Bagaimana Aktivis Greenpeace Bisa Memanjat Patung Bundaran HI?
Enam aktivis Greenpeace Indonesia memanjat Patung Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada Selasa (20/10). Dari atas monumen, mereka membentangkan spanduk berisi kritik terhadap penanganan krisis iklim dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat. Aksi tersebut menarik perhatian publik sekaligus memunculkan pertanyaan: bagaimana mereka bisa mencapai bagian atas patung tanpa tangga?
Aksi yang berlangsung pada pagi hari itu melibatkan dua perempuan dan empat laki-laki. Salah satu spanduk yang mereka bentangkan bertuliskan, “Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah, Apa Kerja Pemerintah?” Sementara itu, spanduk lainnya menyerukan, “Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup.”
Dalam siaran pers berjudul Hidup Rakyat Makin Sesak, Greenpeace Indonesia Desak Pemerintah untuk Serius Tangani Krisis Iklim, Greenpeace Indonesia menjelaskan bahwa aksi tersebut digelar untuk mendesak pemerintah menangani krisis iklim yang semakin memengaruhi penghidupan masyarakat.
Bersamaan dengan aksi itu, Greenpeace merilis riset Besok Harga Naik! Gambaran Dampak Krisis Iklim dari Tempat Kerja, Meja Makan, dan Rumah. Studi tersebut memetakan dampak krisis iklim terhadap masyarakat di Jabodetabekjur, Bandung Raya, dan Yogyakarta Raya. Hasilnya, 41 persen responden merasakan dampak pada pola konsumsi dan biaya pangan, 39 persen pada produktivitas dan pendapatan, serta 20 persen pada akses tempat tinggal dan biaya transportasi.
Juru Kampanye Keadilan Iklim Greenpeace Indonesia, Jeanny Sirait, menilai kelompok pekerja rentan, termasuk nelayan dan pekerja gig, menghadapi beban besar akibat kenaikan biaya hidup dan ancaman bencana ekologis.
“Pemerintah tidak bisa hanya membanggakan angka pertumbuhan ekonomi, ketika masyarakat masih harus berjuang memenuhi kebutuhan dasar dan menanggung sendiri dampak krisis iklim,” ujar Jeanny dalam siaran pers tersebut.
Namun, selain pesan politik dan lingkungan yang mereka bawa, aksi ini juga menyisakan pertanyaan teknis tentang bagaimana para aktivis bisa naik ke bagian atas monumen.
Baca Juga: Kelaparan dan Kematian karena Krisis Iklim: Sudah Waktunya Indonesia Serius
Kronologi Aktivis Greenpeace Membentangkan Spanduk di Bundaran HI
Dikutip dari Antara, Butuh Penanganan Medis, Polisi Evakuasi Enam Aktivis Greenpeace di Bundaran HI, Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Reynold E.P. Hutagalung mengatakan enam aktivis Greenpeace membentangkan spanduk di Patung Selamat Datang sekitar pukul 06.05–06.15 WIB pada Selasa (20/10/2026).
Setelah aksi berlangsung, kepolisian, TNI, dan Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta terlibat dalam penanganan di lokasi. Menurut keterangan polisi, salah seorang aktivis perempuan terlihat lemas saat turun dari monumen dan membutuhkan penanganan medis. Polisi juga menyatakan akan mendalami cara para aktivis mencapai bagian atas patung, termasuk dengan memeriksa rekaman kamera pengawas atau CCTV di sekitar lokasi.
Sementara itu, Greenpeace Indonesia menyampaikan melalui akun Threads bahwa para aktivis turun satu per satu menggunakan teknik flying fox dengan bantuan peralatan yang disiapkan petugas pemadam kebakaran DKI Jakarta.
Persoalan muncul setelah para aktivis dibawa ke kantor polisi. Dalam laporan Tempo, Polisi Klaim 6 Aktivis Greenpeace Tidak Ditangkap, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto membantah adanya penangkapan. Ia mengatakan para aktivis dibawa untuk mendapatkan penanganan medis setelah turun dari monumen dalam kondisi lemas dan pusing.
“Tidak ada penangkapan,” kata Budi kepada wartawan di Jakarta Selatan, Rabu (21/10/2026).
Menurut Budi, para aktivis dijemput oleh petugas Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Metro Jaya serta Seksi Kedokteran dan Kesehatan Polres Metro Jakarta Pusat. Ia juga menyatakan keenam aktivis telah kembali ke rumah masing-masing.
Namun, Tempo melaporkan keterangan berbeda dari tim advokasi yang mendampingi para aktivis. Perwakilan Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD), Daniel Winarta dari Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, menilai tidak ada dasar hukum yang jelas untuk membawa mereka ke kantor polisi. Ia mengatakan tim kuasa hukum sempat menunggu kepastian mengenai proses hukum yang akan dijalani para aktivis, tetapi tidak mendapat penjelasan mengenai dugaan tindak pidana yang disangkakan.
