March 26, 2020

Jangan Tekan Kecemasan: Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Krisis Corona

Wabah corona mempersulit orang-orang yang sudah memiliki gangguan kesehatan mental.

by Siti Parhani, Reporter
Lifestyle // Health and Beauty
Mental Health_Depression_Anxiety_SarahArifin
Share:

Suara bisikan yang muncul di benak “Ratih” tidak lagi terdengar setelah ia menuntaskan terapi dengan psikiater Desember lalu. Namun belakangan, suara bisikan yang membuatnya berhalusinasi itu kembali didengar Ratih, yang didiagnosis memiliki Major Depresive Disorder (MDD) dua tahun lalu. Ia pun kembali meminum obat dari psikiater karena sejak membaca berita tentang pasien yang berjatuhan selama wabah virus corona (COVID-19), ia dilanda kegelisahan, kecemasan, dan ketakutan.

“Baca berbagai informasi mengenai banyaknya korban meninggal, itu saja sudah depressing banget, bikin anxiety (kecemasan) kambuh, ngebayangin jadi keluarganya gimana,” ujar Ratih, 26, kepada Magdalene (24/3).

Gangguan kecemasan berlebih atau anxiety karena krisis corona juga menimpa Lisa, yang mengalami serangan panik sampai badannya mengigil ketakutan. Hal itu terjadi akhir-akhir ini setiap kali ia membaca berita mengenai korban yang meninggal karena COVID-19. Lisa, yang didiagnosis mengalami Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD), itu tidak sanggup membayangkan banyaknya orang yang terimbas wabah ini.

“Saya selalu berpikir untuk meminta ke Tuhan agar mati duluan karena saya enggak akan sanggup lihat ini semua. Takut tertular dan menulari orang terdekat karena virus ini,” ujarnya dengan emosional.

Sebuah pandemi selain memakan banyak korban yang sakit dan tewas juga berdampak besar pada kondisi psikologis masyarakat, terutama di daerah yang dijangkitinya. Rasa cemas, takut, dan kehilangan menjadi paket yang harus siap-siap diterima oleh semua orang tanpa terkecuali.

Berkaca pada wabah pandemi H1N1 atau flu burung terjadi secara global pada 2009 lalu, sebuah penelitian di Amerika Serikat yang berjudul Psychological Predictors of Anxiety in Response to the H1N1 (Swine Flu) Pandemic menunjukkan bahwa gangguan psikologis ketika terjadi pandemi terbagi menjadi dua. Pertama, ketakutan akan tertular yang menyebabkan orang menjaga kebersihan secara berlebih (health anxiety). Kedua, kecemasan psikologis karena situasi yang chaos serta karantina dalam waktu lama, yang berujung pada gangguan fisik.

Baca juga: Wabah Corona Langgengkan KDRT, Hambat Penanganan Kasus

Psikiater Rina Sugiyanti dari RS Islam Yogyakarta PDHI mengatakan, adanya perubahan yang terjadi hampir di semua aspek kehidupan secara mendadak serta dalam jangka waktu yang tidak menentu menimbulkan reaksi kecemasan bagi semua orang. Umumnya orang akan mengalami psikosomatik, atau kondisi atau gangguan ketika pikiran memengaruhi tubuh, hingga memicu munculnya keluhan fisik. Secara ilmiah diakibatkan oleh bagian otak bernama amygdala atau pusat rasa cemas bekerja terlalu keras, ujarnya.

“Misalnya ada orang yang terpicu maag yang dideritanya karena ada masalah psikis,” ujar Rina kepada Magdalene.

Orang-orang  yang sudah memiliki kondisi kesehatan mental sebelumnya menjadi dua kali lebih rentan terkena depresi, meskipun fase pengobatan sebelumnya sudah berhasil meredam masalah kesehatan mereka. Gejala anxiety, panic attack, dan stres lebih mudah muncul dalam waktu yang tidak terduga, sehingga kondisi fisiknya juga ikut menurun.

“Natasha”, misalnya, mengalami serangan panik, atau merasa sangat takut atau gelisah berlebihan secara tiba-tiba ketika mendengar berita bahwa ada tiga orang di daerah sekitar rumahnya terkonfirmasi positif COVID-19. Dalam serangan seperti itu, Natasha biasanya kesulitan berbicara, yang diperparah oleh kondisi insomnia.

“Kalau saya panik, cara bicara saya jadi enggak jelas. Ibaratnya, otak saya dan mulut saya balapan. Bahkan suami saya sering enggak ngerti konteks dari apa yang saya bicarakan,” ujarnya.

Kepanikan ini diperparah oleh insomnia yang dideritanya. Karena sudah memengaruhi fisiknya, mau tak mau Natasha harus kembali ke psikiater dan meminum obat agar ia bisa tidur lebih lelap. Padahal ia telah berhenti mengonsumsi obat dari psikiater sejak Januari lalu.

Akses kesehatan dan pembatasan sosial

Adanya imbauan pembatasan sosial dan kerja dari rumah membuat sejumlah pasien kesehatan mental kesulitan untuk mengakses terapi. Beberapa orang, seperti Lisa, kemudian hanya dapat mengandalkan interaksi lewat WhatsApp. Yang lainnya, seperti Binky Bee, yang memiliki gangguan bipolar, tetap melakukan sesi terapi dengan psikiaternya lewat panggilan video.

“Ini saat yang sulit karena biasanya kecemasan itu hanya ada di pikiran kita, padahal kenyataannya tidak seburuk itu. Tapi sekarang, kenyataan lebih buruk daripada apa yang ada di pikiran kita,” ujar salah satu kontributor Magdalene itu.

