06/11/2026
Issues People We Love

Azalea Ayuningtyas, Olah Rumput Laut NTT Jadi Solusi Pertanian Berkelanjutan

Azalea Ayuningtyas melihat potensi rumput laut NTT lebih dari sekadar komoditas pesisir. Lewat Birufinery, ia mengolahnya menjadi biostimulan untuk membantu petani menghadapi tekanan perubahan iklim.

  • November 6, 2026
  • 7 min read
  • 355 Views
Azalea Ayuningtyas, Olah Rumput Laut NTT Jadi Solusi Pertanian Berkelanjutan

Azalea Ayuningtyas, pendiri Birufinery. (Foto: Desca/ Antara)

Rumput laut yang dibudidayakan masyarakat pesisir Nusa Tenggara Timur (NTT) selama ini dikenal sebagai komoditas pangan dan bahan baku industri. Namun, bagi Azalea Ayuningtyas, potensi tanaman laut tersebut bisa menjangkau sektor lain: Pertanian.

Ia mengolah rumput laut menjadi biostimulan, produk yang membantu tanaman menyerap nutrisi dan menghadapi tekanan lingkungan. Gagasan itu kemudian ia kembangkan melalui Birufinery, perusahaan rintisan bioteknologi pertanian (agri-biotech) yang didirikannya pada 2024 bersama tiga orang lainnya.

Inovasi tersebut mengantarkan Birufinery menjadi salah satu pemenang kompetisi kewirausahaan sosial global Unlock Her Future Prize 2026 yang diselenggarakan The Bicester Collection di Shanghai, China, (23/10). Birufinery memperoleh hibah sebesar US$100.000 atau sekitar Rp1,8 miliar untuk mengembangkan usaha dan memperluas jangkauannya.

Namun, bagi Azalea, persoalannya bukan semata bagaimana menghasilkan produk baru dari rumput laut. Ia juga ingin memastikan sumber daya alam yang diolah menjadi produk bernilai tambah dapat membuka peluang ekonomi bagi masyarakat pesisir dan membantu petani kecil menghadapi tantangan pertanian.

Baca juga: Dua Perempuan Indonesia Menang Unlock Her Future 2026, Raih Pendanaan hingga US$100 Ribu

Dari Bisnis Sosial ke Bioteknologi Pertanian

Birufinery bukan usaha pertama yang dibangun Azalea. Sebelumnya, ia terlibat dalam pengembangan Du Anyam, usaha sosial yang memberdayakan perempuan melalui produk kerajinan anyaman. Pengalaman tersebut memperkenalkannya pada model bisnis yang tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga berupaya menciptakan manfaat ekonomi bagi komunitas.

Ketika membangun Birufinery, Azalea kembali bekerja bersama Hanna Keraf, mitra yang telah dikenalnya. Mereka kemudian mengajak dua orang lain bergabung, yakni seorang ilmuwan bergelar doktor dari Kanada yang memiliki keahlian di bidang refinery dan mikrobiologi, serta mantan konsultan Procter & Gamble (P&G).

Kali ini, fokus mereka adalah bioteknologi pertanian. Salah satu produk yang dikembangkan Birufinery ialah BiruLift, biostimulan berbahan ekstrak rumput laut yang dipadukan dengan mikroorganisme bermanfaat untuk mendukung pertumbuhan tanaman.

Azalea melihat peluang tersebut dari perkembangan industri biostimulan global. Selama sekitar 30 hingga 40 tahun, rumput laut dari perairan dingin seperti Norwegia, Kanada, dan Cile telah digunakan sebagai bahan baku produk sejenis.

Namun, menurut Azalea, pasokan rumput laut dari kawasan tersebut memiliki keterbatasan. Rumput laut umumnya hanya dapat dipanen sekali dalam setahun. Ketersediaan bahan baku dan kebutuhan menjaga kelestarian sumber daya laut turut memengaruhi biaya produksi, sehingga produk biostimulan impor cenderung lebih mahal.

