Women Lead
December 22, 2020

Dari Muhammadiyah ke FPI: Pergeseran Sikap Moderat Aktivis Islam Menjadi Radikal

Kekecewaan sekelompok pengikut Muhammadiyah terhadap sikap organisasinya mendorong mereka untuk mendukung FPI dan menjadi radikal.

by Sholihul Huda
Issues // Politics and Society
Ramadan_Islam_Faith_Symbol
Share:

Muhammadiyah ke FPI - Sejak kemunculannya pada 1998, gerakan Front Pembela Islam (FPI) senantiasa menarik perhatian masyarakat. Tidak jarang aksi-aksi mereka mengundang kontroversi. Salah satu penyebabnya adalah sikap dan aktivitas politiknya yang berbeda dengan organisasi masyarakat Islam lainnya seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul ulama (NU) yang cenderung lebih moderat.

Dibanding Muhammadiyah dan NU, FPI cenderung lebih radikal dalam menegakkan ajaran Islam mereka lewat aksi-aksi memberantas perilaku tercela atau sering disebut sebagai “nahi munkar”. Misalnya, laskar FPI kerap “merazia” minuman keras di kafe-kafe dan klub-klub malam di berbagai kota di Indonesia.

Riset saya menunjukkan bahwa pendekatan FPI tersebut terbukti efektif menarik kelompok Islam moderat. Riset ini saya lakukan di Lamongan, Jawa Timur selama dua tahun (2008-2010), dan melibatkan wawancara mendalam dengan 10 aktivis Muhammadiyah.

Dari riset saya, ditemukan bagaimana anggota Muhammadiyah yang moderat bisa berubah radikal dan menjadi pendukung FPI. Di Lamongan, kelompok ini menyebut mereka sebagai Muhammadiyah-FPI (MUFI).

Dari Muhammadiyah ke FPI

Muhammadiyah yang berdiri pada 1912  adalah organisasi masyarakat Islam yang mapan, baik secara ideologi maupun jaringan dakwah. Organisasi ini telah menjadi salah satu penyangga kehidupan sosial keagamaan moderat di Indonesia.

Namun, keberadaan gerakan FPI yang lebih berani dan tegas mengajak pengikutnya untuk berbuat kebaikan dan mencegah kemaksiatan (amar makruf nahi mungkar) di lapangan, membuat orang-orang mempertanyakan gerakan Islam arus utama. Mereka menganggap gerakan Islam arus utama terlalu “lembek” dan terlalu sibuk di internalnya, termasuk Muhammadiyah. Alasan tersebut yang membuat sebagian aktivis Muhammadiyah berubah haluan menjadi pendukung FPI.

Riset saya tidak dapat memastikan sejak kapan pergeseran ideologi ini terjadi. Namun, perubahan bisa muncul melalui saluran media yang beragam seperti media selebaran, pamflet, surat imbauan tentang kegiatan dakwah FPI, buletin dan majalah internal FPI, serta aksi-aksi razia yang sering kali mereka lakukan.

Saya menemukan setidaknya ada dua aspek yang mendorong pergeseran ideologi aktivis Muhammadiyah ini: Kondisi eksternal dan internal.

Salah satu alasan eksternal aktivis Muhammadiyah menjadi simpatisan FPI berangkat dari keresahan mereka melihat keadaan masyarakat, sementara mereka merasa organisasinya tidak melakukan apa-apa. Keresahan mereka berkaitan dengan masifnya praktik kemaksiatan yang masih cenderung diabaikan masyarakat. Mereka juga khawatir terhadap pengaruh industrialisasi yang mengubah tradisi masyarakat menjadi lebih individualis dan materialistik.

Baca juga: Kelompok Moderat Didesak Lebih Bersuara Lawan Radikalisme, Terorisme

Aktivis Muhammadiyah yang bersimpati terhadap gerakan FPI karena organisasi ini dianggap lebih berani, responsif, dan tegas dalam melawan kemaksiatan yang semakin merajalela di sekitar lingkungan masyarakatnya.

