July 21, 2020

‘Euphoria’ Serial Televisi Gen Z Paling Realistis?

‘Euphoria’ adalah serial televisi yang dibuat untuk membuat kita berpikir keras dan panjang tentang kehidupan.

by Salsabila Athirah
Culture // Screen Raves
Share:

Saat Euphoria pertama kali ditayangkan oleh HBO pada musim panas 2019, serial televisi itu langsung hits di kalangan remaja. Digarap oleh A24 (yang memproduksi Lady Bird, Midsommar, dan Moonlight) dan disutradarai Sam Levinson, serial ini memunculkan aktor-aktor muda populer, seperti Zendaya (Spider-Man), Jacob Elordi (The Kissing Booth), Hunter Schafer (aktivis hak trans), Barbie Ferreira (model plus size), Alexa Demie (Mid90s), dan Sydney Sweeney (Everything Sucks!). Dari sejak nama-nama pemeran ini dirilis, lini masa Twitter dan fan page Instagram langsung bertebaran dengan cuplikan Euphoria.

Tema coming of age, alias masa transisi dari remaja ke dewasa, yang diangkat serial ini bukan barang baru. Euphoria bukanlah serial TV pelopor yang mencoba menyentuh isu yang sulit seperti penyalahgunaan narkotika, kehamilan remaja, hubungan toksik, dan LGBTQ+. Sebelumnya ada Skins, Glee, 13 Reasons Why, dan Baby, misalnya. Namun penyampaian Euphoria yang secara visual jauh lebih eksplisit dapat menyampaikan pesan moral lebih baik daripada pendahulunya.

Dua belas episode yang ada di musim pertama Euphoria dimulai dengan cold open (teknik narasi) yang ditulis secara baik, dan meringkaskan latar belakang suatu tokoh dengan cara sedemikian rupa sehingga penonton bisa berempati dan mencintai tokoh tersebut.

Baca juga: 'The Half of It': Bukan Kisah Cinta yang Diidamkan Semua Orang

Dari setiap cold open yang ada kita bisa mengenal secara baik tiap karakter, seakan-akan kita kenal dengan tokohnya. Rue, tokoh utama dan mantan pengguna narkotika yang baru kembali dari fasilitas rehabilitasi. Jules, remaja transpuan yang mencari jati dirinya setelah pindah ke kota tempat Rue tinggal. Nate, cowok atletik manipulatif yang kaya. Maddy, cheerleader populer dan mantan pemenang kontes kecantikan. Cassie, cheerleader cantik yang punya hubungan dengan atlet kampus. Kat, gadis gemuk dalam perjalanan untuk menemukan kepercayaan diri. Dan karakter kompleks lain yang dikemas begitu baik sehingga kita bisa menemukan suatu “bagian” dari diri kita dalam tokoh tersebut, sekecil apa pun itu.

Selain itu, tidak ada satu karakter pun dalam Euphoria yang seratus persen jahat atau 100 persen baik. Sejahat apa pun Nate Jacobs dan bagaimana dia berperilaku manipulatif dan abusive terhadap pacarnya, Maddy, dan orang-orang di sekelilingnya, kita dapat mengerti kedalaman (dan akting Jacob Elordi yang brilian) tokoh yang dibentuk oleh penulis naskah. Bahkan Fez, yang menyuplai narkotika ke Rue dan anak-anak di bawah umur, punya alasan kuat untuk melakukannya. Bukannya bermaksud mengagungkan pilihan yang buruk, namun di balik setiap keputusan seseorang pasti ada latar belakang yang memengaruhi keputusan tersebut. After all, we are human. We are all flawed.

Baca juga: ‘Miss Americana’ Tampilkan Sisi Gelap Kehidupan Taylor Swift

Penyusunan karakter yang detail menghasilkan tokoh multidimensi membuat penonton berada di ujung kursi mereka setiap episode. Sutradara Sam Levinson, yang mantan pengguna narkotika semasa remaja, merasakan tekanan untuk menggambarkan topik sulit agar tidak diromantisasi oleh penonton. Levinson malah berusaha menggunakan serial ini untuk memperlihatkan trauma dan rasa malu yang dialami pengguna narkotika sebagai edukasi untuk masyarakat umum.