Indonesia, sebaliknya, memiliki potensi rumput laut tropis dan ekosistem budidaya yang dapat dikembangkan sebagai sumber bahan baku. Potensi inilah yang ingin dimanfaatkan Birufinery untuk mengembangkan produk biostimulan dari sumber daya lokal.

Di sisi lain, petani juga menghadapi tekanan akibat perubahan kondisi iklim. Azalea menyoroti musim kemarau yang lebih panjang, suhu panas, dan curah hujan tinggi sebagai faktor yang dapat membuat tanaman mengalami stres. Praktik pertanian monokultur dalam jangka panjang dan penggunaan pestisida berlebihan juga menjadi tantangan bagi kualitas tanah.

Dalam kondisi tersebut, tanaman membutuhkan dukungan untuk mengoptimalkan penyerapan nutrisi. Azalea menjelaskan perbedaan fungsi biostimulan dan pupuk dengan perumpamaan sederhana.

“Jadi biostimulan tuh istilahnya kayak vitamin. Kalau pupuk itu makanan. Jadi nasi, tahu,” jelas Azalea.

Dengan kata lain, biostimulan bukan pengganti pupuk. Produk ini membantu tanaman memanfaatkan nutrisi, sedangkan pupuk menyediakan unsur hara yang dibutuhkan untuk pertumbuhan.

Menurut Azalea, penggunaan biostimulan Birufinery berpotensi meningkatkan hasil panen sekitar 15 hingga 50 persen, bergantung pada kondisi tanaman dan lahan. Sementara itu, pada lahan dengan produktivitas yang sudah baik, penggunaannya diklaim dapat membantu mengurangi kebutuhan pupuk hingga 30 persen.

Klaim tersebut menjadi salah satu tawaran Birufinery kepada petani, terutama ketika biaya input pertanian menjadi pertimbangan dalam menjaga produktivitas. Azalea mengatakan harga eceran produk mereka sekitar Rp110.000 per liter, dengan kebutuhan sekitar lima liter untuk satu hektare lahan. Untuk pembelian dalam jumlah besar, harga dapat mencapai Rp90.000 per liter.

Birufinery mulai memasarkan produknya pada 2025 setelah melalui tahap penelitian dan pengembangan sejak perusahaan berdiri. Perusahaan juga memperoleh izin edar dari Kementerian Pertanian pada awal 2026 dan mulai memperluas distribusi melalui kerja sama dengan pemerintah daerah, distributor, produsen, dan asosiasi.

Baca juga: Tak Sekadar ‘Joke’ Dicoret dari KK, Tupperware Ternyata Berdayakan Ibu-ibu

Membangun Rantai Ekonomi dari Pesisir

Di luar manfaatnya bagi pertanian, Birufinery ingin membangun rantai pasok yang melibatkan masyarakat pesisir, terutama pembudidaya rumput laut di NTT. Bagi Azalea, pengembangan produk biostimulan juga perlu memberi nilai tambah bagi wilayah yang menghasilkan bahan bakunya.

Indonesia merupakan salah satu produsen rumput laut utama dunia. Dilansir dari ANTARA, Indonesia berada di posisi kedua sebagai produsen rumput laut global. Sekitar 80 persen produksinya masih dijual dalam bentuk bahan mentah, sementara budidayanya menopang mata pencaharian hampir satu juta penduduk pesisir dan lebih dari 267.000 rumah tangga.

Angka tersebut menunjukkan besarnya peran rumput laut bagi ekonomi masyarakat pesisir. Namun, penjualan dalam bentuk bahan mentah membuat peluang pengolahan dan penciptaan nilai tambah di dalam negeri masih terbuka luas.

Azalea ingin Birufinery ikut mengembangkan rantai pasok yang lebih kuat di NTT. Upaya tersebut mencakup perluasan pasokan rumput laut sekaligus edukasi mengenai praktik budidaya yang lebih ramah lingkungan dan penggunaan bibit unggul bagi petani.

Rumput laut juga memiliki fungsi ekologis di perairan. Tanaman ini menyerap nutrisi, termasuk nitrogen, dari lingkungan sekitarnya. Dalam kondisi tertentu, pemanfaatan rumput laut dapat membantu mengurangi kelebihan nutrisi di perairan yang memicu eutrofikasi atau pertumbuhan alga secara berlebihan dan mengganggu keseimbangan ekosistem laut.

