February 25, 2020
Jangan Bercinta Jika Tak Berhasrat: ‘Yes Means No’ yang Perlu Disudahi

Sebagian perempuan mengiyakan hubungan seksual meski sedang enggan demi membuat relasi tetap nyaman.

by Patresia Kirnandita, Junior Editor
Issues // Gender and Sexuality
Share:

“Lu pernah enggak ngerasa ogah ‘main’ sama pasangan, tapi akhirnya tetep setuju buat ngelakuin itu?”

Saya dan beberapa kawan dekat tengah berbincang di sebuah tempat makan ketika saya mengajukan pertanyaan tersebut. Dimulai dari pengalaman personal yang saya bagikan, salah seorang kawan saya, “Mela”, kemudian menimpali dengan pengalaman serupa saat masih bersama seorang mantan. Dia bilang, beberapa kali mantannya mengajak berhubungan seksual ketika ia sedang tidak berhasrat karena stres atau lelah.

Pengalaman macam ini saya yakin dialami juga oleh para perempuan lainnya. Berbeda dari kami yang memperbincangkan hal itu, sebagian perempuan mungkin urung bercerita masalah ranjang, entah kepada orang-orang dekat yang dipercaya atau bahkan kepada pasangannya sendiri. Karena jarang yang membahas hal ini, ia bisa menjadi masalah yang lama menetap dalam relasi seseorang. Kendati sebenarnya mengganggu, tetapi tetap saja masalah ini didiamkan atau diwajarkan.

Saya terka, jarangnya pembahasan mengenai sexual compliance dipengaruhi oleh anggapan bahwa isu ini masuk area abu-abu. Banyak yang ragu apakah memenuhi kebutuhan seksual pasangan meski dirinya sedang tidak mau merupakan hal yang perlu diperkarakan atau tidak.

Apa sebenarnya sexual compliance atau kepatuhan seksual itu? Ini adalah situasi ketika kamu mengiyakan buat berhubungan seksual, tapi sebenarnya kamu enggak ingin atau berhasrat melakukan itu. Dari salah satu artikel Journal of Sex Research terbitan 2010, saya mengetahui bahwa sexual compliance tidak terjadi karena munculnya ancaman, tekanan, atau paksaan. Selain itu, ketika seseorang berada dalam situasi tersebut, bisa saja pasangannya tidak sadar bahwa ia sedang tidak benar-benar berhasrat saat diajak bersetubuh.

Di artikel lain, ada yang menyatakan bahwa sexual compliance dapat pula terjadi setelah seseorang yang dari awal berhasrat dan setuju berhubungan seks dengan pasangannya, lantas di tengah kegiatan bercinta, pasangannya meminta dia melakukan tindakan seksual yang tidak disukainya, misalnya bercinta tanpa kondom, melakukan seks oral atau hal-hal lain yang tidak dia kehendaki. Atau, situasi ini bisa juga ditemukan dalam kegiatan seksual di luar penetrasi seperti meraba tubuh, berciuman, dan petting.   

Baca juga: Akibat Menabukan Seks

Kenapa mengiyakan kalau tidak berhasrat?

Ketika saya tanya alasannya tetap mau berhubungan seks meskipun sedang tidak ingin, Mela menjawab hal itu ia lakukan karena berpikir berhubungan seks dengan sang mantan bisa menjaga suasana agar tetap “nyaman”. Alasan ini jamak ditemukan pada diri banyak perempuan sebagaimana tercantum dalam sejumlah artikel seputar kehidupan ranjang.

Penelitian terhadap 1.444 perempuan belum menikah di Jabodetabek yang dilakukan Psikolog Inez Kristanti dan Kristi Poerwandari pada 2017 menyebutkan beberapa alasan lain perempuan mengiyakan hubungan seks yang tidak diinginkannya. Tidak mau melukai perasaan pasangan dan membuatnya merasa ditolak, upaya menghindari konflik, ingin pasangan tetap tertarik kepadanya, ingin merasa diterima si pasangan, dan ingin meningkatkan keintiman dalam relasi adalah beberapa di antaranya.

Lebih lanjut, penelitian tersebut menunjukkan bahwa 30,75 persen dari responden melakukan satu atau lebih kegiatan seksual yang tidak dikehendaki karena mereka merasa tertekan untuk melakukannya. Namun 88 persen dari kelompok responden tadi menyatakan tidak ada tekanan dalam bentuk kekerasan fisik, ancaman verbal, atau dibuat tidak sadar oleh pasangannya.

Pandangan bahwa perempuan sepatutnya mengorbankan diri dan manut pada laki-laki dalam konteks pernikahan bisa menjadi alasan lain yang mendorong terjadinya sexual compliance. Ingat ucapan ustaz Tengku Zulkarnain dulu? Ia menyarankan istri semestinya diam saja kalau suami sudah mau (berhubungan seks). Ucapan ini diinterpretasikan sebagai upaya pemaksaan bagi sebagian orang, tapi bagi sebagian lainnya, khususnya para istri yang mengamini ucapan ustaz tersebut, tidak ada yang salah dengan itu. Berhubungan seks dengan suami kendati dirinya sedang tidak menghendaki dianggap sebagai kepatuhan dan itu hal yang bagus, terlepas ia merasa nyaman atau tidak.  

