March 12, 2020
Berpikir Positif di Situasi yang Diskriminatif terhadap LGBT

Berpikir positif di situasi yang diskriminatif terhadap LGBT adalah penting untuk tetap menjaga kewarasan.

by Dona Bawani Arlita Mukti
Issues
Lesbian LBQ QueerWomen_Karina Tungari
Share:

Sejak kecil, saya merasa laki-laki dan pernikahan (heteroseksual) itu hal yang menyeramkan dan penuh otoritas.

Saya tidak ingin menyalahkan atau menghakimi kedua orang yang telah mendidik dan merawat saya. Hanya saja, suatu keputusan yang dibuat dengan dalih kemaslahatan bersama, dalam hal ini pernikahan, telah membungkam teriakan dan kegelisahan dari seorang perempuan yang saya panggil Ibu.

Sewaktu saya lahir, Bapak belum mendapatkan pekerjaan, sehingga Ibu yang telah menjadi guru honorer di sebuah sekolah memutuskan untuk berhenti mengajar dan menjadi tenaga kerja Indonesia. Waktu saya lahir, Indonesia sedang mengalami krisis moneter dan kebutuhan keluarga semakin meningkat, sehingga Ibu meninggalkan saya ke luar negeri saat saya masih batita.

Waktu terus berjalan dan tubuh saya terus tumbuh. Tinggal dengan seorang laki-laki yang serba tak teratur dan tak bertanggung jawab, membuat saya tumbuh menjadi perempuan pemberontak. Saya yang masih kecil tidak tahu apa itu berbedaan gender; yang saya tahu perempuan berambut panjang dan laki-laki berambut cepak.

Saya selalu menuruti apa yang dikatakan oleh Bapak, karena saya tahu jika saya melawan, kepalan telah lebih dulu ia acungkan. Pernah suatu waktu ketika saya dianggap tidak melakukan perintahnya, jari saya yang masih lunak dijepit tang besi yang biasa digunakan untuk mencabut paku. Dari sejumlah kejadian itu, saya mulai benci dengan figur seorang laki-laki dan berpikir bahwa menikah itu sesuatu yang menyeramkan.

Bapak selalu mendandani saya dengan kaos bertangan pendek, celana pendek, dan sepatu sandal. Ditambah rambut yang cepak dan rompi berwarna krem, saya diajaknya berkeliling dan nongkrong di tempat teman-temannya. Di usia tepat lima tahun, Ibu pulang karena kontrak bekerja telah usai, tapi Bapak belum juga bekerja. Bagaimana bisa mendapat kerja, jika dia hanya nongkrong dan ngopi sana sini. Pertengkaran rumah tangga pun terjadi setiap hari; sebuah kegaduhan yang saya saksikan di depan mata.

Baca juga: Surat dari Penjara: Cinta adalah Cinta

Saya selalu diam dalam kegamangan dan genangan pertanyaan-pertanyaan seperti:

“Apakah seperti itu sosok seorang kepala keluarga?”

“Apa benar, laki-laki itu orang yang kasar (dalam tindakan dan perkataan)?”

Sepengetahuan saya yang masih bocah, dan dari apa yang saya lihat dari keluarga-keluarga teman, bapak adalah tulang punggung keluarga dan laki-laki yang melindungi istri dan anaknya. Namun dalam keluarga ini seperti ada pertukaran gender. Peran laki-laki yang katanya menjadi panduan keluarga seakan-akan hilang dari pikiran saya, digantikan sosok kejam dan penuh kuasa. Rasa ketidakadilan muncul dalam diri saya. Puncaknya pada saat Ibu memutuskan untuk menyudahi peran sebagai istri dari Bapak.

Di usia saya yang ke-12, mereka resmi mengurus dan membesarkan saya dari atap yang berbeda. Saya sendiri tetap tomboi dan lebih nyaman dengan penampilan yang maskulin. Saya juga kemudian menyadari bahwa saya menyukai sesama jenis, yang saya kira tidak ada hubungannya dengan latar belakang keluarga saya.

Teman-teman sempat merasa tidak nyaman ketika pertama kali mengetahui saya lesbian. Mereka mengatakan saya sudah tidak waras dan menyalahi kodrat. Tak sedikit juga dari mereka jadi menjauhi saya, dan untuk itu saya menerima dan berbesar hati. Saya tidak ingin menyalahkan siapa pun untuk apa pun yang telah terjadi, saya hanya nyaman dan menikmati menjalani hidup sebagai lesbian.

Baca juga: (Bukan) Rumah untuk Semua

Penerimaan perbedaan masih rendah di negara yang religius ini. Toleransi masyarakat masih sangat rendah terhadap LGBT (lesbian, gay, biseksual, trangender), yang harus patuh dan tunduk dalam menerapkan keberagamaannya. Karena itu, saya sering sekali menarik diri dari orang-orang yang saya pikir sangat berpengaruh terhadap psikis dan mental saya, terutama kedua orang tua saya dan keluarga. Saya selalu mengelak dan tidak berterus terang ketika ada pertanyaan menyangkut relasi atau kapan akan mengubah gaya penampilan saya, menjadi “perempuan yang seharusnya”.

Kata seharusnya membuat saya selalu mengernyitkan dahi, “seharusnya” yang menurut mereka seperti perempuan kebanyakan merupakan “tidak harus” menurut saya.

Diri ini sudah nyaman dengan maskulinitasnya, dengan pakaian dan atribut yang serba laki-laki. Untuk menjadi seperti yang kebanyakan orang pakai, menjadi perempuan yang feminin, saya merasa itu bukan diri saya. Saya mempunyai prinsip, “Saya memakai dan melakukan apa saja yang membuat saya nyaman” dan jika selebihnya, berarti tidak.

Semua dari kita tidak bisa memilih menjadi laki-laki atau perempuan bukan? Demikian juga dengan LGBT. Kami tidak memilih menjadi itu. Kami hanya merasakan, kemudian nyaman dan bahagia menjalaninya.

Seperti yang saya katakan di atas, laki-laki dan pernikahan itu (bagi saya) hal yang menyeramkan dan penuh otoritas. Maka sebagai perempuan yang menyukai perempuan, saya tersentil ketika membaca artikel di Magdalene yang berjudul “Queer Love: Adakah Pasangan Lesbian yang Bertahan?” Sejujurnya isi yang dibahas dan jadi pertanyaan di artikel itu sudah saya inginkan sejak pertama kali saya menyadari bahwa saya ingin hidup sebagai seorang lesbian. Bahwa memiliki hubungan yang baik dengan pasangan adalah hal yang tidak mustahil bagi saya.

Saya pikir, saya hanya perlu menjadi aktif, kreatif, dan berpikir positif di situasi yang diskriminatif.

Dona Bawani Arlita Mukti penyuka karya sastra dan filsafat, tertarik untuk menilik lebih dalam tentang gender sejak membaca sebuah buku-buku tentang feminitas, dan merasa sudah cukup untuk berdiam diri terhadap patriarki. Ia pekerja lepas di bidang penulisan dan desain. Bisa ditemui di Instagram dan Twitter @bemaratamukti.