Women Lead
July 14, 2021

‘Female Gaze’ dan Cara Pandang Dunia Lewat Lensa Perempuan

Berbeda dengan male gaze, female gaze memperlihatkan perasaan dan cara perempuan melihat dunia untuk audiens perempuan.

by Tabayyun Pasinringi, Reporter
Culture
Share:

Belum lama ini, muncul tren men written by women atau glorifikasi pada selebritas laki-laki dengan karakteristik lembut, sensitif, dan terbuka secara emosional di media sosial. Beberapa nama yang muncul, yakni musisi Hozier yang ramah, aktor Tom Hiddleston yang cerdas dan sopan, serta RM dari BTS yang reflektif.

Istilah itu mulai ramai dibicarakan ketika berbagai akun penggemar budaya populer mengatakan, laki-laki fiksional yang ditulis perempuan atau laki-laki yang ‘lembut’ adalah tipe ideal perempuan. Umumnya karena mereka memiliki sisi yang berbanding terbalik dengan maskulinitas toksik laki-laki. Selain itu, karakteristik yang diidamkan tersebut dilihat menggunakan female gaze atau teropong perempuan terhadap dirinya sendiri. 

Female gaze sendiri merupakan konsep feminisme dalam diskursus perfilman yang definisinya berbeda dengan male gaze, cara memandang perempuan dalam sinema menggunakan lensa laki-laki. 

Dalam esai Visual Pleasure and Narrative Cinema (1975) karya akademisi film cum feminis, Laura Mulvey menjabarkan pemahamannya dengan lebih luas soal ini. Menurut dia, male gaze mengobjektifikasi perempuan lewat lensa kamera dan menggambarkan karakternya untuk audiens laki-laki. Ia menambahkan, film dalam budaya populer sering merekam perempuan sebagai objek pasif untuk voyeurisme dan scopophilia, keduanya berkaitan karena seseorang menerima kepuasan seksual dengan melihat orang lain sebagai objek erotis. 

Megan Fox sebagai Mikaela Banes dalam Transformer (2007) seringkali menjadi contoh karakter perempuan yang disorot dengan male gaze. Selain itu, Black Widow atau Natasha Romanoff (Scarlett Johansson) juga sering diobjektifikasi secara seksual karena beberapa adegannya dalam film-film Avengers dari Marvel fokus pada area dada atau tubuh bagian bawah.

Baca juga: Jojo dan ‘Backlash’ Terhadap Feminis

Dimaksudkan untuk Objektifikasi Laki-laki

Secara singkat, male gaze dipahami sebagai cara masyarakat patriarkal dan heteronormatif mengkotakkan perempuan sebagai objek pasif untuk memuaskan fantasi. Sayangnya pemahaman itu juga seringkali digunakan untuk mengartikan female gaze sebagai izin untuk mengobjektifikasi tubuh laki-laki. Menurut situs Oxford Reference, ada tiga pengertian tentang female gaze, salah satunya sebagai hak perempuan mengadopsi pandangan aktif untuk mengobjektifikasi, seperti yang seringkali dikaitkan dengan cara pandang laki-laki.

Contohnya film Magic Mike (2012) tentang penari telanjang laki-laki yang disebut sebagai film dengan female gaze karena memperlihatkan erotisme tubuh laki-laki dengan alur cerita yang seksi. Selain itu, juga karena target penontonnya perempuan dan laki-laki gay. 

Dalam penelitian How Powerful is The Female Gaze? The Implication of Using Male Celebrities for Promoting Female Cosmetics in China (2020) oleh Xiaomeng Li, di Tiongkok ada fenomena nan se xiao fei atau mengonsumsi produk, umumnya kosmetik, melalui selebritas laki-laki yang diobjektifikasi dalam iklan. 

Li kemudian mengaitkan fenomena tersebut dengan pemahaman female gaze sebagai perempuan yang memiliki kuasa untuk ‘menilai’ laki-laki dan juga sebagai target pasar dengan daya ekonomi tinggi yang harus dipenuhi hasratnya. ‘Pemberdayaan’ dan penguatan perempuan dengan cara tersebut juga masih sangat heteronormatif dan patriarkal. Selain itu, gerakan feminisme sebagai cara melihat pengalaman perempuan dikomodifikasi untuk urusan bisnis, tulis Li. 

Baca juga: 6 Rekomendasi Film Korea ‘Slice of Life’ dari Sutradara Perempuan

‘Female Gaze’ Cara Pandang Perempuan tentang Dunia

Makna female gaze seringkali direduksi untuk mengobjektifikasi laki-laki dan tidak sepenuhnya merepresentasikan cara memaknai sesuatu yang ditargetkan untuk perempuan. Faktanya, female gaze berbeda dari male gaze karena menawarkan cara pandang tentang dunia dengan spektrum yang lebih luas dan memiliki kekhasan perempuan. 

