March 20, 2020
Cegah OkCupid Jadi OkCOVID: Moratorium Kencan di Tengah Krisis Corona

Demi mencegah penyebaran virus corona, banyak pengguna aplikasi kencan melakukan moratorium kencan.

by Elma Adisya, Reporter
Lifestyle
Share:

Sejak pemerintah mengumumkan bahwa pandemi virus corona (COVID-19) merupakan bencana nasional pada 15 Maret 2020, dan mengimbau masyarakat agar bekerja dari rumah serta melakukan pembatasan sosial, “Via” langsung mematuhinya. Ia melakukan swakarantina di rumah, sama sekali tidak melakukan aktivitas sosial di dunia nyata, bahkan memutuskan untuk meliburkan diri dari aplikasi kencan.

“Libur dulu, takut. Chatting pun enggak karena cowok kan enggak tahan chatting, maunya ketemuan melulu,” ujarnya kepada Magdalene sambil tertawa.

“Jadi bener-bener enggak buka dating apps sama sekali,” kata Via, 40.

Dalam salah satu Instagram story-nya, ia mengunggah tangkapan layar berisi percakapan dengan beberapa teman perempuan. Semuanya menyatakan absen dulu dari ranah kencan digital karena “takut OkCupid berubah menjadi OkCOVID.”

Seperti Via, “Nina” dan rekan kencannya sepakat untuk tidak bertemu dan melakukan pembatasan sosial. Sudah seminggu Nina, 30, bekerja dari rumah dan sebetulnya dia sudah mulai bosan. Tapi ia membayangkan betapa repotnya usaha yang harus dilakukan jika ia masih keukeuh berkencan di tengah wabah corona ini.

Kebayang enggak sih, mesti mandi dulu cairan disinfektan, atau fogging kamar dengan disinfektan sebelum mulai cuddling,” ujarnya sambil tertawa.

“Ya sudahlah, aku ubah jadwal sampai  kurang lebih dua minggu ke depan,” Nina menambahkan.

Sementara itu, “Tisha”, 28, tetap memberanikan diri untuk tetap kencan ke Bogor bersama dengan match dari aplikasi kencan.

“Saya sudah tiga kali kencan sama dia dan sehari-hari juga intensif  chatting. Kami sudah ada rencana ketemu  tanggal 14. Walau agak takut sih, Cuma kami persiapkan dengan baik. Saya bawa tisu basah dia bawa hand sanitizer,” ujar Tisha kepada Magdalene.

Tisha dan rekan kencannya menggunakan kereta commuter Iine menuju Bogor. Sebenarnya ia agak paranoid menggunakan kereta tetapi karena kereta api lumayan sepi saat itu, ia pun sedikit bernapas lega. Setelah ke Bogor mereka memutuskan untuk pergi ke Kota Tua, Jakarta Barat.

Ketika berkencan, mereka hanya engobrol sembari jalan-jalan dan memutuskan untuk ngopi. Bagaimana dengan pembatasan sosial? Jangankan 2 meter, jarak antara Tisha dengan teman kencannya, 1 meter saja tidak sampai. Tantangan pun bertambah ketika teman kencan Tisha mulai terang-terangan ingin menggenggam tangan Tisha. 

“Kalau minta pegang tangan ya aku kasih sih,” katanya sambil tertawa.

Baca juga: 5 Tipe Cowok di Aplikasi Kencan yang Tampak Normal Tapi ‘Unmatchable’

Peringatan kewaspadaan

Beberapa teman LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender) sempat bercerita bahwa beberapa bulan lalu, mereka menerima peringatan secara acak dari aplikasi kencan daring Tinder jika berada di negara-negara atau tempat yang tidak ramah LGBT termasuk Indonesia.

Di tengah pandemi virus corona ini, Tinder mengeluarkan peringatan kepada para penggunanya untuk mengutamakan kesehatan diri. Dalam pemberitahuan singkat tersebut, Tinder juga memberikan beberapa tips untuk mencegah infeksi COVID-19 yaitu, mencuci tangan secara berkala, membawa hand sanitizer, menghindari menyentuh muka, dan menjaga jarak dengan orang lain di ruang publik. Mereka pun tidak lupa untuk memberikan tautan ke laman Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk mempelajari COVID-19 lebih lanjut. Sayangnya, seperti juga peringatan kepada pengguna LGBT, hal ini muncul secara acak di layar pengguna Tinder.

