Women Lead
October 05, 2021

Capeknya Jadi Anak Sastra, Kuliah Susah tapi Masih Distigma

Susah-susah kuliah di Fakultas Sastra, kami masih harus berjibaku dengan tindakan diremehkan dan dipandang sebelah mata.

by Jasmine Floretta V.D., Reporter
Issues
Share:

Karena kecintaan saya pada anime dan budaya populer Jepang, tampaknya saya bisa dimasukkan dalam wibu garis keras. Selain suka nongkrong di TV demi melihat anime, membeli koleksi manga dengan uang saku pribadi sudah jadi jalan ninja saya. Obsesi tertinggi pada budaya populer Jepang adalah ketika akhirnya saya memutuskan untuk masuk jurusan Sastra Jepang dan resmi jadi anak Sastra.

Saya menikmati masa-masa kuliah Sastra selama empat tahun terakhir. Lingkungan kampus dengan anak-anak yang super asyik, kelakuan dosen antik, dan atmosfer kelas yang didominasi oleh ruang terbuka untuk diskusi bikin saya makin betah. Meskipun pada kenyataannya, jadi anak sastra itu mengasyikkan dan memberikan peluang masa depan yang sama cerahnya dengan jurusan lain, saya sadar orang-orang seperti kami masih dipandang sebelah mata.

Tentu saja dalam derajat paling ekstrem, orang tua akan dengan senang hati mencoretmu dari Kartu Keluarga (KK) jika nekat kuliah Sastra. Anak Sastra juga jarang diapresiasi oleh pemberi kerja karena dipandang kuliah di prodi yang tak serius, mudah, dan kurang prestisius. Stigma-stigma ini sayangnya terus dirawat kendati banyak sekali anak Sastra yang mampu membuktikan, stereotip atas mereka tidak selalu benar.

Baca Juga: Perempuan Penulis Mencari Ruang Aman di Dunia Sastra yang Maskulin

Berikut ini empat stigma yang masih kerap ditemui anak Sastra yang masih awet hingga sekarang:

Anak Sastra Tak Sepintar Jurusan Lain

Siapa yang masih berpikir kalau kuliah di jurusan Sastra itu gampang? Atau masih berpikir anak Sastra tak sepintar anak jurusan lain, seperti Hubungan Internasional (HI) atau Politik? Kalau masih berpikir seperti ini, saya mau cerita satu hal yang mungkin bisa membuatmu terbuka. Dulu saya punya teman, sebut aja Bondan. Ia pintar, kritis, dan cakap komunikasi. Dalam pikiran saya, masuk Sastra bukan hambatan untuknya, toh dia akan lulus tepat waktu dengan nilai yang memuaskan. 

Ternyata dugaan saya salah, Bondan justru mengalami kesulitan semasa kuliah di jurusan Sastra. Bondan bahkan terancam dikeluarkan kampus karena ada mata kuliah yang berulang kali ia ulang. Ia dapat nilai “D” berturut-turut selama dua semester. Dari pengalamannya ini dia bilang, ternyata menjadi anak Sastra itu sulit hingga akhirnya ia memutuskan untuk keluar dibandingkan harus drop out (DO). Setelah keluar dari jurusan Sastra, Bondan mencoba peruntungan dengan ikut tes masuk Universitas Indonesia dan ia diterima di jurusan HI dengan mudah.

Dari pengalaman Bondan ini, saya dapat mengambil pelajaran berharga, setiap jurusan itu punya kesulitannya masing-masing. Pun, setiap orang punya bakat dan kecerdasan di bidang berbeda. Anak HI belum tentu bisa bertahan di jurusan Sastra, begitu pula sebaliknya. 