Dengan model tersebut, Birufinery berupaya menghubungkan sumber daya laut dengan kebutuhan pertanian. Rumput laut menjadi bahan baku produk untuk tanaman, sementara pengembangannya berpotensi menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat yang membudidayakannya.

Ia juga menaruh perhatian pada posisi petani kecil dalam rantai bisnis tersebut. Birufinery melayani kebutuhan perusahaan besar dan pelaku industri, tetapi ia menyadari pendekatan kepada petani kecil membutuhkan proses yang berbeda.

Perusahaan besar dapat bekerja sama langsung dengan tim penelitian dan pengembangan (research and development/R&D). Sebaliknya, petani kecil membutuhkan edukasi, pendampingan, dan uji coba produk melalui lahan percontohan atau demonstration plot. Proses ini memerlukan tambahan waktu, tenaga, dan biaya.

Ia tidak ingin inovasi pertanian hanya dapat diakses oleh perusahaan yang memiliki sumber daya besar. Petani kecil juga perlu mendapat kesempatan untuk memahami dan mencoba teknologi yang dapat membantu kegiatan produksi mereka.

“Jadi kita perlu menyeimbangkan,” tuturnya.

Kemenangan Unlock Her Future Prize 2026 menjadi salah satu peluang untuk memperkuat upaya tersebut. Selain hibah, Azalea mendapatkan akses ke mentor, jejaring wirausaha internasional, dan kesempatan memperkenalkan Birufinery kepada pasar yang lebih luas.

Pendampingan bisnis juga penting karena pengembangan produk pertanian tidak cukup hanya dengan menyediakan barang untuk dijual. Perusahaan perlu menjelaskan cara penggunaan, manfaat, dan kondisi yang sesuai agar petani dapat memahami produk tersebut sebelum mengadopsinya.

Baca juga: Panggung Tanpa Suara: Ketika Konferensi Pemberdayaan Perempuan Tak Terjangkau Akar Rumput

Membuka Kesempatan, Bukan Sekadar Memberi Bantuan

Perhatian Azalea terhadap akses ekonomi dan pendidikan juga berkaitan dengan pengalaman pribadinya. Ia mengakui memiliki privilese dalam memperoleh pendidikan. Ia menempuh pendidikan sarjana di University of Michigan pada bidang Cell and Molecular Biology pada 2007 hingga 2011, lalu melanjutkan studi magister Epidemiology di Harvard University School of Public Health pada 2011 hingga 2013.

Akses pendidikan tersebut membuatnya memikirkan ketimpangan kesempatan yang dialami orang lain. Menurut Azalea, persoalannya bukan hanya ada orang yang tidak memiliki kesempatan, tetapi juga mereka yang bahkan tidak mengetahui peluang tersebut tersedia.

“Aku pengen kasih mereka kesempatan agar bisa bantu diri sendiri loh, gitu. Jadi ini bukan charity, karena kasih uang. Kamu bisa loh kalau kamu mau. Sama-sama ini kita, gitu. Jadi itu sih yang aku pengen,” ujarnya.

Pandangan itu ikut membentuk cara Azalea melihat bisnis sosial. Ia tidak ingin masyarakat hanya menjadi penerima bantuan, tetapi memiliki akses dan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan serta sumber penghidupannya sendiri.

Melalui Birufinery, Azalea berupaya menghubungkan inovasi bioteknologi dengan kebutuhan petani dan masyarakat pesisir. Pengolahan rumput laut menjadi biostimulan menjadi salah satu jalannya, dengan tantangan berikutnya memastikan petani kecil dan pembudidaya di wilayah penghasil bahan baku turut memperoleh manfaat dari pertumbuhan usaha tersebut.

About Author

Purnama Ayu Rizky

Jadi wartawan dari 2010, tertarik dengan isu media dan ekofeminisme. Kadang-kadang bisa ditemui di kampus kalau sedang tak sibuk binge watching Netflix.

Click to access the login or register cheese