Women Lead
July 08, 2021

6 Rekomendasi Film Korea ‘Slice of Life’ dari Sutradara Perempuan

Sutradara perempuan Korea Selatan membuat film dengan tema slice of life. Tujuannya untuk merepresentasikan cerita ringan dan unik yang dihadapi perempuan.

by Tabayyun Pasinringi, Reporter
Culture // Korean Wave
Share:

Belakangan ini industri film Korea Selatan sedang naik kelas di tingkat global. Parasite (2019) misalnya, sukses memboyong Piala Oscar kategori Best Picture dengan ide segarnya soal ketimpangan kelas. Ada juga film Kim Ji-young: Born:1982 (2019) yang diadaptasi dari novel dengan judul sama, dan mengguncang masyarakat Korea Selatan karena menyentil nilai-nilai patriarki.

Secara historis industri film Korea Selatan dimulai pada 1919 dengan film Righteous Revenge. Meskipun begitu, perang yang memecah semenanjung Korea menjadi dua, Korea Utara dan Korea Selatan menghambat jalan industri film. Mengutip Iowa State Daily, dunia sinema Korea Selatan kembali berjalan di pertengahan 1950-1970an.

Namun, film-film yang dihasilkan industri tersebut tidak serta-merta menghasilkan karya yang berkualitas. Korea Selatan juga sempat melewati masa-masa membuat film ‘jelek’, seperti mencampurkan Godzilla dengan King Kong dalam film Ape (1976). Kanal YouTube, Accented Cinema dalam video S.Korea Used to Make Awful Movies juga menyebutkan, untuk beberapa tahun, film Korea kehilangan identitas karena meniru gaya Hollywood.

Masa-masa film buruk kemudian berubah ketika Hallyu Wave di medio 1990-an memegang kendali dalam produk budaya populer Korea Selatan, seperti K-pop, K-cinema, dan K-drama. Industri film Korea Selatan bangkit dan menunjukkan identitas mereka karena mengangkat isu-isu sosial yang identik dengan masyarakatnya.

Hasil karya itu juga tidak hanya diproduksi oleh pembuat film laki-laki saja, tetapi banyak sineas perempuan yang membuat film tentang perempuan dan realitas yang mereka dihadapi sehari-hari atau tema slice of life. Berikut enam rekomendasi film dari sutradara perempuan Korea Selatan dengan tema slice of life.

  1. ‘Take Care of My Cat’ (2001)

Setahun setelah lulus SMA, Ji-young (Ok Go-woon) masih kesulitan mencari pekerjaan kantoran karena tidak memiliki kemampuan mengoperasikan komputer seperti yang disyaratkan banyak perusahaan kala itu. Berasal dari keluarga miskin dan harus menghidupi kakek neneknya yang sakit-sakitan, pekerjaan formal menjadi jawaban tepat untuk menyambung hidup.

Situasi yang dialaminya jauh berbeda dengan sahabatnya sejak masih sekolah, Ha-joo (Lee Yo-won) yang berasal dari keluarga kelas menengah dan berhasil menjadi seorang pegawai kantor. Namun, karena masih sangat muda, Hajoo berada di kelas paling bawah hierarki perusahaannya. Ia kemudian ‘memperbaiki’ penampilan sebagai cara untuk diakui bosnya.

Di Kota pelabuhan Incheon, Ji-young, Ha-joo, dan ketiga kawannya yang lain merasakan persahabatan mereka semakin renggang karena isu personal yang dilatarbelakangi perbedaan status sosio-ekonomi.

Sumber: Asianwiki.com

Film yang disutradarai Jeong Jae-eun itu tidak hanya mengisahkan cerita persahabatan, tetapi menunjukkan dalam sebuah ikatan sosial, status ekonomi juga ikut menentukan kelanggengannya. Ketika Ji-young dan Tae-hee (Bae Donna) bergelut dengan isu keuangan yang memberatkan kehidupan mereka, Ha-joo tampak sulit berempati dengan situasi itu dan sibuk dengan dunianya sendiri. Kucing yang diberikan Ji-young kepada Ha-joo sebagai hadiah ulang tahun lalu menjadi simbolisme pertemanan yang retak.

Dengan suasana Incheon yang masih biasa-biasa saja di era 2000-an, Take Care of My Cat juga menunjukkan situasi kehidupan masyarakat Korea Selatan di tengah perkembangannya menjadi negara maju.

