Women Lead
July 27, 2020

YouTuber Hina Transpuan: Natural Belum Tentu Benar

Seorang YouTuber menghina saudara transpuan dalam videonya, seolah-olah yang natural selalu benar.

by Pratiwi Juliani
Lifestyle
Share:

Tidak sengaja, saya menemukan satu video keluarga YouTuber yang muncul di deretan video lucu yang tengah saya tonton. Judulnya mengarah pada kebaikan, maka isenglah saya tonton. Tamu mereka hari itu masih keluarga mereka, seorang transgender.

Video dibuka dengan adegan tuan rumah yang seolah kaget dengan wajah transgender yang bengkak sehabis operasi, dan kritikan pun muncul bertubi-tubi. Tuan rumah secara terang-terangan mengatakan bahwa wajah tamunya terlihat seperti orang sehabis digebuki, menyeramkan, aneh hingga menakutkan bagi anak kecil. Tamu membela diri, dia menyatakan bahwa bengkak itu hanya sementara.

Video di atas ditonton banyak orang. Sebagian besar yang berkomentar mengamini dan memberikan komentar serupa. Tak jarang, lontaran kalimat sinis atau hinaan ditujukan pada tamu transgender. Sebagai penonton, saya tidak mengerti apakah video yang saya tonton tersebut settingan atau tidak. Namun terlepas dari itu, mengingat betapa video demikian diterima di masyarakat, kita muncul pertanyaan: Mengapa kita masih bisa menjadikan kritik terhadap tubuh dan pilihan hidup orang lain sebagai teladan?

Persepsi kebanyakan masyarakat Indonesia tentang kecantikan tergolong cacat. Hingga hari ini kita memuja kecantikan dengan standar tertentu, namun mengutuk orang-orang yang mengambil prosedur medis untuk mewujudkannya. Baik selebritas atau siapa saja yang kita kenal sering kali menutupi operasi plastik yang mereka lakukan semata untuk menghindari kritik bahkan penghakiman dari masyarakat. Sekarang bayangkan andai yang melakukan operasi plastik tersebut adalah transgender, entah kritik dan penghakiman semacam apa yang akan diterima. Barangkali akan berakhir seperti video yang saya tonton: Dikritik oleh keluarga sendiri yang seharusnya berdiri paling depan untuk membela ketika seseorang dikeroyok penghakiman dari luar.

Sebenarnya, apa sih yang membuat seseorang merasa berhak melontarkan pendapat pedas pada seseorang yang memakai make up tebal? Atau seseorang yang melakukan suntik botox, operasi plastik? Atau pada mereka yang memilih untuk mengganti (identitas) jenis kelaminnya? Apa?

Baca juga: Iklan yang Merisak Perempuan: Tarung Bebas Penjaja Produk Kecantikan

Ada banyak hal yang mendorong seseorang untuk menghina orang lain seperti kesepian, penyaluran energi negatif, iri, atau hanya sekedar kecewa pada kehidupan dan lingkungannya pribadi. Namun bukankah tidak semua komentar di video itu menghina, banyak juga yang bersyukur sebab dia dan keluarganya tidak memilih jalan demikian. Kesamaannya adalah, setelah melontarkannya ada perasaan puas dan senang. Ada semacam pernyataan tidak langsung seperti, "Ya, apa yang saya miliki/prinsip yang saya jalani adalah kebenaran karena itulah saya lebih baik darinya".

