August 25, 2020

Zara dan Keributan Warganet yang Tak Perlu

Warganet merasa sah mengobjektifikasi tubuh aktris Adhisty Zara, tapi Zara tidak boleh memutuskan apa yang ingin dia lakukan dengan tubuhnya sendiri.

by Selma Kirana Haryadi
Lifestyle
Share:

Aktris sekaligus mantan anggota idol group JKT48 Adhisty Zara sedang dihujat warganet habis-habisan karena video yang menampilkan adegan mesranya dengan sang pacar, yang ada di Instagram story-nya. Awalnya, saya tak terlalu memedulikan itu. Ah, ini paling hanya publicity stunt buat mendongkrak film baru yang akan tayang, pikir saya. Baru saat halaman Twitter saya dibanjiri hujatan kasar terhadap Zara-lah saya mulai menyimak kasus ini. Hati saya kemudian mencelos melihat bagaimana tiada habis masyarakat kita mengurusi sesuatu yang bukan urusan dia, dan tanpa sedikit pun empati menghunjamkan kata-kata tajam bahkan kasar pada seseorang yang bahkan tak dia kenal.  

Apa yang dihujat pun menurut saya tidak penting untuk dibahas. Ini video orang pacaran, dengan adegan yang memperlihatkan bagaimana sang pacar, Zaki Pohan, terlihat memegang payudara Zara dengan main-main dan Zara menyambutnya dengan candaan. Mungkin buat seorang figur publik itu sikap ceroboh karena tahu sendiri kan, masyarakat di sini seperti apa. Yah, sudahlah, namanya juga anak remaja 17 tahun. Tanggapan warganet ini yang membuat saya kepingin garuk-garuk aspal.

Baca juga: Tara Basro, Inul, dan Alergi Terhadap Tubuh Perempuan

Syukurlah masih ada yang membela Zara dan pacarnya, dengan mengatakan itu urusan personal keduanya. Tapi kemudian banyak warganet julid nan moralistis, yang menghujat Zara dengan sepenuh hati dengan membawa berbagai pembenaran dari sisi dirinya sendiri, seperti masalah agama, asumsi tentang “perempuan baik-baik”, dan sebagainya. Ada juga yang menjijikkan, malah balik mengobjektifikasi tubuh Zara, seperti mengomentari bentuk payudaranya, sampai mengumbar fantasi seksual tentang aktris itu. Jadi para warganet ini merasa boleh-boleh saja mengobjektifikasi tubuh Zara sesuai keinginan mereka, tapi Zara tidak boleh memutuskan apa yang ingin dia lakukan dengan tubuhnya sendiri, gitu?

Kemudian ada juga kelompok yang absurd, yang menghujat orang-orang yang membela Zara, karena menurut mereka, Zara ini dibela hanya mentang-mentang dia cantik.

Mereka yang menghujat Zara karena melakukan hal tidak senonoh, tidak senonoh itu menurut siapa? Lalu, banyak sekali warganet yang dengan kasarnya menyebut Zara perempuan murahan. Terminologi murahan ini sendiri saja sudah bermasalah ketika disandingkan dengan perempuan sebagai objek. Kegiatan seksual seseorang sama sekali tidak menentukan kelayakan ataupun kualitas dirinya. Jangan juga lupakan persoalan otoritas tubuh perempuan. Keputusan apa pun yang dibuat oleh seseorang terhadap atau dengan tubuhnya  adalah sepenuhnya jadi hak dia. Kalau dia memang memilih itu secara sadar, siapa sih kita buat menghakimi?

Memang tidak ada buku atau manual untuk menjadi warganet yang baik dan pintar. Tapi nilai-nilai dasar tentang kesopanan dan empati saja kok kayaknya susah betul dipahami warganet?

Buat golongan ketiga, alias warganet yang menghakimi pembela Zara semata-mata karena dia cantik, pertama-tama, kita harus melihat dulu apa substansi pembelaannya. Kalau ternyata yang dibela adalah hak seseorang untuk mendapatkan rasa aman dan nyaman terlepas dari apa pilihan hidupnya, atau mengkritik warganet yang sudah keterlaluan karena menghakimi seseorang tanpa tahu akar permasalahannya, ya tidak apa-apa, dong.

Lain soal kalau memang ada orang yang memang membela Zara karena dia cantik, ini memang level ngehe yang enggak bisa dibiarkan. Giliran kasus serupa menimpa orang lain yang menurut mereka enggak cantik, biasanya mereka ikut-ikutan menghujat orang itu. Cerminan terdekatnya adalah orang-orang yang menghujat beauty vlogger Kekeyi hanya karena dianggap tidak cantik.

Di antara keributan ini, ada satu hal yang luput dari perbincangan warganet, yaitu kemungkinan di balik tersebarnya video tersebut. Bagaimana kalau ternyata Zara adalah korban? Misalnya, bahwa ternyata video itu memang Zara buat dan simpan untuk arsip dan konsumsi pribadinya, tapi ada orang terdekat yang entah bagaimana mendapatkan video itu, lalu diam-diam mem-posting itu di akun Zara, entah karena motif dendam pribadi, ancaman, dan sebagainya. Atau, kemungkinan bahwa Zara tidak sengaja mem-posting video tersebut di akun publiknya. Atau juga alasan-alasan lain yang kita tidak pernah tahu.

Baca juga: 5 Pemikiran Patriarkal Cowok-cowok Muda di Media Sosial

Bayangkan bila satu dari kemungkinan menyedihkan ini ternyata benar jadi alasan di baliknya. Sudah menyakiti hati orang (tidak ada yang tahu seberapa besar dampak omongan warganet ini pada kesehatan mental Zara), melecehkan dia berkali-kali, warganet lagi-lagi juga sudah membuktikan adanya tendensi obsesi mereka dengan urusan selangkangan orang lain. Apa sih dampak signifikannya buat hidupmu? Toh, dia tidak merugikan siapa-siapa. Kalau menurutmu dia salah, sesulit itu kah buat berpendapat tanpa mencaci-maki seseorang?

Mau seorang aktris memakai pakaian minim kek, gonta-ganti pacar kek, selama sikap dia sebagai manusia tidak mengecilkan manusia lain, seharusnya enggak ada yang jadi masalah. Memang tidak ada buku atau manual untuk menjadi warganet yang baik dan pintar. Tapi nilai-nilai dasar tentang kesopanan dan empati saja kok kayaknya susah betul dipahami warganet?

Selma adalah reporter magang di Magdalene. Suka berdebat, bertanya, dan belok ke kiri. Juga suka kamu. Kenapa konsep tentang normalitas harus ada, padahal tidak ada satu pun nilai yang absolut di dunia ini? Kalau tahu jawabannya, jangan sungkan kabari Selma di Instagram @selma.kirana