June 30, 2020
Kenapa ‘Reply 1988’ Terus Populer

Drama Korea ‘Reply 1988’ masih terus populer, bahkan Nicholas Saputra dan Dian Sastro aja ikutan nonton drakor yang satu ini.

by Candra Aditya
Culture // Screen Raves
Share:

Berkat pandemi dan anjuran untuk diam di rumah saja, kepopuleran drama Korea naik drastis di tahun 2020 ini. Mungkin karena hanya Korea Selatan yang bisa memberikan serial tentang balas dendam dengan gaya stylish anak muda zaman sekarang dalam Itaewon Class. Atau menyajikan kisah romansa dibalut dalam sebuah misteri pembunuhan yang mencekam seperti dalam When The Camellia Blooms. Atau drama perselingkuhan dengan gaya thriller seperti The World of the Married. Apa pun alasannya drama Korea memang mempunyai resep yang berbeda. Seperti kimchi, dia punya bahan-bahan dan warna yang unik.

Ada banyak judul drama Korea yang diperbincangkan. Ashanty mungkin tergila-gila dengan Crash Landing On You. Dan saya tahu banyak sekali pengguna media sosial menonton The World of the Married sampai merongrong akun Instagram salah satu pemainnya. Tapi di antara itu semua, ada satu judul yang dirilis lima tahun lalu tapi terus membuat banyak orang terkena Drakor fever. Yes, saya ngomongin Reply 1988.

Saya sendiri sudah menonton Reply 1988 dua tahun lalu. Yang kemudian saya lanjutkan dengan menonton dua prekuelnya, Reply 1997  dan Reply 1994. Meskipun Reply 1988 memberikan pengalaman menonton yang sangat menyenangkan, ternyata saya lebih suka Reply 1997.

Alasannya? Durasinya jauh lebih ramah, hanya 40 menitan, bukannya 80-110 menit. Kisah cintanya tidak seruwet Reply 1988. Endingnya menurut saya jauh lebih menarik. Karakternya tidak sebanyak Reply 1988 dan tidak ada karakter yang membuat saya mendidih naik darah seperti Bo-Ra (Ryoo Hye-Young), si kakak perempuan super galak yang ditakuti satu kompleks (bahkan orang tuanya sendiri). Reply 1997 juga memberikan saya pencerahan tentang seberapa besar dedikasi yang diperlukan untuk menjadi K-Pop-ers.

Baca juga: Drama Korea ‘Sweet Munchies’ Seharusnya Bisa Ngehits, Sayangnya...

Banyak sekali teman-teman saya di media sosial yang mengatakan bahwa saya salah kaprah. “Reply 1988 lebih bagus, Can, lo gila.” Tapi ada juga yang beberapa minoritas yang mendukung pernyataan saya bahwa Reply 1997 > Reply 1988.

Menyaksikan keramaian ini saya memutuskan untuk menonton ulang kedua serial tersebut. Dan setelah menyaksikan kedua serial tersebut saya akhirnya mengerti kenapa Reply 1988 kembali ngehits di tengah pandemi ini.

Comfort food

Bagi kalian yang belum familier dengan kedua serial ini, kalian harus segera menontonnya. Reply 1997 seperti yang saya bilang, membawa topik tentang awal mula K-Pop-ers. Drama ini mengisahkan seorang gadis bernama Shi-Won (Jung En-Ji) bersama teman-temannya yang ngefans dengan boyband Korea bernama H.O.T. Tentu saja selain kisah ngefans idol, Reply 1997 juga membahas tentang persahabatan, kisah cinta dan menariknya adalah hubungan antar anggota keluarga.

Reply 1988, yang digarap tim yang sama dengan dua prekuelnya (ditulis Lee Wo-Jung dan disutradarai oleh Shin Won-Ho), menceritakan tentang persahabatan lima remaja dan keluarga mereka yang tinggal di sebuah gang yang sama sejak kelimanya masih balita.

Baca juga: ‘The World of the Married’: Pelakor, Drakor, dan Inspirasi Sekelas Ted Talks

Menonton keduanya dalam waktu yang bersamaan memberikan saya banyak pencerahan. Saya jadi tahu kenapa Reply 1988 jauh lebih dinikmati. Meskipun Reply 1997 tidak njelimet dibandingkan serial favorit warga Twitter berjudul Dark, premis tentang seorang K-Pop-ers tidak seuniversal Reply 1988. Selain itu, adalah lebih dari sekedar kisah cinta. Ada banyak kisah dalam Reply 1988 yang menjadikan serial ini dekat sekali dengan kita. Ibaratnya, Reply 1988 terasa seperti comfort food yang bisa diandalkan.

Bodo amat dengan kisah cintanya yang ribet (saya adalah tim Jung-Hwan forever dan saya masih percaya bahwa konklusi Drakor ini benar-benar salah), Reply 1988 begitu ngangenin karena dinamika keluarganya yang unik, lucu, dan sungguh khas Asia.