Musik dahsyat

Drake, pelantun lagu hits seperti “Hotline Bling” dan “In My Feelings”, menunjukkan pengaruhnya dalam pemilihan musik pengiring dalam serial ini sebagai salah satu produser eksekutif. Levinson mengatakan bahwa ia menginginkan musik pengiring dengan tema campuran album Kanye West Yeezus dan aransemen Danny Elfman di The Night Before Christmas. Dan hasilnya luar biasa. Lagu-lagu lain yang dinyanyikan oleh penyanyi-penyanyi sekaliber Madonna, Beyonce, Lizzo, dan Bobby Womack, turut menangkap keaslian emosi yang dibutuhkan oleh serial ini. Dari sinematografi, pencahayaan, hingga kostum pun diproduksi secara kelas kakap. Rasanya kita bukan menonton serial televisi, melainkan film layar lebar.

Walaupun banyak penonton yang memuji Euphoria dengan keberanian dan keasliannya dengan kehidupan remaja zaman sekarang, banyak juga yang menyebut “terlalu tidak nyata” dan “terlalu gelap” untuk ditonton anak muda. Namun, sebagai seseorang yang lahir di tahun yang sama dengan tokoh-tokoh fiksi di serial itu, saya bisa mengidentifikasi tokoh Euphoria dengan pengalaman realistis penulis di SMA.

Baca juga: 'Black Mirror's Nosedive': Media Sosial dan Tuntutan Hidup Masa Kini

Banyak remaja yang memiliki masalah dengan narkotika, kekerasan domestik, seks, tekanan sosial, dan perisakan. Walaupun saya tidak bisa relate dengan semua tindakan di serial tersebut, saya bisa relate dengan Kat yang menulis fanfiction. Sebelum mencoba menulis sendiri, saya membenamkan diri dengan fanfiction (Kaisoo, kalau tidak Baekyeol) untuk menghadapi pahitnya hidup. Saya pernah melihat sendiri bagaimana nudes dapat tersebar di SMA (bahkan di tingkat SMP), serta penggunaan narkotika, merokok dan alkohol di bawah umur. Ini realitas. Ini kehidupan nyata. Orang tua pasti akan merasa terpukul bahwa anak remaja mereka yang di bawah umur melakukan hal-hal tersebut. Mungkin juga ada testimoni Generasi Z lain yang merasakan bahwa pengalaman SMA mereka jauh berbeda.

Euphoria merupakan serial televisi di HBO dengan rating TV-MA. MA merupakan kependekan dari Mature Audiences atau mereka yang berumur 18 tahun ke atas. Walaupun di dalam serial televisi ini pemeran umumnya berumur remaja, banyak adegan tanpa busana yang begitu grafis, sehingga tidak cocok bagi selera semua orang. Saya sendiri tidak yakin bahwa Euphoria dapat dikonsumsi secara baik bagi penonton yang betul-betul masih muda. Namun sebagai seseorang yang sudah melewati masa SMA, saya bisa menonton Euphoria dan merasa lega bahwa bagian hidup yang dramatis dan kacau tersebut telah selesai.

Serial televisi ini ditayangkan dan dipasarkan sebagai tontonan yang menyentuh topik-topik yang berat. Sangat naif apabila penonton menonton serial ini dan merasa kecewa bahwa serial ini tidak membuat penonton merasa bahagia. Karena Euphoria adalah serial televisi yang dibuat untuk membuat kita berpikir keras dan panjang tentang kehidupan. Sesekali rasanya baik untuk memiliki jalur cerita SMA dan menjadi dewasa yang dibawa terlalu berlebihan, dibandingkan sesuatu yang terlalu malu-malu untuk menyentuh pengalaman sebenar-benarnya menjadi remaja.

Salsabila Athirah adalah mahasiswi jurusan Ilmu Gizi. Selain suka menulis artikel kesehatan dan nutrisi, ia giat menulis esai mengenai isu sosial, politik, dan budaya pop.