Pemaknaan itu merujuk pada definisi lain female gaze dari Oxford Reference yang menyatakan female gaze fokus pada cara perempuan melihat dunia dan orang-orang disekitarnya tanpa memandang gender maupun jenis kelamin. Cara memandang tersebut juga berkaitan erat dengan identitas, konstruksi gender, objektivitas serta subjektivitas. Selain itu, juga menargetkan perempuan sebagai audiens. 

Serupa dengan definisi tersebut, sutradara Jill Soloway dalam pidatonya tentang female gaze di Toronto International Film Festival 2016 mengatakan, ketika male gaze berpusat tentang apa yang dilihat laki-laki, female gaze untuk membuat penonton melihat dan merasakan pengalaman perempuan. Female gaze juga memfokuskan perhatiannya pada perspektif perempuan untuk sisi emosional alur dan karakter sebuah cerita. 

Dilansir dari media The Daily Star ada tiga konsep kunci yang menggambarkan female gaze dalam film, cara kamera menangkap perasaan yang tergambar dalam sebuah gerakan, menjadi objek yang ‘dipandang’ dan bisa balik membalas pandangan itu karena berperan sebagai pemain aktif, dan menyampaikan kepada penonton bagaimana rasanya bisa dipahami. 

Melihat dari tiga kunci tersebut, film lesbian Portrait of Lady on Fire (2019) menggambarkan female gaze dengan cara yang apik. Portrait of a Lady on Fire yang juga disutradarai oleh perempuan menggambarkan perasaan menjadi lesbian di tahun 1770. Selain itu, film tersebut juga menyentuh isu tentang tantangan pasangan lesbian di masyarakat heteronormatif yang mengharuskan perempuan menikah dan dijodohkan dengan laki-laki.

Hubungan romantis antara Marianne dan Héloïse tidak hanya pada penggambaran adegan seksual, tapi dengan lewat sentuhan dan tatapan yang lembut. Tidak bisa dimungkiri ada adegan seksual yang digambarkan secara eksplisit, tetapi hal itu tidak dieksploitasi karena memberikan emosi tentang pasangan yang sedang jatuh cinta. Berbeda dengan film tentang pasangan lesbian lain yang dinilai problematis, seperti  Blue is The Warmest Color (2013) dan Ride or Die (2021) Karena sarat akan male gaze.

Baca juga: Cruella dan Cara Disney Menulis Ulang Karakter Antagonis Perempuan

Film dengan ‘Female Gaze’

Portrait of a Lady on Fire bukan satu-satunya film yang membuat penonton merasakan female gaze. Little Women (2020) versi Greta Gerwig yang memiliki sentuhan feminisme menggambarkan keragaman pengalaman dan pilihan perempuan kepada audiens. Jo March (Saoirse Ronan), perempuan independen dengan mimpi yang besar. Dia tidak ingin memiliki relasi romantis, tetapi juga merasakan kesepian. 

Meg (Emma Watson) adalah perempuan yang menyatakan menikah dan berkeluarga juga adalah pilihan yang diambil tanpa paksaan. Sementara Amy (Florence Pugh) menunjukan kenyataan di masyarakat patriarkal dia harus menikah dengan laki-laki kaya jika ingin menyambung hidup dengan mapan. 

Selain itu, Harley Quinn yang diperankan Margot Robbie juga mengalami perubahan dari disorot dengan male gaze dalam film Suicide Squad (2016) menjadi karakter yang ditargetkan untuk perempuan pada Birds of Prey: Harley Quinn (2020). Birds of Prey yang disutradarai oleh Cathy Yan itu juga tidak fokus pada tubuh Harley Quinn, tetapi pada perkembangannya sebagai seorang anti-hero dan perempuan lain di sekitarnya. Film yang membahas tentang pengalaman perempuan umumnya juga disutradarai sesama perempuan, seperti Ladybird (2017), House of Hummingbird (2018), dan Kim Ji-Young: Born 1982 (2019). 

Representasi tentang perasaan, cara memandang dunia, dan pengalaman perempuan untuk perempuan menjadi kunci utama female gaze. Ketika kembali berkaca pada tren men written by women, pendapat tentang selebritis laki-laki yang tidak takut tampil ‘rapuh’ sebagai tipe ideal tampak seperti refleksi perempuan yang ingin masyarakat menggugurkan cara menjadi laki-laki yang kuno dan agresif. 

Tabayyun Pasinringi adalah penggemar fanfiction dan bermimpi mengadopsi 16 kucing dan merajut baju hangat untuk mereka.