06/11/2026
Issues People We Love

Jihan Alfiyyah Munajat, Ubah Pengalaman Kehilangan Jadi Inovasi Kesehatan

Ibunya meninggal akibat kanker ovarium enam bulan pasca-diagnosis. Jihan lantas mengembangkan HerLens untuk membantu bidan melakukan skrining awal kanker serviks.

  • November 6, 2026
  • 5 min read
  • 24 Views
Jihan Alfiyyah Munajat, Ubah Pengalaman Kehilangan Jadi Inovasi Kesehatan

Jihan Alfiyyah Munajat, pendiri HerLens (Foto: Desca/ Antara)

Pengalaman kehilangan ibu akibat kanker ovarium masih membekas bagi Jihan Alfiyyah Munajat, 25. Saat itu 2022, Jihan masih tahun ketiga kuliah. Ibunya meninggal enam bulan selang menjalani diagnosis dan pengobatan kanker. Pengalaman inilah yang membuat ia semakin dekat dengan isu kesehatan perempuan, termasuk pentingnya akses terhadap informasi dan pemeriksaan kanker.

“Sebenarnya ceritanya awalnya personal,” ujar Jihan kepada Magdalene (23/10).

Jihan bersama enam rekannya lalu mendirikan HerLens, perusahaan rintisan yang menggunakan teknologi akal imitasi (AI) untuk membantu bidan melakukan skrining awal kanker serviks, terutama di wilayah yang memiliki keterbatasan akses terhadap dokter spesialis.

Jihan sendiri bukan lulusan kedokteran. Ia menyelesaikan studi Sistem Informasi di Universitas Indonesia (UI) dan bertemu dengan enam rekannya saat mengikuti Apple Developer Academy, program pengembangan keterampilan teknologi yang mempertemukan peserta dari berbagai latar belakang keilmuan pada 2023.

Dalam program tersebut, mereka mendapat kesempatan mengerjakan proyek akhir yang diarahkan untuk menjawab persoalan masyarakat. Dari diskusi antarpeserta, muncul gagasan mengembangkan teknologi yang dapat membantu perempuan mengakses pemeriksaan kanker serviks.

Tim HerLens terdiri dari empat perempuan dan tiga laki-laki dengan latar belakang keilmuan berbeda, termasuk teknologi informasi dan teknik biomedis. Mereka mulai mengembangkan HerLens pada 2024 dengan menggabungkan keahlian teknologi dan pengetahuan dari tenaga kesehatan.

Baca juga: Azalea Ayuningtyas, Olah Rumput Laut NTT Jadi Solusi Pertanian Berkelanjutan

Mengembangkan Teknologi untuk Membantu Skrining

Pilihan HerLens mengembangkan teknologi skrining kanker serviks berangkat dari persoalan yang masih dihadapi perempuan di Indonesia. Kanker serviks merupakan salah satu kanker dengan beban kasus dan kematian tertinggi pada perempuan di Indonesia.

Data Global Cancer Observatory yang dikelola International Agency for Research on Cancer (IARC) mencatat sekitar 36.964 kasus baru kanker serviks dan 20.708 kematian akibat penyakit tersebut di Indonesia pada 2023. 

Secara global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan terdapat sekitar 604.000 kasus baru dan 280.000 kematian akibat kanker serviks pada 2024. Dalam lembar fakta yang diperbarui pada (3/7), WHO mengakui ada ketimpangan akses terhadap vaksinasi HPV, pemeriksaan, dan pengobatan, terutama di negara berpendapatan rendah dan menengah, termasuk Indonesia.

Kanker serviks hampir seluruhnya berkaitan dengan infeksi persisten human papillomavirus (HPV) berisiko tinggi. Pemeriksaan menjadi bagian penting dalam upaya deteksi dini, tetapi akses terhadap layanan kesehatan belum merata. Keterbatasan fasilitas dan tenaga medis, termasuk dokter spesialis, dapat membuat perempuan di sejumlah wilayah kesulitan memperoleh pemeriksaan.

HerLens mencoba menjawab persoalan tersebut dengan mengembangkan alat bantu skrining bagi bidan. Sistemnya menggunakan model Convolutional Neural Network (CNN) untuk menganalisis citra serviks melalui metode Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA), atau Visual Inspection with Acetic Acid (VIA).

Dalam publikasi pada September 2025, UI menyebut model AI HerLens dikembangkan menggunakan lebih dari 1.200 citra serviks. Uji coba di RSCM Kintani melibatkan lebih dari 100 pasien dan lima dokter spesialis kebidanan dan kandungan. Publikasi tersebut menyebut akurasi model mencapai hingga 85 persen. Angka ini merupakan hasil yang dilaporkan dalam publikasi pengembangan, bukan bukti validasi klinis independen. 

