September 09, 2020
Berlomba-lomba dalam Kebaikan, Tapi Baik untuk Siapa?

Berlomba-lomba dalam kebaikan dan menyampaikan kebenaran walaupun hanya satu ayat tidak bisa dilakukan tanpa empati dan sensitivitas.

by Yuyun Nailufar
Lifestyle
Share:

Saya memiliki kenalan seorang wirausaha, sebut saja “Pak Wir”. Pak Wir tinggal di sebuah perumahan yang populasinya relatif heterogen. Seiring berjalannya waktu, muncullah tren golongan ibu-ibu perumahan berjilbab panjang yang rajin mengunggah Instastory dakwah Islam dan indahnya berumah tangga, mengikuti kajian di masjid perumahan, dan kesibukan menjadi panitia acara bersedekah di masjidnya. Munculnya tren ini tidak menyalahi aturan, justru ini menjadi hal positif, yakni semakin banyak manusia berlomba-lomba dalam kebaikan.

Pak Wir adalah orang tua tunggal. Beberapa bulan lalu dia menikahi seorang perempuan cerminan dari ibu-ibu perumahan Islami tadi. Saya mengamati ada perubahan drastis terjadi padanya. Dia mulai berdakwah, semua hal dikaitkan dengan dalil-dalil dan sifat-sifat kedermawanan Nabi. Harus saya akui ini perubahan yang positif, karena dia semakin mendekatkan diri pada Tuhan.

Di lain pihak, saya memiliki teman perempuan bernama “Inah”, yang seorang mualaf. Inah adalah ibu tunggal yang berjuang untuk menghidupi anak dan ibunya. Dia ditinggal suami dua tahun setelah menikah tanpa kabar dan tanpa nafkah, meski secara hukum negara mereka berdua belum bercerai. Suaminya menggadaikan dokumen-dokumen penting seperti buku nikah, Kartu Keluarga, bahkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) Inah untuk berutang. Di balik keceriaan Inah yang suka bernyanyi di aplikasi Smule, dia menanggung beban yang sangat berat. Selain menghidupi keluarga, dia juga harus melunasi utang-utang suaminya. Hendak menggugat cerai pun juga sulit, sebab buku nikah sedang digadaikan.

Baca juga: Kalis Mardiasih Ajak Pandang Fenomena Hijrah Secara Utuh

Inah menjadi mualaf karena menikahi suaminya yang muslim. Tapi sejak ditinggal suami, saya melihat dia tidak memiliki pijakan belajar Islam. Terlebih keluarganya kurang mendukung keputusannya pindah agama, dan dia juga sibuk mengurus anaknya yang masih balita dan bekerja mencari uang untuk kebutuhan hidup. Hidupnya sangat serba pas-pasan. Namun, Inah kini memiliki pacar yang sangat sayang kepada Inah dan anaknya. Sehingga masih ada yang membantunya untuk sekedar membelikan jajan ataupun mainan kepada anaknya. Pacarnya memang bertato, tapi perilakunya baik.

Inah bekerja pada Pak Wir sejak awal laki-laki itu mendirikan usahanya hingga saat ini. Dulu saat Pak Wir belum menikah, Inah sering digoda dengan nada bercanda, “Habis pulang, karaokean yuk Nah.”

“Wah, bisa itu, Pak,” sahutnya sambil bercanda.

Keduanya paham bahwa itu hanya candaan yang mengakrabkan keduanya. Namun seiring berjalannya waktu, ketika Pak Wir menikah dan berhijrah, candaan itu hilang dan berganti dakwah-dakwah agar Inah mengenakan jilbab. Tidak hanya tentang jilbab, tapi juga tindak tanduk Inah. Pak Wir tak menyerah dalam menyampaikan “kebenaran walaupun satu ayat saja” pada Inah sampai perempuan itu menjadi risih.

Suatu hari, tiba-tiba Pak Wir mengingatkan Inah, “Kamu itu muslim, pake jilbab dong, yang syar’i gitu. Terus kalau mau cari suami lagi yang jelas jangan cuman buat enak-enak aja.”

Baca juga: Menjadi Pribadi yang Lebih Baik Karena Itu Harus, Bukan Karena Hijab

Sontak Inah menangis. Kalimat yang dilontarkan Pak Wir sangat menyakiti hatinya. Dia lalu berpikir, apakah dirinya terlihat orang rendahan ketika memiliki pacar yang bertato? Apakah dia mengganggu penglihatan Pak Wir ketika dirinya tidak berjilbab?  Apakah berjilbab harus syar’i seperti istrinya? Beli popok dan susu buat anaknya kadang masih gelagapan, apalagi harus beli jilbab panjang.

Inah kini menjadi muak dengan dakwah-dakwah yang dilontarkan Pak Wir. Walaupun ia sudah tidak menghiraukannya lagi, tapi Pak Wir terus memborbardir dengan nasihat soal salat, zikir, selawat, dan mengaji. Saya sampai heran. Apakah tempat kerjanya memang menggunakan konsep Islami atau syariah? Lantas kenapa Pak Wir tidak mengagendakan saja jadwal untuk selawatan atau zikir ketimbang terus menyuruh orang untuk beribadah.

Suatu ketika, Pak Wir protes pada komunitas dagang di kompleks perumahannya sebab ada yang berjualan makanan olahan babi. Dia bilang, “Kok bisa jualan babi di grup. Sebaiknya jualan yang halal-halal aja. Kita ini lagi nyari selamat dan barokah.”

Lalu, si penjual olahan babi tak pernah muncul di komunitas tersebut. Lagi-lagi saya menjadi heran. Sejak kapan warga perumahan yang ia tempati Islam semua? Bukannya heterogen? Sejak kapan dia merasa yang dilakukannya barokah semua kalau mematikan usaha orang lain dengan dalih mencari selamat dan pahala? Lagi-lagi kaum minoritas harus mengalah pada yang mayoritas. 

Baca juga: Banjir Bukan Urusan Azab, Tapi Adab Terhadap Alam

Lalu, tiada angin tiada panas, tiba-tiba Pak Wir nyeletuk pada saya, “Kita itu sebagai manusia harus ikhtiar, selalu berdoa, kamu itu nduk, ajak temanmu buat berjilbab, dong. Ayo saling mengingatkan, saling berlomba-lomba dalam kebaikan.” Saya terperangah, sementara Inah hanya bisa diam saja.

Mengingatkan hal kebaikan merupakan kewajiban kita sebagai manusia. Namun mengingatkan sampai menjustifikasi tanpa peduli latar belakang seseorang bagi saya adalah usaha yang sia-sia saja. Nabi Muhammad berdakwah melalui akhlak dan adab. Beliau tidak hanya memberikan petuah dan nasihat pada kaumnya, tapi juga memberikan teladan dan contoh sikap yang baik. Melalui sikap itulah, banyak orang mengikuti Nabi Muhammad dan menjadi Islam. Nabi juga berlaku adil kepada siapa saja walaupun berbeda dengannya.

Dalam hemat saya, semangat hijrah sangat baik, menjadikan kita semakin dekat dengan Tuhan. Akan tetapi, janganlah terburu-buru menceramahi orang, terlebih kita tidak tahu permasalahan yang dihadapinya. 

Memang, saling mengingatkan merupakan kegiatan berlomba-lomba dalam kebaikan. Tapi, baiknya untuk siapa?

Yuyun Nailufar adalah ilustrator Komunitas Gubuk Tulis dan Perempuan Bergerak.