Baca juga: Kerja dari Rumah Saat Krisis Corona: Sistem Susah-susah Gampang

Sebagai seorang pekerja lepas, dampak ekonomi dari pembatasan sosial ini cukup membuat anxiety-nya kambuh. Ia merasa cemas memikirkan masa depan pekerjaannya yang terancam hilang akibat banyaknya proyek yang dibatalkan. Efeknya, ia menjadi lebih pemarah, mudah curiga, dan overthinking.

Binky juga merasa kewalahan dengan orang-orang yang terus-terusan menghubunginya dan mengajak mengobrol.

Ia sendiri telah terbiasa melakukan pembatasan sosial karena sejak didiagnosis pada 2001, ia lebih menarik diri dari publik dan berinteraksi seminim mungkin dengan orang lain. Hal ini dilakukannya sebagai cara untuk mengontrol emosi berlebihan yang kerap kali muncul. Rumah, bagi Binky, menjadi tempat di mana sebagian besar waktunya dihabiskan.

“Orang-orang mungkin enggak biasa di rumah dan tahu aku di rumah terus jadinya gangguin terus, WhatsApp melulu, padahal biasanya mereka sibuk dengan dunianya sendiri. Lama-lama terganggu juga,” ujarnya.

Lain lagi bagi “Dinda”, 23, yang didiagnosis memiliki PTSD sejak 2018. Baginya, tinggal di rumah akibat pembatasan sosial adalah mimpi buruk yang menjadi kenyataan akibat lingkungan keluarga yang toksik dan relasi yang buruk dengan orang tua yang otoriter.

Kerja dari rumah dan menghabiskan waktu di rumah seharian membuat kecemasannya meningkat. Ia pun hanya bisa menangis ketika panic attack melandanya.

“Stres dan frustrasinya jadi berlipat-lipat kalau di rumah. Belum lagi kalau ke-trigger karena berita COVID-19,” ujar Dinda.

Kecemasan jangan ditekan

Menurut psikiater Rina, ada beberapa hal yang sebaiknya dilakukan untuk meminimalisir kecemasan di tengah situasi yang tidak menentu ini. Pertama, kita harus menerima bahwa kecemasan itu melanda semua orang secara global, bukan hanya lingkungan sekitar kita saja, sehingga kecemasan yang dirasa harus diwajarkan.

“Ketika kita melihat sesuatu yang dalam takaran kewajaran, itu biasanya bisa menghilangkan efek cemas. Kalau tidak ditanamkan begitu nanti kita akan merasa jadi orang paling terpuruk karena wabah pandemi ini,” ujar Rina.

Baca juga: ‘Freelancers’ dalam Krisis Corona dan Tips Atasi Tantangan Keuangan

Kedua, sudah saatnya kita menyaring arus informasi yang kita konsumsi sehari-hari. Kurangi kecemasan dengan membatasi menonton, membaca atau mendengarkan informasi yang disajikan secara berlebihan. Jangan sampai amygdala kita bekerja keras mengolah informasi yang hanya membuat kita takut dan terpuruk, kata Rina.

Ketiga, fokus pada kegiatan rutin sehari-hari. Meski sekarang ini segala sesuatunya sudah dibatasi namun sebisa mungkin kita tetap fokus mengerjakan rutinitas semaksimal mungkin. Hindari terus menerus merepresi rasa cemas dalam keterpurukan. Jika memang merasa perlu konsultasi bisa menggunakan berbagai sarana layanan kesehatan daring.

Psikolog Klinis dari Universitas Indonesia, Mellia Christia mengatakan, penting bagi kita untuk memberi ruang diri untuk menyesuaikan dengan perubahan. Sebagian orang mungkin tidak biasa bekerja dari rumah, sehingga timbul stres saat pertama kali mencobanya.

“Semua rutinitas pasti akan berubah dan orang butuh menyesuaikan diri. Take your time untuk bisa belajar,” ujar Mellia.

Meluangkan waktu untuk melakukan kegiatan sederhana untuk relaksasi juga tidak kalah penting. Hal-hal yang kita sukai dan ingin kerjakan sebelum pandemi namun terhalang jam kerja kantor bisa mulai dilakukan, seperti memasak, menonton film, atau hanya sekedar rebahan, kata Mellia.

Terkait kondisi rumah yang kurang kondusif karena keruwetan relasi dengan orang tua toksik, opsi pertama yang bisa dicoba adalah rekonsiliasi dengan berdialog. Namun jika cara itu masih gagal, mencari tempat perlindungan lain seperti indekos atau asrama bisa menjadi pilihan.

“Yang terpenting tetap kesehatan mental kamu. Memang sulit untuk menemukan titik tengah untuk orang-orang yang berkonflik dengan keluarga,” ujar Mellia.

Terakhir, dan yang paling penting adalah, menjaga hubungan sosial tetap harus dilakukan, apalagi sekarang sudah ada teknologi yang membuat manusia terus terkoneksi.

“Karena pada dasarnya kita makhluk sosial, jadi tetap butuh interaksi dengan orang lain. Ketika interaksi dilarang, itu salah satu sumber yang bikin stres. Jadi tetaplah berinteraksi dengan orang lain, dengan teman, dengan keluarga, dan tetangga,” ujarnya.

Siti Parhani merupakan reporter Magdalene. Bisa dipanggil Hani. Mempunyai cita-cita utopis bisa hidup di mana latar belakang manusia tidak jadi pertimbangan untuk menjalani hidup.