Women Lead
July 29, 2021

5 Alasan ‘Hospital Playlist’ Layak Kamu Tonton

‘Hospital Playlist’ bercerita tentang persahabatan para dokter yang menghangatkan dan relevan.

by Siti Parhani, Digital Media Specialist
Culture // Korean Wave
Hospital Playlist drama Korea
Share:

Hingga sekarang, saya (dan mungkin kebanyakan orang) masih menempatkan drama Korea (drakor) Reply 1988 sebagai salah satu drama terbaik sepanjang masa. Drakor ini mengangkat isu tentang kehidupan sehari-hari dan menggambarkan bagaimana ikatan emosional antarkeluarga, dan persahabatan anak-anaknya terjalin erat. Sebagai anak yang dibesarkan di Asia, konflik yang disuguhkan Reply 1988 sangat relevan dengan saya.

Ketika saya diberi tahu, Hospital Playlist dibuat oleh produser dan sutradara Shin Won Ho, orang yang sama yang menggarap Reply 1997, Reply 1994, Reply 1988, dan Prison Playbook, saya langsung memasukkannya ke dalam daftar drakor yang wajib ditonton. Dengan ciri khas alurnya yang slow burn dan drama tipis-tipis, Shin Won Ho ternyata mampu menghadirkan kembali kehangatan yang saya rasakan di Reply 1988. Apalagi beberapa pemain dalam Reply 1988 juga turut beradu peran dalam Hospital Playlist.   

Bukan Shin Won Ho namanya kalau tidak menghadirkan karakter-karakter yang kuat dan beragam di dalam dramanya. Pusat cerita memang berpaku pada lima karakter utama, yaitu Lee Ik-joon (Jo Jung-suk), Chae Song-hwa, Ahn Jung-won (Yoo Yeon-seok), Kim Joon-wan (Jung Kyung-ho), dan Yang Seok-hyung (Kim Dae-myung), tapi karakter-karakter lainnya juga tak kalah kuat dan bukan hiasan semata. 

Selain karakterisasi yang jempolan, konflik yang dibuat pun masih tetap relevan. Enggak heran jika sesekali saya senyum-senyum sendiri hanya karena adegan pedekate, atau bisa sampai menangis dan membayangkan beratnya menjadi dokter yang harus kehilangan pasiennya. Walau begitu, seperti yang editor saya bilang, sebagai drama slice of life, Hospital Playlist akan membuat kita seperti sedang minum susu cokelat yang manis dan menghangatkan. Konflik yang dihadirkan tidak banyak, namun menyenangkan untuk dinikmati. 

Jika kamu sedang mencari hiburan di tengah pandemi yang semakin menakutkan dan membuat rindu berkumpul dengan teman-teman, Hospital Playlist bisa kamu masukan daftar tontonan. 

Berikut lima alasan kenapa drakor ini layak kamu tonton. 

  1. Kehangatan Persahabatan yang Tak Penuh Drama 

Persahabatan kelima karakter utama dalam Hospital Playlist sudah terjadi sejak mereka masih jadi mahasiswa kedokteran. Meski mengambil spesialis yang berbeda, kelimanya bekerja di rumah sakit yang sama. Di tengah kesibukan di rumah sakit, mereka selalu menyempatkan diri berkumpul untuk makan atau main band bersama di akhir pekan. 

Baca juga: Kenapa ‘Reply 1988’ Terus Populer

Selain itu, perhatian-perhatian kecil, seperti membelikan kopi saat salah satunya ada shift malam, tahu kebiasaan satu sama lain, dan momen deep-talk menjadi hal yang membuat chemistry kelimanya sangat kuat, semua diramu dengan pas, enggak lebay. Jangan lupa, karakter Ik-joon yang petakilan pun menjadikan persahabatan mereka sangat asyik.

Sebagai penonton, kita seolah bisa merasakan hangatnya berada di tengah-tengah mereka. Momen-momen itu pula yang selalu membuat saya kembali mengingat masa-masa paling bahagia saat dulu kuliah dan banyak menghabiskan waktu bersama sahabat-sahabat yang sekarang sudah sibuk dengan kehidupannya.

