, berdebat tentang di mana seharusnya mereka membersarkan anak: tetap di dalam negeri atau di luar negeri yang jauh dari kekacauan. Hampir bersamaan dengan konflik internal keluarga kecilnya, Ajay dikabari bahwa sang ibu menjadi korban amukan kelompok muslim hingga kondisinya kritis di rumah sakit. Hal ini lantas memancing amarah adik Ajay, Anand (Akshay Anand), dan kelompok Hindu radikalnya.

Lebih seru lagi karena ternyata ibunya diam-diam memeluk Islam dan mati sebagai Muslim. Namun, ia terpaksa bersembunyi di balik identitas Kristen. Tragedi keluarga ini memuncak ketika sang ibu meminta untuk kelak dikuburkan sesuai agama asalnya, dan Ajay menyanggupi. Tentu saja Ajay menghadapi banyak hambatan, pertentangan, dan cibiran sana-sini.

Sumber: amiratthemovies.com

4. Padmaavat (2018)

Padmaavat merupakan film yang dibesut oleh sutradara Sanjay Laela Bhansali, pria Hindu tulen. Padmaavat menceritakan tentang sosok Ratu Rajput bernama Rani Padmaavati (Deepika Padukone) yang begitu loyal kepada suaminya, penguasa Mewar Maharawal Ratan Singh (Shahid Kapoor). Kisah cinta mereka berawal saat kedua insan ini tidak sengaja bertemu di hutan Singhal. Singkat cerita, mereka saling jatuh cinta dan kemudian menikah.

Sumber: IMBD

Pesona Padmavati dikenal banyak orang termasuk Sultan Islam nan bengis, Sultan Alauddin Khilji (Ranveer Singh). Meskipun sudah memiliki istri, sultan yang serakah ini berniat merebut Padmaavati. Dengan berbagai cara, ia berusaha mewujudkan niatnya itu meskipun ia harus melewati pertumpahan darah dan mengorbankan banyak orang. 

Jadi wartawan dari 2010, tertarik dengan isu gender dan kelompok minoritas. Di waktu senggangnya, ia biasa berkebun atau main dengan anjing kesayangan.