Women Lead
August 13, 2021

Dilema Pacaran dengan Pengidap Gangguan Kesehatan Mental

Mendampingi pasangan dengan masalah mental relatif menantang. Risikonya selain mengusik kesehatan mental sendiri juga mengancam relasi.

by Patresia Kirnandita, Junior Editor
Lifestyle // Madge PCR
Share:

Menjadi pasangan seseorang dengan masalah kesehatan mental, entah gangguan mood atau gangguan kepribadian, relatif menantang. Pasalnya, pengidap gangguan kesehatan mental berpotensi menyakiti orang lain, atau melancarkan macam-macam ancaman, dari putus hingga bunuh diri. 

Coba saja tengok bagaimana peliknya relasi rumah tangga Alicia dan John Nash dalam film biografi matematikawan penerima Nobel, A Beautiful Mind (2001). Berbagai konflik bermunculan dalam relasi mereka seiring munculnya gejala-gejala skizofrenia John. Sampai di satu titik, John mengancam nyawa anak mereka dan menyakiti Alicia, sehingga perempuan itu memutuskan untuk meninggalkan John kala itu.

Ketika kita tidak memahami kondisi pasangan dengan masalah mental dan dia sendiri juga masih asing dengan isu tersebut, akan sangat mungkin relasi bertahan seumur jagung saja. Bahkan, kita bisa ikut “kecipratan” dampak buruk dari kondisi orang tersebut, mulai dari stres sendiri sampai tumbuh masalah kepercayaan dan trauma di hubungan berikutnya.

Baca juga: Pulihkan Diri dari Depresi, Agar Bisa Pulihkan Generasi Mendatang

Pentingnya Pahami Isu Kesehatan Mental Bersama-sama

Masalah kesehatan mental seringkali tabu dalam pembicaraan dan akhirnya melahirkan kesalahpahaman tentang cara menanganinya. Oleh karena itu, penting bagi kedua pihak dalam relasi untuk memahami ini.

Sebagai contoh, saat kita tidak tahu sikap pasangan seperti mudah marah tiba-tiba, punya ketakutan berlebihan akan ditinggalkan, atau merasa tidak punya alasan hidup lagi, jangan menganggapnya dramatis. Komentar kita yang menyebut ia berlebihan justru akan membuatnya merasa tidak divalidasi, sehingga kondisi jadi makin buruk.

Karena itu, kita bisa membaca artikel tentang kesehatan mental sebagai langkah awal. Mendalami isu ini juga bisa meningkatkan empati kita pada pasangan, salah satu kunci relasi yang sukses. Alih-alih menyalahkan diri pasangan atas kondisi yang dialaminya, kita akan belajar bahwa masalah kesehatan mental itu bersumber dari beragam faktor mulai dari biologis/genetik, ketidakseimbangan hormon, sampai pengalaman masa lampau yang membekas

Lebih lanjut, ketika pasangan menyangkal dirinya punya masalah mental dan enggan mencari solusi lewat konsultasi dengan profesional, kita dapat perlahan-lahan menawarkan informasi dari berbagai sumber tadi. 

Baca juga: Kenali Hubungan Toksik, Dampaknya Bisa Ciutkan Kepercayaan Diri

Dos and Don’ts yang Mesti Diperhatikan

Mendampingi pasangan yang memiliki masalah kesehatan mental perlu memperhatikan sejumlah hal. Berikut dos and don’ts yang bisa kamu terapkan ketika menjalankan relasimu.

Dos:

1. Punya harapan realistis terhadap pasangan

Pasangan dengan masalah kesehatan mental akan punya lebih banyak keterbatasan dibanding mereka yang tidak. Oleh karena itu, kita perlu mengidentifikasi kelemahannya dan bersabar. Bukan berarti kita menerima begitu saja keadaannya, tetapi bersama-sama dengan dia, kita berusaha mengatasinya.

Contohnya bila pasangan punya gangguan kecemasan. Alih-alih berharap dia tidak punya kekhawatiran berlebih dan mendorongnya untuk terus maju, kita bisa menurunkan ekspektasi terhadapnya. Saat kecemasannya berhubungan dengan interaksi sosial, mungkin kita tidak bisa berharap dia bisa membaur di tengah kerumunan kenalan kita secara langsung atau memaksanya langsung bertemu keluarga kita. Namun, kita bisa pelan-pelan mengajaknya bertemu lebih sedikit atau satu orang pada satu waktu sesuai kenyamanannya.