Baca Juga: Mengenang Toeti Heraty, Sang Profesor, Penyair, dan Guru Para Feminis

Pelajarannya Terlalu Mudah dan Santai

Namanya juga anak Sastra, kami otomatis lebih banyak belajar mengenai hal-hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan budaya, salah satunya melalui budaya populer. Jadi ya jangan heran kalau mata kuliah kami memakai bahan pelajaran seperti film, serial, serial TV, novel, atau bahkan komik. Tugas kami hanya menguliti karya sastra dengan teori tertentu lalu melakukan pemaknaan ulang terhadap karya tersebut.

Karena perkuliahan kami banyak memakai bahan ajar dari karya-karya budaya populer, konsekuensinya kami sering mendapatkan sindiran dari orang lain. “Lily”, anak jurusan Sastra Jepang di salah satu universitas negeri di Jawa Tengah misalnya, menceritakan kepada saya bagaimana ia kerap disindir dan diremehkan oleh temannya sendiri karena kerap kedapatan menonton serial TV, anime, atau variety show

“Dibilang kuliahnya enak cuma gara-gara suka lihat gue kerjaannya nonton. Kelihatan santai banget gitu jadinya. ‘Lo di sini, tuh buat kuliah apa buat main-main, sih? Gue liat lo kerjanya nonton aja’ padahal yang gue tonton variety show/ dorama/ anime tanpa terjemahan buat gue latihan choukai (mendengar Bahasa Jepang). Bisa juga kami mendapat sebutan, ‘Nonton film mulu, kamu. Enggak ada tugas?’ Padahal film yang gue tonton buat tugas review film,’” curhatnya.

Tidak hanya Lily yang diremehkan oleh temannya, saya juga punya pengalaman serupa. Saya pernah kena sindir kenalan saya, “Enak banget dong kalau gitu kuliahnya gampang.” Dalam hematnya, hanya karena saya “cuma” belajar bahasa dan ilmu pengetahuan budaya lainnya, mata kuliah saya itu mudah-mudah semua. Ampun deh, bisa-bisanya kuliah jurusan Sastra dibilang gampang, padahal saya saja sering ketar-ketir takut tak lulus mata kuliah tertentu, seperti sintaksis atau terjemahan bahasa Indonesia-Jepang karena susahnya nauzibillah.

Baca Juga: Apa yang Kita Bisikkan Ketika Kita Berbisik tentang Ekosistem Sastra Indonesia

Anak Sastra Enggak Punya Masa Depan

Ini dia stigma merendahkan lainnya kepada anak Sastra. Karena dianggap kuliahnya gampang dan “cuma” belajar bahasa, kami pun distigma sudah mendapat peluang kerja yang bagus dengan masa depan cerah. Madesu banget gitu kalau kamu jadi anak Sastra.

“Rani”, lulusan Sastra di perguruan tinggi negeri Jakarta bercerita, ia dapat komentar merendahkan dari ayahnya. Ketika SMA, ia adalah anak IPA dengan peringkat 10 ke atas, sehingga ayahnya sangat mengharapkan Rani mengambil jurusan yang memiliki prospek kerja keren, seperti kedokteran.

Bokap, sih yang responsnya paling enggak banget. ‘Kamu bisa kerja apa?’,’Emang kamu mampu menghidupi diri sendiri?’, ‘Kamu enggak bisa kerja karena modal kamu cuma bahasa doang’, gitu-gitu omongannya,’” curhat Rina. 

“Sama keluarga besar pernah dibilang ‘Kamu ngapain, sih kuliah mahal-mahal tapi jurusan yang lo ambil malah Sastra. Kalo ujungnya ambil Sastra, mending lo kursus bahasa asing aja. Sama aja, kan kaya les bahasa’. Sama stranger malah lebih bikin malas. Pas mereka tau jurusan aku apa langsung diremehkan, ‘Oh sastra? Lapangan pekerjaannya kan sempit. Nanti lulus mau kerja apa,” tutur Lily yang memiliki pengalaman yang sama dengan Rani.