Reply 1988 dengan jeniusnya menjelaskan dengan detail dinamika hubungan keluarga dengan karakterisasi yang sungguh kaya. Ada keluarga Duk-Sun (Hyeri) yang meskipun serba kekurangan tapi tetap ceria. Ada keluarga Jung-Hwan (Ryoo Joon-Yeol) yang diwarnai oleh kelakuan bapaknya yang doyan dad jokes. Ada keluarga Sun-Woo (Ko Gyung-Pyo) yang hangat dan lucu, ditambah ulah si mungil Jin Joo (Kim Sul). Ada Taek (Park Bo-Gum) si prodigy yang hidup berdua dengan bapaknya yang sama-sama awkward. Lalu ada Don-Ryong (Lee Dong-Hwi) yang paling tengil dan sepertinya dicuekin terus-terusan sama bapaknya.

Menonton Reply 1988, yang menggambarkan rasa kekeluargaan yang hangat, di tengah pandemi yang penuh ketidakpastian dan kekhawatiran, efeknya seperti dipeluk.

Peran keluarga dalam Reply 1988 bukan hanya tempelan. Tema keluarga ini sebenarnya juga dibahas dalam dua prekuelnya (di mana aktor Sung Dong-Il dan Lee Il-Hwa juga muncul sebagai suami istri). Tapi dinamika keluarga dalam Reply 1988 mendapatkan jatah yang lebih banyak.

Menenteramkan

Menyaksikan sesama anggota berantem, saling dukung, saling support atau saling bercanda menjadikan Reply 1988 sangat hangat untuk ditonton. Kali kedua saya menonton Reply 1988, saya sudah tidak peduli tentang betapa muaknya saya dengan karakter Bo-Ra atau betapa blundernya kisah cinta segitiga antara Deok-Sun-Jung-Hwan-Taek. Saya terkesima dengan kemampuan pembuat Reply 1988 menggambarkan rasa kekeluargaan yang menghangatkan dan menyenangkan.

Di episode pertama kita melihat bagaimana rutinitas makan malam kelima keluarga ini. Mereka masak banyak-banyak karena mereka saling berbagi makanan. Anak-anak mereka yang masih remaja terpaksa harus berkeliling dari rumah ke rumah untuk saling berbagi menu. Di akhir acara saling tukar menu tersebut, mereka akhirnya bisa mencicipi masing-masing masakan tetangga. Menonton adegan ini di sebuah pandemi yang penuh ketidakpastian dan kekhawatiran yang menghantui ternyata memberikan sebuah efek yang luar biasa. Rasanya seperti dipeluk. Penonton seperti diingatkan bahwa kita bisa loh saling berbuat baik terhadap satu sama lain. Berbagi kebahagiaan bukan lagi sebuah ide. Tapi sebuah ritual harian. Dan itu adalah hal yang jenius.

Baca juga: Jika Sex and the City Dibuat dengan Cita Rasa Lokal

Selain mood yang sangat menentramkan, suasana nostalgia yang diusung oleh Reply 1988 juga menjadi salah satu alasan kenapa drama ini terus ngehits. Mengambil setting di tahun 1988, drama Korea ini mengingatkan saya dan penonton lainnya tentang masa-masa yang lebih sederhana. Kita sekarang agak terbelenggu oleh sesuatu yang sifatnya materialistis untuk bisa merasakan sesuatu yang menghangatkan.

Saya, misalnya, baru bisa merasakan sedikit kebahagiaan ketika pesanan dari toko daring datang. Atau ketika salah satu twit bodoh saya di-retweet oleh seribu orang. Padahal sebelum-sebelumnya konsep bahagia seperti ini tidak ada. Reply 1988 mengingatkan masa-masa di mana berkumpul bersama teman menonton film adalah sebuah kebahagiaan yang hakiki. Melihat tiga ibu-ibu rumah tangga yang bertetangga begitu akur memotong sayuran bersama sambil gosip ternyata membuat hati ini tenteram.

Bapaknya Deok Sun tidak perlu earpods untuk membuat dia bahagia. Dia hanya perlu duduk dengan bapaknya Jung Hwan sambil minum arak ginseng dan nyerocos sampai pagi. Sederhana sekali bukan? Dan selama 20 episode, drama Korea ini terus-terusan mengingatkan saya bahwa less is more.

Di situlah magic Reply 1988. Dia memberikan contoh kebahagiaan-kebahagiaan yang bisa dicapai tanpa perlu sesuatu yang muluk. Atau yang membutuhkan materi. Dia memberikan bentuk nyata bahwa teman yang dikasihi dan keluarga bisa menjadi sumber tawa kita. Reply 1988 mengajarkan saya untuk menikmati hidup dan terus bersyukur.

‘Reply 1988’ dapat disaksikan di Netflix dan VIU.

Candra Aditya adalah penulis, pembuat film, dan bapaknya Rico. Novelnya ‘When Everything Feels Like Romcoms’ dapat dibeli di toko-toko buku.