Women Lead
September 01, 2021

‘Kalau Kamu Nolak, Nanti Aku Makin Parah’: Modus Pelecehan Berdalih ‘Sakit’

Pasangan suka memakai alasan kesehatan mentalnya untuk membuatmu melakukan aktivitas seksual? Hati-hati, bisa jadi kamu kena modus kekerasan.

by Patresia Kirnandita, Junior Editor
Lifestyle // Madge PCR
alasan gangguan mental dipakai untuk menipu
Share:

Kalo ada yang pake alasan “mental health” buat minta seks, percayalah… ITU DIA YANG NGARANG..” twit psikiater Jiemi Ardian, (26/8).

Dalam cuitannya di Twitter tersebut, ia menyertakan tangkapan layar akun @areajulid yang menunjukkan percakapan dua orang, di mana salah satunya mengaku punya masalah kesehatan mental anhedonia--kondisi ketika ia tidak dapat merasakan kesenangan atas segala hal dalam hidupnya. Kepada lawan bicaranya, ia mengutip psikolognya, untuk mengatasi masalah mood-nya yang tidak stabil, saat ereksi, ia harus mencari pelampiasan. Ia bilang tidak bisa melakukannya sendiri (masturbasi), karena itulah, psikolognya menyarankan dia untuk mencari teman yang “terbuka” dan mau menyaksikannya masturbasi. Dari situ ia meminta si lawan bicara untuk menolongnya karena ia sudah merasa tersiksa.

Jiemi menampik pernyataan orang itu, “Kagak ada psikolog/psikiater nyuruh ngeluarinlah, ngesekslah. Udah banyak cerita macem gini, jangan lagi ada yang mau diboongin.”

Modus kekerasan seksual dengan dalih seseorang punya penyakit ini rupanya ditemukan juga oleh sebagian orang yang membagikan ceritanya saat mengomentari cuitan Jiemi. Dalam kasus lain, ada yang mengaku mengidap leukimia, sehingga harus mengeluarkan “darah putih”-nya ke sang pacar. Tahun lalu, ada kasus “Gilang Bungkus”, mahasiswa semester 10 di Surabaya yang melakukan pelecehan seksual berkedok riset kepada sejumlah orang--kebanyakan mahasiswa baru. Kepada salah satu korbannya, Gilang mendesak dia untuk melakukan permintaannya dengan alasan dia bisa meledak dan “penyakitnya” akan kambuh bila si korban menolak.

Baca juga: Dilema Pacaran dengan Pengidap Gangguan Kesehatan Mental

Kenapa Seseorang Bisa Terjebak Lewat Modus Ini?

Alasan sakit seperti ini memang ampuh dipakai untuk mengelabui sebagian korban karena pelaku memanfaatkan rasa iba yang muncul setelah ia mengatakannya. Ditambah lagi bila pelaku punya posisi lebih tinggi, sosok yang diidolakan, serta cerdik merangkai cerita, seseorang semakin mungkin terperangkap dan tidak sadar bahwa dirinya telah mengalami kekerasan seksual. 

Peluang terjebak akan semakin besar bila pelaku berstatus sebagai pasangan seseorang, sehingga ia mungkin menggunakan jurus “atas nama cinta” untuk menuntut pasangannya melakukan apa yang ia mau.

Hal ini diperparah dengan minimnya pengetahuan seseorang tentang isu kekerasan seksual dan kesehatan mental. Ketika ini terjadi, ia bisa mengira apa yang dilakukan pelaku masih wajar, apalagi bila status mereka berpacaran. Karena merasa tidak tega atau bertanggung jawab atas kondisi pacar, mereka akan mau melakukan hal yang diminta pacarnya kendati mungkin sebenarnya mereka merasa tidak nyaman. Bila mereka mengungkapkan ketidaknyamanannya ini kepada orang lain, ada peluang mereka tidak dipercaya juga karena orang berpikir dalam relasi pacaran, sesuatu itu terjadi atas dasar suka sama suka. Situasi akhirnya menjadi serba salah baginya.

Dalih kesehatan mental yang dipakai pelaku untuk melakukan kekerasan seksual ini adalah salah satu bentuk gaslighting atau manipulasi. Dalam artikel Vice berjudul “Sorry, Your ‘Mental Illness’ Is No Excuse for Sexual Abuse”, dikatakan pelaku bisa saja mengaku dirinya merana dan tidak ada yang memperhatikannya, dan hanya korban lah yang bisa membuat dia bahagia. Selain itu, pelaku bisa sedemikian rupa membuat si korban merasa bersalah atas kondisi buruk yang sedang dialaminya.