Situs resmi HerLens mencantumkan sensitivitas model sebesar 87,50 persen dan spesifisitas 83,78 persen. Sensitivitas mengukur kemampuan sistem mengenali kasus positif, sedangkan spesifisitas mengukur kemampuannya mengenali kasus negatif. Pengembang juga menyebut model telah menggunakan lebih dari 1.000 citra serviks. Angka tersebut merupakan informasi kinerja yang dipublikasikan HerLens dan tidak dapat langsung disamakan dengan jaminan akurasi diagnosis klinis.

Baca juga: Tak Sekadar ‘Joke’ Dicoret dari KK, Tupperware Ternyata Berdayakan Ibu-ibu

HerLens menempatkan AI sebagai alat bantu, bukan pengganti tenaga medis. Hasil analisis sistem tetap membutuhkan penilaian tenaga kesehatan untuk menentukan pemeriksaan dan tindak lanjut yang sesuai.

Namun, mengembangkan teknologi saja tidak cukup. Jihan dan timnya juga harus menjelaskan kepada perempuan mengapa pemeriksaan kanker serviks penting dan membangun kepercayaan agar mereka bersedia mengikuti skrining.

Jihan menyadari pendekatan edukasi tidak bisa diseragamkan. Kebiasaan membaca dan kemampuan mengakses informasi digital berbeda-beda di setiap kelompok masyarakat. Karena itu, HerLens tidak hanya mengandalkan kampanye melalui media sosial.

Tim juga berkolaborasi dengan salah satu proyek di Fakultas Kesehatan Masyarakat UI untuk membuat buku mengenai kesadaran kanker serviks.

“Kita tuh bikin buku berkolaborasi juga tentang cervical cancer awareness,” kata Jihan.

Buku cetak tersebut digunakan sebagai bahan edukasi dalam kegiatan pelatihan dan dapat ditempatkan di perpustakaan. Dengan cara ini, perempuan tetap bisa mengakses informasi mengenai kanker serviks tanpa harus bergantung pada perangkat digital.

HerLens turut bekerja sama dengan dokter spesialis kebidanan dan kandungan atau obstetrician-gynecologist (OB-GYN), serta bidan yang tergabung dalam Female Cancer Program. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan membantu tim memahami proses pemeriksaan dan kebutuhan edukasi bagi perempuan.

Jihan menyebut tim telah mengadakan kegiatan sosialisasi di empat provinsi, termasuk Bengkulu, Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Jawa Timur. Salah satu pendekatannya adalah mendatangi perempuan secara langsung bersama mitra program kesehatan perempuan.

Meski telah melakukan sosialisasi di sejumlah wilayah, HerLens masih berada dalam tahap uji coba. Jihan mengatakan tim belum memiliki statistik yang dapat dipublikasikan mengenai jumlah perempuan yang telah menerima edukasi maupun pengguna teknologi tersebut.

“Sebenarnya sekarang belum sih, karena kita masih trial ya,” ujarnya.

Baca juga: Dua Perempuan Indonesia Menang Unlock Her Future 2026, Raih Pendanaan hingga US$100 Ribu

Memperluas Jangkauan HerLens

Kebutuhan pendanaan untuk melanjutkan pengembangan teknologi dan kegiatan edukasi menjadi salah satu alasan Jihan mengikuti Unlock Her Future Prize 2026 yang diselenggarakan The Bicester Collection.

Pada (23/10) Jihan diumumkan sebagai salah satu dari empat pemenang kompetisi untuk kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara. Berdasarkan rilis resmi The Bicester Collection, HerLens memperoleh hibah sebesar US$50.000. 

Bagi Jihan, dukungan tersebut dapat membantu HerLens melanjutkan pengembangan teknologi sekaligus memperluas kegiatan edukasi. Ia juga berkesempatan belajar dari wirausaha perempuan lain dan memperoleh masukan untuk mengembangkan usahanya.

Ke depan, HerLens berencana mengadakan edukasi di lebih banyak wilayah serta melanjutkan penelitian dan pengembangan perangkat pemeriksaan. Dalam pernyataan setelah pengumuman pemenang yang dikutip ANTARA, Alfi menyampaikan rencana tersebut.

“Kami akan edukasi ke tempat-tempat baru dan paralel dengan itu kami juga terus melakukan research and development untuk alat yang digunakan,” katanya.

Perluasan skrining tetap membutuhkan kesiapan teknologi, pendanaan, dan kolaborasi dengan tenaga kesehatan. HerLens masih harus melewati proses pengembangan dan uji coba sebelum memperluas penggunaan perangkatnya.

About Author

Purnama Ayu Rizky

Jadi wartawan dari 2010, tertarik dengan isu media dan ekofeminisme. Kadang-kadang bisa ditemui di kampus kalau sedang tak sibuk binge watching Netflix.

Click to access the login or register cheese