Women Lead
August 09, 2021

Dangkal dan Sensasional: Wajah Selebriti di Media Massa

Media turut melanggengkan stigma selebriti sebagai pekerjaan yang tidak penting. Pun, orang-orang di dalamnya dangkal dan hanya menjual penampilan.

by Selma Kirana Haryadi, Reporter
Issues
representasi selebriti di media massa
Share:

Saya pernah membaca artikel di The Clever yang berjudul ‘20 Jobs That Don’t Require Brains (But Will Make Anyone Rich)’ atau 20 Pekerjaan yang Tidak Membutuhkan Otak (Tapi Bisa Membuat Siapa Saja Kaya Raya). Dari ke-20 pekerjaan, selebriti seperti aktor, penyanyi, dan selebriti internet (influencer) masuk ke dalam daftarnya. Sang penulis, Salim Farhat, berargumen selebriti bukanlah sebuah pekerjaan yang membutuhkan keahlian. Kebanyakan aktor, aktris, dan penyanyi bisa jadi ternama ke berbagai belahan dunia (bahkan jadi kaya raya) itu karena keberuntungan dan kebetulan semata, tanpa benar-benar memiliki bakat yang nyata ataupun mendorong otak bekerja optimal, ujar Farhat. 

Argumen Farhat memang cenderung konyol dan sama sekali tidak kuat. Kita tak bisa menampik fakta bahwa selebriti memang kerap dianggap sebagai pekerjaan yang dangkal dan hanya bersifat hiburan, dan orang-orang yang menggeluti bidang tersebut tak ubahnya orang-orang bodoh yang hanya mengandalkan penampilan. Hal itu dilanggengkan oleh media massa.

Sudah jadi santapan kita sehari-hari bagaimana media daring arus utama menjadikan berita-berita artis sebagai headline yang dibuat sesensasional mungkin. Apa yang jadi sorotan juga hanya kehidupan pribadi sang artis. Tak jarang, hal-hal yang sangat tidak signifikan, seperti kasus perselingkuhan, persaingan, barang-barang mewah yang dimilikinya, mantan-mantan kekasihnya, dan masih banyak lagi. 

Baca juga: Selingkuh, Viral, dan Centang Biru: Bekal ‘Influencer’ Dadakan

Kita bisa melihat penggambaran itu dalam penelitian yang berjudul TV or Not TV, Spelling the Indonesian Media with Veven Sp. Wardhana (2016) karya pengajar Indonesian Studies dari University of Melbourne Edwin Jurriens. Menurutnya, media massa di Indonesia, terutama televisi, menjadi salah satu pendukung utama lahirnya stigma-stigma yang berkaitan dengan kedangkalan mengenai pekerjaan selebriti.

Jurriens berargumen, dunia pertelevisian Indonesia mengidentifikasikan sosok selebriti sebagai orang-orang yang gemar menjual tubuh dan seksualitasnya untuk mencapai berbagai tujuan dan fungsi hidup yang berkaitan dengan harta dan keglamoran. Ia mencontohkan wacana dan penokohan yang diangkat novel Stamboel Selebritas karya penulis sekaligus wartawan Indonesia, Effendy Agus Hariyanto, yang lebih akrab dikenal dengan Veven Sp. Wardhana.

Novel tersebut secara garis besar mengisahkan lika-liku kehidupan para selebriti. Seperti sosok Pri, selebriti yang dikisahkan gemar menggunakan fitur tubuh dan seksualitasnya untuk menghancurkan sang rival, yang juga selebriti, bernama Raiyya. Pemanfaatan tubuh dan seksualitas sebagai haluan utama strategi bertahan dan eksis di industri hiburan dan pertelevisian ini bukan hanya dinormalisasi oleh para selebriti itu sendiri, melainkan juga oleh media massa dan orang-orang di dalamnya. 

Hal itu diperkuat dengan pendapat Horton dan Wohl dalam tulisannya yang berjudul Mass communication and para-social interaction (1956). Mereka berpendapat, selebriti merupakan entitas yang digunakan industri media untuk mempromosikan seperangkat nilai sosial bahwa konsumsi, romansa, seks, dan kemewahan memiliki nilai yang lebih penting ketimbang kepuasan dari hasil kerja dan pendidikan.

Bak sebuah siklus yang saling mempengaruhi dan dipengaruhi, representasi selebriti di media membuat selebriti kerap mengalami objektifikasi politis dan bisnis dari industri hiburan. Praktik tersebut jelas menguntungkan industri media, namun merugikan para selebriti itu sendiri.

