Azalea Ayuningtyas dan Jihan Alfiyyah Munajat, memenangkan kompetisi kewirausahaan sosial global Unlock Her Future 2026 yang diselenggarakan The Bicester Collection. (Foto: Desca/ Antara)
Dua wirausaha perempuan Indonesia, Azalea Ayuningtyas dan Jihan Alfiyyah Munajat, memenangkan kompetisi kewirausahaan sosial global “Unlock Her Future Prize 2026”. Keduanya diumumkan sebagai pemenang dalam malam penganugerahan di Shanghai, China (23/10), bersama dua wirausaha perempuan dari China dan Vietnam.
Azalea merupakan pendiri Birufinery, perusahaan rintisan yang mengolah rumput laut tropis menjadi biostimulan untuk pertanian. Sementara itu, Alfi merupakan pendiri HerLens, perusahaan rintisan teknologi kesehatan yang mengembangkan akal imitasi (AI) untuk membantu bidan/ dokter melakukan skrining awal kanker serviks.
Berdasarkan rilis resmi The Bicester Collection, keempat pemenang akan berbagi total dana hibah sebesar US$300.000. Azalea melalui Birufinery memperoleh US$100.000, sedangkan Alfi melalui HerLens mendapat US$50.000. Dua pemenang lainnya, Kyle Li dari China dan Nhung Tran Huyen dari Vietnam, masing-masing memperoleh US$100.000 dan US$50.000.
Selain pendanaan, para pemenang akan mengikuti program pengembangan usaha bersama NYU Shanghai. Dukungan ini mencakup pendidikan kewirausahaan, pendampingan satu per satu, pengembangan kepemimpinan, serta akses ke jaringan akademik dan bisnis internasional.
Saat namanya diumumkan sebagai pemenang, Azalea menyampaikan rasa syukur karena berkesempatan bertemu dengan para wirausaha perempuan dari berbagai negara. Ia juga mengapresiasi perjuangan para finalis yang mengembangkan usaha dengan misi sosial masing-masing.
“Saya sangat bersyukur bisa berada di sini. Saya berkesempatan bertemu dengan para wirausaha perempuan yang luar biasa, baik para finalis maupun alumni. Merupakan suatu kehormatan bagi saya bisa menjadi salah satu pemenang tahun ini karena saya tahu setiap orang di sini berjuang dengan sepenuh hati,” kata Azalea (23/10).
Senada, Alfi juga menyampaikan rasa terima kasih kepada penyelenggara yang telah mempercayai misi HerLens. Ia mengaku masih memiliki banyak pekerjaan untuk mengembangkan solusi kesehatan perempuan tersebut.
“Saya merasa sangat gugup. Terima kasih telah memercayai saya dan misi kami. Saya sadar masih banyak yang harus saya lakukan agar misi ini terus berkembang dan dapat bermanfaat bagi dunia, khususnya bagi Indonesia,” tutur Alfi.
Dua pemenang lainnya adalah Kyle Li dari China melalui 38FIXERS, usaha yang melatih perempuan menjadi teknisi perbaikan rumah, serta Nhung Tran Huyen dari Vietnam melalui TAM NHUNG SOCIAL ENTERPRISE. Usaha terakhir menyediakan dukungan kesehatan mental dan bantuan hukum bagi pekerja migran perempuan di lingkungan pabrik.
Dalam kesempatan itu, juri juga memberikan penghargaan khusus (special recognition) kepada Jieun Lee dari Korea Selatan melalui GIBOO, platform berbasis AI yang menghubungkan penyandang dana filantropi dengan program sosial. Penghargaan serupa diberikan kepada Prangthong Tiengkate dari Thailand melalui Bamboo Family Market, inisiatif komunitas yang memberdayakan perempuan pengrajin.
Aktris dan tokoh media Thailand Cindy Bishop, salah satu anggota dewan juri, mengatakan penentuan pemenang membutuhkan pertimbangan panjang. Para juri menghabiskan empat jam untuk mengambil keputusan akhir setelah melalui proses penilaian selama beberapa hari.
“Ini merupakan keputusan yang sangat sulit. Kami membutuhkan waktu empat jam untuk mengambil keputusan, tetapi sebenarnya proses pertimbangan tersebut telah berlangsung selama beberapa hari,” kata Cindy.
Baca juga: Womenpreneur Indonesia, Ikhtiar Dorong Perempuan Jadi Setara
Terpilih dari Sekitar 1.500 Pendaftar
Azalea dan Alfi merupakan bagian dari 12 finalis “Unlock Her Future Prize 2026” untuk kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara. Mereka terpilih dari sekitar 1.500 pendaftar dalam kompetisi yang diselenggarakan The Bicester Collection sejak 2022.
Kompetisi ini terbuka bagi wirausaha perempuan dari berbagai sektor yang mengembangkan solusi untuk persoalan sosial dan lingkungan, sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Dalam wawancara dengan Magdalene, (23/10) Chantal Khoueiry, Chief Culture Officer The Bicester Collection, menjelaskan kompetisi tersebut menyasar usaha pada tahap ide maupun pertumbuhan. Penyelenggara juga melibatkan mitra regional agar program dapat disesuaikan dengan tantangan yang dihadapi perempuan di setiap wilayah.