Baca juga: 5 Mitos Soal Seks yang Masih Diyakini Banyak Orang

Sexual compliance sangat mungkin pula terjadi karena alasan transaksional: Karena pasangan saya sudah melakukan ini itu dan begitu baik kepada saya, maka sudah sepatutnya saya memberikan yang ia ingin/butuhkan. Atau, bisa juga berhubungan seks dianggap sebagai hal yang lumrah dalam sejumlah relasi romantis, jadi ketika seseorang tiba-tiba tidak mau melakukan itu, rasanya justru ada yang kurang. 

Di kasus-kasus tertentu, ketika seseorang mengirimkan sinyal keengganan berhubungan seks dengan pasangannya, si pasangan dapat merespons, “Kamu sudah enggak suka sama aku, ya?”. Ini menimbulkan perasaan bersalah dalam diri orang tersebut sehingga akhirnya ia mau bersanggama dengan pasangannya.

Barangkali ada juga yang mau diajak berhubungan seks saat sedang tidak berhasrat karena tidak suka melihat pasangannya masturbasi atau khawatir ia “jajan” di luar. “Kalau ada saya, kenapa mesti masturbasi, sih?” begitu pikir mereka. Padahal kebutuhan seksual setiap individu berbeda. Kalau hal ini tidak dibicarakan sejak memutuskan memulai relasi seksual, akan ada potensi konflik yang berakar dari ketidakjujuran, ketidaksenangan, dan insecurity.

Kamu tak berutang apa pun kepada pasanganmu

Pernah berada di situasi sexual compliance membuat saya merasa buruk. Buruk karena tidak jujur pada pasangan dan buruk karena memutuskan melakukan hubungan seks yang tidak saya nikmati. Belajar dari pengalaman ini, pada relasi-relasi berikutnya, saya berusaha untuk seterbuka mungkin mengenai apa yang saya rasa, termasuk ketika tidak mau bercinta, khususnya saat sedang letih atau pikiran saya sedang tidak terarah pada seks. Ini hal yang sungguh susah. Namun kalau tidak lewat komunikasi yang baik, bagaimana relasi yang sehat bisa berjalan?

Dari seorang teman lain, saya juga belajar bahwa meskipun dalam relasi romantis dibutuhkan timbal balik, kita tidak berutang apa pun kepada pasangan, apalagi sampai merasa berkewajiban buat membayar dengan berhubungan seks. Sejatinya, persanggamaan itu dilakukan ketika kedua pihak mau dan siap sehingga pada akhirnya bisa memberi kenikmatan bagi satu sama lain. Kalau ada sesuatu yang kurang atau tidak disuka dalam kegiatan seksual, bicarakan, tak peduli gender apa pun kamu karena sepatutnya siapa pun setara di ranjang.

Baca juga: Susanti Rendra dan Misi Masyarakatkan Hubungan Seks yang Menyenangkan

Setuju bersetubuh dengan pasangan tidak hanya berarti bersedia telanjang secara fisik, tetapi juga mental. Maksudnya, kita perlu melepas penutup apa pun termasuk “kebohongan demi kebaikan” ketika berada di momen paling intim tersebut. Menurut saya, pasangan yang baik bagi seseorang ialah dia yang mau melihat dan menerima diri seseorang yang sudah telanjang itu dengan segala ketakutan dan kerapuhannya, atau dengan segala kekuatan dan keberaniannya. Bila pasangan tidak dapat menerimanya, mungkin ia perlu mempertimbangkan ulang keberlanjutan relasi mereka.

Ketidaknyamanan yang dipendam bisa menjadi bom waktu. Begitu pasangan berkonflik di kemudian hari, bukan mustahil perihal hubungan seks tanpa hasrat diseret-seret dalam perdebatan. Selain itu, ada potensi muncul sesal saat hubungan berakhir. “Sudah dikasih keperawanan, malah pergi”, “Waktu aku sebenarnya enggak kepengen, aku tetap mau diajak ngeseks sama kamu” adalah contoh-contoh pernyataan yang bisa keluar di pengujung relasi.

Ekspresi “yes means no” dalam relasi seksual sepatutnya disudahi. Saya percaya tubuh kita adalah punya kita sendiri. Kredo “aku milikmu, kamu milikku” yang sering didapati di lagu-lagu dan cerita cinta terdengar beracun di telinga saya dan tidak bisa menjustifikasi sikap seseorang menyetujui bersanggama ketika tidak berhasrat.

Jika kamu tak juga bilang “tidak” saat pasangan memintamu bercinta dan kamu sedang tidak berselera, tidakkah kamu sebenarnya tengah mengecewakan dirimu sendiri? Soal gairah bukan sesuatu yang bisa ditawar atau diset on/off dengan gampang setiap waktu, kecuali jika kamu mengidentifikasi diri sebagai sex doll pasanganmu.  

Patresia Kirnandita adalah alumnus Cultural Studies Universitas Indonesia. Pengajar nontetap di almamaternya. Ibu satu bocah laki-laki dan lima anak kaki empat. Senang menulis soal isu perempuan, seksualitas, dan budaya pop