  1. ‘The World of Us’ (2016)

Dunia pertemanan anak-anak bisa sangat manis, tetapi di saat bersamaan dapat berubah menjadi sangat kejam. Yoon Ga-eun, sutradara dan penulis naskah yang selalu fokus pada film anak-anak, menunjukkan rumitnya naik-turun dinamika persahabatan karena kecemburuan dalam The World of Us

Sun (Choi Soo-in) menjadi ‘orang buangan’, dijauhi, dan tidak memiliki teman di sekolah. Ia bagaikan orang luar yang hanya bisa menyaksikan asyiknya bersosialisasi dengan teman secara pasif. Tidak ada yang ingin berteman dengannya karena secara akademik pas-pasan, tidak berasal dari keluarga yang kaya, dan suka menjadi bual-bualan Bo-ra (Lee Seo-yeon) dan teman-temannya yang populer.

Jika berteman dengan Sun sama saja melakukan bunuh diri sosial, karenanya ia selalu sendirian. Hal itu berubah ketika ia bertemu dengan siswa pindahan Jia (Seol Hye-in) sebelum libur musim panas dan menjadi sahabat yang tidak terpisahkan.

Jia adalah anak orang kaya, tetapi selalu kesepian karena orang tua yang absen dan hanya ditemani oleh neneknya. Ia merasa cemburu dengan Sun yang dekat dengan ibu dan menjadi kakak yang baik untuk adiknya. Dengan perlahan ia menjauhi Sun dan puncaknya ketika libur musim panas selesai, ia memilih untuk berteman dengan anak populer.

The World of Us menjadi tamparan menyakitkan karena di dunia persahabatan saat masih sekolah dasar kita bisa saja menjadi Sun, Bo-ra, atau Jia, kawan yang tiba-tiba berubah menjadi lawan.

Sumber: Hancinema. net
  1. ‘Microhabitat’ (2017)

Mi-so (Esom) bekerja sebagai petugas pembersih lepas yang datang dari rumah ke rumah. Oleh karena penghasilannya yang minim, Miso tinggal tinggal sebatang kara di apartemen sempit dan harus irit tentang pengeluaran uang sewa, obat-obatan, makan sehari-hari, rokok dan wiski.

Hidupnya berubah drastis ketika harga rokok naik di malam tahun baru. Miso harus membuat pilihan, mengorbankan rokok atau wiski agar bisa menyambung hidup. Tetapi, ia tidak bisa melepaskan dua hal yang sangat disukainya itu dan memilih untuk tidak memiliki rumah asalkan bisa tetap merokok dan minum alkohol. Solusi untuk mendapatkan tempat beristirahat atau ‘rumah’, Mi-so hidup berpindah-pindah dan menumpang di rumah teman band-nya saat masih kuliah.

Mi-so yang menjadi tunawisma menuntun jalan hidup berbanding terbalik dengan sahabat-sahabatnya yang mapan. Bagi mereka Mi-so juga hidup secara serampangan karena lebih memilih untuk menghamburkan uang untuk rokok daripada menabung dan memiliki rumah. Namun, Mi-so tidak merasakan ada yang salah dengan hidupnya dan tidak terbebani dengan ekspektasi sosial mengekang seperti mereka.

Film yang disutradarai Jeon Go-woon itu mengisahkan tentang seseorang yang ‘berbeda’ karena hidup untuk dirinya sendiri dan tidak menyesuaikan dengan konformitas. Tetapi, perbedaan itu juga yang menyebabkan seseorang ‘terasing’ dari orang lain, bahkan yang dulunya adalah teman sejati.

Sumber: Hancinema.net
  1. ‘Little Forest’ (2018)

Lelah dan muak dengan hidup perkotaan, Hye-won (Kim Tae-ri) pulang ke kampungnya untuk beristirahat dan memuaskan rasa lapar menyantap makanan rumahan yang dibuat dari ‘hati’. Meskipun begitu, Hye-won hidup sendiri karena ditinggal ibunya saat masih SMA. Ia hanya meninggalkan kebun kecilnya untuk Hye-won.

Film yang diadaptasi dari manga Daisuke Igarashi (2002) itu mengisahkan tentang Hye-won yang ‘menyegarkan’ dirinya dengan membuat kembali makanan dengan resep ibunya. Dengan memasak Hye-won juga mengenang momen ketika masih tinggal bersama sang ibu dan menjadi , seperti permusuhan, pertemanan, dan keluarga.

Sebagian besar adegan film itu memanjakan mata dengan visualisasi masak-masak yang membuat lapar. Setiap makanan juga memberi makna simbolis atas apa yang dirasakan Hye-won saat itu, misalnya kong guksu atau mi dalam kuah kedelai dingin yang cocok untuk musim panas, makgeolli untuk mendekatkan diri dengan teman, hingga creme brulee sebagai bentuk perdamaian dan minta maaf.

Secara samar, film yang disutradarai Yim Soon-rye itu mengisahkan tentang impian menjalani hidup ‘baik’ di kota, tetapi bertemu dengan kenyataan yang keras dan sulit. Sama seperti Hye-won, kawannya Jae-ha (Ryoo Joon-yeol) juga pulang kampung karena lelah dengan Seoul. Sementara itu, Eun-sook (Jin Ki-joo), sahabatnya yang bekerja di bank selalu bermimpi hidup gemerlap di kota, tetapi tidak pernah meninggalkan kampungnya.