Kemarin (19/3), di akun resmi Instagram, Tinder mengumumkan bahwa mereka akan memberi akses gratis Tinder Passport, yang memudahkan penggunanya untuk berpindah lokasi di belahan dunia mana pun, kepada semua penggunanya.  Hal ini dilakukan dalam rangka kampanye pembatasan sosial agar mencegah penyebaran virus corona.

Sementara itu, OKCupid lewat akun resminya di Twitter @OKCupid minggu lalu merilis sebuah grafik mengenai respons pengguna OkCupid di 10 negara: Australia, Kanada, Prancis, Jerman, India, Israel, Italia, Turki, Inggris, dan Amerika Serikat. Hasilnya, 88 persen pengguna  Ok-Cupid tetap ingin keluar rumah untuk berkencan di tengah pandemi corona.

Pada Selasa (17/3), OkCupid kembali mengingatkan para penggunanya untuk tetap waspada di tengah-tengah pandemi COVID-19, dan bahkan tidak menyarankan untuk berkencan di luar melainkan lewat chatting atau panggilan video saja.

Aplikasi kencan daring lain, Bumble, juga meluncurkan kampanye baru untuk mendukung pencegahan penyebaran COVID-19. Dalam Instagram resmi Bumble, mereka menyuarakan bahwa pembatasan sosial tidak sama dengan kesepian.

Bumble juga mengeluarkan beberapa tips untuk penggunanya di tengah pembatasan sosial ini, yakni dengan menggunakan fitur video call mereka untuk menonton film bersama.

Hal ini disambut baik oleh Nina, yang mengatakan bahwa menjaga hubungan dengan teman kencan menjadi tantangan sendiri saat tidak bisa bertemu secara fisik.

“Karena kita harus mutar otak lebih keras lagi untuk bikin  obrolan kita jadi lebih menarik. Agak susah kalau match-nya memang pasif. Akhirnya bikin aktivitas bareng kayak drawing challenge. Ya enggak apa-apalah sedikit random, namanya juga usaha,” katanya sambil tertawa.

Baca juga: Ibu Tunggal dan Pencarian Cinta Kedua

Anak rantau unite

Ada kejutan lain dalam pembatalan kencan di tengah wabah corona: Pembicaraan dengan orang-orang yang matched di aplikasi kencan menjadi lebih hangat.

Nina mengatakan, gara-gara  kencan dibatalkan, ia malah jadi lebih intensif berbicara dengan calon teman kencannya lewat chat.

“Ya karena enggak terlalu banyak kerjaan juga. Kan bosan ya. Akhirnya kita jadi ngomongin soal situasi masing-masing karena mulai bekerja dari rumah,” kata Nina.

Sementara itu, Via malah berhubungan lagi dengan “stok lama”, bekas teman-teman kencan yang dia sebut “old fuckboy” yang tiba-tiba mengontak untuk curhat. Karena ia pun tinggal sendiri di Jakarta, Via menyambut baik pembicaraan dengan mereka.

“Gebetan lama saling mengecek kabar. Karena kita semua ini sebenarnya butuh dukungan mental dalam keadaan serba linglung ini,” ujarnya.

Pembicaraan lebih dalam daripada “pakai baju apa” atau rayuan gombal lainnya.

“Boro-boro horny ya, malas rasanya, waswas. Para cowok ini juga ternyata butuh intimate conversation. Apalagi yang tinggal jauh dari orang tua. Ada yang gelisah karena orang tuanya di Belanda, Italia. Mereka enggak bisa pulang, tapi cemas,” kata Via.

“Sesama anak rantau jadi saling curhat karena situasi seperti ini butuh saling ada. Serba salah rasanya, gelisah, enggak tahu mau ngapain. Antara sedih, khawatir, bingung.”

Elma Adisya adalah reporter Magdalene, lebih sering dipanggil Elam dan Kentang. Hobi baca tulis fanfiction dan mendengarkan musik  genre surf rock. Jangan sungkan menghubunginya di Twitter @Elmaadisya.