“Kompetisi ini mencakup berbagai industri, tetapi kami memiliki fokus kuat pada usaha yang berada pada tahap ide maupun pertumbuhan dan berupaya mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Perserikatan Bangsa-Bangsa,” ujar Chantal.
Menurutnya, persoalan yang dihadapi perempuan di satu negara belum tentu sama dengan negara lain. Karena itu, pendekatan regional dibutuhkan untuk mengenali kebutuhan setempat dan merancang dukungan yang relevan.
“Dengan begitu, kami bisa bekerja sama dengan mitra yang tepat dan memahami tantangan yang dihadapi perempuan di Indonesia, dibandingkan perempuan di Lebanon atau Pakistan. Setelah itu, kami bisa membangun sesuatu yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing wilayah,” ucapnya.
Unlock Her Future Prize merupakan bagian dari program filantropi DO GOOD milik The Bicester Collection. Melalui program tersebut, perusahaan yang mengelola destinasi belanja mewah di Eropa, China, dan Amerika Utara itu berupaya mendukung perempuan dan anak-anak melalui kemitraan sosial, advokasi, serta inovasi.
Dilansir dari rilis The Bicester Collection, dalam empat edisi penyelenggaraan, program ini telah mendukung wirausaha perempuan dari 42 negara. Usaha-usaha yang didukung berkontribusi pada 16 SDGs, dengan total komitmen pendanaan hibah sekitar US$1 juta.
Baca juga: Menciptakan Pilihan untuk Merawat Bumi: Cerita Tania, Perempuan di Dunia Teknologi
Pendanaan Disertai Pelatihan dan Pendampingan
Selain hibah, para pemenang akan mengikuti program pengembangan kapasitas selama dua belas bulan. Edisi 2026 menggandeng NYU Shanghai sebagai mitra akademik, dengan dukungan Impact Partner Ashoka.
Materi pelatihan mencakup perencanaan keuangan, kemampuan komersial, dan kepemimpinan. Chantal mengatakan, keterampilan tersebut penting bagi wirausaha yang memiliki gagasan dan misi sosial, tetapi belum tentu mempunyai latar belakang bisnis yang kuat.
“Program yang mereka berikan selama 12 bulan kepada para pemenang sangat berharga. Tidak semua orang memiliki keterampilan seperti perencanaan keuangan, kemampuan bisnis komersial, atau kepemimpinan. Karena itu, mereka akan mengembangkan keterampilan tersebut melalui berbagai modul pelatihan,” jelasnya.
Para pemenang juga akan mendapat pendampingan dari profesor dan mentor profesional. Mereka akan dipasangkan dengan jaringan profesional yang dapat memberikan bimbingan sekaligus membuka peluang kolaborasi.
“Kami memiliki jaringan luar biasa yang terdiri dari perempuan dan laki-laki profesional. Mereka akan dipasangkan dengan para pemenang untuk membantu dan memberikan pendampingan,” imbuh Chantal.
Dukungan lainnya berupa akses ke platform global The Bicester Collection untuk memperkenalkan usaha para pemenang kepada media dan publik. Chantal menilai, solusi yang dikembangkan para wirausaha perempuan perlu mendapat ruang agar dikenal lebih luas.
“Mereka memiliki solusi-solusi luar biasa. Dunia perlu mendengar tentang solusi tersebut,” katanya.
Pendanaan juga disalurkan secara bertahap, bukan sekaligus. Menurut Chantal, dana diberikan dalam tiga tahap dan disertai evaluasi setiap kuartal berdasarkan indikator kinerja utama atau key performance indicators (KPI), rencana bisnis, serta penggunaan dana.
“Kami memilih menyalurkan dana dalam tiga tahap. Kami ingin para pemenang kembali bertemu dengan para juri setiap kuartal. Kami mengevaluasi indikator kinerja utama, rencana bisnis, dan untuk apa dana tersebut akan digunakan,” jelas Chantal.
Evaluasi berkala tersebut memberi kesempatan bagi juri untuk memantau perkembangan usaha dan memberikan masukan jika strategi yang dijalankan perlu diperbaiki.
Baca juga: Dari Arus Sungai ke Hidup: Kisah Kemandirian Energi Dusun Kedungrong, Kulon Progo
“Dengan begitu, tercipta pertukaran yang berkelanjutan. Jika ada sesuatu yang dirasa kurang tepat atau usaha mereka tidak berjalan sesuai arah, para juri bisa turun tangan dan membantu,” ujarnya.
Bagi Birufinery, pendanaan akan digunakan untuk memperluas edukasi kepada petani kecil mengenai pemanfaatan biostimulan rumput laut serta memperbesar rantai pasok rumput laut di Nusa Tenggara Timur (NTT). Sementara itu, HerLens berencana memperluas edukasi mengenai deteksi dini kanker serviks sekaligus melanjutkan penelitian dan pengembangan perangkat pemeriksaannya.
Kedua usaha tersebut membawa persoalan lingkungan dan kesehatan perempuan ke dalam inovasi bisnis. Melalui pendanaan dan pendampingan Unlock Her Future Prize 2026, Birufinery dan HerLens mendapat dukungan untuk mengembangkan solusi sekaligus memperluas jangkauan manfaatnya.


























