22/10/2026
Community Events

Ubud Writers and Readers Festival 2026: Merawat Ruang Kebebasan Berbicara, Menggugat Sejarah, dan Suara Lintas Batas

UWRF 2026 kembali tegaskan komitmennya menjadi diskusi yang aman dan terbuka di tengah tren penyempitan kebebasan sipil secara global

  • October 22, 2026
  • 4 min read
  • 5 Views
Ubud Writers and Readers Festival 2026: Merawat Ruang Kebebasan Berbicara, Menggugat Sejarah, dan Suara Lintas Batas

Foto: Ubud Writers and Readers Festival 2026

Perhelatan sastra internasional Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2026 kembali hadir sebagai titik temu para pemikir, penulis, dan pembaca dari berbagai belahan dunia. Mengusung tema Samarasā: Awareness. Empathy. Action., festival sastra dan gagasan terbesar di Asia Tenggara ini digelar pada 21–25 Oktober 2026. 

Selama lima hari perhelatan, ajang ini menjadi titik temu lintas kalangan untuk mendiskusikan berbagai narasi dan pemikiran yang memengaruhi dinamika dunia. Tak kurang dari 300 pembicara dari 30 negara—dengan setengah di antaranya merupakan perwakilan Indonesia—hadir memeriahkan lebih dari 250 mata acara, mulai dari diskusi panel, sesi bincang mendalam (in-conversations), Special Event, Masterclass, hingga peluncuran buku yang terbuka untuk umum tanpa biaya.

Pendiri sekaligus Direktur Festival, Janet DeNeefe, menegaskan bahwa perjumpaan pelbagai perspektif dari penjuru Nusantara dan mancanegara ini merupakan langkah nyata untuk saling menyimak. Menurutnya, semangat Samarasā pada dasarnya mendorong setiap individu untuk melampaui sekat pengalaman pribadi, mempererat empati antarsesama, sekaligus merumuskan cara pandang baru dalam merespons dinamika dunia. 

Baca juga: UWRF 2026 Ajak Masyarakat Menumbuhkan Empati dan Mendorong Perubahan Lewat Sastra

Kesadaran inilah yang makin mempertegas alasannya untuk terus menjaga napas festival sebagai ruang diskusi yang aman dan terbuka, terutama di tengah maraknya tren penyempitan kebebasan sipil secara global.

“UWRF harus tetap menjadi ruang bagi para penulis dan pembaca untuk berbicara secara bebas tentang berbagai hal atau isu-isu yang mengganggu kita,” tegas DeNeefe saat memberikan keterangan dalam konferensi pers UWRF di Ubud, Rabu (21/10) sore.

Semangat merawat ruang bebas berekspresi tersebut sejalan dengan pandangan penulis buku My Neighbour the Dictator, Tari Lang. Menurutnya, perbincangan mengenai tragedi kemanusiaan ini penting untuk terus dihidupkan, terlebih hingga hari ini kebenaran sejarah 1965 masih belum terungkap sepenuhnya dan berbagai upaya penyampaian narasi alternatif kerap mendapat resistensi.

Pengandalan narasi tunggal dan langgengnya dogma ketakutan akan “hantu komunisme” membuat isu pembantaian 1965 belum sepenuhnya menyentuh kesadaran kolektif setiap warga Indonesia. Padahal, stigmata politik masa lalu maupun dinamika kekuasaan tidak seharusnya menjadi justifikasi untuk mengabaikan nilai kemanusiaan dan membungkam penderitaan orang-orang biasa yang menjadi korban.

“Saya pikir yang penting dalam menulis buku dan menceritakan kisah ini adalah bahwa tidak pernah ada cukup pengetahuan—bukan hanya di seluruh dunia, tetapi juga di Indonesia—tentang apa yang terjadi pada tahun 1965. Itu adalah cerita yang harus ditulis,” ungkap Tari Lang memaparkan pandangannya.

Ia menambahkan, narasi sejarah selama ini kerap didominasi oleh sudut pandang akademisi dan sejarawan politik karena perdebatan konseptual yang panjang. Akibatnya, peristiwa tersebut sering kali direduksi menjadi sekadar perdebatan ideologi ketimbang kisah nyata dari ratusan ribu jiwa yang harus melintasi masa-masa paling berbahaya dan brutal demi ambisi penguasa tertentu.

“Kita harus berbicara tentang hal ini, bukan hanya karena penting untuk mengetahui apa yang terjadi dalam sejarah, tetapi karena sejarah memiliki kebiasaan yang sangat buruk untuk berulang-ulang—dan berulang-ulang bukan hanya di Indonesia, tetapi di banyak negara lainnya,” tegas Tari Lang. 

Komitmen UWRF sebagai ruang yang menawarkan kebebasan berekspresi juga tercermin lewat kehadiran Francesca Albanese–perempuan pertama penjabat Pelapor Khusus PBB untuk situasi hak asasi manusia di wilayah Palestina yang diduduki. Di UWRF 2026, Albanese hadir untuk mendorong pentingnya memupuk keberanian dalam menegakkan keadilan bagi masyarakat yang berusaha dibungkam di tengah ancaman genosida.

Baca juga: Ubud Writers & Readers Festival 2025: Merayakan Keragaman dan Penulis Indonesia pada Dunia

Dalam kesempatan tersebut, Albanese juga akan membedah karya terbarunya, When the World Sleeps: Stories, Words, and Wounds of Palestine. Buku ini memotret secara mendalam daya tahan dan keteguhan rakyat Palestina yang tak henti memperjuangkan tanah air mereka

Tak hanya diisi oleh deretan pemikir dan penulis terkenal, UWRF 2026 kembali memberi panggung luas bagi talenta muda sastra tanah air melalui program Emerging Writers. Tahun ini, program tersebut menjaring karya dari lebih dari 600 pendaftar di seluruh Indonesia, yang kemudian mengerucut menjadi 10 penulis terpilih.

Kesepuluh penulis muda berbakat yang lolos kurasi ketat UWRF 2026 meliputi Siska Yuanita, Ajen Angelina (Ruteng), Arianto Adipurwanto (Lombok), Carisya Nuramadea (Bogor), Dhias Nauvaly (Yogyakarta), Galuh Ginanti (Denpasar), Hamran Sunu (Palopo), serta wakil-wakil lainnya dari berbagai daerah. 

“Kehadiran dua penulis asal Bali serta dominasi suara perempuan dalam jajaran emerging writers tahun ini memperkaya warna festival, terutama lewat eksplorasi tema-tema segar seperti narasi kehidupan digital manusia, isu gender, perampasan ruang hidup (dispossession), hingga krisis lingkungan,” ujar Siska Yuanita, salah satu kurator Emerging Writers tahun ini.

Melalui perpaduan suara para pemikir global, penggiat kemanusiaan, hingga tunas-tunas sastra lokal, UWRF 2026 sekali lagi membuktikan diri bukan sekadar perayaan buku, melainkan suar peradaban yang merawat daya kritis dan empati kemanusiaan di panggung dunia.

About Author

Jasmine Floretta V.D

Jasmine Floretta V.D. adalah pencinta kucing garis keras yang gemar membaca atau binge-watching Netflix di waktu senggangnya. Ia adalah lulusan Sastra Jepang dan Kajian Gender UI yang memiliki ketertarikan mendalam pada kajian budaya dan peran ibu atau motherhood.

Click to access the login or register cheese