Menurut Psikiater Alfred Adler, menjadi manusia berarti menjadi makhluk yang memiliki perasaan inferioritas dan kita terus berusaha untuk menaklukkan perasaan tersebut. Semakin besar perasaan inferioritas yang dimiliki, semakin besar juga keinginan untuk mengalahkan hal tersebut. Semakin besar lagi perasaan inferioritas kita maka semakin agresif dan semakin ganas pula usaha kita untuk menaklukkan perasaan itu.

jika kita semua memiliki sikap inferior, berarti kita semua menyukai menjadi superior. Sebagian dari kita mewujudkannya dengan cara berusaha menggapai kesempurnaan. Sebagian memilih untuk menyempurnakan dirinya dalam bentuk fisik, prestasi atau kalkulasi berbenda. Sebagian lagi menyempurnakannya dalam bentuk psikis. Orang-orang yang suka mencela orang lain, atau bersyukur bahwa dirinya tak seperti orang lain, saya kira, tanpa sadar telah mewujudkan perasaan superior dalam dirinya. Kita merasa senang setelah melontarkan penghakiman pada mereka yang “berbeda” sebab dari sana kita merasa superior. Kita superior karena kita adalah bagian dari sebuah koloni besar: Kita adalah koloni natural.

Inilah yang menyebabkan masyarakat kita terkesan anti terhadap perkembangan cipta manusia itu sendiri. Agama dan budaya tradisional masih mendudukkan segala yang alami sebagai titik tertinggi pertimbangan, dan kemudian timbangan berdasarkan prinsip natural itulah yang dijadikan sebagian orang sebagai palu penghakiman pada manusia lain yang berlepas diri darinya. Itulah mengapa make up natural digandrungi, sementara make up bold tidak bisa dijadikan standar penerimaan bagi sebagian yang lain.

Baca juga: Hendrika Mayora Transpuan Pertama yang Jadi Pejabat Publik

Video itu diakhiri dengan doa. Doanya adalah semoga sang tamu transgender kelak kembali pada dirinya yang natural. Saya kira di sini semua sepakat bahwa doa memang hal yang baik. Tapi setelah semua kritik itu, dan doanya pun tetap tidak mengamini kebebasan pilihan hidup seseorang, ini seperti, serius? Apakah doa dalam bentuk toxic positivity layak diaminkan?

Sekali lagi, saya tidak mengetahui apakah video demikian settingan atau tidak. Apakah setiap kritikan terhadap citra tubuh dan gender di sana hanya bercanda atau tidak. Apakah tamu transgender di sana merasa senang-senang saja ketika wajahnya disebut menyeramkan atau dia terluka, saya tidak tahu. Namun, yah, tetap saja, jika kita ingin sepuluh atau dua puluh tahun ke depan perundungan terhadap citra tubuh dan gender bisa dikendalikan, kita harus berhenti menjadikan video-video semacam itu sebagai tontonan, apalagi sebagai teladan.

Kita harus berhenti menolak make-up bold. Kita harus berhenti menolak operasi plastik. Kita harus berhenti menolak transgender. Kita harus menerima bahwa setiap manusia berhak memiliki citra diri sesuai yang dia inginkan. Kita harus menerima bahwa kehidupan tidak berjalan damai hanya karena kita heteroseksual. Kita harus menerima bahwa manusia tidak bisa diikat oleh sebuah nilai dan tradisi yang kaku.

Dan untuk orang-orang yang berkomentar mengucap syukur bahwa tamu transgender itu masih diterima baik, tidak diusir bahkan didoakan oleh keluarga mereka. Sebenarnya, tidak memiliki keluarga jauh lebih baik daripada terus berada di dalam lingkaran orang-orang yang terus menerus memberimu kritik terhadap citra tubuhmu apalagi gendermu. Karena jika terus berada di dekat mereka, besar kemungkinan kelak kau akan menjadi orang yang sama: Pecandu superioritas dengan alasan bahwa natural berarti benar.

Pratiwi Juliani lahir di Kalimantan Selatan, memiliki taman baca gratis yang bergerak dalam misi mengenalkan dan meningkatkan minat baca untuk anak dan perempuan di desa-desa terpencil di provinsi tersebut. Telah menerbitkan dua buku “Atraksi Lumba-lumba dan Cerita Lainnya” (KPG) dan “Dear Jane” (KPG). “Dear Jane” menjadi satu-satunya naskah novel yang lolos kurasi Ubud Writers and Readers Festival 2018.