Women Lead
December 17, 2020

Dokumenter ‘Crip Camp’ Dobrak Cara Kita Pandang Disabilitas

Dokumenter ‘Crip Camp’ menyoroti nilai-nilai kemanusiaan yang kerap luput diperhatikan ketika membicarakan isu disabilitas.

by Selma Kirana Haryadi
Culture // Screen Raves
Share:

Ada segelintir stigma dan label yang masyarakat berikan terhadap orang dengan disabilitas atau difabel. Bahkan setelah berbagai regulasi di tingkat internasional dan nasional yang mengatur hak-hak mereka disahkan, masih ada bias tertentu yang mendistorsi cara pandang masyarakat terhadap kelompok difabel.

Cara pandang itu mengandung keyakinan satu arah bahwa kelompok difabel adalah kelompok yang “berbeda”. Perbedaan itu membuat masyarakat merasa sah-sah saja untuk memisahkan kelompok difabel dari berbagai hal dan tidak memenuhi hak orang dengan disabilitas sebagai manusia ataupun warga negara.

Crip Cramp: A Disability Revolution (2020), sebuah film dokumenter tentang orang disabilitas garapan Netflix, mendobrak konsep normalitas yang memarginalkan kelompok difabel ini didobrak lewat premis yang sederhana. Bahwa orang dengan disabilitas adalah manusia, layaknya manusia-manusia lain yang diberi kemudahan berupa kelengkapan fisik dan pikiran. Dokumenter ini memperlihatkan bagaimana disabilitas adalah apa yang tidak kita bicarakan ketika kita bicara tentang kemanusiaan.

Kisah ini bermula di Jened, sebuah lokasi perkemahan musim panas untuk remaja difabel di New York. Menurut para peserta perkemahan, itulah satu-satunya tempat mereka bisa menjadi remaja dan manusia seutuhnya, tanpa tatapan orang-orang yang menganggap mereka inferior dan selalu membutuhkan bantuan.

Di sini, mereka bisa mendapatkan kesempatan untuk merasakan apa yang dirasakan orang kebanyakan. Perlakuan keluarga dan orang sekitar yang terlalu protektif terhadap orang dengan disabilitas membuat ruang gerak mereka terbatas. Di tempat perkemahan itulah para remaja difabel bisa mengekspresikan diri dan mengecap banyak pengalaman, serta memberontak pada normalitas dan objektifikasi dari masyarakat yang sehari-hari membebani mereka.

“Di luar sana, kami tidak mempunyai kesempatan untuk menjadi laki-laki atau perempuan. Kami adalah orang-orang dengan kursi roda. Kami cacat dan kami aseksual,” ujar salah satu tokoh dalam dokumenter ini.

Baca juga: Perempuan dengan Disabilitas Hadapi Kesulitan Ganda dalam Bekerja

Disabilitas bukan abnormalitas

Gambar-gambar video hitam-putih dan rekaman aktivitas peserta Camp Jened yang ditampilkan dalam dokumenter ini memperkuat nilai penting dalam hal-hal sederhana yang tidak pernah didapatkan para difabel. Gambar-gambar tersebut menekankan bagaimana keseharian difabel terlihat begitu normal, penuh dengan tawa yang jarang terlihat di luar camp itu.

Di Camp Jened, mereka jatuh cinta, mendapatkan pacar pertama, dan merasakan segala fase cinta monyet, termasuk mengagumi cowok-cowok atau cewek-cewek keren yang mereka temui. Mereka juga mulai mengenal bentuk-bentuk pembangkangan lain--rokok, pesta, alkohol, seks—tak ubahnya para remaja yang mulai merasakan kebebasan dunia luar.

Tanpa glorifikasi berlebihan ataupun tendensi untuk mempromosikan pemberontakan, dokumenter ini menampilkan bagaimana Camp Jened memberikan remaja dengan jenis disabilitas yang berbeda kesempatan untuk menjadi diri mereka sendiri, merasakan pengalaman yang belum pernah mereka rasakan, tapi tetap dengan pendampingan yang egaliter dari para konselornya.

Bukan hanya esensi hidup dan menjadi manusia, Camp Jened dan nilai solidaritas komunitas yang terbentuk di dalamnya juga membuat para difabel ini menemukan jati diri mereka yang lain: keinginan untuk bersuara.