Sumber:Netflix

Little Forest menunjukkan, baik kota maupun desa, kehidupan bisa terjadi di mana saja dan kita yang memegang kendali untuk membuat hidup itu bahagia.

  1. ‘House of Hummingbird’ (2018)

Film bertema coming of age mengisahkan tentang kehidupan dan keseharian Eun-hee,  (Park Ji-hoo), remaja 14 tahun di Seoul pada 1994. Eun-hee adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Layaknya keluarga yang memiliki nilai patriarki pada umumnya, Eun-hee dan kakak perempuannya ‘dikesampingkan’. Sementara kakak laki-lakinya selalu didahulukan dan menjadi kesayangan orang tuanya. Kakak laki-lakinya juga sering bersikap kasar dan memukuli Eun-hee.

Eun-hee sering merasa tidak dipahami oleh orang sekitarnya dan kesepian. Namun, hal itu berubah ketika ia bertemu dengan guru les bahasa Mandarin barunya, Young-ji (Kim Sae-byuk) yang memberikan banyak nasihat untuk Eun-hee yang ceroboh. Young-ji menjadi orang yang sangat ia percaya dan dekat dibandingkan dengan keluarganya.

Film karya sutradara Kim Bora tersebut menunjukkan berbagai isu yang dihadapi anak perempuan, seperti hubungan keluarga yang rentan, meskipun orang tua tetap ada secara fisik, hal itu tidak menentukan kedekatan. Selain itu, ada juga isu pertemanan dan cinta. Eun-hee tidak digambarkan sebagai seorang remaja heteroseksual karena ia juga berkencan dengan perempuan. Topik cinta dalam film tersebut tidak hanya sebatas laki-laki dan perempuan, tetapi sebuah perasaan yang bisa ditujukan kepada siapa saja tanpa memandang jenis kelamin dan gender.

Secara samar dalam beberapa adegannya, film itu juga menggambarkan pergeseran politik yang terjadi di Korea Utara, buruh-buruh pabrik Korea Selatan yang menolak di-PHK, hingga tragedi runtuhnya jembatan Seongsu yang menghubungkan distrik Gangnam dan Seongdang.

Sebagai film yang mengisahkan perjalanan dan pendewasaan emosional perempuan, House of Hummingbird memberikan perasaan sama ketika menonton film yang dibintangi Saoirse Ronan, Ladybird (2017).

Sumber: cultura.id
  1. ‘Lucky Chan-sil’ (2019)

Chan-sil (Kang Mal-geum), seorang produser film perempuan mendadak jadi pengangguran karena satu-satunya sutradara yang mau bekerja dengannya meninggal dunia. Kehidupannya berubah drastis dan ia harus melakukan beberapa perubahan, seperti pindah rumah dan menyewa kamar dari Bok-sil (Youn Yuh-jung) nenek yang agak eksentrik dan bekerja membersihkan rumah teman aktrisnya, Sophie (Yoon Seung-ah) untuk mendapatkan penghasilan.

Chan-sil galau dan kesepian karena tidak memiliki pacar atau menikah di usianya yang sudah menginjak kepala empat. Chan-sil agak menyesal karena menghabiskan waktu mudanya terus bekerja dan tidak memiliki teman hidup. Ia juga putus asa akibat tidak lagi bekerja di industri film dan perlahan-lahan menyaksikan mimpinya mati.

Meskipun begitu, hidupnya berubah ketika bertemu dengan Kim Young (Bae Yoo-ram) guru bahasa Perancis Sophie. Ia merasa tidak terlalu sendiri dan kecintaannya pada film kembali hidup ketika tahu putri ibu kosnya, Bok-sil, juga pecinta film. Meskipun merasa tidak memiliki siapa pun, Chan-sil memiliki teman-teman setia yang selalu mendampinginya. Bagi mereka Chan-sil adalah sosok noona atau kakak yang bisa diandalkan.

Sumber: Hancinema.net

Film tersebut memang tidak memiliki alur dan berjalan seperti kehidupan sehari-hari saja. Meskipun begitu, Lucky Chan-sil mengatakan, tidak ada yang sia-sia jika menghabiskan waktu muda melakukan hal yang disukai. Jika merasa hilang arah dan sendirian, seperti Chan-sil, dorongan dari teman dan menghabiskan waktu memahami diri sendiri akan membuat kecintaan dan semangat yang pudar itu kembali lagi.

Tabayyun Pasinringi adalah penggemar fanfiction dan bermimpi mengadopsi 16 kucing dan merajut baju hangat untuk mereka.