Women Lead
October 28, 2020

Homofobia dan LGBT yang ‘Mengganggu’

Ada unsur homofobia dalam pernyataan "bisa menerima LGBT asalkan tidak mengganggu".

by Budi Winawan
Issues
Share:

Sebagai seorang gay, saya sering kali mendapat komentar "gue sih enggak apa-apa sama yang gay, asal mereka enggak gangguin gue aja". Saya tidak bisa tidak terusik karena yang pertama kali melintas dalam benak mereka ketika mereka bilang mereka "baik-baik saja" hidup berdampingan dengan teman-teman gay adalah gangguan. Kalimat tersebut seolah mengisyaratkan bahwa umumnya kelompok gay (dan minoritas seksual dan gender lainnya) adalah kelompok yang mengganggu.

Padahal sebaliknya, adalah kelompok cis-heteroseksual yang sering kali "mengganggu" kelompok LGBT. Merekalah yang sering kali mengejek kami bencong, meneriaki kami homo, menghujani kami dengan ayat-ayat suci, mengungkap identitas kami tanpa persetujuan, dan banyak hal lain yang berakibat sangat buruk bagi diri kami sendiri, mulai dari kehilangan kepercayaan diri, kehilangan lahan pekerjaan, hingga kehilangan semangat untuk melanjutkan hidup.

Lagi pula, bukankah "asalkan tidak mengganggu" seharusnya adalah prinsip hidup yang diterapkan secara umum? Tapi mengapa "ketentuan" tersebut hanya disematkan pada orang-orang LGBT? Kita tidak pernah menemukan kalimat "kami tidak punya masalah dengan kaum heteroseksual selama mereka tidak mengganggu kami". Maka jelaslah ada unsur homofobia dalam pernyataan "bisa menerima LGBT asalkan tidak mengganggu".

Definisi "mengganggu" yang disematkan pada orang-orang LGBT oleh orang-orang cis-heteroseksual pun tak jarang terlalu berlebihan. Beberapa waktu lalu saya menemukan sebuah video di TikTok di mana seorang laki-laki heteroseksual merasa kesal ketika orang-orang gay membanggakan identitas seksualnya. Orang itu bilang sebaiknya kami menyimpan identitas kami untuk diri kami sendiri. Saya sudah sering mengatakan ini; ketika kita tidak mengungkap identitas seksual kita, masyarakat akan otomatis beranggapan bahwa kita adalah seorang heteroseksual. Mengingat betapa sulitnya kami menjangkau satu sama lain, maka adalah penting bagi kami untuk mengungkap identitas seksual kami sendiri, termasuk di platform yang terbuka seperti media sosial.

Baca juga: Pelecehan Seksual Dianggap Normal, Kecuali Dilakukan oleh Pria Gay

Ada banyak sekali masalah yang terjadi pada setiap individu LGBT yang hanya bisa dimengerti oleh kelompok kami sendiri, sehingga penting bagi kami untuk saling menemukan. Sementara soal bangga, menerima diri sendiri apalagi sambil menghardik segala hinaan bukanlah sesuatu yang mudah bagi kami. Ketika kami bisa melakukannya, tentu saja kami membanggakannya. Ini juga untuk menginspirasi teman-teman kami yang masih ketakutan, kesepian, dan tidak punya harapan semata karena identitas gender dan orientasi seksual mereka.

Tentu saja hal tersebut bukannya tidak berisiko, mengingat lingkungan di negeri ini yang masih begitu opresif bagi kelompok minoritas termasuk LGBT. Tapi melarang kami untuk mengungkapkan identitas kami adalah pertanda bahwa laki-laki heteroseksual di TikTok tersebut beranggapan bahwa LGBT adalah sesuatu yang salah (meskipun dia pikir dia tidak berpikir demikian). Atau dengan kata lain, dia homofobik.

Orang heteroseksual kegeeran

Gangguan lain yang dimaksud oleh orang-orang heteroseksual adalah orang-orang gay suka atau sering menggoda mereka. Ini juga tergolong homofobik. Karena ini artinya mereka beranggapan seolah-olah kebanyakan orang-orang gay suka menggoda semua laki-laki termasuk laki-laki heteroseksual. Beberapa orang yang dengan keras menolak, gay bahkan sampai berpikiran "takut pantat gue disodok". Lucu bagaimana mereka langsung memosisikan diri mereka sebagai bottom dalam skenario gila itu (tidak "salah", hanya lucu saja).

Baca juga: Apakah Kelompok LGBT Memang ‘Ngelunjak’?

Tidakkah mereka sadar bahwa kami bukan pemerkosa dan kami juga punya selera? Kalau mengacu pada stereotip saja, maaf-maaf, tapi setidaknya bagi saya dan teman-teman saya yang juga gay, laki-laki heteroseksual banyak sekali yang (sangat) tidak menarik. Tapi bahkan ketika kami berpikir demikian pun, kami tetap bersikap ramah karena toh laki-laki heteroseksual yang baik dan bisa dijadikan teman juga ada. Lagi pula jika kami tidak ramah, bisa-bisa yang mendapat cap buruk bukan hanya kami sebagai individu, tapi juga semua orang gay. Sayangnya, kami juga kadang merasa seperti serba salah. Sedikit keramahan yang kami tunjukkan cukup sering membuat orang-orang heteroseksual kegeeran. Mereka sering kali menganggap kami sedang "menggoda" mereka.