Kepala Bidang Advokasi LBH Jakarta, Alif Fauzi Nurwidiastomo, mengatakan keenam aktivis akhirnya diperbolehkan pulang sekitar pukul 20.30 WIB pada Selasa malam. Greenpeace Indonesia juga mengumumkan kepulangan mereka melalui akun Threads dan menyatakan tidak ditemukan unsur pidana dalam aksi tersebut.
Baca juga: Yang Janggal dari Rapor ‘Oke’ yang Diberikan Prabowo pada Pemerintahannya Sendiri
Cara Aktivis Greenpeace Memanjat Patung di Bundaran HI
Hingga Rabu (21/10/2026), belum ada keterangan resmi yang menjelaskan bagaimana enam aktivis Greenpeace mencapai bagian atas Patung Selamat Datang. Detail teknis, mulai dari jalur pemanjatan hingga sistem tali dan peralatan yang digunakan, belum dapat dipastikan.
Masih dari Tirto, salah satu teknik yang dikenal dalam aktivitas akses vertikal adalah Single Rope Technique (SRT). Metode ini awalnya banyak digunakan dalam penelusuran gua vertikal dan juga dimanfaatkan dalam sejumlah kegiatan penyelamatan.
SRT mengandalkan sistem tali yang terpasang pada titik penambat. Dengan bantuan perangkat mekanis, pengguna dapat bergerak naik melalui tali, sedangkan alat khusus membantu mengendalikan pergerakan saat turun. Penggunaannya memerlukan peralatan yang sesuai, pemeriksaan keselamatan, serta keterampilan teknis khusus.
Meski SRT dapat membantu menjelaskan prinsip pergerakan menggunakan tali di medan vertikal, belum ada konfirmasi bahwa teknik tersebut digunakan dalam aksi Greenpeace di Bundaran HI.
Apa Itu Single Rope Technique?
Salah satu teknik yang relevan untuk memahami aktivitas di medan vertikal adalah Single Rope Technique (SRT). Namun, penting dicatat bahwa penjelasan mengenai SRT berikut merupakan konteks teknis umum, bukan konfirmasi bahwa keenam aktivis Greenpeace menggunakannya dalam aksi di Bundaran HI.
Dikutip dari Suara dalam artikel Apa Itu Single Rope Technique, Cara Aktivis Greenpeace Panjat Patung Bundaran HI, SRT merupakan metode bergerak naik atau turun di medan vertikal dengan menggunakan satu tali sebagai jalur utama. Teknik ini banyak dikenal dalam kegiatan penelusuran gua vertikal atau caving, dan prinsip akses tali juga digunakan dalam pekerjaan di ketinggian serta sejumlah operasi penyelamatan.
Berbeda dari panjat tebing konvensional yang memanfaatkan pijakan pada permukaan batu, SRT memungkinkan seseorang bergerak dengan bertumpu pada sistem tali dan perangkat pendukungnya. Pengguna tidak mengandalkan pijakan pada dinding seperti dalam pemanjatan tebing pada umumnya.
Meski begitu, SRT bukan sekadar persoalan memasang tali lalu memanjat. Sistem ini bergantung pada peralatan yang sesuai, titik penambatan yang memadai, serta pemahaman tentang cara kerja perangkat dan risiko yang muncul selama bergerak di ketinggian.
Baca Juga: 5 Catatan Penting dari 100 Hari Pemerintahan Prabowo-Gibran
Bagaimana Prinsip Kerja SRT?
Secara umum, SRT menggunakan sistem tali dan perangkat mekanis untuk membantu seseorang bergerak di jalur vertikal. Perangkat untuk bergerak naik berbeda fungsi dari perangkat yang digunakan untuk mengendalikan pergerakan turun.
Dalam pergerakan naik, perangkat ascender membantu pengguna berpindah sepanjang tali dengan menahan beban sesuai rancangan alat. Sementara itu, perangkat descender digunakan untuk mengendalikan pergerakan turun melalui sistem pengaturan gesekan pada tali.
Sistem tersebut harus digunakan bersama perlengkapan keselamatan yang sesuai dan diperiksa sebelum digunakan. Kondisi tali, sambungan, perangkat, serta titik penambatan menjadi faktor penting karena kegagalan salah satu bagian dapat menimbulkan risiko serius.
Panduan Stickman’s Guide to Single Rope Technique (SRT) dari University of Bristol Spelaeological Society juga membahas pentingnya pemahaman peralatan dan pemeriksaan sistem dalam aktivitas tali vertikal. Salah satu risiko yang perlu diperhatikan adalah kerusakan tali, termasuk akibat gesekan dengan permukaan tajam.
Prinsip-prinsip tersebut membantu menjelaskan mengapa akses tali membutuhkan keterampilan khusus dan persiapan keselamatan yang serius. Namun, prinsip umum SRT tidak cukup untuk menyimpulkan perangkat atau prosedur tertentu digunakan dalam aksi di Bundaran HI.
Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi





