2. Beri respons positif terhadap perkembangannya, bantu saat ia jatuh lagi

Berbeda dari sebagian masalah kesehatan fisik, masalah mental membutuhkan proses panjang dalam pemulihannya. Terkadang saat seseorang sudah merasa pulih, berbagai gejala masalah mentalnya kembali lagi tanpa diduga dan sulit dikontrol. Karena itu, dukungan konstan dari pasangan penting dalam proses tersebut.

Ketika pasangan menunjukkan perkembangan dalam proses pemulihannya, sekecil atau sebesar apa pun itu, kita selayaknya mengapresiasi dia atau mencatat setiap langkah yang sudah ditempuhnya. 

Baca juga: Jangan Katakan Hal-hal Ini pada Orang yang Depresi

3. Ketahui batasan diri karena kesehatan mentalmu juga penting

Mendampingi pasangan dengan masalah mental melelahkan secara fisik dan emosional. Karena itu, penting untuk memperhatikan diri sendiri dulu sebelum lanjut membantu pasangan. Pasalnya, kalau diri kita sendiri keletihan, konflik lah yang bakal mengintai kita.

Dalam wawancara Bisik Kamis Magdalene, Psikiater dr. I Gusti Rai Wiguna SpKJ mengingatkan, dalam berelasi, tidak selayaknya seseorang mencari atau berusaha menjadi ‘penyelamat’ yang bisa menyembuhkannya dari luka masa lalu (yang berhubungan erat dengan masalah kesehatan mental seseorang). Ini penting diingat karena sebagian orang merasa mesti menolong setiap orang terdekatnya, terlepas dari kapasitasnya sendiri. Relasi yang baik adalah ketika semua pihak di dalamnya berusaha bersama-sama dan memberi dukungan kepada satu sama lain, bukan satu pihak bergantung pada yang lainnya saja.

Don’ts:

1. Bertingkah seolah kamu adalah terapis pasanganmu

Banyaknya informasi yang sudah kamu dapatkan seputar kesehatan mental tentu saja tidak menjadikanmu pakar di bidang itu. Kamu boleh saja memaparkan apa yang kamu ketahui kepadanya, tetapi tetap harus merujuknya pada profesional. Ini karena kamu tidak punya kapasitas untuk mengidentifikasi dengan tepat gangguan apa yang dialami pasanganmu dan metode apa yang sesuai baginya untuk memulihkan diri. 

2. Menganggap hal buruk yang dilakukannya adalah kesalahan/tentang kamu saja

Ketika terlibat dalam konflik dengan pasangan, mungkin kamu berpikir itu salahmu dan berusaha sedemikian rupa mengubah diri demi memenuhi keinginannya. Perlu dipahami ia melakukan hal tersebut karena latar pengalaman tertentu dan bisa saja itu dialami oleh orang lain selain kamu juga. 

Karena itu, jangan berpikir tindakannya merupakan akibat dari perilaku atau sikapmu sendiri. Saat kamu berpikir itu semua tentang kamu, kamu melewatkan kesempatan untuk membantunya keluar dari masalahnya.

3. Percaya bahwa pasanganmu = masalah kesehatan mentalnya

Punya keyakinan ‘taken for granted’ dan pandangan sempit bahwa pasanganmu jadi sumber masalah mentalnya adalah salah satu halangan relasi sehat. Siapa pun lebih dari masalah mental yang dialaminya, dan dibutuhkan penguatan dari orang-orang terdekatnya seperti kamu untuk menanamkan hal ini. 

Dalam situs American Psychological Association disebutkan, penting diingat bahwa pasangan yang punya masalah kesehatan mental bisa membaik kondisinya seiring waktu. Seiring dengan sikap positif dan menerima yang kita tunjukkan, pasangan bisa terbantu dalam hal pemulihan dirinya.

Mencari tahu lebih dalam soal masalah mental pasangan dan cara menghadapi gejala-gejalanya dengan tepat adalah salah satu bentuk rasa sayang kita terhadapnya. Memang berat menjalani relasi dalam kondisi seperti ini. Namun dengan terus berusaha dan memasang harapan bahwa perubahan akan datang di kemudian hari, kita dan pasangan bisa menjadi pribadi yang lebih kuat dan mewujudkan relasi yang lebih baik lagi. 

Patresia Kirnandita adalah alumnus Cultural Studies Universitas Indonesia. Pengajar nontetap di almamaternya. Ibu satu bocah laki-laki dan lima anak kaki empat. Senang menulis soal isu perempuan, seksualitas, dan budaya pop