Tapi, haruskah kami beranggapan bahwa semua laki-laki adalah laki-laki heteroseksual? Haruskah kami hanya "menggoda" orang-orang yang sudah jelas homoseksual, sedangkan kami masih sering tidak tahu siapa saja yang homoseksual? Sungguh ironis jika orang-orang heteroseksual berpikir demikian, apalagi mereka juga yang bilang bahwa identitas seksual itu sebaiknya disimpan sendiri saja.

Saya rasa kami tidak harus beranggapan bahwa semua laki-laki adakah laki-laki heteroseksual. Saya juga merasa laki-laki heteroseksual sebaiknya tidak tersinggung bila dikira gay, apalagi ketika mereka merasa diri mereka adalah sekutu LGBT. Mereka bisa kok menyanggah dengan baik-baik. Atau kalau mereka tidak yakin apakah seorang gay sedang semata ramah atau sedang menggoda, mereka bisa  bertanya langsung secara pribadi "maaf, apa kamu sedang menggoda saya?" atau "apa kamu mengira saya gay?". Kalau mereka sampai merasa sangat defensif, merasa terhina, apalagi sampai menyerang orang yang mengira mereka gay, itu termasuk homofobia.

Berhentilah menganggap orientasi seksual dan identitas gender kami buruk hanya karena segelintir individu, dan berusahalah tidak menganggap diri kalian penting, spesial, dan menarik untuk kami “ganggu”.

Pribadi sensitif

Banyak individu LGBT yang sensitif. Dan kalau kalian masih belum paham atau bahkan belum bisa sekadar menebak mengapa, mari saya beritahu. Itu karena kami tinggal di masyarakat yang menganggap kami salah. Sejak usia dini, bahkan banyak yang hingga usia senja, kami kesulitan menerima diri kami sendiri. Ketika kami mencoba, suara-suara di luar berkata kami salah, aneh, sakit, dosa, dll. Ketika kami berhasil menerima diri kami sendiri dengan segala usaha keras kami, orang masih menganggap identitas kami tidak valid dan berusaha menjatuhkan kami. Atau sebaliknya, menganggap identitas seksual kami sebagai satu-satunya yang valid sementara yang lain (seperti prestasi, bakat, dsb.) tidak valid.

Kalau masih belum terbayang juga beratnya, saya ingatkan bahwa ini terjadi di setiap lingkungan yang kami tinggali—sekolah, rumah, tempat kerja, kampus, di kampung, dll. Ini juga terjadi seumur hidup kami. Belasan tahun. Puluhan tahun. Setiap hari. Bohong kalau kami bilang kami tidak butuh pengertian dari orang-orang heteroseksual. Bohong kalau kami bilang kami merasa sangat bersalah karena menjadi pribadi yang sensitif.

Maka berusahalah untuk tidak memiliki prasangka. Jika memang punya, tanyakan pada kami secara pribadi soal kebenarannya. Melakukannya di platform yang terbuka bukan hanya akan menyebabkan kami dirundung oleh lebih banyak lagi orang dan membuat mental kami sebagai individu sangat hancur, tapi juga sangat berpotensi menyebarkan ide yang salah tentang kelompok LGBT. Sebuah tindakan yang termasuk homofobik.

Baca juga: Urgensi 'Coming Out' Bagi Visibilitas LGBTIQ di Indonesia

Percayalah, kami masih punya banyak masalah dalam kelompok kami sendiri, yang bahkan tidak sepenuhnya bersentuhan dengan orang-orang cisgender dan heteroseksual (walau bisa dibilang akarnya dari kultur tersebut). Kami masih cukup kerepotan dengan masalah di dalam lingkaran kami sendiri dan masih berusaha menanganinya. Maka berhentilah berasumsi bahwa kelompok LGBT pada umumnya suka mengganggu cis-heteroseksual.

Saya tidak menampik, bahwa memang ada orang-orang dari kelompok kami yang betulan suka "mengganggu". Namun sebagaimana seorang cisgender dan heteroseksual yang mengganggu tidak dipermasalahkan gender dan orientasi seksualnya, kami juga ingin diperlakukan seperti itu. Berhentilah menganggap orientasi seksual dan identitas gender kami buruk hanya karena segelintir individu, dan berusahalah tidak menganggap diri kalian penting, spesial, dan menarik untuk kami "ganggu".

Mungkin istilah homofobia terasa membingungkan dan membuat kalian jadi merasa serba salah dalam bertindak. Oh, percayalah kami JAUH lebih merasa serba salah. Menurut saya, jangan fokus pada istilahnya, fokuslah pada apa yang kelompok LGBT rasakan akibat kata-kata dan perbuatan kalian. Jika kalian merasa tidak yakin, bertanyalah.

LGBT dan cis-heteroseksual mungkin sulit untuk bisa sepakat mengenai apa itu homofobia, tapi jika kelompok LGBT merasa sakit hati, tertekan, marah, bahkan hidup kami berantakan karena kalian, minta maaf dan belajarlah untuk bersikap lebih baik lagi.

Budi Winawan adalah seorang penyair digital yang biasa membacakan puisi-puisi buatannya sendiri di podcast Sajak Virtual. Baru-baru ini dia juga mengklaim dirinya sebagai SJW dan membuat podcast Review SJW yang membahas isu sosial dan budaya, juga politik dan lingkungan yang ada dalam film, serial televisi, dan budaya pop lainnya. Dengarkan dia di Spotify dan platform podcast lainnya.