Sumber: Netflix

2. Gambarkan Keberagaman Karakter dan Profesi 

Selain keberagaman karakter, hal lain yang tak kalah menyenangkan dari Hospital Playlist adalah berbagai profesi di dunia kesehatan. Lee Ik-joon (Jo Jung-suk) merupakan ahli hepatologi sekaligus ayah tunggal; Chae Song-hwa adalah ahli bedah saraf ternama di Korea Selatan; Ahn Jung-won (Yoo Yeon-seok) yang menyukai anak kecil, memilih jadi dokter bedah anak; Kim Joon-wan (Jung Kyung-ho) merupakan ahli bedah kardiotoraks, sedangkan Seok-hyung (Kim Dae-myung) dokter kandungan. 

Tidak hanya itu, keberagaman profesi juga terlihat dari saudara-saudara Jung-won yang semuanya memilih menjadi biarawati dan pastor. Ada juga adiknya Ik Joon, Lee Ik-soon yang merupakan tentara. 

Dalam setiap episodenya, mereka mempunyai cerita masing-masing ketika bersinggungan dengan pasien. Hal itu semakin memperkaya wawasan kita soal dunia kesehatan. 

Baca juga: ‘Hospital Playlist’ Meredefinisi Komitmen Lewat Konflik yang Humanis

3. Angkat Berbagai Isu Perempuan

Dalam Hospital Playlist 2, Cha Song-hwa pernah tidak dipercaya sebagai ahli bedah saraf oleh salah satu pasien VVIP. Padahal, waktu itu ia sengaja didatangkan dari luar kota karena dikenal sebagai salah satu ahli bedah saraf terbaik di Korea Selatan. Song-hwa yang merupakan seorang perempuan dengan perawakan kecil dianggap sebagai dokter residen dan diremehkan. Sampai akhirnya, ia mengatakan dirinya adalah ahli bedah saraf yang selama ini ditunggu. 

Hospital Playlist juga banyak mengangkat isu KDRT yang dialami oleh pasien, kekerasan pada anak, hingga orang tua yang ingin anaknya melahirkan lewat vagina karena masih percaya stigma bahwa ibu kurang sempurna jika melahirkan melalui operasi caesar. 

Hebatnya lagi, drama ini sempat menyentil sikap mertua yang sering kali menyalahkan perempuan ketika terjadi masalah terhadap kandungan atau anak. Sampai akhirnya, Jung-won memberi tahu bahwa musibah bisa datang kepada siapa saja dan bukan salah siapa-siapa.

Sumber: Netflix

4. Para Pemainnya Berlatar Belakang Pemain teater

Hal yang tidak bisa dipisahkan dari Hospital Playlist adalah adegan-adegan saat mereka bermain band setelah penat bekerja. Setelah banyak mencari tahu tentang latar belakang para pemain, saya menemukan, mereka ternyata adalah pemain teater. Kepiawaian bermusik bukan hal yang didapat secara alami, mereka harus latihan berbulan-bulan sebelum syuting drama ini dimulai. 

Cha Song-hwa yang selama ini identik dengan suaranya yang fals di antara yang lain, justru merupakan seorang penyanyi. Ia aktif di drama musikal, dan Hospital Playlist adalah drama pertamanya yang menempatkan ia sebagai pemain utama.

5. Tenaga Kesehatan Juga Manusia 

Musim kedua Hospital Playlist menghadirkan cerita yang lebih beragam dari musim pertama. Salah satu yang paling berkesan adalah masalah tenaga kesehatan yang kerap diharuskan tidak menunjukkan sisi emosionalnya kepada pasien. Sekali waktu, dokter residen yang menangani seorang anak, harus menyaksikan kedua orang tua melepas kepergian sang anak yang tak bisa lagi diselamatkan, dokter itu pun menangis sesegukan karena ia cukup dekat dengan anak tersebut. 

Merasa tidak enak, ia datang ke ruangan Joon-wan dan meminta maaf tidak bisa menahan tangisnya. Alih-alih memarahi dokter residen itu, Joon-wan malah menjawab: 

“Kenapa kamu meminta maaf? Dokter juga manusia.”

Adegan itu, membuat saya memikirkan para tenaga kesehatan di tengah pandemi ini, keluhan dan kelelahan kita terhadap pandemi, tidak seberapa dibanding mereka. Seperti kata Joon-wan, dokter atau tenaga kesehatan juga manusia. 

Bisa dipanggil Hani. Mempunyai cita-cita utopis bisa hidup di mana latar belakang manusia tidak jadi pertimbangan untuk menjalani hidup.