Baca juga: RUU PKS Penting Bagi Penyandang Disabilitas

Banyak jebolan Camp Jened yang akhirnya menjadi ujung tombak aktivisme perjuangan hak-hak disabilitas di AS dalam demonstrasi tahun 1977. Saat itu, orang-orang dengan disabilitas mendesak pemerintah untuk menjamin hak-hak sipil para difabel dalam bentuk regulasi, yang kemudian tertuang dalam Section 504 of the Rehabilitation Act of 1973. Peraturan ini melarang perlakuan diskriminatif dalam layanan kemanusiaan dan layanan kesehatan dan fasilitas publik bagi kelompok difabel.  

Perumusan dan pengesahan regulasi ini terbilang alot. Tarik-menarik kepentingan di dalam pemerintahan dan petinggi instansi lainnya membuat pengesahannya selalu tertunda. Berbagai poin aturannya terancam mengalami perubahan dan pengurangan yang alih-alih mengurangi diskriminasi terhadap kelompok difabel, justru hanya mengalihkannya ke dalam bentuk lain, yaitu “separate but equal”. Contohnya, institusi pendidikan diimbau membuat sekolah terpisah bagi anak-anak penyandang disabilitas, dan anak dengan disabilitas tidak bisa pergi ke sekolah umum yang sama dengan anak-anak lainnya.

Kepemimpinan perempuan

Perjuangan kelompok difabel ini berjalan konsisten di bawah koordinasi Judith Heumann, seorang perempuan pengidap polio. Heumann memang aktif menginisiasi berbagai pergerakan yang melawan diskriminasi terhadap difabel, bahkan sejak di Camp Jened, sampai mendirikan komunitas pemberdayaan difabel.

Begitu urgensi regulasi terkait orang dengan disabilitas kian meningkat, Heumann menginisiasi gerakan dan demonstrasi yang berjalan selama lebih dari dua puluh hari dan berhasil melumpuhkan lalu lintas di beberapa titik di kota.

Demonstrasi yang digagas Judith menunjukkan besarnya kekuatan solidaritas untuk kemanusiaan. Selain itu, hal tersebut memperlihatkan bahwa nilai progresif berbasis kesetaraan bisa mengokohkan fondasi niat yang baik dan penyelesaian masalah.

Ketika pemerintah dan kepolisian setempat mulai memutus akses listrik dan air di tempat para demonstran bernaung, orang-orang dengan disabilitas ini memutar otak dan memanfaatkan keahlian satu sama lain, misalnya untuk membuat kulkas darurat, serta mengandalkan koneksi luas yang mereka miliki untuk mendapatkan bantuan.

Baca juga: 'Aku Perempuan Unik', Saat Perempuan Disabilitas Wujudkan Kesetaraan Lewat Seni

Mereka terus bertahan sampai akhirnya pemerintah mengesahkan regulasi yang menjamin pemenuhan hak-hak orang dengan disabilitas.

Selain Heumann, dokumenter ini juga menyoroti beberapa sosok perempuan hebat lain yang berjuang dengan caranya masing-masing untuk meruntuhkan stigma yang melekat dengan komunitasnya. Ada HolLynn D'Lil, perempuan aktivis dan jurnalis yang konsisten meliput agenda demonstrasi ini. Ada pula Denise Jacobson, aktivis disabilitas pengidap cerebral palsy yang memiliki pemikiran unik dan berhasil mendobrak stigma mengenai aseksualitas difabel dan kesehatan reproduksi.

Ada yang menarik dari Jacobson, soal seksualitas orang-orang dengan disabilitas. Saat ia dilarikan ke rumah sakit karena rasa sakit di bagian bawah perutnya, dokter mendiagnosis Jacobson mengidap gonorrhea. Sang dokter begitu heran karena berpikir bagaimana bisa seorang difabel begitu aktif berhubungan seksual.

“Akhirnya, saya memutuskan untuk kembali bersekolah dan mendapatkan gelar master saya dalam bidang seksualitas manusia,” kata Jacobson.

Jacobson kemudian menulis dua buku dari pengalamannya. Pertama, The Question of David: A Disabled Mother's Journey Through Adoption, Family, and Life (1999) yang mengisahkan perjuangannya menjadi ibu dan seorang difabel bagi satu anak yang dia adopsi. Kedua, Advocate for Disabled Women's Rights and Health Issues: Oral History Transcript /200 (2015), sebuah buku yang berisi lebih dari 100 transkrip sejarah lisan (wawancara, karya ilmiah, dan lain-lain) mengenai persoalan hak dan kesehatan perempuan dengan disabilitas.

Selma adalah penyuka waktu sendiri yang masih berharap konsepsi tentang normalitas sebagai hasil kedangkalan pemikiran manusia akan hilang dari muka bumi.