Women Lead
February 23, 2021

Ini Alasan Kenapa Lara Jean dan Peter Kavinsky Layak Disebut ‘Power Couple’

Lara Jean dan Peter Kavinsky dalam trilogi film ‘To All The Boys’ adalah ‘power couple’ karena kedewasaan dan kesadaran akan hubungan yang sehat.

by Selma Kirana Haryadi
Culture // Screen Raves
To All The Boys Lara Jean Peter Power Copule
Share:

Film percintaan remaja sering kali dipenuhi drama-drama lebay atau pertengkaran dramatis, dan tidak  banyak yang menyoroti perkembangan karakternya. Ada juga pasangan-pasangan #relationshipgoals di film tapi setelah dipikir-pikir lumayan toksik.

Trilogi To All the BoysTo All The Boys I’ve Loved Before (2018) dan To All The Boys (P.S. I Still Love You) (2020), dan To All The Boys: Always and Forever (Feb. 2021), menyajikan kisah percintaan remaja yang manis dan sederhana, tapi juga hangat dan sehat. Satu lagi yang perlu dipuji dalam film ini adalah representasi aktor-aktor Asia Amerika yang masih jarang ditemui dalam industri film arus utama.

Lara Jean Song Covey (Lana Condor) dan Peter Kavinsky (Noah Centineo), dikisahkan sebagai dua orang yang bisa saling mendukung dan mendengarkan. Sama-sama dibesarkan oleh orang tua tunggal, mereka membangun pengertian dan komunikasi yang baik, yang bisa dicontoh oleh remaja. Ini lah power couple yang bisa jadi panutan, dengan posisi mereka yang setara.

Jika film pertama menyoroti dua remaja berbeda latar belakang yang tanpa disangka-sangka saling jatuh cinta, dan film kedua menavigasi relasi keduanya dengan bumbu cinta segitiga, film penutup ini membawa pasangan ini ke persimpangan jalan.

Konflik yang diangkat dalam film ketiga ini cukup representatif bagi anak-anak tahun terakhir SMA yang ada di penghujung pembuatan keputusan karier dan masa depan mereka, yaitu menentukan tempat kuliah. Lara Jean dan Peter semula memiliki rencana untuk berkuliah di tempat yang sama, Stanford University, tempat Peter mendapatkan beasiswa dari olahraga lacrosse.

Baca juga: Galau sama Kerjaan dan Karier? Tonton 5 Romcom Ini

Tapi, kenyataan berkata lain, karena Lara Jean tidak diterima di Stanford, meski ia anak pintar. Ia diterima di New York University, yang memiliki program dan kurikulum yang sesuai minat dan rencananya, dan ada di kota yang begitu berbudaya dan dinamis. Tapi, baik Lara Jean maupun Peter memiliki ketakutan menjalani long distance relationship (LDR).


Semula, kita sempat dibuat gemas karena Lara Jean yang sejak awal film digambarkan begitu berdaya dan tidak menye-menye, hampir memutuskan untuk memilih kampus yang lebih dekat dengan Peter. Tapi mungkin ini adalah penggambaran yang realistis, bagaimana remaja sering kali kita membuat keputusan hidup jangka panjang karena pengaruh pacar, teman-teman, atau lingkungan sekitar. Itu sering kali dilakukan karena ada perasaan ingin diterima, juga perasaan meragukan keputusan dan nilai-nilai diri kita sendiri.

Proses refleksi dan dinamika pasangan ini dalam mengatasi konflik ini cukup menyentuh karena meski masih ada respons emosional layaknya remaja, mereka memiliki komunikasi yang baik hingga akhirnya mencapai sebuah resolusi.

To All The Boys: Always and Forever Soroti Trauma dan Luka Masa Kecil

Sejak film pertama, kita sudah diberi tahu bahwa Lara Jean besar dengan ayah tunggal karena ibunya meninggal saat dia kecil. Sementara Peter tumbuh dengan ibu tunggal karena sang ayah meninggalkan Peter beserta adik dan ibunya untuk membina keluarga baru. Di film ketiga inilah kita diajak untuk melihat bagaimana pergolakan emosi setiap anak juga dipengaruhi oleh latar belakang keluarga, dan tak jarang, luka masa kecilnya.