Baca juga:  ‘Female Gaze’ dan Cara Pandang Dunia Lewat Lensa Perempuan

Misalnya, sosok penyanyi dangdut Inul Daratista yang kerap menjadi kontroversi. Pada kisaran tahun 2003, berbagai kelompok masyarakat memperdebatkan figur Inul karena punya ciri khas goyangan sensualnya, atau yang dikenal dengan “goyang ngebor”. Kontroversi Inul juga memantik lahirnya Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi. Bahasa tubuh Inul dianggap tidak senonoh. Diskusi mengenai dirinya jadi hanya seputar bentuk tubuh, suara desah napas, hingga goyangannya yang indah. Padahal, ada banyak golongan dan ahli yang menganggap Inul merupakan wujud “pemberontakan” dan emansipasi perempuan.

Inul dinilai telah mampu mendobrak stigma lemah-lembut-keibuan a’la doktrin ibuisme ciptaan Soeharto dan rezim Orde Baru, dengan gaya busana, gaya bahasa Jawa ngoko (Bahasa Jawa kasar), dan bahasa tubuh yang bebas. Dia dinilai menjadi salah satu motor pendobrak tuntutan dan stereotip mengenai perempuan yang selalu dituntut menutup tubuhnya sebagai turunan langsung budaya patriarki.

Namun, pada akhirnya, media tak menganggap itu penting. Inul hanya dipandang sebagai objek seks yang tak punya agensi diri. Media malah memainkan sentimen agama dari kelompok-kelompok yang mengecam Inul, memberitakan dia sebagai perempuan dan selebriti liar yang melanggar nilai-nilai asusila masyarakat Indonesia. Hal itu tak lain dan tak bukan dilakukan dengan motif ekonomi untuk mendapatkan keuntungan, karena berita-berita sensasi selebriti selalu laku di pasaran.

Baca juga: Kenapa Karakter Perempuan di Sinetron Indonesia Masih Belum Beragam?

Hal itu diperkuat Frances Bonner, dkk dalam tulisan mereka yang berjudul Celebrity and the media (1999), yang membahas bahwa komodifikasi yang media massa lakukan terhadap selebriti melahirkan pembenaran bahwa selebriti merupakan perwujudan ekonomi dan politik yang menjadi cikal bakal kapitalisme. Kedudukan selebriti di industri hiburan tak lagi dipandang sebagai manusia, melainkan sebagai sebuah objek dan komoditas yang semata-mata berfungsi menghasilkan keuntungan bagi perusahaan. Tak heran, dalam tulisannya, Jurriens menyatakan bahwa perdebatan mengenai sosok Inul Daratista lebih banyak mengandung kepentingan bisnis ketimbang persoalan agama dan moralitas.

Bukan hanya membahayakan satu kelompok, mentalitas seperti ini membuat media, secara sadar ataupun tidak sadar, kian melanggengkan cara pandang yang seksis dan berujung mengobjektifikasi perempuan secara umum. Bukan hanya selebriti tradisional (musisi, aktor, dan aktris), hal itu turut dilakukan terhadap para selebriti internet atau yang akrab kita kenal dengan sebutan influencer atau selebgram. 

Media massa memberikan mereka panggung lewat berita-berita yang sensasional, penuh humor, juga clickbait. Menurut Associate professor bidang budaya dan kajian internet dari Curtin University, Australia, Crystal Abidin dalam bukunya yang berjudul Internet Celebrity: Understanding Fame Online (2018), ketenaran mereka umumnya tak akan berumur panjang. 

Ketika nama mereka meredup, media akan mereduksi wacana-wacana mengenai selebriti internet ke dalam stereotip-stereotip yang dangkal dan ala kadarnya. Hal ini pada akhirnya membuat influencer tak memiliki banyak kekuatan untuk menentukan persepsi publik mengenai dirinya. Hal itulah yang memperkuat argumentasi Abidin bahwa diskursus mengenai selebriti internet tak ubahnya selebriti tradisional (musisi, aktris, aktor di televisi). Mereka mengandalkan nilai-nilai konflik, seks, kedangkalan, dan sensasionalitas untuk menarik perhatian, serta tak pernah dicitrakan atau dibahas dengan sudut pandang yang mengangkat intelektualitas.

Meski mungkin banyak orang yang berhasil jadi selebriti karena keberuntungan, tapi itu tak menutup kemungkinan bahwa ada segelintir lainnya yang betul-betul memiliki passion di bidang akting atau musik, dan berusaha mencapai mimpinya sekuat tenaga. Hari-hari panjang yang dia habiskan untuk berlatih, mempromosikan karya-karya, atau bahkan mencari stasiun TV yang mau menayangkan dia jarang diperbincangkan.

 Seharusnya itu tak jadi pembenaran bagi media untuk menjustifikasi, apalagi mengobjektifikasi sebuah kelompok hanya dari beberapa kasus, ketika sebenarnya media memiliki kekuatan yang besar untuk mempromosikan nilai-nilai yang humanis, mendalam, dan mencerdaskan.

Selma adalah penyuka waktu sendiri yang masih berharap konsepsi tentang normalitas sebagai hasil kedangkalan pemikiran manusia akan hilang dari muka bumi.