Baca juga: Menemani Orang dengan Gangguan Mental

Masalah Mental Tidak Jadi Alasan Untuk Lakukan Kekerasan

Setelah sejumlah perempuan termasuk selebritas Hollywood melaporkan tindak kekerasan seksual produser Harvey Weinstein ke publik, laki-laki itu menggunakan alasan punya masalah ketergantungan seks untuk tindakan buruknya. Menurut psikolog Alaokika Bharwani dalam artikel First Post, hal tersebut tidak bisa dibenarkan. 

“Punya ketergantungan tidak jadi alasan untuk berlaku buruk, dan tidak semua dengan dorongan seksual tinggi adalah predator. Perilaku seksual menjadi suatu kejahatan saat seseorang melecehkan atau memperlakukan orang lain dengan buruk secara seksual,” tulis Bharwani. 

Ia menekankan, sementara ketergantungan adalah masalah psikologis dan bukan tindak kriminal, pelecehan tetap tergolong tindak kejahatan dan itu tidak bisa ditoleransi.

Pemisahan antara masalah mental dan kekerasan seksual terlihat pula dari pernyataan di Diagnostic and Statistical Manual (DSM) of Mental Disorder V--kitab suci yang dipakai ahli psikologi dalam mendiagnosis--yang menekankan pemerkosaan bukanlah masalah mental, melainkan murni kekerasan. Dilansir Psychiatric Times, American Psychiatric Association (APA) sudah berulang kali menegaskan hal ini dalam DSM edisi-edisi sebelumnya sehingga tidak seharusnya ada keringanan hukuman atas nama masalah mental bagi pemerkosa. Di samping itu, DSM juga tidak memuat ketergantungan seksual sebagai gangguan mental.

Hal lain yang menegaskan bahwa masalah mental tidak menjadi alasan untuk melakukan hal buruk adalah, di luar sana, ada orang-orang yang mengalami ini dan masih bisa berperilaku baik. Bisa memahami konsep consent dan tidak memanfaatkan simpati atau rasa iba orang lain untuk memenuhi kepentingan pribadinya. 

Adanya orang-orang yang mengatasnamakan masalah mental (entah benar atau cuma pura-pura punya) untuk mendapat kepuasan seksual pribadi hanya akan mendistorsi persepsi masyarakat bahwa pengidap gangguan mental sebegitu rentannya atau punya kecenderungan melakukan kekerasan. Padahal, dua hal ini perlu dilihat secara terpisah.   

Apa yang Bisa Dilakukan Bila Menghadapi Modus Ini?

Seiring dengan tumbuhnya kesadaran akan kesehatan mental, orang-orang mungkin jadi lebih peka dan berhati-hati ketika berinteraksi dengan orang yang mengaku memiliki masalah mental. Akan tetapi yang juga harus ditumbuhkan seiring dengan kesadaran ini adalah kekritisan kita dalam menanggapi tindakan atau permintaan mereka.

Untuk bisa bersikap kritis, kita juga perlu membekali diri dengan banyak informasi tentang kekerasan seksual dan kesehatan mental. Perbekalan ini nantinya bisa dipakai untuk meng-counter kata-kata pelaku. Dalam kasus di awal tulisan tadi misalnya, kita bisa mencermati apakah benar tindakan melampiaskan hasrat seksual ke orang lain adalah salah satu metode sahih dalam Psikologi dan hanya itu yang bisa dipakai untuk mengatasi problem mental seseorang? Sementara dalam kasus seperti Gilang, pengetahuan kita akan ketertarikan seseorang secara seksual pada berbagai jenis kegiatan atau benda, bisa meningkatkan kewaspadaan ketika pelaku hendak menjalankan modusnya.

Kita juga mesti kritis untuk memilah mana kemauan yang realistis untuk diwujudkan dan tidak. Alih-alih konstruktif, sikap kita yang selalu mengikuti kemauan orang dengan masalah mental, terlebih pasangan, justru bisa menjadi hambatan bagi mereka untuk pulih. Siklus ketergantungan akan tercipta ketika kita menjadi pihak yang senantiasa diandalkannya setiap kali membutuhkan sesuatu. Padahal, kita tentu juga punya batasan kemampuan dalam menanggapi kebutuhannya, entah dari segi waktu, tenaga, atau biaya. 

Di samping itu, ada batasan yang lebih penting terkait tindak kekerasan yang tidak seharusnya kita wajarkan. Apa pun dalih masalah mentalnya, apa pun statusnya, sekalipun orang tersebut sudah mengancam hal buruk akan terjadi bila kita menolak, tidak ada alasan bagi kita untuk menerima argumennya tersebut karena dialah yang wajib bertanggung jawab atas kondisi mentalnya sendiri.

Patresia Kirnandita adalah alumnus Cultural Studies Universitas Indonesia. Pengajar nontetap di almamaternya. Ibu satu bocah laki-laki dan lima anak kaki empat. Senang menulis soal isu perempuan, seksualitas, dan budaya pop