Baca juga: Film Remaja 'Unpregnant' Bicara Soal Tubuhku Otoritasku

Kesamaan latar belakang membuat Lara Jean dan Peter memiliki trauma yang sama tentang kehilangan dan ditinggalkan. Terutama bagi Peter yang ditinggalkan karena pilihan, luka yang ditinggalkan lebih mendalam karena ia merasa tidak dijadikan pilihan oleh orang yang benar-benar ia sayangi. Trauma masa kecil ini juga membuat kita memahami sikap Peter yang begitu skeptis tentang keberhasilan dari hubungan jarak jauh itu.

Inilah salah satu konflik yang mengandung esensi terbesar tentang teman yang baik dan telinga yang mendengarkan di hidup setiap anak. Untungnya, Lara Jean dan Peter menemukan tempat curhat dan kenyamanan di dalam diri satu sama lain, sehingga mereka tumbuh menjadi support system yang memahami sudut pandang masing-masing.

Bersama Lara Jean, Peter bisa membicarakan kisah sedih yang sebenarnya tidak ingin dia ingat lagi.  Sementara Lara Jean berhasil membuat dirinya menjadi teman diskusi yang baik dan penuh empati, dengan selalu memvalidasi perasaan benci tapi rindu yang Peter rasakan terhadap ayahnya. Tapi dia juga tidak membuat Peter larut dalam kebencian dan dendam, malah memberi masukan agar Peter tidak terus menghindari sang ayah. 

Rasa sayang dan penghargaan Lara Jean dan Peter terhadap satu sama lain membuat keduanya tidak saling meninggalkan. Sepanjang apa pun waktu yang dibutuhkan untuk menemukan jawaban, begitu pencarian diri selesai, keduanya selalu kembali untuk satu sama lain. Tak heran, Lara Jean dan Peter diberi julukan power couple oleh teman-teman yang mengagumi kemampuan mereka untuk menjalani hubungan yang dewasa dan tetap cute di waktu bersamaan.

Baca juga: ‘Hospital Playlist’ Meredefinisi Komitmen Lewat Konflik yang Humanis

Meski begitu, chemistry yang kuat antara keduanya tidak benar-benar digali di film ketiga ini. Ada banyak momen yang bisa dimanfaatkan untuk menggambarkan perjalanan mereka sebagai sepasang kekasih, tapi dilewatkan dengan alur penyelesaian masalah yang terlalu disederhanakan.

Misalnya, waktu keduanya sempat putus, tahu-tahu Peter dengan mudahnya datang ke rumah Lara Jean dan mengaku salah. Padahal jika dibuat seperti film pertama, dengan pertentangan batin yang cukup kompleks, hal ini bisa lebih menggambarkan perjalanan pendewasaan yang tidak mudah namun lebih sehat.

Dan jangan lupakan adegan saat keduanya berfoto di photobox, lalu lempar-lemparan tentang siapa yang harus menyimpan foto itu. Padahal solusinya jelas ada di depan mata: Empat foto itu tinggal dipotong menjadi dua bagian, sehingga keduanya bisa sama-sama menyimpannya.

Meski demikian, Lara Jean dan Peter tetap power couple, di samping segala celah yang mereka miliki sebagai anak remaja di masa peralihan. Mereka memang tidak sempurna. Masih ada ego-ego kekanakan yang kadang mempengaruhi cara mereka berpikir dan bersikap. Tapi itu yang membuat mereka, serta film ini, jadi begitu menggemaskan dan kita tidak keberatan jika sampai ada sekuelnya lagi.

Selma adalah penyuka waktu sendiri yang masih berharap konsepsi tentang normalitas sebagai hasil kedangkalan pemikiran manusia akan hilang dari muka bumi.