Women Lead
October 07, 2021

Hadiah dari Kana

Selama enam tahun, Kana mengisi celengan itu dengan semua uang jajannya. Hanya satu yang dia mau dari tabungannya tersebut: Membeli dua handphone.

by Ferena Debineva
Culture // Prose & Poem
Share:

Kana kecil berlarian di taman bermain. Pada usia 6 tahun, ia masih belum bisa lancar berbicara. Bahasanya terpatah-patah. Ia hanya bisa mengeja kata ‘mam’ untuk makan, ‘num’ untuk minum, dan mama. Lainnya, dia hanya bisa diam dan menunjuk, mengangguk, dan menggeleng. Ayahnya bekerja sebagai buruh pabrik mobil di pinggir kota, berupaya menghidupi Kana dari upah menyambung kabel.

Kana kecil tumbuh dalam rumah yang sederhana. Di usianya yang ke 11, dia masih tidak bisa lancar berkata-kata, tapi ia lancar menulis. Setiap kali ia berbicara, teman-temannya mengejek dan menertawakannya.

Kana hidup berpindah-pindah, bukan kota, melainkan rumah kontrakan setiap kali harga sewanya naik. Setiap pindah, ada satu barang yang tidak pernah ia tinggalkan dan tidak pernah ia buka: Celengan ayam yang besar sekali. Dulu pada ulang tahunnya yang ke-10, saat Kana menjadi juara kelas, ayahnya memberikan celengan yang sudah lama ia minta itu. Hadiah itu ayahnya beli dari tukang gerabah yang menjual barang-barang bekas. Setiap pulang sekolah, Kana sengaja berjalan memutar dan mampir untuk memastikan celengan ayam itu masih ada di sana, di rak pojok berdebu nomor kedua dari bawah.

Baca juga: Meneguk Air Mata

Kana selalu mengisinya dengan seluruh uang jajan setiap hari. Di sekolah, Kana biasanya hanya menunggu di sebelah warung kantin yang menjual gorengan, menunggu sisa remahan gorengan, atau sisa gorengan yang gosong dan tidak laku dijual. Kadang-kadang, penjaga kantin yang merasa kasihan dengan Kana memberikan gorengan lebih untuk Kana bawa pulang. Kana kecil menenteng gorengan itu sambil menyanyi dalam hati. 

Terakhir kali ia pindah, celengan ayam itu adalah satu-satunya barang yang Kana peluk erat-erat. Kana pernah melihat ayahnya berusaha mencongkel celengan itu dengan penggaris, dan sejak saat itu, ia menangis dan selalu tidur sambil memeluk celengannya. Ayahnya pernah bertanya untuk apa ia menabung dan bukannya membeli jajanan seperti anak-anak lainnya. Kana hanya menggeleng dan menunjuk dasar celengan ayamnya. HANDPHONE. Itu saja yang ditulisnya. Ayahnya kemudian mengangguk-angguk dan kembali tidur.

Tahun berlalu dan celengan itu kian berat. Diam-diam ayahnya sering memasukkan uang lemburnya ke dalam celengan itu. Kana pun mulai bekerja serabutan untuk menambah uang di celengannya. Setiap hari sepulang sekolah, Kana bekerja sebagai tukang setrika di ruko tetangganya yang mempunyai usaha cuci baju kiloan. Atau ketika hujan, Kana berlari ke jalan dan menjual jas hujan. 

Di usia Kana yang ke 15, celengan ayam itu hampir penuh. Kana menangis dan takut ketika ia mengetahui hal ini.

Seminggu sebelum hari ulang tahunnya yang ke-16, Kana mengambil satu plastik hitam besar dan sebuah palu. Dilayangkannya palu besar itu ke celengan ayam tersebut. Kana mengambil dan menghitung setiap uang dari celengan yang ia pindahkan ke kantong plastik besar. Di akhir, senyumnya melebar dan matanya berkaca-kaca. Ia membawa kantong plastik besar itu di tas sekolahnya, dan berjalan ke ruko di perempatan. 

Baca juga: Ibu Sudah Melawan

Dia memesan dua buah handphone yang sama persis, membolak-baliknya sebentar, dan mengaktifkan keduanya. Sepanjang jalan, ia mengambil banyak sekali foto: Pohon, jalan, gapura, bendera partai yang sudah rusak, bunga, plang gang masuk ke kontrakannya, warung makan, langit, rumah petak kontrakannya, dan banyak sekali swafoto dirinya.

Tepat di hari ulang tahunnya yang ke-16, Kana bersiap dengan baju sekolahnya. Tapi hari itu dia tidak pergi ke sekolah. Kana telah bertahun-tahun menunggu hari ini. Ia mengambil beberapa sekop dan memasukkannya ke dalam tas sekolahnya, lalu pergi ke tempat yang selama ini ingin sekali dia datangi. 

Ayahnya berhenti mengajaknya ke tempat ini ketika Kana berumur lima tahun. Ayahnya hanya berkata, sudah waktunya Kana melupakan tempat itu dan melanjutkan hidup seperti biasa. Kana menggenggam erat tas yang ia letakkan di dadanya, sambil berkaca-kaca ia melangkah setengah berlari.

Hari itu, ia datang ke makam ibunya untuk merayakan hari ulang tahunnya sekaligus hari kematian ibunya. Ibunya masih seumur dia ketika melahirkan Kana.

Kana mengeluarkan sekop dan mulai menggali, mengotori baju sekolahnya dengan tanah merah yang menempel di sana-sini. Kana terus menggali, kemudian memasukkan salah satu handphone yang sudah dia isi dengan foto-foto yang ia ambil banyak sekali. Ia kemudian mengubur kembali handphone tersebut, tersenyum, dan berkata, 

“Ibu, telepon aku ya, aku ingin mendengar suaramu.”

Ferena Debineva sering kali dipaksa menulis oleh teman-temannya yang suportif namun kompetitif.