Sementara, kritik internal dari tubuh Muhammadiyah sendiri yang mendorong pergeseran ideologi dari moderat ke radikal meliputi kekecewaan aktivis terhadap gerakan Muhammadiyah yang dianggap kurang responsif terhadap masifnya kemaksiatan di kalangan masyarakat.

Mereka juga melihat bahwa Muhammadiyah tidak mempunyai formulasi gerakan yang jelas untuk menghentikan kemaksiatan ini, tidak seperti FPI. Hal ini kemudian menjadikan sebagian aktivis Muhammadiyah lebih bersimpati dan bergabung dengan gerakan FPI dan mendorong berdirinya MUFI.

Dua Kelompok MUFI

Keberadaan MUFI menimbulkan gesekan antara karakter ideologi FPI yang keras dan Muhammadiyah yang berwatak moderat. Situasi ini menyebabkan terjadi polarisasi sikap aktivis Muhammadiyah terhadap FPI dan sebaliknya.

Aktivis MUFI terbagi menjadi dua kelompok. Pertama, mereka yang masih positif dan akomodatif terhadap Muhammadiyah. Anggota kelompok ini secara ideologi dan organisasi masih aktif di Muhammadiyah tapi mereka juga aktif (bahkan menjadi pengurus) di FPI. Jadi, pada dasarnya mereka cenderung “menduakan” Muhammadiyah. Kelompok ini berpandangan bahwa keberadaan FPI merupakan sebuah pelengkap gerakan Muhammadiyah terutama dalam menegakkan ideologi nahi mungkar.

Baca juga: Radikalisme di Sekolah Swasta Islam: 3 Tipe Sekolah yang Rentan

Kedua, kelompok yang melihat Muhammadiyah secara negatif. Aktivis yang tergabung dalam kelompok ini secara tegas memisahkan diri dari Muhammadiyah, lalu pindah ke FPI. Mereka menganggap Muhammadiyah terlalu akomodatif terhadap pemerintah dan terkesan tidak peduli terhadap aksi kemaksiatan, padahal pemerintah dianggap bagian dari penyokong kemaksiatan.

Dampak Perubahan Haluan

Keberadaan kedua kelompok ini sedikit banyak mempengaruhi lanskap ideologi “wajah” Islam di Indonesia. Lanskap Islam Indonesia yang dikenal berwajah moderat kemudian bergeser menjadi berwajah konservatif-radikal. Wajah relasi sosial umat Islam Indonesia, yang lebih menghargai tradisi lokal, berubah dengan keberadaan FPI dan pendukung-pendukungnya yang menonjolkan identitas “arabisme, yaitu menguatnya relasi sosial keagamaan dengan meniru identitas budaya kearab-araban”

Keberadaan MUFI juga berdampak pada keberadaan Muhammadiyah secara ideologis dan sosiologis. Secara ideologis, MUFI akan mendorong terjadi penggerusan ideologi Muhammadiyah yang semula moderat dan toleran berubah konservatif dan ekslusif. Kemudian secara sosiologis, keberadaan MUFI menganggu sistem kerja dan tradisi Muhammadiyah yang sudah mapan. Hal ini terlihat pada tidak efektifnya imbauan ulama-ulama Muhammadiyah sejak pandemi COVID-19 karena kurang populer dibanding pemimpin FPI Rizieq Shihab.

Potret di atas hemat penulis disebabkan adanya kemacetan dalam paradigma pendidikan di Muhammadiyah yang kini cenderung monodisiplin, yaitu pendekatan keilmuan yang hanya bertitik tolak pada disiplin ilmu yang bersangkutan tanpa mempertautkan dengan cabang ilmu lainnya.

Pola tersebut cenderung menghasilkan sikap keberagamaan yang kaku-keras (konservatif) dan intoleran. Untuk itu, Muhammadiyah perlu menerapkan kolaborasi lintas disiplin dari berbagai keilmuan mulai dari agama, sosial, hingga ilmu alam dalam menyelesaikan masalah ini. Oleh karena itu, sudah saatnya pola metodologi pendidikan Muhammadiyah berubah dari monodisiplin ke interdispliner.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Sholihul Huda adalah asisten profesor Studi Agama-agama, Universitas Muhammadiyah Surabaya.