Komentar-komentar merendahkan ini tentu bikin sakit hati mengingat bagaimana sebagai anak sastra saya harus bergelut dengan mata kuliah beragam yang sebenarnya lebih mengedepankan proses berpikir kritis, kemampuan berkomunikasi, dan menumbuhkan rasa ingin tahu yang tinggi dibandingkan kemampuan berbahasa. Ya jadi jangan heran sebenarnya saat bekerja pun akhirnya anak Sastra bisa masuk sana-sini alias super fleksibel. Saya sendiri bahkan setelah lulus, kerja di firma hukum atau teman satu geng saya yang justru jadi consultant manager. Sungguh sebuah plot twist yang tidak terduga bagi banyak orang bukan? 

Dianggap Buangan atau Jurusan Rendahan dengan Anak-Anak Slengean

Jurusan sastra itu masih lekat banget dengan jurusan buangan. Tidak sedikit orang yang memutuskan mengambil jurusan Sastra sebagai harapan terakhir mereka masuk universitas negeri bergengsi. Mereka menganggap peluang masuk di jurusan Sastra mudah, begitu pula dengan perkuliahannya yang “cuma” belajar bahasa, jadi Sastra akhirnya jadi jurusan buangan bagi sebagian orang yang tidak bisa masuk jurusan bergengsi, macam Komunikasi atau HI. “Ya daripada enggak masuk universitas negeri bergengsi sama, lebih baik ambil jurusan Sastra saja,” begitulah pikir mereka. 

Stigma jurusan buangan atau rendahan ini pernah dialami Rani. Ia sempat masuk jurusan Akuntansi di salah satu universitas negeri di Jakarta, namun ia memutuskan keluar dan kembali mengambil jalur tes tertulis untuk masuk ke jurusan Sastra. Ketika Rani lolos ujian tertulis dan menjalani perkuliahan sebagai anak Sastra, bukannya mendapatkan apresiasi, Rani malah direndahkan oleh saudara dari keluarga ibunya. 

“Ada saudara aku yang ngomong, ‘Enggak sayang apa sama kuliah Akuntansi kamu? Akuntansi, tuh jurusan bagus. Masa kamu lepas buat Sastra? Mau kerja apa kamu? Jadi turun banget, ya dari Akuntansi ke Sastra.’ Aku diemin aja, sih soalnya dia enggak tahu keinginan gue gimana. Sedih, secara gak langsung dia bilang pendidikan gue menurun karena lebih pilih Sastra.”

Karena dilihat sebagai jurusan buangan atau rendahan, maka ada stigma yang terus menghantui anak Sastra. Stigma ini ya tidak jauh-jauh dari anak Sastra itu pasti gondrong, kumal, enggak modis, dan slengekan yang cuma bisa bercanda saja hidupnya. Stigma seperti ini jelas enggak berdasar, sih. Saya sebagai anak sastra aja tuh setiap ke kampus kadang suka heran sama anak jurusan Sastra Perancis sama Jerman misalnya. Ampun mereka modis-modis banget! Saya kadang merasa berada di jurusan tata busana kalau melihat bagaimana mereka bisa dengan modisnya memadu padankan pakaian dan sepatu. 

Anak-anak Sastra yang cowok pun bisa dihitung jari lho yang rambutnya gondrong. Banyak malah yang rambutnya cepak atau klimis. Yang rambut gondrong malah biasanya punya rambut hitam lurus mengkilap kaya iklan-iklan sampo yang kadang suka bikin iri dan membuat saya kepo ingin bertanya, “Rahasianya apa, sih, Mas?”. Anggapan anak Sastra slengekan juga enggak akurat. Oh jangan salah, banyak anak Sastra yang serius macam dosen killer dan susah bercanda.

Jasmine Floretta V.D. adalah pencinta kucing garis keras yang gemar membaca atau binge-watching Netflix di waktu senggangnya. Ia adalah lulusan Sastra Jepang dan Kajian Gender UI yang memiliki ketertarikan mendalam pada kajian budaya dan peran ibu atau motherhood.